NovelToon NovelToon
Layangan Yang Tak Pernah Lupa

Layangan Yang Tak Pernah Lupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:421
Nilai: 5
Nama Author: Ratna_dee

"janji ya kita harus bareng-bareng sampai besar nanti.. sampai aku bisa ajak kamu jalan-jalan keliling dunia!" seru Sena pada Arunika, gadis dengan rambut kepang duanya itu. "hm! Sena gak boleh ingkar janji ya, Aru bakalan nunggu janji Sena!" angguk gadis itu semangat sambil menyambut jari kelingkin Sena

namun sebuah kesalahpahaman menghantam keduanya, mengukir benci tanpa akhir. perpisahan tak dapat terelakkan hingga takdir mengikat keduanya kembali Cinta dan Benci, Rindu dan Dendam mempermainkan mereka dalam kisah masa-masa SMA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dejavu

semua siswa sudah kembali ke lapangan. Lusi, Yulia dan Claudia terlihat tertawa kecil di barisan belakang Deva tersenyum tipis, entah sejak kapan dirinya sangat menyukai jika gadis itu cemberut kesal, sedikit ide terlintas di benaknya, sebuah ide jahil yang mungkin akan menemani perjalanan serunya saat mendaki nanti

"semua sudah siap? barang-barang kalian jangan sampai ada yang tertinggal, pak Mali akan menjadi pemandu kita.. jangan sampai ada yang keluar dari rombongan, jangan pergi tanpa izin, hutan sekitar cukup luas kalian akan tersesat jika sampai berjalan sendiri" ucap Dharma, semua Siswa cukup patuh dan itu sudah cukup membuat Surya tenang membiarkan mereka masuk ke kawasan bukit hijau

Deva menatap dendam pada Surya yang berdiri tak jauh dari Dharma. tangannya menggenggam kuat, langkah kakinya bersiap untuk menerjang kerumunan dan membunuh Surya, entah bagaimana wajah kaku dan pucat Mamanya terlihat jelas saat matanya menatap Surya, Alvin menarik tangan Deva yang tak sadar sudah berjalan beberapa langkah. sadar dengan sikapnya, Deva menarik nafas pelan mungkin ini bukan waktu yang tepat

'waktu itu bukannya kakek dan nenek bilang pelakunya sudah masuk penjara? papa juga bilang si pria baj*ngan itu sudah di jatuhi hukuman mati? apa semua itu bohong? apa yang terjadi!!' batin Deva, matanya masih tak beralih dari Surya yang saat ini tak sengaja juga sedang menatapnya dalam bingung

'aku harus menyelidikinya! bagaimana jika baj*ngan itu kabur atau menyuap? bagaiman jika papa di bohongi selama ini? Bangs*ttt! haruskah aku yang menggantung kepalanya di alun-alun kota?!!!' batinnya lagi memekik

"loe kenapa Dev? ada sesuatu yang ganggu loe disana?" tanya Alvin pelan, Samudra menatap kedepan mencari apa ada hal aneh di sana hingga membuat sahabatnya itu seperti orang yang kerasukan?

"ga ada.. gue cuma keinget hal yang sedikit.." Deva tak melanjutkan kalimatnya, sudah hampir dua menit matanya bertemu dengan mata Surya Deva mulai mengalihkan pandangan berusaha menahan amarah dalam dirinya

'dia.. Maja bilang Sena juga ikut di antara mereka, apa dia Sena? tampan sekali bocah itu.. Lusi apa sudah ketemu dia ya? harusnya tadi aku tanya sama Lusi' batin Surya tersenyum, anak kecil yang dulu tak pernah jauh dari pandangan nya itu kini berubah menjadi remaja yang sangat tampan, tinggi dan bahkan postur tubuhnya terlihat gagah meski dari jauh, terlihat sekali jika bocah itu giat olahraga

'lain kali biar kusapa dia' batin Surya lagi

pak Mali mulai menuntun mereka, semua Siswa sudah berjalan mereka tak sabar untuk melihat alam yang hanya bisa mereka lihat dari internet sebelumnya. entah apakah akan terlihat sama indahnya dengan foto-foto yang pernah mereka lihat itu atau mungkin tidak akan sesuai ekspektasi mereka? selama tiga hari ini mereka akan tinggal di sana, dan itu membuat semangat mereka semakin membara

di tengah jalan, Deva yang sudah mengontrol emosinya itu teringat untuk menjahili seseorang, Deva beberapa kali memetik dedaunan di sepanjang jalan tangan nya terus merajut sesuatu, sedangkan Alvin dan Samudra mengabadikan momen perjalanan mereka. Alvin sibuk dengan kameranya dan Samudra sibuk menatap sekeliling mengagumi setiap pohon yang tumbuh indah, tumbuhan dan bunga-bunga kecil yang tumbuh liar tanpa rasa takut, kelinci berkeliaran seperti menyapa mereka semua

"pantes aja jarang ada yang di kasih izin masuk ke tempat ini, rasanya gue kayak di dimensi lain.. udah kayak di dunia fantasi aja nih gue" celetuk Alvin yang menatap setiap gambar yang di ambilnya

"nyesel gue gak lahir di tempat ini!" sahut Samudra juga

"tempat nya terlalu estetik gak sih.. gue gak pernah tau ada tempat yang seindah ini di negara kita" lanjut Samudra lagi

"katanya si Lusi sama si preman cewek dari desa ini loh" ucap Alvin sambil mengambil gambar kelinci dari kejauhan, kameranya tak sengaja menangkap setengah tubuh dan wajah Claudia yang sedang tertawa. matanya tak berkedip menatap gambar itu

"indah" ucapnya tak sengaja

seekor ular tercipta dari hasil rajutan tangan Deva, bibirnya terangkat sebelah membayangkan wajah kesal dan marah Lusi jika dirinya melempar ular daun itu ke arahnya

'i'm Coming, sweetie girl!' batinnya penuh semangat, entah mengapa rasanya sangat candu bagi Deva mengganggu gadis yang pernah menabrak dan berani menampar nya itu

langkahnya mulai cepat, mengejar Lusi dan dua temannya yang asik mengobrol itu. Alvin dan Samudra tak peduli dengan apa yang Deva lakukan mereka terlalu sibuk dengan dunia mereka masing-masing

khmm....

Lusi sedikit terkejut mendapat sapaan tiba-tiba dari Deva, ingin mengabaikan tapi Deva melempar sesuatu kearahnya dengan wajah menyebalkan. Lusi menatap ular-ularan itu dengan datar.

"kok loe gak kaget?" tanya Deva bingung, Yulia dan Claudia melihat dua orang itu dalam sepi, hanya suara angin yang menerpa pelan

"ular" tunjuk Lusi pada dahan di samping Deva, ular hijau tanpa racun itu menatap mereka seolah bertanya apa yang mereka lakukan di sana

"Aaa!! Ulaarr!!!" teriak Claudia bersembunyi di belakang Yulia, Alvin dan Samudra mendekat ke pada mereka

"mana? siapa yang digigit?" tanya Samudra pada dua gadis itu, Yulia diam tak menjawab mereka karena ular itu memang bukan ular yang bahaya

"kok loe gak takut?" tanya Lusi dan Deva serempak, mata mereka bertemu dalam keheranan yang sama

"pemberani juga loe" ucap Deva melanjutkan perjalanannya meninggalkan Lusi dan lainnya, Alvin dan Samudra pun menghindari ular itu mereka malah bingung pada Deva yang tak takut

"Dev.. kok loe biasa aja sama ularnya, padahal tadi loe deket banget loh sama ular itu.. kalo si Lusi sih gua gak akan heran dia kan anak Desa, ular mah temen main mereka" tanya Samudra yang mengejar langkah Deva

"loe kira kalo anak Desa isinya titisan limbad semua ya? pola pikir loe aneh juga" sahut Alvin

Deva tak menjawab, dia kesal karena gagal membuat Lusi takut.

sudah hampir setengah bukit yang mereka daki, pak Mali faham jika banyak dari anak-anak itu yang sudah kelelahan jadi pak Mali sebagai instruksi mengajak mereka untuk istirahat sebentar sambil menikmati kuda liar dari kejauhan, sambil istirahat pak Mali menceritakan sejarah bukit hijau bagaimana menjadi aset pribadi milik Desa, apa saja larangan yang harus di taati di sana, apa saja panorama yang bisa mereka nikmati di sana. para siswa mendengar dengan sangat baik, mereka semakin bersemangat untuk sampai ke tujuan, lembah Awan. namun di tempat istirahat itu pun mereka sudah kehilangan rasa letih karena pemandangan yang indah, hutan yang ramai penghuni seperti kelinci dan rusa, lalu bahkan kuda liar di bukit yang penuh rumput ada juga sapi-sapi yang berkeliaran di bawah beberapa pohon besar, benar-benar sangat memanjakan mata

Deva seperti dejavu dengan semua hal itu, tidak hanya kenangan manis bahkan luka dan pahit yang menduri sejak 7 tahun lalu pun bisa di lihatnya dengan jelas melalui panorama didepan matanya itu, ilusi dirinya yang bermain dengan papanya dan gadis kecil di masa lalu itu berputar-putar di tengah bukit bersamaan dengan kuda liar yang berlarian bermain dengan rumput yang menari

1
v_v aja🩵🩷🩶
bagus banget 😍💐💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!