Menceritakan tentang sosok pria kaya raya yang menikahi seorang wanita dengan tujuan balas dendam.
Riana Mahesa, seorang gadis yang harus menerima sebuah pernikahan yang disiapkan oleh orang tuanya guna membalas semua jasa dari orang yang telah merawatnya sejak kecil itu.
Regha Tanjung, pria yang berhasil mencapai kesuksesannya diusia yang terbilang masih sangat muda.
Regha membuat sebuah rencana pernikahan kontrak guna membalaskan semua dendam keluarganya.
Pernikahan yang hanya bertujuan membalas Budi dan juga balas dendam bagaimanakah akan berjalan dan berakhir.
Jadi selamat membaca, jangan lupa setiap dukungan kalian sangatlah berarti bagi author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spring day, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Regha sakit
Mereka tiba disebuah restoran bergaya Eropa.
" Ada apa om, kenapa wajahmu pucat seperti itu," tanya Riana bingung ketika melihat perubahan raut wajah Regha setelah memakan makanannya.
" Jamur," ucap Regha dengan wajah yang memerah.
" Jamur, tapi tidak ada jamur dimakanannya," memeriksa makanan Regha dengan baik.
Riana tahu jika Regha memiliki alergi jamur, itu tertera di larangan paling utama di kontrak perjanjian.
Riana memeriksa sekali lagi makanan yang dimakan oleh Regha dan benar saja ternyata dimakanan itu terdapat beberapa potong jamur, tapi bagaimana bisa dimakannya sama sekali tidak ada meskipun mereka memakan makanan yang sama.
" Om apakah kau membawa obatmu," tanya Riana setelah memberikan Regha minum.
" Tidak sudah lama alergiku tidak kambuh jadi aku sudah tidak pernah meminum obatku,"
" Kalau begitu ayo kita kedokter saja sekarang," membantu Regha berdiri.
" Apa kau bisa menyetir," menatap Riana yang berusaha membopongnya.
" Ahh tentu saja aku bisa ayo cepat," membawa Regha kemobil.
***
Riana mondar mandir di depan ruangan tempat Regha diperiksa, dia masih sedikit bingung bagaimana bisa dimakanan Regha bisa ada jamur padahal dimakanannya sama sekali tidak ada.
"Dokter bagaimana keadaannya," tanya Riana khawatir tepat setelah seorang dokter keluar dari ruangan.
" Pasien baik-baik saja, reaksi alerginya hanya reaksi ringan saja. Mungkin tuan Regha tadi sedikit terkejut karena alerginya kambuh secara mendadak seperti ini," jelas dokter itu.
" Baik terimakasih dok,"
Riana masuk kedalam kamar dan mendapati Regha yang masih berbaring dengan wajah yang memerah dan juga beberapa tanda kemerahan di lengan hingga lehernya.
" Om bisakah aku pinjam ponselmu sebentar," tanya Riana ragu.
" Untuk apa,"
" Baterai ponselku habis dan aku ingin menlfon asisten Sam,"
" Aku baik-baik saja, jadi tidak perlu merepotkannya datang kemari,"
" Bukan itu, tapi aku ingin menanyakan sesuatu kepadanya,"
" Menanyakan apa, bukan berarti dia asistenku kau dapat berbicara dengan bebas dengannya yah," tiba-tiba saja menjadi kesal.
" Aku hanya ingin menanyakan kepadanya tentang informasi restoran tempat kita makan tadi, kenapa kau malah marah seperti itu,"
" Untuk apa kau bertanya hal itu,"
" Aku hanya bingung saja, kita memakan makanan yang sama tapi kenapa milikku tidak ada jamurnya sedangkan milikmu bisa ada jamur didalamnya,"
" Sudahlah tidak perlu difikirkan, ambilkan saja aku air aku haus," mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
Riana menuangkan Regha segelas air lalu segera memberikannya kepada Regha.
" Apa ini, apa kau ingin aku meminumnya sendiri," ucapnya jutek.
" Lalu," bingung dengan Regha.
" Hufthhh bantu aku untuk minum,"
Dengan perlahan Riana menyandarkan Regha diranjang tempat tidur kemudian mendekatkan gelas berisikan air kedekat mulut Regha.
" Bukan begitu caranya," masih menolak, padahal apa susahnya tinggal menguk air itu saja.
" Lalu bagaimana lagi om," mulai jengkel juga, karena Regha sangat cerewet.
" Masukkan air itu kemulutmu tapi jangan menelannya,"
" Ahhh apa," bingung.
" Sudah cepat lakukan apa kau ingin membuatku mati kehausan sekarang," padahal kan dia sendiri yang bikin ribet.
Riana memutar bola matanya malas kemudian melakukan apa yang diperintahkan oleh pria itu.
Tanpa menunggu lama lagi Regha menarik tengkuk Riana kemudian menyatukan bibir mereka.
Riana membulatkan matanya saat Regha meminum semua air yang ada di mulutnya.
Dengan segera Riana mendorong Riana pelan.
" Aishhh apa kau ingin membunuhku hah," meringis memegang dadanya.
" Ahh benarkah maafkan aku, apa aku terlalu keras mendorongmu," memegang dada Regha.
" ahhh sakit, pelan-pelan," berekting dengan sedemikian rupa.
Riana menatap Regha kesal kemudian memukul dada Regha kuat.
" Auhhh apa kau gila," memegang dadanya yang kini beneran sakit.
***
Saat menjaga Regha tanpa sadar Riana tertidur didekat ranjang.
" Dokter bisa kah kau membantuku," ucap Regha sedikit berbisik agar Riana tidak terbangun.
" apa yang bisa saya bantu tuan Regha," ikut berbisik juga.
" Jadi jika Riana bertanya tentang kondisiku kau katakan saja jika kondisiku cukup parah dan harus dijaga dengan sangat baik," bisik Regha dengan senyum licik diwajahnya.
" Tapi tuan Regha, bukankah itu akan membuat nona Riana Khawatir,"
" Turuti saja perintahku jika kau masih mau bekerja,"
Dokter itu hanya mengangguk, ia setuju tentu saja karena ancaman yang diberikan oleh Regha. Jika tidak menuruti perintah manusia yang satu itu maka saja dia mempertaruhkan hidup dan pekerjaannya.
***
Riana bergeliat kecil, dia merasa sedikit terganggu dengan posisi yang kurang nyaman itu.
" kau sudah bangun," tanya Regha melihat Riana yang mengucek kedua matanya.
Riana hanya mengangguk pelan,
" Pergilah keruangan dokter tadi dia memintamu kesana ketika kau sudah bangun.
" Hem baiklah aku kesana sebentar kau tidak apa sendiri bukan,"
Regha hanya mengangguk. Dengan senyum penuh kemenangan mengiringi Riana yang keluar untuk bertemu dengan dokter.
***
" Selamat siang dok," ucapnya tepat ketika membuka pintu ruangan dokter tersebut.
" Oohhh nona Riana silahkan masuk,"
Riana duduk dihadapan sang dokter menunggu pria itu memulai pembicaraan.
" Jadi ini obat yang harus ditebus di apotik,"
" Ohh baiklah terimakasih dok," ingin meninggalkan ruangan.
" Tunggu Riana,"
" Iya?," berbalik menatap dokter itu lagi.
" Dengar aku ingin mengatakan jika tuan Regha harus dijaga dengan sangat baik, jangan membuatnya marah apa lagi sampai stress,"
" Kondisinya baik-baik saja kan dok, tadi kau bilang jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan bukan," menatap dokter yang terlihat sedikit bingung itu.
" Ahh dia terkena alergi, jadi kau harus menjaganya dengan sangat baik pastikan dia tidak memakan jamur lagi dan juga usahakan untuk membuat suasana hatinya selalu senang," tidak berani menatap Riana.
" Baiklah kalau begitu saya permisi," menunduk kemudian meninggalkan sang dokter yang kini menarik nafas lega.
" Aku tidak berbohong, tuan Regha memang terkena alergi jadi itu akan baik-baik saja bukan," berdialog sendiri.
Setelah mengambil obat, Riana kembali keruangan Regha.
Dan mendapati Regha yang sibuk bermain dengan ponselnya.
" Bukankah dokter itu sedikit aneh, awalnya dia bilang jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi dia mengatakan lagi jika kondisi pasiennya itu tidak terlalu baik," bergumam pelan sambil berjalan kearah Regha.
Tentu saja Regha yang mendengar itu langsung tersenyum lebar, saatnya bersenang-senang sedikit dengan istrik kecilnya itu.
" kau bicara apa," pura-pura tidak tahu.
" Ahh tidak om, apakah ada sesuatu yang kau butuhkan,"
" Aku ingin susu," ucap Regha tiba-tiba.
"Baiklah aku akan memembelikannya didepan dulu," ingin mengambil tasnya.
" Tidak bukan susu itu yang aku mau," tolak Regha dengan wajah mesumnya.
" Lalu kau ingin susu apa," tanya Riana yang bingung dengan tatap Regha.
Regha menatap kearah Riana sambil menaikkan kedua alisnya.
Riana yang sadar segera menyilangkan tangannya dengan cepat.
" Kau mesum om," jengkel dengan Regha.
" Padahal aku hanya meminta itu tapi kau tidak mau menurutinya," bernada sedih lagi.
Riana kembali teringat kata dokter untuk tidak membuat pria ini kecewa atau sedih.
" Tapi ini dirumah sakit om, bagaimana jika ada yang lihat hah,"
" Aku tidak peduli," menarik pinggang Riana.
" Tapi aku peduli," menahan tangan Regha yang sudah mulai nakal.
" Ayolah sedikit saja yah,"
Riana hanya memutar bola matanya malas kemudian membiarkan Regha melakukan apa yang dia inginkan.
Memang susah jika memiliki suami mesum seperti Regha ini.
suami selly bikin otaknya terbalik terlalu yakin mengatakan yg diliar nalar sm regha🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣