NovelToon NovelToon
Erick-Melina Dosen Dan Mahasiswinya

Erick-Melina Dosen Dan Mahasiswinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dosen / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Greta Ela

Melina Lamthana tak pernah merencanakan untuk jatuh cinta ditahun pertamanya kuliah. Ia hanya seorang mahasiswi biasa yang mencoba banyak hal baru dikampus. Mulai mengenali lingkungan kampus yang baru, beradaptasi kepada teman baru dan dosen. Gadis ini berasal dari SMA Chaya jurusan IPA dan Ia memilih jurusan biologi murni sebagai program studi perkuliahannya dikarenakan juga dirinya menyatu dengan alam.

Sosok Melina selalu diperhatikan oleh Erick Frag seorang dosen biologi muda yang dikenal dingin, cerdas, dan nyaris tak tersentuh gosip. Mahasiswi berbondong-bondong ingin mendapatkan hati sang dosen termasuk dosen perempuan muda. Namun, dihati Erick hanya terpikat oleh mahasiswi baru itu. Apakah mereka akan bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Melina membuka portal akademik dilaptopnya, setelah dua hari menunggu nilai hasil akhir ujian. Bukan karena takut, tapi karena ia sudah tahu hasilnya sebelum melihat nilainya sendiri, Nama Devano sudah lebih dulu memenuhi percakapan teman-temannya.

Grup kelas sejak pagi tidak pernah benar-benar sepi. Pesan datang bertumpuk, sebagian hanya ucapan singkat, sebagian lagi berupa tangkapan layar nilai.

“Selamat buat Devano, IPK 4,00.”

“Gila sih, itu beneran bersih semua.”

“Fix lulusan teladan kalau begini.”

“Calon Summa Cumlaude sih ini.”

Melina membaca satu per satu tanpa ikut nimbrung digrup kelas. Ia hanya menggulir layar, berhenti sebentar saat melihat nama Devano disebut lagi. Tidak ada rasa iri yang tajam, hanya perasaan aneh yang sulit dijelaskan antara kagum, terkejut, dan sedikit tersadar bahwa jarak mereka, setidaknya di kelas, kini berubah.

Ia akhirnya membuka akunnya sendiri. Angkanya muncul cepat.

Melina Lamthana IPK 3,95.

Melina menatap layar itu beberapa detik lebih lama dari yang ia duga. Bukan kecewa. Ia sudah memperkirakan hasilnya akan tetap sama, mengingat kondisinya beberapa minggu terakhir. Tubuhnya memang sudah membaik, tapi fokusnya sempat terpecah, pikirannya terlalu penuh.

Ia menghela nafas lega, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Angka itu tidak turun. Tidak naik juga. Tetap stabil, seperti dirinya yang berusaha terlihat baik-baik saja di depan semua orang.

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar lagi.

@Devano12: “Kamu sudah lihat nilai?”

Melina membaca pesan itu tanpa langsung membalas. Ia tahu, Devano bukan tipe yang pamer. Pertanyaannya terdengar tulus, seperti kebiasaannya selama ini datang tanpa tekanan.

“Sudah. Selamat ya.”

“IPK 4,00 itu bukan main.”

Devano membalas cukup cepat.

“Terima kasih.”

“IPK kamu juga tetap tinggi. 3,95 itu luar biasa.”

Melina tersenyum tipis. Bukan senyum lebar, hanya tarikan kecil di sudut bibir. Devano selalu begitu, tidak berlebihan, tidak merendahkan, tidak juga membandingkan.

Percakapan itu berhenti di sana. Tidak ada kelanjutan yang dipaksakan. Melina justru merasa lega.

Tak lama setelah itu, notifikasi lain muncul.

Nama yang membuat dadanya refleks menegang.

@Erick: “Selamat. Aku sudah lihat rekap nilainya.”

Melina menarik napas sebelum membalas.

“Terima kasih, Erick.”

Beberapa detik berlalu. Ia hampir mengira pesan itu akan berhenti di situ, tapi kemudian layar kembali menyala.

“Kondisimu bagaimana sekarang?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi Melina bisa membaca nada khawatir yang terselip di baliknya. Ia memilih jujur, tanpa membuka terlalu banyak.

“Sudah lebih baik.”

Balasan Erick tidak langsung. Melina menunggu, sambil memandangi layar yang kini kosong. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia harapkan lanjutan percakapan, atau justru keheningan.

“Syukurlah.”

“Bunga jadi pulang atau belum?”

Pertanyaan itu membuat Melina terdiam sebentar. Ia menoleh ke arah kamar, ke ranjang tempat Bunga sering duduk menemaninya beberapa hari terakhir. Sahabatnya itu memang belum pulang, dengan alasan sederhana, Melina belum benar-benar pulih.

“Belum tahu.”

“Bunga bilang belum mau pulang kalau aku masih sakit.”

Tiga titik muncul di layar, menghilang, lalu muncul lagi.

“Dia perhatian.”

Hanya itu. Tidak ada balasan lain. Tidak ada nada cemburu yang biasanya muncul samar di sela kata-kata Erick. Melina justru merasa percakapan ini lebih singkat dari yang ia bayangkan.

Ia menutup ponsel, meletakkannya terbalik di atas meja. Kepalanya bersandar ke sandaran kursi, matanya terpejam sebentar.

Sore itu, Bunga masuk ke kamar dengan membawa dua gelas air hangat. Ia meletakkannya di meja tanpa banyak bicara, lalu duduk di tepi ranjang.

“Nilai sudah keluar?” tanya Bunga

Melina mengangguk. “Iya.”

“IPK kamu?”

“Masih sama.”

Bunga menghela napas pendek, lalu tersenyum kecil.

“Itu bagus, Mel. Kamu kemarin lagi gak sehat, tapi tetap bisa jaga segitu.”

Melina tidak langsung menjawab. Ia menatap lantai, lalu berkata pelan,

“IPK Devano 4,00.”

Bunga terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.

“Pantes. Dia emang konsisten.”

Ada jeda. Hening yang tidak canggung, tapi penuh makna.

“Kamu kenapa?” tanya Bunga, matanya menyipit curiga.

Melina menggeleng. “Gak apa-apa.”

Bunga tidak memaksa. Tapi dari caranya menatap, Melina tahu sahabatnya itu mulai menyimpan sesuatu.

“Nilaimu aman kan?” tanya Melina

“Yah aman sih walau gak setinggi kamu”

“Syukur aja aku dapat 3,80” ujarnya

Melina lalu menutup portal akademik kampusnya dan mematikan laptopnya.

“Mel”

“Hm?”

Bunga ingin menanyakan kecurigaannya tapi entah kenapa kata-kata itu tertahan ditenggorokannya.

“Eh, enggak Mel”

Malam itu, Melina merasa tubuhnya sudah fit, terasa lebih ringan dan kepalanya sudah tidak sakit lagi.

Ia sadar, semester demi semester bukan cuma tentang IPK. Ada hal-hal lain yang mulai bergerak pelan di sekitarnya, perasaan yang belum selesai, jarak yang semakin terasa, dan perhatian yang datang dari arah berbeda.

Melina memejamkan mata, mencoba memaksa pikirannya diam.

“Mel, kalau aku pulang satu hari lagi, boleh?”

Pertanyaan yang ditunggu-tunggu Melina supaya Ia bisa kembali bersama Erick walau masih ada rasa canggung dari diri mereka masing-masing.

“Mel, kok melamun?” Bunga menyenggol lengan Melina

“Oh iya, boleh kok.”

“Kalau kamu udah sehat besok, aku akan pulang. Kamu gak apa-apa sendirian terus di apartemen ini?” tanya Bunga khawatir

“Gakpapa Bunga. Aku juga merasa tenang aja. Gak terlalu kesepian kok, kadang-“

Hampir saja Melina keceplosan mengatakan bahwa Erick menjemputnya setiap malam untuk berkencan.

“Kadang apa, Mel?” tanya Bunga curiga

“Kadang kalau aku kesepian, aku bisa nelpon kamu” ujarnya

Bunga lalu mengangguk walau Ia merasa ada yang aneh dengan Melina. Semenjak semester tiga ini lah Melina berubah.

“Mel, maaf aku mau nanya. Kamu gak rindu sama kakek-nenekmu?” tanya Bunga

“Sebenarnya rindu, Bunga. Tapi aku udah berjanji pada mereka akan pulang saat aku wisuda. Yah, walau sebenarnya aku juga ingin mereka datang dihari wisudaku nanti” wajah Melina tampak sedih.

Ketika seseorang menanyakan pasal keluarganya, Ia langsung tersinggung, Ia tidak ingin mengingat kejadian yang sangat kejam itu.

“Mel, maaf. Aku hanya ingin tahu tadi. Atau kamu mau main ke rumah aku juga boleh. Tiket pesawatnya kita bagi dua”

Melina menghela nafas, Ia tahu niat Bunga memang baik, tapi hatinya masih tertuju pada Erick, Ia ingin setiap libur semester ini selalu bersama Erick. Terlepas dari semua masalah keluarganya, Ia memang merasa baru kali ini dicintai oleh seseorang selain Bunga.

“Gakpapa Bunga. Kalau kamu mau pulang lusa, pulang aja.” Ujar Melina

Bunga memeluk sahabatnya itu, takut Ia tambah sakit hati. Bunga hanya tidak tega membiarkan Melina terus sendirian diapartemen selama libur kuliah dua bulan.

Tapi Ia juga curiga dan ingin tahu kemana saja Melina kalau libur seperti ini, gak mungkin juga Melina di apartemen full satu bulan tanpa keluar.

“Makasih udah mau merawat aku, Bunga” Melina membalas pelukan Bunga.

1
CACASTAR
bagus
Kasychan`●⑅⃝😽
panas ga tuh si erick🤣
ℜ𝔞𝔦𝔫 𝔦𝔫 𝔖𝔲𝔪𝔪𝔢𝔯
Pada dasarnya. wanita akan benar - benar aman dan di ratukan di tangan pria yang benar - benar tulus mencintainya. Semoga hubunganny Langgeng pak Erick dan melina /Rose//Determined/
ℜ𝔞𝔦𝔫 𝔦𝔫 𝔖𝔲𝔪𝔪𝔢𝔯
Rupanya milan ni terkenal dimana mana lah...🤭
MARDONI
Melina yang milih nunggu libur semester tuh keliatan dewasa dan kalem… makin bikin aku sayang sama dia.
Greta Ela🦋🌺: Awas nanti Pak Erick ngamuk, kak Doniii🤣
total 1 replies
MARDONI
Baru seminggu tapi rasanya Melina udah nyatu banget sama dunia kampus 🥺 vibes-nya tenang dan nyaman
Noname
sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi 🗿
L̲̅I̲̅L̲̅Y̲̅V̲̅E̲̅Y̲̅
kirain luna maksa wkwkwk 🤣, untunglah sadar diri🤭
Hans_Sejin13
kenapa dengan bunga tulip nya ?
Greta Ela🦋🌺: Kenapa hayo?👀
total 1 replies
chemistrynana
dan Yap,sudah ku duga🤭🤭🤭
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
duh bunga.. Melina kan masii ingin berduaan ama pak dosen👉👈
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
tersadar😌
Greta Ela🦋🌺: Boleh dong🤭
total 3 replies
Alyaaa_Lryyy.
lelah letih lesuu campur mnjdi satuu , huff kuat2 yah klian brduaa , ttp sling menguatkan satu sm lain 🤗
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
ga kebayang klo misal ada yg ketuk pintu 🙈
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤: berharap pas enak enaknya ada yang ketuk pintu 🤣🤣🤣
total 2 replies
d_midah
udah bikin anak orang nangis, malah gak nongol.
kemana bang Erick? lagi nangis di pojokan😭😭
Greta Ela🦋🌺: Tabok aja ka Mida😇
total 1 replies
d_midah
😭😭😭😭😭 tiba-tiba dibuat nangis😭
d_midah
Yaampun bang, kamu jahat🥲
Anak orang kamu bikin nangis🥲
d_midah
Kasian banget babang satu ini, udah gak tahan🥲
nikahin dulu gih pak😇
Greta Ela🦋🌺: Stres dia itu ges. Kalau perlu tabok aja ya
total 1 replies
d_midah
Hayoloh pak Erick, kamu buat anak orang galau 🤭
d_midah
setan datanglah.. setan datanglaaah,😈😈 terus goda pak Erick 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!