"Kamu itu milik saya, seluruh tubuh kamu juga milik saya! Hanya saya yang boleh menikmatinya."
~ Vicky Salvino
•••
Azila Anastasya, sosok gadis cantik berusia muda itu harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya merupakan incaran dari sosok lelaki yang tak lain adalah ayah sahabat dekatnya sendiri. Azila tentu tak percaya, kehadirannya ke rumah sahabatnya justru menjadi awal mula malapetaka ini terjadi.
Vicky Salvino, duda tampan kaya raya yang telah bertahun-tahun ditinggal sang istri itu sudah lama tak merasakan kenikmatan duniawi. Sebab itulah Vicky mengincar Azila, teman dari anaknya. Sejak lama Vicky mengagumi gadis itu, bahkan ia bertekad memiliki Azila seutuhnya.
Mampukah Vicky mewujudkan keinginannya?
Atau justru Azila dapat kabur dari kejaran lelaki itu?
Baca yuk kelanjutan kisah mereka disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon patrickgansuwu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Bekerjasama
Vicky menghampiri Azila yang tengah duduk sendiri di sofa sambil menonton tv, ia tersenyum lebar dan merangkul pundak gadis itu sambil mengendus lehernya. Tak ada penolakan dari Azila, sebab gadis itu juga tidak mungkin bisa melawan sosok Vicky.
Vicky tentu sangat menikmati momen ini, sebab sejak dulu ia selalu ingin berada di dekat Azila. Terlebih, bertahun-tahun mereka berpisah dan Vicky sama sekali tidak pernah bertemu dengan Azila dalam waktu yang lama.
"Saya sangat gak nyangka, setelah sekian lama kita akhirnya bisa berduaan kayak gini lagi sayang. Jujur saya senang banget dengan semua ini," ucap Vicky.
Azila menoleh ke arahnya, "Mungkin buat om ini menyenangkan, tapi bagi aku sebaliknya om. Aku sangat menderita karena harus terjebak dalam permainan om ini, aku sedih banget om!" ujarnya.
"Ahaha, kamu ini bisa aja. Kamu jangan bicara begitu dong sayang! Mungkin kamu belum terbiasa aja sama semua ini, tapi saya yakin nanti kamu pasti suka kok!" ucap Vicky.
"Itu gak akan mungkin terjadi om, aku pastikan itu!" tegas Azila.
Vicky tersenyum saja dan malah mengusap lembut wajah gadis itu, ia membelai rambut sang gadis dan tak lupa mengecupnya. Bagi Vicky, kata-kata Azila sama sekali tak menyakiti hatinya. Namun, justru membuat dirinya menjadi lebih jatuh cinta pada wanita cantik itu.
Ting nong ting nong
Tiba-tiba saja, suara bel terdengar dari arah luar yang membuat Vicky serta Azila terkejut bukan main. Mereka kompak menoleh ke pintu, lalu terlihat penasaran siapakah yang mendatangi unit apartemen mereka itu.
"Siapa sih itu? Ganggu aja deh dia, gak tahu apa kalau saya lagi asyik berduaan sama kamu?" keluh Vicky.
"Gampang om, kan om tinggal buka aja pintunya buat tau siapa yang datang! Lagipula, bisa jadi itu tamu om," ucap Azila.
"Iya sih, yaudah saya kesana dulu ya sayang?" ucap Vicky.
Azila hanya mengangguk tanpa berbicara apapun, sementara Vicky langsung bangkit namun tak lupa mengecup pipinya terlebih dulu sebelum lanjut melangkah. Entah kenapa Vicky sangat menyukai mencium pipi Azila yang ia anggap menggemaskan itu.
Ceklek
Begitu membuka pintu, Vicky terkejut dan sedikit melebarkan matanya lantaran tampak seorang wanita cantik berdiri di depan matanya. Tentu Vicky dibuat bingung, sebab baru kali ini ia melihat dan bertemu dengan wanita itu.
"Eh iya, kamu siapa ya? Cari siapa disini?" tanya Vicky terheran-heran.
"Hehe, gak perlu bingung gitu pak! Kenalin saya Joyce, tetangga bapak di apartemen ini! Saya punya hadiah spesial untuk bapak," jawab wanita itu.
"Hadiah??" Vicky terlihat heran dan mengernyitkan dahinya.
Lalu, wanita bernama Joyce itu menunjukkan sesuatu di tangannya yang ia bawakan khusus untuk Vicky. Ya terdapat sebuah kue di dalam sana, sepertinya Joyce memang sengaja menyiapkan semua itu.
"Iya pak, nah ini dia hadiahnya. Saya abis buat kue gitu, terus saya mau bagiin ini ke para tetangga saya," ucap Joyce.
"Ohh, wah sepertinya enak. Terimakasih ya Joyce, salam kenal loh!" ucap Vicky.
"Sama-sama pak, omong-omong bapak tinggal disini sendiri atau sama istri?" tanya Joyce penasaran.
"Umm, saya tinggal dengan istri saya. Nanti kapan-kapan saya akan kenalkan dia ke kamu ya Joyce," jawab Vicky tanpa ragu.
"Baik pak, kalo gitu saya permisi dulu ya? Mau bagiin ke yang lain juga," pamit Joyce.
"Ah iya iya Joyce, sekali lagi terimakasih atas kuenya!" ucap Vicky sambil tersenyum.
Setelahnya, Joyce pun pergi dari sana sesuai perkataannya. Sedangkan Vicky tampak kembali ke dalam apartemen miliknya, lalu menemui Azila sambil membawa kue di tangannya.
•
•
Joyce kini pergi menemui Max yang sedari tadi menunggu di tempat yang agak jauh, ya gadis itu tersenyum dan menghentikan langkahnya tepat di hadapan si pria untuk menyampaikan sesuatu.
Begitu melihat Joyce kembali, Max pun tampak tidak sabar dan segera menanyakan apa yang terjadi. Pasalnya, Max juga penasaran sekali apakah memang benar jika Azila ada di apartemen itu bersama Vicky.
"Gimana gimana, kamu udah berhasil kan Joyce?" tanya Max penuh harap.
Gadis itu mengangguk cepat, "Udah kok, tadi aku udah ketemu sama laki-laki penghuni apartemen itu. Terus dia bilang kalo dia tinggal sama istrinya," jawabnya.
"Hah? Itu pasti Azila, kurang ajar banget si om Vicky ini! Bisa-bisanya dia akui Azila sebagai istrinya, ini gak bisa dibiarin!" geram Max.
"Hm, aku masih gak ngerti deh. Sebenarnya tujuan kamu ini apa? Terus siapa wanita yang kamu maksud itu? Apa dia istrinya si bapak tadi?" heran Joyce.
"Eh gak gitu Joyce, nanti aku jelasin ke kamu deh. Sekarang yang penting aku minta tolong sama kamu buat pantau laki-laki itu terus, kamu bisa kan?" ucap Max.
"Bisa kok, kebetulan aku juga lagi libur semester. Tapi, untuk apa aku pantau laki-laki tadi?" ujar Joyce masih bingung.
Max merogoh saku celananya, lalu memberikan kartu namanya kepada Joyce. Ia sengaja meminta bantuan pada gadis itu, karena ia tahu hanya itulah yang bisa ia harapkan saat ini.
"Ini kartu nama aku, kamu bisa hubungi aku lewat nomor itu kalau ada sesuatu nantinya!" ucap Max.
Joyce memandangi kartu nama itu dan melihat wajah tampan Max yang terdapat disana, ia merasa beruntung karena mendapatkan nomor tampan pria itu tanpa harus memintanya.
"Oh okay, aku pasti bakal ngabarin kamu. Aku juga penasaran sih siapa istrinya bapak tadi," ucap Joyce.
"Itu bukan istrinya, Joyce. Wanita yang ada sama laki-laki tadi adalah Azila, dia teman baik aku waktu kuliah dulu. Sekarang dia ditahan sama si laki-laki kurang ajar itu, bahkan gak dibolehin buat pulang. Makanya aku sekarang mau bantu dia dan bawa dia pergi dari sini!" ucap Max dengan geram.
"A-apa? Loh, parah banget dong orang itu. Dia benar-benar kelewatan kalo begitu, kok bisa sih bapak-bapak itu culik perempuan yang masih jauh banget di bawahnya?" ucap Joyce keheranan.
"Entahlah, sepertinya laki-laki itu terobsesi sama Azila. Yasudah, kamu tolong terus pantau dia ya! Kalau situasinya memungkinkan, aku bakal masuk dan temui Azila di dalam sana untuk bicara sama dia," ucap Max.
"Ah iya, kamu serahin aja semua sama aku!" ucap Joyce tanpa ragu.
Meski baru saling mengenal, tapi tampaknya mereka sudah bisa cukup akrab dan bahkan saling bekerjasama. Apalagi, setelah Joyce tahu akar masalah dari semua ini.
"Kamu sekarang tenang aja Azila, gak lama lagi aku pasti bisa bawa kamu dari tempat ini!" batin Max penuh emosi.
Max mengepalkan tangannya, sungguh tak bisa ia bayangkan bagaimana kondisi Azila saat ini di dalam apartemen itu bersama pria yang telah melecehkannya. Ia merasa kasihan, sekaligus bersedih akan hal itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GUYS YA!!!...