Sekuel Sincere Love My Husband.
"Jika mubtada saja membutuhkan khobar untuk membuat sebuah kalimat, maka Azura juga membutuhkan A Mahen untuk dijadikan imam dunia akhirat," ucap Azura dengan senyuman manis di bibirnya.
"Belajar dulu yang bener! Baru bisa menikah," cetus Mahen dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Patah hati mampu membuat seorang laki-laki berparas tampan rupawan itu kehilangan jati dirinya. Mahendra Dirgantara dihadapkan dengan kenyataan, jika dirinya dikhianati dan dibuat patah hati oleh seorang wanita yang dicintainya.
Perginya Rima di dalam hidupnya, seakan membuat Mahendra hancur, sampai nekad mengakhiri hidupnya. Namun berhasil dicegah, tetapi laki-laki itu malah menjadi berubah drastis. Cuek, dingin, menyeramkan. Itulah dirinya sekarang.
Sampai suatu hari, Mahendra dipertemukan dengan seorang wanita cantik di masa kecilnya yang berusaha keras, meluluhkan hati yang sudah terkunci itu.
Akankah Mahen luluh oleh Azura? Atau memilih Rima kembali? Ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 31 : Kisah Itu Belum Usai
..."Goresan pena akan terus terpatri di dalam sebuah kertas putih dan memiliki akhir dalam sebuah lembar kertas. Begitupula dengan kisah, ia membutuhkan orang untuk membuat cerita, dan akhir dari cerita itu akan terbentuk menjadi sebuah kisah yang pantas untuk dinikmati para membaca."...
...~~~...
Setelah lama menempuh perjalanan yang penuh dengan kemacetan dan guyuran hujan yang menerpa kota. Kini hujan itu mulai mereda dan membuat Mahen merasa tenang, karena tidak lagi membuat Rima ketakutan oleh suara petir yang menyambar sebab gadis itu memiliki trauma.
Sampai di mana, mobil milik Mahen berhenti di depan rumah Rima yang telah Rima beritahu sebelumnya.
"Yang ini rumahmu, Rima?" tanya Mahen dengan melihat bangunan rumah yang cukup mewah, dengan ada seorang anak laki-laki berusia lima tahun berlari dari depan pintu rumah itu.
"Iya, ini rumah peninggalan Mas Reza dan aku tinggal di sini. Walupun begitu, setelah besar nanti hanya anak Mas Reza dengan istri keduanya yang akan memiliki hak penuh atas semua harta milik Mas Reza," jawab Rima dengan menundukan kepalanya, seakan menyimpan tekanan yang amat dalam di dalam dirinya.
"Eemmm ... ya udah, kita segera keluar dari sini, karena anakmu sudah menanti kepulanganmu di depan sana," kata Mahen dengan melihat anak laki-laki tampan yang berlari menghampiri mobil miliknya.
"Iya, dia putraku," lirih Rima dengan air mata yang merembas keluar, karena harus menerima anak laki-laki dari istri kedua suaminya sendiri.
Mahen hanya melihat Rima sekilas dan membuka pintu mobil itu dengan perlahan. Di mana, Mahen dan Rima bersamaan keluar dari mobil itu, dengan disambut oleh pelayan di rumah Rima, dan juga anak laki-laki berusia lima tahun yang berlari menghampirinya.
"Bundaaaa," teriak anak kecil itu dengan berlari menghampiri Rima dan memeluknya, dengan kedua mata yang nampak sembab.
"Iya, jagoannya Bunda. Kenapa lari-lari begitu?" tanya Rima kenapa sang putra sembari mengusap pelan wajah gembul itu.
"Bunda, huaaaa! Kenzi kangen sama Bunda. Bunda ke mana aja? Katanya cuma beli makan, tapi lama banget. Kenzi nungguin Bunda dari tadi," ucap Kenzi---anak laki-laki dari Reza, sang suami dan Renata yang menjadi madunya.
"Maaf ya, jagoannya Bunda. Bunda tadi kena macet di jalan, makanya pulangnya lama. Kenzi jangan nangis lagi ya? Bunda sudah pulang kok ini. Kenzi kan anak jagoan Bunda harus kuat jangan sedih," seru Rima sembari mengusap air mata yang jatuh di kedua pipi Kenzi.
"Siap, Bunda. Kenzi enggak bakalan sedih lagi, kalau Bunda enggak pergi lagi ninggalin Kenzi," kata anak laki-laki itu sembari tersenyum manis.
"Bagus, anak pintar. Sekarang kita ke rumah yuk? Abis hujan di luar, nanti Kenzi bisa sakit," ujar Rima kepada anak laki-laki itu sembari berdiri dan mengandeng tengan Kenzi.
"Tunggu, Bunda," kata Kenzi menghentikan langkah Rima yang hendak membawa putranya itu masuk ke dalam rumah.
"Ada apa, sayang?" tanya Rima dengan menatap kembali wajah Kenzi yang nampak memperhatikan Mahen.
"Bunda, itu Ayah bukan?" tanya Kenzi dengan kedua mata penuh harapan, menatap dalam wajah Mahen yang berdiri di samping Rima sebelumnya.
Deg.
Rima dan Mahen saling tatap, keduanya melihat kepolosan dari wajah anak laki-laki itu, dengan harapan penuh atas datangnya Mahen di antara kelurga kecil yang tak sempurna itu.
"Eemmm ... bukan sayang. Ini teman Bunda, namanya Om Mahen. Bukan Ayah, kan Ayah sudah bahagia di atas sana," jawab Rima sembari memberikan pengertian kepada Kenzi.
"Oh, dia bukan Ayah Kenzi, Bunda? Kalau dia bukan Ayah Kenzi. Lalu, kenapa Bunda pulang di antar sama Om ini?" tanya Kenzi dengan polosnya mengajukan pertanyaan seperti itu.
"Begini Kenzi, Bunda di antar pulang sama Om Mahen karena tadi di luar hujan deras. Harusnya Kenzi berterima kasih sama Om Mahen, karena sudah nganterin Bunda pulang ke rumah dengan selamat," kata Rima dengan terus membuat sang putra mengerti.
"Oh begitu ya, Bunda. Ya udah, Kenzi mau bilang terimakasih sama OM Mahen," ujar Kenzi dengan melepaskan genggaman tangannya dari Rima dan menghampiri Mahen.
"Om Mahen sini," ucap Kenzi memberikan isyarat agar Mahen berjongkok dan mengsejajarkan tubuhnya dengan anak kecil itu.
Mahen yang belum mengerti maksud dari Kenzi. Lantas ia menatap wajah Rima, seakan mencari jawaban dari ucapan anak laki-laki itu.
Rima mengangguk saja, karena Mahen akan langsung mengerti isyarat darinya. Dengan begitu, Mahen pun segera berjongkok di hadapan Kenzi dan menatap wajah polos itu.
"Ada apa, anak tampan?" tanya Mahen sembari mencubit pelan pipi Kenzi yang nampak gemoy itu.
"Om Mahen, Kenzi mau bilang terimakasih sudah antarkan Bunda pulang ke rumah," ucap Kenzi sembari tersenyum manis kepada Mahen.
Mahen langsung tersenyum. Ia nampak tersentuh dengan ucapan anak kecil itu yang ternyata dididik oleh Rima dengan sangat baik, layaknya Umma Arumi yang selalu mengajarkan kata maaf, terimakasih tanpa sungkan lagi.
"Iya sama-sama, jagoan. Anak yang pintar. Nama kamu siapa ganteng?" Mahen bertanya sembari mengusap pelan rambut Kenzi.
"Kenzi Alfarizi, Om. Bunda yang ngasih nama buat Kenzi, karena Mama sama Ayah tidak peduli sama Kenzi," jawab anak laki-laki itu yang nampak bersedih.
"Nama yang bagus. Ya udah, Kenzi. Sekarang kamu sama Bunda masuk ke dalam rumah dulu ya? Istirahat terus bobo, sekarang sudah malam, Kenzi enggak boleh tidur larut malam ya?" ucap Mahen dengan mengalihkan pembicaraan.
"Siap, Om. Tapi ... Om nanti mau ke sini lagi, kan?" tanya Kenzi dengan kedua mata menggemaskan itu.
Mahen tersenyum dan menatap Rima sekilas, lalu menatap wajah Kenzi. "Iya, Kenzi. Om nanti ke sini lagi ketemu Kenzi," katanya sembari berdiri.
"Bunda, gimana?" tanya Kenzi dengan begitu polosnya, karena Mahen hanya mengatakan namanya saja.
Mahen menatap wajah Kenzi yang lucu itu dan menatap wajah Rima yang nampak menatapnya dalam.
"Iya, sama Bunda juga." Mahen menjawab dengan tersenyum dan menatap wajah Kenzi yang malang itu.
"Horeee, Om Mahen mau ke sini lagi. Kenzi mau cepat-cepat bobo," kata Kenzi dengan tersenyum lebar dan menghampiri Rima.
"Bunda, ayo kita masuk ke dalam rumah sekarang! Kenzi mau bobo," pinta Kenzi dengan menarik tangan sang bunda.
"iya, sayang. Sebentar ya," sahut Rima dengan tersenyum tipis kepada Kenzi yang nampak bahagia.
Mahen menatap Rima dan Kenzi yang berada di depannya itu. Dan Rima langsung menatap wajahnya, dengan air mata yang menetes di salah satu sudut matanya itu.
"Terimakasih, Mahen." Hanya itu yang mampu Rima ucapakan, setalah Mahen mampu membuat Kenzi bahagia.
Mahen hanya menganggukkan kepalanya saja sembari tersenyum manis dan melambaikan tangannya kepada Rima dan Kenzi yang hendak masuk ke dalam rumah.
Rima yang melihat itu, langsung tersenyum bahagia dan terharu, karena melihat Mahen yang begitu baik kepadanya.
"Ayo, Bunda! Kenzi mau bobo. Om Mahen besok mau ke sini," ajak Kenzi dengan menarik tangan Rima.
"Iya, sayang. Sekarang kita masuk ke rumah," sahut Rima dengan masuk ke dalam rumahnya, sampai Mahen pun tidak lagi melihat keduanya.
Dan Mahen langsung masuk kembali ke dalam mobilnya, serta melanjukannya sedikit lagi ke depan rumah kedua orangtuanya yang nampak mewah itu.
"Kisah itu belum usai, tapi aku memiliki ceritaku sendiri," ucap Mahen dengan mengingat Kenzi dan Rima yang nampak bahagia dengan kehadirannya di tengah keluarga kecil itu.
.
.
.
Wah makin seru aja ya? Jangan sampai ketinggalan loh sama kelanjutannya! Berikan like sama komentar kalian sebanyak-banyaknya ya! Jangan sampai ketinggalan loh!
lanjut kak ..
semngat....
alhamdulillah.. akhirnya sah juga...
samawa ya buat mahen dn azzura...
lanjut kak.....
semngatttt up terussss.....
semoga tdak ada episode dmna jibril ber ulah...
lanjutkak semngat...
semngat...
dn untuk jibril.. sdkit demi sdkit sfat aslimu terbongkar sdah...
semoga abinya azzura menerima si mahen...
lanjut kak... semngat...
akankah si azura dngn mahen atau jibril.. tapi jibril buat rima saja ya kak.. mahen buat azzura...
lanjut kak ...
semangat....
lanjut....