PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 — PRIA BERTOPI HITAM
BAB 9 — PRIA BERTOPI HITAM
Angin malam berembus pelan di halaman kediaman keluarga Axlarta.
Lampu taman menyala redup, menerangi jalan setapak yang dipenuhi bunga mawar putih. Wanginya semerbak.
Di balik pagar besi yang tinggi setinggi 3 meter...
Seorang pria bertopi hitam berdiri tanpa bergerak. Seperti patung.
Wajahnya tertutup bayangan topi fedora. Hanya dagunya yang terlihat. Tegas.
Tatapannya hanya tertuju ke arah satu jendela di lantai dua. Jendela kamar Eiri.
"Eiri..."
gumamnya lirih. Suaranya serak seperti sudah lama tidak dipakai.
"Akhirnya aku menemukanmu. Setelah 10 tahun."
Tangannya merogoh saku. Mengeluarkan foto tua yang sudah menguning. Tiga anak kecil di ayunan.
Namun sebelum ia sempat melangkah lebih dekat...
"Berhenti."
Suara dingin dan datar terdengar dari belakangnya.
Pria itu menoleh perlahan.
Empat pria berbadan tegap dengan jas hitam telah mengepungnya. Wajah tanpa ekspresi.
Di tengah mereka berdiri Asisten 01. Jas rapi. Mata tajam.
"Tuan kami tidak suka ada orang asing mengawasi rumah ini," kata Asisten 01.
Pria bertopi hitam tersenyum tipis. Bibirnya melengkung, tapi matanya tidak.
"Aku tidak berniat membuat masalah. Aku hanya... ingin melihatnya."
"Kalau begitu, ikut kami. Tuan ingin bertemu denganmu."
"Asal aku bertemu Mahendra." Pria itu mengangguk. "Boleh."
Asisten 01 mengangguk singkat.
"Ikat dulu. Demi keamanan."
Dua pengawal langsung maju dan memegang kedua tangan pria itu.
Namun...
Brak!
Dengan satu gerakan cepat yang tidak manusiawi, pria bertopi hitam memutar pergelangan tangannya dan melepaskan diri.
Ia melompat ke atas pagar besi setinggi 3 meter itu seperti seekor kucing.
"Kejar!"
teriak Asisten 01.
Beberapa pengawal segera mengejarnya, melompati pagar.
Sayangnya...
Pria misterius itu berlari ke dalam gang gelap dan lenyap tanpa jejak. Seperti asap.
Di ruang kerja lantai 3.
Mahendra mendengarkan laporan Asisten 01 sambil berdiri di depan jendela. Punggungnya kaku.
"Jadi dia lolos?"
"Maaf, Tuan. Dia terlalu cepat."
Mahendra terdiam. Rahangnya mengeras.
"Apakah dia membawa senjata?"
"Tidak, Tuan."
"Lalu?"
"Dia hanya membawa sebuah foto lama. Asisten sempat melihat sekilas."
Mahendra mengerutkan dahinya. "Foto?"
"Iya. Di dalam foto itu ada tiga anak kecil. Sedang bermain di ayunan."
DUG.
Darah Mahendra seperti berhenti mengalir.
"Tiga anak?" Suaranya menjadi sangat pelan.
"Iya, Tuan."
Mahendra langsung berbalik. Matanya gelap.
"Temukan orang itu. Sekarang juga. Kerahkan semua orang. Aku ingin tahu siapa dia dan apa tujuannya mendekati Eiri."
"Baik, Tuan."
Keesokan paginya.
Jam 8 pagi. Matahari cerah.
Eiri sedang membantu para pelayan menyiram bunga di taman belakang.
Ia memakai dress sederhana dan topi jerami.
"Pelan-pelan, Nona. Bunganya bisa patah."
"Baik, Bu." Eiri tersenyum kecil.
Ia memang belum terbiasa tinggal di rumah sebesar istana ini.
Baginya, membantu pekerjaan kecil seperti menyiram bunga terasa lebih nyaman daripada hanya duduk diam di kamar.
Saat sedang menyiram bunga mawar...
Seseorang memanggilnya dari gerbang.
"Eiri!"
Marchel datang sambil membawa dua kantong belanja kertas. Senyumnya lebar seperti biasa.
"Pagi, Nyonya Axlarta!"
"Pagi, Marchel." Eiri tersenyum.
"Aku membawakan sesuatu." Marchel mengangkat kantongnya.
"Apa?"
Marchel mengeluarkan sekotak permen cokelat dan beberapa batang lolipop warna-warni.
"Aku lewat minimarket tadi. Terus aku ingat kamu suka makanan manis. Biar gak stres jadi istri Es Batu."
Mata Eiri berbinar. "Terima kasih, Marchel."
"Tidak perlu sungkan. Anggap aja aku kakakmu."
Mereka tertawa kecil bersama. Suasananya hangat.
Namun...
Dari jendela lantai dua ruang kerja.
Mahendra melihat semuanya.
Tatapannya langsung berubah dingin. Sedalam es kutub.
Tangannya yang memegang pulpen sampai berhenti.
"Asisten."
"Iya, Tuan."
"Kenapa Marchel datang pagi-pagi? Apa tidak ada kerjaan?"
"Asisten kurang tahu, Tuan."
Mahendra menghela napas panjang. Napas cemburu.
"Cari alasan agar dia pulang. Bilang aku butuh dia di kantor."
"Asisten mengerti."
Tak lama kemudian.
Mahendra turun ke taman. Jasnya rapi. Wajahnya datar.
"Eiri."
"Iya, Tuan?" Eiri menoleh.
"Ayo ikut denganku."
"Ke mana?"
"Kita keluar sebentar. Ada yang harus kubeli."
Marchel mengangkat alis. "Wah, kencan? Akhirnya Es Batu punya hati juga."
Mahendra meliriknya datar. "Bukan urusanmu. Pulang sana."
Marchel hanya tertawa. "Baiklah. Aku pamit ya Eiri. Jaga diri."
Di dalam mobil hitam.
Suasana begitu sunyi. Hanya terdengar suara mesin.
Eiri beberapa kali melirik Mahendra yang sedang menyetir. Wajahnya fokus. Tangan kokoh di setir.
"Tuan..."
"Hm?"
"Kenapa kita keluar?"
Mahendra tetap fokus ke jalan. "Aku ingin membelikanmu sesuatu."
"Sesuatu?"
"Iya. Sesuatu yang... mungkin bisa membantumu ingat."
Sekitar tiga puluh menit kemudian...
Mobil berhenti di depan sebuah toko permen tua di pinggir kota.
Bangunannya kayu. Catnya sudah pudar. Tapi bersih dan harum.
Eiri memandang papan namanya. Tulisan tangannya sudah lusuh.
"Sweet Memory."
Entah mengapa...
Jantungnya berdetak lebih cepat. Dadanya sesak.
"Aneh..." gumamnya. "Aku merasa pernah ke tempat ini. Dulu."
Mahendra tersenyum kecil. Senyum yang hanya untuknya.
"Tentu. Tempat ini memang sudah sangat lama berdiri. Sejak kita kecil."
Ia membuka pintu mobil untuk Eiri.
Begitu mereka masuk...
Aroma gula, cokelat, dan karamel langsung memenuhi ruangan. Hangat.
Lonceng di pintu berbunyi ting.
Di sudut toko... terdapat rak kayu penuh lolipop berbagai warna. Merah, kuning, hijau.
Dan di tengahnya, ada satu toples besar berisi lolipop rasa stroberi.
Tanpa sadar, kaki Eiri melangkah ke arah rak itu. Seperti ditarik magnet.
Tangannya gemetar saat mengambil satu lolipop rasa stroberi.
Lalu...
Sebuah kilasan ingatan kembali muncul. Lebih sakit. Lebih jelas.
Seorang remaja laki-laki umur 16 tahun dengan rambut maroon tersenyum sambil menyodorkan lolipop yang sama.
"Kalau suatu hari nanti kamu melupakanku..." katanya dengan mata berkaca. "Aku akan membuatmu mengingatku lagi. Bahkan kalau harus kubeli seluruh toko ini."
"Aah...!"
Lolipop itu terjatuh dari tangan Eiri dan pecah di lantai.
Ia memegang kepalanya. Sakit.
Mahendra langsung menangkap tubuhnya sebelum terjatuh.
"Eiri! Eiri, lihat aku!"
Napas Eiri memburu. Matanya berkaca-kaca.
"Aku... aku mendengar suara seseorang..."
"Dia bilang... dia akan membuatku mengingatnya..."
Mahendra menatap wajahnya dengan penuh harap. Jantungnya hampir copot.
"Eiri? Siapa? Siapa aku?"
Namun...
Eiri menggeleng. Air matanya jatuh.
"Aku... aku belum bisa ingat. Maaf..."
Di luar toko...
Seseorang diam-diam memotret mereka dari balik mobil menggunakan lensa tele.
Klik.
Pria bertopi hitam tersenyum di balik topinya.
"Bagus. Makin cepat dia ingat... makin sakit permainannya."