Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perebutan di Aula Kuno
Penantian selama beberapa jam berakhir ketika gerbang batu raksasa itu memancarkan pendaran abu-abu yang stabil. Ratusan praktisi bersiaga melesat maju secara serempak, berbondong-bondong merangsek ke dalam celah portal.
"Tetap di dekatku!" seru rekannya yang berambut kusut itu sembari menerobos kerumunan.
"Aku mengimbangi langkahmu!" balas Chen er memacu langkah tanpa melepaskan energi sedikit pun dari tubuhnya.
Arus energi pemindah seketika menyelimuti tubuh saat mereka melompat masuk ke dalam pusaran kelabu. Sentakan tarikan spasial yang kuat memisahkan genggaman tangan mereka dalam hitungan detik. Aturan acak dimensi kuno ini langsung bekerja, melempar posisi mendarat setiap praktisi ke koordinat yang berbeda tanpa memedulikan kelompok mereka.
Hantaman sol sepatu di permukaan tanah menandakan ia telah mendarat dengan selamat. Pandangan matanya menyapu sekeliling, hanya ada lapangan luas berbatu hancur dan sisa pilar kuno yang roboh. Rekannya tidak terlihat di mana pun. Di tengah lapangan, sebuah istana kerajaan berdiri kokoh, masih utuh dan memancarkan aura kuno yang pekat.
"Tata ruang acak memisahkan kami," gumam Chen er pelan sembari melangkah cepat ke arah pintu gerbang istana yang terbuka lebar. "Aku harus segera bertindak sebelum tempat ini dipenuhi orang."
Gesekan sepatu di atas marmer retak bergaung di sepanjang koridor panjang istana. Ia berlari cepat, mengikuti arah desing logam dan teriakan kemarahan yang mulai terdengar dari dalam jantung bangunan.
Aula utama yang luas menyambut kedatangannya begitu ia melintasi ujung lorong batu. Di tengah ruangan, puluhan praktisi dari berbagai klan kecil sedang bertarung jarak dekat dengan senjata mereka masing-masing, merusak sebagian lantai aula dengan benturan energi Qi.
Tatapan matanya langsung tertuju pada patung batu raksasa prajurit zirah di ujung aula. Di dada dan lengan patung tersebut, tertancap empat senjata pusaka—kapak perang, pedang, busur panah, dan tombak bermata ganda—yang semuanya masih terbungkus lapisan batu tebal penyegel.
"Menyingkir! Tombak bermata ganda itu adalah bagian klan kami!" teriak praktisi berbaju merah dengan wajah penuh emosi.
"Tutup mulutmu! Senjata itu masih tersegel, siapa saja berhak mengklaimnya!" balas praktisi berkepala botak yang membawa gada besi besar.
"Klan Linggo tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh patung ini!" sahut praktisi paruh baya yang berdiri di depan patung, memutar tombak gandanya dengan agresif.
"Sombong sekali! Klan Angin Hijau kami akan mengambil busur panah itu!" timpal praktisi wanita berpakaian hijau di dekatnya.
Pergerakan Chen er bergeser pelan ke balik barisan tiang penyangga di sisi kanan aula. Ia menyembunyikan kehadirannya sambil memantau kekuatan musuh yang rata-rata berada di ranah Pemurnian Tubuh tahap akhir atau awal ranah Kondensasi Qi.
"Mereka sibuk bertikai. Aku harus bisa menyelinap mendekat," gumamnya dalam hati.
Dorongan telapak tangan praktisi berbaju merah memicu pelepasan "Semburan Api Pembakar" ke arah kerumunan. Gelombang api merah kekuningan menyebar cepat menghanguskan lantai, memicu kekacauan besar yang membuat semua orang saling serang tanpa pandang bulu.
"Habisi semua penantang! Jangan biarkan mereka mendekat!" teriak pemimpin klan berbaju merah itu sembari menebaskan pedang apinya.
"Hancurkan pertahanan mereka!" balas praktisi berkepala botak, menghantamkan gada besinya hingga meretakkan lantai marmer.
Langkah kaki Chen er melesat cepat memanfaatkan kepulan debu untuk mendekati patung. Namun, gerakannya terdeteksi oleh seorang praktisi paruh baya bertubuh kurus yang langsung menebaskan pedang melengkungnya.
"Ada penyusup!" teriak praktisi paruh baya itu dengan seringai kejam di wajahnya.
"Menyingkir," sahut Chen er datar.
Mata pedang melengkung itu menyambar cepat. Chen er merunduk seketika, merasakan desau tajam di atas rambutnya, lalu membalas dengan hantaman "Tinju Dasar klan Luo". Tinju fisiknya telak menghantam ulu hati lawan, mengirim tubuh praktisi itu terpental jauh menabrak kerumunan di belakang.
"Bocah sialan! Kau menyerang klan kami!" teriak rekan korban yang bersenjata tombak ganda, langsung melesat maju bersama rekannya dengan kemarahan meluap-luap.
"Dia mengincar patung! Potong kakinya!" seru rekannya, mengarahkan mata tombak ke arah dada Chen er.
"Gerakan kalian terlalu lambat," sahut Chen er dingin, menggeser tumpuan kakinya ke samping untuk menghindari tusukan pertama.
"Jangan sombong! Terima ini!" teriak musuh sembari mengalirkan energi Qi mereka ke ujung tombak.
Aliran Qi biru redup di ujung senjata mereka melepaskan "Tusukan Naga Kembar" secara beruntun. Puluhan bayangan mata tombak menusuk cepat, meretakkan lantai marmer di bawah kaki mereka akibat sisa energi yang terlontar liar.
Lompatan cepat Chen er membawa tubuhnya menerobos celah tusukan itu sembari melancarkan "Teknik Cakar Harimau". Cakar Qi kuning jingga memotong bayangan tombak, mencengkeram gagang kayu senjata pertama dan mematahkannya menjadi dua bagian dengan kekuatan fisik murninya yang dahsyat.
"Bagaimana bisa kau mematahkan baja kami?!" teriak praktisi itu terbelalak pucat.
"Dengan kekuatan fisik," sahut Chen er singkat.
Putaran tubuh Chen er diikuti tendangan memutar keras langsung menghantam rahang praktisi kedua hingga ia terjatuh pingsan di atas marmer. Di saat yang sama, seorang praktisi di tengah pertarungan utama melempar bubuk peledak, memicu ledakan keras yang meruntuhkan langit-langit dan menciptakan asap abu-abu tebal.
"Ini kesempatan terbaik," gumam Chen er dalam hati, langsung menerjang maju ke arah kaki patung raksasa tanpa memedulikan kekacauan di sekelilingnya.
Lintasan gerakannya melompati runtuhan batu membawa tubuhnya tepat di depan patung. Tatapan matanya tertuju pada tombak bermata ganda yang memiliki paling banyak retakan pada lapisan penyegelnya.
Tarikan tangan kanannya mengunci gagang tombak dengan cengkeraman erat. Energi fisik murninya mengalir kuat ke otot lengan, menarik paksa tombak tersebut dari dada patung batu.
"Ugh, daya tolak segel ini kuat," gumam Chen er, menahan ketegangan di sendi lengannya.
"Seseorang ada di kaki patung! Dia mengambil tombak itu!" teriak seorang praktisi dari balik kabut asap yang mulai menipis.
"Jangan biarkan dia membawa kabur pusaka itu!" teriak yang lain menyahuti dengan penuh kepanikan.
"Hentikan langkahnya!" seru pemimpin kelompok lain.
Serangan jarak jauh dilepaskan oleh pemimpin kelompok itu, mengalirkan energi angin tajam berupa "Tebasan Angin Pemotong Baja". Bilah angin transparan melesat membelah kepulan asap, mengincar punggung Chen er dengan kecepatan tinggi.
Sentakan bertenaga murni dilepaskan Chen er sembari memutar tubuhnya setengah lingkaran. Tombak bermata ganda yang tersegel tercabut paksa dari dada patung bersamaan dengan hancurnya patung tersebut oleh bilah angin tajam yang meleset. Tanpa jeda, ia langsung memasukkan senjata tersegel itu ke dalam cincin ruang kelas Langit miliknya.
"Pusaka itu dimasukkan ke cincin ruang!" teriak praktisi bermata satu dengan murka. "Kepung dia! Jangan biarkan dia keluar hidup-hidup!"
"Serahkan tombak itu!" bentak praktisi berbaju merah yang langsung memblokir pintu keluar bersama lima pengikutnya.
"Kalian terlalu lambat untuk menghentikanku," sahut Chen er dingin.
"Jangan harap bisa lolos!" teriak pemimpin klan berbaju merah itu.
Letupan energi batinnya memicu "Langkah Petir" sebelum kepungan lawan merapat sepenuhnya. Percikan cahaya putih keperakan meledak di sekitar pergelangan kaki, mendongkrak kecepatannya hingga batas maksimal.
"Tahan dia!" teriak pemimpin klan berbaju merah sembari melepaskan tebasan "Dinding Api Penghalang Jalan". Rintangan api menjulur cepat menutup pintu keluar, namun tubuh Chen er telah melesat melewati celah atas sebelum api itu menutup sempurna.
"Bocah itu meloloskan diri!" teriak musuh-musuhnya dengan frustrasi di dalam aula yang hancur.
Melesatnya tubuh Chen er membawanya keluar dari istana kerajaan dengan kecepatan penuh, membelah lapangan reruntuhan batu menuju sebuah hutan di sebelah selatan.