Siapa sangka tulisan dongengnya yang ia tulis diblog, menjadi penolong seorang remaja yang tengah putus asa. Sejak saat itu Jiva Arunika menjadi sahabat online Kai Gentala Bhalendra, akankah hubungan keduanya berlanjut hingga ke dunia nyata?
Cerita selengkapnya hanya di novel Sang Pendongeng ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 - Unjuk Rasa
Kai berdiri di depan toko kue nenek Cempaka, ia memandangi wanita tua itu tengah melayani pembeli. Meski usianya sudah memasuki masa senja, tapi Cempaka terlihat masih cekatan dan gesit melayani pembeli.
Senyum manis yang menghiasi wajahnya saat menyapa para pelanggannya, itu adalah hal yang paling Kai rindukan dari neneknya.
"Datang lagi kemari ya," ucap Cempaka dengan ramah sembari melambaikan tangannya, kemudian ia tersadar jika sedari tadi ada seseorang yang memperhatikannya.
Cempaka tersenyum pada cucu laki-lakinya yang akhirnya melangkah mendekat padanya, beberapa detik kemudian Kai sudah berada dalam pelukannya. "Kai.. Cucuku sayang," ucapnya lirih.
Sesaat Cempaka melepaskan pelukannya, ia mendongak menatap Kai dengan penuh kerinduan sembari menangkup wajahnya. "Kau sudah sangat besar sekarang," ia mengelus lengan Kai dengan lembut, Cempaka masih bisa merasakan kerasnya otot lengan Kai meski Kai mengenakan stelan jas.
"Nenek tak berubah sama sekali, tetap cantik seperti dulu." Kai mengelus lembut wajah neneknya, tapi Cempaka menepis tangan cucunya. "Kau ini malah menggombal."
Cempaka berbalik mengambil sebuah piring kemudian mengambil beberapa kue kesukaan cucunya. "Kalau kau kemari untuk mencari Gita, dia masih di kampus." Ia berjalan menuju meja pelanggan, di ikuti Kai dari belakang.
Pria itu melihat-lihat dekorasi toko kue neneknya yang terasa begitu nyaman, semalam saat ia datang ia tak begitu memperhatikan sebab suasana toko lebih gelap karena sudah tutup.
Kai duduk di hadapan Cempaka sembari melahap kue buatan neneknya. "Aku tidak mencari Gita, aku datang untuk menemui Nenek." Justru ia sengaja datang ketika Gita sedang tidak ada. "Kue buatan Nenek paling enak di dunia, aku rindu sekali nagasari Nenek."
"Jangan bohong kamu. Ada apa?" Cempaka menatap Kai dengan serius, ia tahu Kai punya maksud tertentu datang menemui dirinya.
Dan benar saja, wajah seketika berubah menjadi serius. "Apa Nenek percaya begitu saja jika Ayah meninggal karena kecelakan tunggal biasa?"
Wajah Cempaka menjadi tegang, ia meremas jari jemarinya. "Entahlah," Cempaka menggelengkan kepalanya. "Walaupun Nenek berkata tidak, tapi Nenek tidak punya bukti apa pun. Waktu itu polisi hanya mengatakan itu pada kami."
Kai mengangguk mengerti, ia kemudian mengajak neneknya pergi berziarah ke makam ayahnya. Tapi sebelum itu ia meminta neneknya membungkus semua kue dagangan untuk di bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan yang mereka lewati sepanjang jalan, sebagai jum'at berbagi, tradisi yang dulu Kai dan Cempaka sering lakukan bersama ketika hari jum'at.
Cempaka senang, cucunya tak melupakan kebiasaan itu.
***
Gita baru saja tiba di tempat kerjanya, ia berjalan menghampiri Gala di ruang kerjanya untuk menanyakan beberapa stok barang yang tak kunjung datang padahal ia sudah melaporkan stok barang tersebut sudah menipis.
Ia mengetuk pintu kerja Gala berulang kali, tapi tak ada ada jawaban. Hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk membukanya. "Pak Gala..." Gita tak melihat tanda-tanda keberadaan Gala, padahal ia melihat mobil Gala ada di parkiran.
"Pak Gala sedang demo di perusahaan Maharaja Group," ucap Amel dari belakang Gita, hingga membuat gadis itu hampir saja terlonjak karena saking terkejutnya.
Seketika Gita berbalik. "Demo? Benarkah?"
Amel mengangguk. "Baru saja Pak Gala dan para supplier berangkat. Tadi malam salah seorang supplier ada yang di datangi orang yang tak di kenal menyuruhnya untuk mencabut somasi tersebut, tak hanya itu orang itu juga malah menghajar supplier habis-habisan."
"Oh... Terima kasih atas infonya." Gita menerobos tubuh Amel yang berdiri di depan pintu.
"Tapi Pak Gala melarang kita untuk ikut berdemo..."
Gita tak menghiraukan ucapan Amel, ia terus berlari keluar dari swalayan menuju parkiran tempat ia memarkirkan kendaraan roda duanya. Sebelumnya Gita memang belum pernah datang ataupun melewati perusahaan Maharaja Group tapi ia tahu lokasi perusahaan, berita mengenai perusahaan itu selalu di liput besar-besaran oleh media telivisi maupun online.
20 menit berkendara, akhirnya Gita tiba di perusahaan paling megah yang pernah ia lihat. Bagaimana tidak, perusahaan tersebut kini menjadi perusahan pengembang teknologi terbesar seAsia Tenggara.
Gita pernah bercita-cita, suatu saat nanti bisa bekerja di sana. Tapi cita-cita itu musnah saat mengetahui Maharaja Group menggunakan cara kotor untuk menyingkirkan rakyat biasa.
"Gita kenapa kau ke sini?" Gala begitu terkejut melihat kedatangan Gita, Gadis itu menerobos kerumunan dan berdiri di depan bersama Gala.
"Aku tidaak bisa diam saja melihat ketidak adilan terjadi," ucapnya menatap Gala.
Tepat di saat itu mobil yang Jiva kendarai tiba, tapi sayangnya ia tak bisa lewat gerbang depan karena banyaknya orang yang berdemo. "Dasar orang miskin bisanya hanya berdemo," gerutunya, ia terpaksa memutar melalui gerbang samping.
Jiva bergegas menuju ruang kerja Gema, namun ia staff pribadinya mengatakan Gema sedang tidak ada di tempat. Ia pun kemudian mendatangi Glen di ruang kerjanya. "Ada masalah apa ramai-ramai di depan?" ia mendekat ke arah Glen yang berdiri di jendela ruang kerjanya melihat para pendemo.
"Biasalah, orang-orang miskin seperti mereka selalu minta jatah." Glen berbalik menghadap Jiva sembari tersenyum pada gadis itu. "Kau tidak perlu khawatir, aku sudah menyuruh pihak keamanan untuk mengusir mereka sebelum ada media yang meliput."
"Kau mau minum apa?" Glen mengarahkan Jiva untuk duduk di sofa, namun gadis itu menolaknya. "Tidak aku tidak ingin minum, aku datang kemari mencari Gema. Dimana dia? Aku perhatikan dia sering kali menghilang akhir-akhir ini."
Wajah Glen terlihat kesal mendengar Jiva datang keruangannya untuk mencari Gema. "Mana aku tahu, aku tidak peduli dengannya. Ayolah temani aku minum sebentar." ia mengulurkan tangannya ke bahu Jiva, tapi Jiva langsung menepisnya. "TAku tidak mau." Gadis itu berbalik pergi keluar dari ruang kerja Glen.
Dan membuat Glen semakin kesal. "Dasar wanita sialan, sok jual mahal. Lihat saja nanti, aku akan membuatmu mengemis cinta padaku."
galaa semoga kamu cepat balik pulang
kasihan banget kamu kiranaa
di mata Jiva, kamu tetep ibu yang terbaik untuknya
paling gak, dengan foto tersebut Gita dan juga Jiva bisa membayangkan wajah Sarah di kala rindu