Ariel tak menyangka pernikahannya dengan Luna, wanita yang sangat dicintainya, hanya seumur jagung.
Segalanya berubah kala Luna mengetahui bahwa adiknya dipersunting oleh pria kaya raya. Sejak saat itu ia menjelma menjadi sosok yang penuh tuntutan, abai pada kemampuan Ariel.
Rasa iri dengki dan tak mau tersaingi seolah membutakan hati Luna. Ariel lelah, cinta terkikis oleh materialisme. Rumah tangga yang diimpikan retak, tergerus ambisi Luna.
Mampukah Ariel bertahan ataukah perpisahan menjadi jalan terbaik bagi mereka?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;👇
"Setelah Kita Berpisah" karya Moms TZ bukan yang lain.
WARNING!!!
cerita ini buat yang mau-mau aja ya, gaes.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33#. Mengambil langkah tegas
Waktu berlalu terasa begitu lambat bagi Ariel. Dia mencoba berkonsentrasi dan berusaha keras untuk menyelesaikan pekerjaannya, tetapi pikirannya tetap tidak tenang. Dia merasa tidak sabar untuk segera pulang.
Akhirnya, jam kerja pun selesai. Ariel segera merapikan mejanya dan bergegas meninggalkan ruangannya. Dia langsung menuju parkiran dan bertemu Andre di sana.
"Riel, yang sabar, ya," kata Andre seraya menepuk bahu Ariel.
"Thanks, Bro," jawab Ariel sambil tersenyum tipis.
"Apa kamu mencurigai seseorang?" tanya Andre pada akhirnya.
"Entahlah, Ndre." Ariel menggeleng lemah. "Ya, sudahlah, aku pulang duluan. Sampai jumpa besok."
"Oke, hati-hati. Aku yakin kamu pasti bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik," kata Andre sambil tersenyum.
Ariel mengangguk lalu masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan parkiran kantor. Dia melajukan mobilnya menuju ruko D'Style.
Hanya lima belas menit berkendara Ariel telah sampai di depan ruko D'Style. Dia melihat lampu-lampu di dalam ruko sudah menyala. Dengan segera dia buru-buru keluar dari mobil dan berjalan memasuki ruko menuju ruangan Dian.
Di dalam ruangannya, Dian tampak tertunduk meletakkan keningnya pada kedua tangannya yang bertumpu pada meja. Ariel datang dan melihatnya dengan perasaan bersalah. Dia menarik napas dalam-dalam lalu mendekati wanita tersebut.
"Maafkan aku ya, Di. Gara-gara aku, kamu jadi ikut menanggung akibatnya," ucap Ariel sambil menatap Dian dengan wajah sendu.
Mendengar ucapan Ariel, Dian pun mengangkat kepalanya perlahan dan menatap Ariel. Ia mencoba tersenyum meski hatinya tak baik-baik saja.
"Kamu tidak bersalah, Riel. Tapi aku khawatir dengan D'Style. Semua berita buruk ini bisa membuat pelanggan kita lari," kata Dian dengan nada cemas.
"Aku juga khawatir, Di. Tapi kita tidak boleh menyerah. Kita harus buktikan bahwa kita tidak bersalah," jawab Ariel penuh keyakinan.
"Bagaimana caranya, kita bisa membuktikan bahwa kita tidak bersalah?" tanya Dian sambil menatap Ariel dengan serius.
Ariel tidak menjawab, dia meraup mukanya dengan kasar sambil berpikir mencari jalan keluar.
Keheningan menyelimuti ruangan untuk beberapa saat. Keduanya terlarut dalam pikiran masing-masing, mencoba mencari jalan keluar dari masalah yang menimpa mereka.
Tiba-tiba, pintu ruangan diketuk.
"Masuk," kata Dian.
Nita masuk ke dalam ruangan, membawa dua cangkir teh hangat. "Maaf mengganggu, Mbak Dian, Mas Ariel. Ini ada teh hangat, diminum dulu," katanya sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih, Nita," jawab Dian.
Nita meletakkan cangkir teh di atas meja dan pamit undur diri. "Saya permisi dulu ya, Mbak, Mas."
Setelah Nita keluar, Dian dan Ariel saling bertukar pandang. Mereka tahu, ini bukan hanya sekadar masalah pribadi, tetapi juga masalah bisnis yang bisa berdampak pada banyak orang.
"Apa kamu setuju, kalau aku meminta bantuan sepupuku untuk meretas akun fake itu, Riel?" tanya Dian dengan nada serius.
"Ide bagus, aku setuju. Dengan begitu kita dengan cepat bisa tahu siapa yang mencoba bermain-main dengan kita. Dan kita bisa membuktikan bahwa semua ini tidaklah benar," jawab Ariel.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan pada orang itu setelah kita tahu pelakunya?" tanya Dian selanjutnya.
"Kita harus mengambil langkah tegas, kalau perlu kita akan menempuh jalur hukum." Ariel menjawab dengan tegas.
Dian tersenyum tipis, sorot matanya mengisyaratkan tekad yang sama untuk membersihkan nama baik mereka. "Aku lega mendengarnya. Aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut."
Ariel menepuk pundak Dian, memberikan dukungan. "Tenang saja, kamu tidak sendirian, Di," kata Ariel.
"Kita akan selesaikan ini bersama-sama. Apalagi semua masalah ini bersumber dari aku," lanjutnya menambahkan.
"Sekarang lebih baik kamu hubungi sepupu kamu itu. Dengan begitu kita bisa tahu siapa mereka dan tindakan apa yang harus kita lakukan," pinta Ariel pada Dian.
"Siap!" Senyum Dian mengembang. Lalu ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dan membukanya. Setelahnya ia mencari nama sepupunya kemudian menghubunginya.
Dering pertama, kedua, hingga ketiga, akhirnya panggilan itu pun tersambung.
"Halo, Assalamualaikum, Bang," sapa Dian pada sepupunya.
"Waalaikumsalam, Dian. Ada apa nih, malam-malam telepon, abang?" jawab sepupu Dian dari seberang telepon.
"Maaf ganggu waktunya, Bang. Aku mau minta tolong sama Abang. Ini penting banget," kata Dian dengan nada serius. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Jadi gini, Bang. Ada akun fake yang menyebarkan berita bohong tentang aku dan rekan bisnisku Ariel. Boleh kan, aku minta tolong sama Abang untuk melacak akun fake itu?"
Terdengar helaan napas dari seberang telepon. "Oke, abang ngerti. Abang akan bantu kamu, Dian. Kirimkan link akun fake itu ke abang, nanti abang coba melacaknya," jawab sepupunya dengan nada tegas.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Bang. Aku seneng banget Abang mau bantu," kata Dian dengan nada lega.
"Sama-sama. Kamu tenang aja, Abang pasti bantu. Nanti kalau ada perkembangan, abang akan kabari kamu," kata sepupunya.
"Siap, Bang. Sekali lagi terima kasih banyak, ya," ucap Dian.
"Ya sudah, abang tutup teleponnya, ya. Assalamualaikum," pamit sepupunya.
"Waalaikumsalam," jawab Dian, lalu menutup teleponnya.
Dian menatap Ariel dengan senyum penuh harap. "Abang sepupu aku bersedia bantu kita, Riel. Dia akan coba lacak akun fake itu."
"Alhamdulillah. Semoga berhasil ya, Di. Aku yakin, kebenaran pasti akan menemukan jalannya," kata Ariel dengan penuh keyakinan.
Sebenarnya, Ariel sudah bisa menduga siapa orang yang tega membuat masalah dengannya. Akan tetapi, dia tidak ingin menuduh tanpa bukti, bisa-bisa dirinya yang menjadi tersangka dengan kasus pencemaran nama baik. "Semoga dugaanku tidak meleset. Andai itu benar, maka aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan dengannya," batin Ariel dengan geram sambil mengepalkan tangan erat-erat di bawah meja.
Padahal Ariel nya masih jadi duda😭😁
tapi Ariel dan Dian emang cuma partner kerja kan yah ... makasih Moms kita fokus ke Darrel dan anak kembarnya
aku pikir akan ada cerita Ariel dan Dian menemukan pasangan hidup atau malah mereka berdua jadi pasangan
harusnya Luna tau klu Ariel dan Dian tdk ada hubungan selain partner kerja.
Kalau anakmu bebas, itu sangat nggak adil buat Ariel dan Dian lah ...