NovelToon NovelToon
Ti Amo ("Buka Hatimu Untukku")

Ti Amo ("Buka Hatimu Untukku")

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Romansa-Percintaan bebas / Tamat
Popularitas:45.3k
Nilai: 5
Nama Author: monica mey melinda

Sejak kecil, Liliana sudah menaruh hati dan cintanya pada sahabatnya yaitu Andika. Namun, pria itu tak pernah menganggapnya Liliana sebagai cintanya.

Andika memiliki tunangan yang meninggal karena sakit. Ia tak bisa melupakan sang tunangan. Rasa cinta yang besar membuatnya tak bisa berpaling dari wanita manapun.

Rendi, sahabat sekaligus kakak kelasnya mencintai Liliana sejak kecil tanpa pamrih. Ia selalu ada untuk Liliana bahkan saat wanita itu mengalami keterpurukan akibat ulah Andika.

Rendi membawa Liliana menghindar dari Andika dan memulai kehidupan baru di luar negeri. Beberapa tahun kemudian, Liliana membawa gadis kecil yang cantik.

Namun sayangnya, sang anak menderita sakit parah dan membutuhkan darah yang cocok dengan gadis kecil tersebut. Liliana dilema.

Lalu siapa ayah kandung sang anak? Mampukah Liliana menguatkan hati ketika sang anak divonis tak bertahan lama hidup di dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon monica mey melinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 31 Kembali Seperti Dulu

Di kantorpun aku tidak berpikir dengan tenang karena aku khawatir dengan kondisi Mey. Apa Dika bisa menjaganya dengan baik? Aku ingin meneleponnya tapi aku urungkan. Aku tidak ingin menganggu mereka.

Setelah pulang dari kantor aku segera ke rumah sakit melihat apakah Mey sudah datang belum tapi saat aku tiba. Mey belum juga datang. Aku menjadi sangat khawatir.

“Bunda ....!" teriak Mey dari lorong.

“Mey, kenapa baru pulang?” Aku bertanya dengan kesal.

“Bunda marah ya karena Mey telat pulangnya," katanya sedih.

“Bukan seperti itu sayang. Bunda hanya khawatir saja.”

“Ya sudah Mey cuci muka dan sikat gigi kemudian tidur, ya,” perintahku padanya.

“Maaf ya Li aku mengajaknya ke rumahku. Ayah dan bunda ingin melihat Mey. Maaf kalau aku tidak menghubungimu. Aku takut kamu sibuk,” ucap maaf Dika.

“Seharusnya kau menghubungiku. Aku khawatir melihatnya lama di luar,” kesalku sampai ubun-ubun.

“Kamu kesal ya denganku?” Ia malah bercanda.

Aku hanya terdiam dan mendengkus.

“Lili ... Lili sayang. Jangan memajukan bibir begitu dong. Ini kubawakan nasi goreng seafood kesukaanmu. Pasti kamu belum makan?” Candanya lagi.

“Dari mana kamu tahu kesukaanku?"

“Apa yang tidak kutahu tentangmu? Ayolah jangan marah lagi, Lili sayang?” Kini Andika merengek bagai anak kecil.

“Lili ... Lili ...” Panggilnya berulang membuatku risih.

“Dika jangan begitu. Aku marah loh,” jengkel aku dengan sikapnya saat ini.

“Nah begitu dong. Ini terima dulu nasinya. Cepat dimakan ya. Aku pergi dulu,” ucapnya sekali lagi mengelus rambutku.

Sudah menjadi kebiasaan Dika jika ia pamit ke manapun ia selalu mengelus rambutku. Aku merasakannya lagi setelah lama ia tak melakukan itu. Ada rasa kerinduan di mana Dika selalu melakukan itu. Benar apa yang dikatakan Rere. Dika kembali seperti dulu lagi. Saat aku hendak masuk kamar Mey. Aku terkejut karena Rendi ada di belakangku.

“Rendi? Kau mengejutkanku. Kapan kau datang?” tanyaku terkejut.

“Baru saja. Apa kau pulang dari kerja?”

“Iya. Baru saja aku sampai. Masuklah ke dalam. Mey pasti senang melihatmu, Ren.”

“Apa kau bahagia hari ini, Li?” tanya Rendi.

“Maksudmu apa, Ren?”

“Aku melihatmu tersenyum lagi hari ini dengan Dika. Aku senang akhirnya kau bisa menerima Dika seperti dulu lagi."

Timbul rasa bersalah kepadanya, tetapi Rendi malah tersenyum penuh kehangatan padaku.

“Aku tidak tahu apa ini bisa kusebut dengan bahagia? Ya Dika memang telah berubah menjadi Dika yang dulu kukenal tapi aku tidak tahu pasti apakah dia bisa mencintaiku sama seperti ia mencintai Jesi?" Jelasku pada Rendi di sampingku.

“Kau tidak bisa memaksanya untuk melupakan Jesi karena dia adalah cinta pertama untuk Dika tapi itu bukan berarti ia tidak mau menerimamu. Kau harus menyadarinya, Li.”

“Iya Rendi aku menyadari hal itu. Aku tidak akan lagi memaksanya untuk menerimaku. Ia sudah mau berubah itu sudah lebih dari cukup untukku. Aku ingin melihat Dika yang dulu lagi,” ungkapku semua.

“Pertama ku akui bahwa aku adalah orang yang egois. Aku memaksa Dika untuk melupakan Jesi dan memaksa Dika untuk mencintaiku tapi akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak boleh bersikap seperti itu. Semua orang berhak untuk menyimpan kenangan bersama orang yang dia cintai." Aku berkata jujur pada Rendi.

“Kau benar sekali, Li. Tidak ada seorangpun bisa memaksa ia melupakan orang yang dicintainya.”

Kami hanya saling terdiam penuh arti.

“Baiklah aku akan pulang sekarang,” ucap Rendi sambil beranjak dari tempat duduk.

“Kau tidak mau bertemu dengan Mey dulu?" tanyaku mencegah Rendi pergi.

“Tidak usah. Pasti dia sudah tidur. Besok aku akan datang lagi,” ucapnya sambil pergi.

Memang aku mengakui bahwa aku bahagia hari ini. Dika kembali seperti dulu lagi tapi aku tidak tahu apakah ia berubah untuk sementara waktu atau selamanya. Aku tidak boleh egois jika aku ingin mencintainya dan kembali ke sisinya. Aku harus bisa menerima Dika apa adanya.

****

“Lili, kemarin Rendi datang mencarimu tapi bunda katakan kau ada di kantor,” kata bunda di pagi hari.

“Iya bunda. Lili sudah bertemu dengannya tadi malam.”

“Melihatnya bunda merasa kasihan.”

“Memangnya ada apa bunda?"

“Li, kau tahu selama ini Rendi sudah banyak berkorban untuk keluarga kita. Ia selalu ada untuk kamu dan Mey.”

“Maksud bunda apa?” tanyaku heran.

“Sayang, tidak bisakah kau menerimanya dan membuka hatimu untuknya?"

“Bunda, bukankah sudah Lili jelaskan bahwa Rendi selamanya adalah sahabat terbaik Lili. Lili tidak bisa menganggapnya lebih dari sahabat,” jelasku pada Bunda.

“Iya bunda mengerti, Sayang tapi mau sampai kapan kau menunggu Dika untuk mencintaimu?”

“Bunda, Lili mohon jangan bahas hal itu lagi,” kesalku.

“Maaf bunda. Lili harus ke kantor dulu. Nanti siang Lili tidak pulang ke rumah,” ucapku sambil meninggalkan bunda di teras.

Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan bunda. Bunda selalu saja menanyakan hal yang sama tentang hubunganku dengan Rendi.

****

“Permisi bu Ana. Ada yang mencari ibu," kata sekretarisku.

“Siapa ya?”

“Saya tidak tahu, Bu. Katanya teman ibu waktu kecil dulu.”

“Iya sudah persilahkan masuk saja,Yun,” perintahku.

Aku tidak tahu siapa tamu tersebut, yang sering ke sini hanya Rendi atau Rere.

“Hai Lili sayang," sapa Dika tiba-tiba.

"Dika ....!" Aku terkejut melihatnya berpakaian seperti itu. Kaos oblong dan celana panjang.

“Kenapa semakin hari kau semakin aneh saja, Dika?”

“Ya inilah aku yang sekarang,” jawabnya riang.

“Ada apa kau mencariku?” tanyaku penuh selidik.

“Aku mau mengajakmu makan siang. Bukannya ini jam istirahat ya?"

“Iya. Memangnya kamu tidak sibuk di kantormu?”

“Tidak. Ayolah cepat kita mencari makan. Lapar aku ini,” katanya sambil menarik lenganku.

“Tunggu sebentar Dika. Aku ambil tasku dulu."

“Tak usah. Aku yang traktir kamu,” ucapnya menggandeng tanganku.

Ternyata Dika mengajakku ke tempat warung makan yang selalu kami kunjungi setiap hari waktu kami sekolah dulu. Tempat yang tak pernah kulupakan. Tempat penuh kenangan bersama Dika.

“Bang, pesan dua ya. Seperti biasa," sahutnya pada abang Maman.

“Oke deh mas Dika. Saya siapkan dulu ya,” jawab abang Maman.

“Lama tidak ke sini mbak. Bagaimana kabarnya mbak Lili?” tanya abang Maman padaku.

“Baik. Iya saya sudah lama tidak ke sini. Rindu dengan bakmi abang Maman,” kataku yang di iyakan Dika juga.

“Nah ini dia. Bakmi pesanan kalian. Satu pedas yang satu sedang,” kata abang Maman mengantarkan pesanan kami.

“Apa kau masih alergi kacang, Li?”

“Masih sampai sekarang aku alergi kacang. Memangnya kenapa?"

“Untunglah aku tidak salah membeli,” sahut Dika mengambil sebatang coklat susu kesukaanku.

“Kau masih ingat dengan coklat ini? Kau beli di mana? Aku sudah mencarinya ke manapun tetap saja aku tidak menemukannya,” jawabku senang.

“Mas Agung. Suaminya kakakku yang membawanya dari Jogja. Aku memesannya karena aku tahu kau paling suka dengan coklat ini, bukan.”

“Terima kasih ya, Dika.”

“Kau tetap saja seperti dulu saat kuberi coklat. Matamu berbinar-binar."

“Biarin. Aku memang seperti ini kok,” ucapku sewot.

“Li, ..." katanya saat selesai makan.

“Iya ada apa Dika?”

“Li, bagaimana dengan pernyataanku yang kemarin. Apa kau menyetujuinya?"

“Yang mana Dika?”

“Aku ingin melamarmu, Li.”

Perkataannya membuatku terkejut.

“Aku ingin menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan Mey.”

“Bagaimana jika aku tidak siap menerima lamaranmu?”

“Memangnya kenapa, Li?”

“Aku butuh waktu, Dika memikirkan itu. Aku tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat,” kataku pelan.

“Jika kita bersama. Kita bisa berbagi beban itu bersama, Li.”

“Berilah aku waktu, Dika.”

“Aku akan memberimu waktu, Li. Aku akan menunggunya sama seperti kau menungguku selama ini."

Aku hanya tersenyum tanpa berkata.

“Ayo kita pergi. Bukannya kau harus bekerja lagi?” lanjutnya bersiap pergi.

“Apa kau tidak menjenguk Mey hari ini. Dia mencarimu, Dika."

“Oh ya? Hmm ... baiklah aku akan mampir sebentar nanti setelah mengantarkanmu.”

“Terima kasih ya Dika."

“Sama-sama Lili, Sayang,” katanya sambil mengelus rambutku.

\=Bersambung\=

1
Alanna Th
tq, author 😘😍💗👍🙏🙏👋👋
Alanna Th
kasihan mey, lili. walaupun berat, relakan mey pergi. mey sdh tdk kuat mnanggung ksakitannya. d sana tdk ada sakit n air mata 😵😫😰😥😭😭
Alanna Th
baik dika maupun lili gk mau mngalah utk kbahagiaan putri mrk yg sdg sekarat. kl mey pergi utk selamanya, mnyesalpun sdh percuma. d sini pemeran utamanya keras hati spt pemeran pmbntny. biasanya slh satu mngalah 😱😰😫😭
Anna Hasbiah
bintang untukmu thor, semangat terus berkaryanya
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Hicks...Hicks...Hicks...menguras air mata utk kepergian Mey selama nya Ikut merasakan kesedihan yg dlm sbgai seorg ibu yg merawat menjaga Mey dg bgtu baik...😭😭😭
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Iliyana terllu egois klo Dy tak mau menikah dg Dika demi Putri canteeeq nya...
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Huft....sungguh sakit Lilyana...sgt sakit hati yg tak Terperi...
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Paraaaaah...teramat paraaah...sikap Dika , ini sgt menyakitkan hati Lilyana...
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Sakit rasa nya klo diperlakukan bgtu dg Dika....
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Yach mmg itu jln terbaik utk melupakan seseorg , pergi utk melupakan nya...😞
Mulyanthie Agustin Rachmawatie
Pilu rasa nya ttg Liliyana....😢
❄️ sin rui ❄️
gilaaa di sinih yg berjuang habis2 san cuman si lili, dan sangat beruntung bagi si jesi di cintai sama cowo sebegitu besar nya
Khanza
s2 donk 😭😭😭😭 Sampai melahirkan
Khanza
menarik
Khanza
hai Thor aku mampir
IzZa Afkarina
😢😢😢
Serli Ati
aq setuju keputusan yg diambil lili
Serli Ati
ceritanya terlalu, tidak masuk akal, emang betul-betul sebuah khayalan.
Anjum Zuhriyah
ayo lah dik
Anjum Zuhriyah
sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!