Sebuah kecelakaan di ujung kota menjadi pintu pertemuan tak terduga antara Zean dengan Syifa, wanita yang berprofesi sebagai seorang dokter. Waktu yang terus berjalan rupanya menumbuhkan benih-benih cinta di antara mereka.
"Nikahi aku! Aku tidak ingin melukai ayahku karena memiliki rasa cinta pada pria asing sepertimu." (Syifa)
"Kamu tidak akan memiliki masa depan jika menikah dengan pria asing tanpa identitas sepertiku?" (Zean)
Kisah cinta mereka terdengar begitu sederhana. Namun, ada banyak ujian yang siap menghantam kisah cinta mereka, terutama yang datang dari sang mertua dan pamannya.
Gambaran ingatan Zean bagai mozaik yang memperlihatkan kepingan-kepingan gambar acak. Ada rahasia yang harus ia ungkapkan, dan pada saat itu tiba, ia hanya bisa memilih satu di antara dua pilihan hidupnya.
Yuk, simak cerita mereka!
Thanks a lot to zulsulong and Shivam_graphich in pixabay for the pictures 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UQies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MK - 31
"Jahat kamu, Syifa. Bisa-bisanya kamu jalan-jalan ke sini tanpa mengabariku. Kamu tahu, sudah sejak lama aku ingin ke sini tapi orang tuaku tak memberi izin, mereka baru mengizinkanku ketika aku menyebutkan namamu."
Syifa hanya bisa tersenyum mendengar celotehan Aura. Ia tahu Aura mengetahui semua terkait penyakit yang tengah menimpanya saat ini, tetapi ia juga tahu bahwa wanita itu tak ingin membuatnya terlihat menyedihkan.
"Dari mana kamu tahu aku ada di sini?" tanya Syifa kemudian.
"Ada, deh, aku punya banyak koneksi orang-orang yang jago melacak, makanya tak ada seorang pun yang bisa bersembunyi dariku," jawab Aura yang lagi-lagi membuat senyuman terbit di wajah Syifa.
"Lalu, bagaimana dengan kerjaanmu?" tanya Syifa lagi.
"Aku izin hari ini, mungkin lusa aku akan kembali," jawab Aura santai. "Jangan melarangku dengan berdalih melelahkan, boros, atau apalah, aku ingin healing dengan nyaman," sambung wanita itu cepat ketika melihat Syifa hendak membuka mulut untuk melayangkan larangannya.
"Ah, iya. Aku hampir lupa, dari tadi aku ingin menanyakan ini. Aku dengar kamu hamil, aku pikir kamu masih gadis. Lalu, di mana suamimu? Apa ... dia? cecar Aura lalu melirik ke arah Hadi yang sedang berjalan ke arah mereka sambil membawa secangkir teh.
Mendengar pertanyaan Aura, sontak saja Syifa langsung tertawa sambil memegangi perutnya.
"Kenapa ketawa?" tanya Aura sedikit bingung.
Syifa tak langsung menjawab, ia menunggu sejenak hingga Hadi pergi memasuki kamarnya usai mempersilakan Aura minum.
"Dia pasti sangat menyayangimu," ucap Aura lirih sambil sesekali menatap punggung Hadi yang semakin menjauh.
Syifa kembali tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Bukan, kamu jangan salah paham, dia itu pamanku," kekehnya.
Aura refleks menutup mulutnya malu karena salah paham. "Astaghfirullah, maaf, kupikir dia suami kamu. Lalu di mana suami kamu?" tanya wanita itu, membuat tawa di wajah Syifa seketika pudar.
"Dia tidak di sini," jawab Syifa tertunduk dalam sendu.
"Oh, baiklah, aku mengerti," ujar Aura cepat. Meskipun ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, tetapi melihat ekspresi Syifa saat ini, membuat wanita itu mengurungkan niatnya. Ia tak ingin membuatnya merasa tidak nyaman.
.
🦋🦋🦋
.
Sebuah mobil hitam melaju membelah jalanan yang mulai tampak sepi. Setelah hampir dua hari ia mencari tahu keberadaan rumah Gunawan, akhirnya ia berhasil menemukan alamat itu meskj kini malam semakin larut.
Mobil pria itu kini berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang merupakan rumah Gunawan berdasarkan alamat yang telah ia kantongi. Sebelumnya ia sudah mengunjungi Desa Lambani untuk bertemu dengan Hadi, tetapi sayang, pria paruh baya itu tidak ada di sana.
Alhasil, ia memohon meminta alamat baru Gunawan dari asisten Hadi. Awalnya pria muda itu menolak, tetapi setelah Zean memohon dan menceritakan kebenaran, akhirnya alamat baru sang mertua berhasil ia dapatkan.
Tok tok tok
Zean mengetuk pintu rumah itu hati-hati seraya mengucapkan salam. Ia tahu saat ini bukan lagi waktu yang tepat untuk bertamu, tetapi ia tak memiliki pilihan lain demi bisa segera mengunjungi Syifa yang entah bagaimana keadaannya saat ini.
"Tunggu!" Terdengar suara seorang wanita berjalan mendekat dan membuka pintu.
"Zean?" ucap Mega begitu terkejut. "Mau apa kamu kemari larut malam begini?" tanyanya sedikit sinis.
"Maaf, Ma. Maaf sudah mengganggu waktu istirahatnya. Apa Mama tahu di mana alamat Syifa di Amerika, saya ingin menyusulnya ke sana," ujar Zean sesopan mungkin agar tak memantik emosi dari ibu mertua yang ia tahu tidak menyukainya.
"Untuk apa lagi kamu mencarinya? Bukannya kamu sudah pisah?" Mega tertawa kecut. "Dulu ketika sakit, kau begitu lengket padanya, sekarang giliran dia yang sakit malah kau campakkan, suami macam apa kau itu? Lagi pula, duit dari mana kamu mau ke Amerika, jangan sampai kau mencuri lagi, yah. Malu-maluin!" cecar Mega begitu menohok.
Sebagai pria sekaligus suami, tentu Zean merasa tersinggung dengan perkataan Mega, apalagi ia merasa tak pernah melakukan apa yang wanita itu tuduhkan.
"Maaf, Ma. Saya tidak pernah mencampakkan Syifa, saya juga tidak pernah mencuri." Zean masih berusaha menahan diri agar tidak salah bertindak meskipun ia tidak terima dengan pernyataan sang mertua.
"Ada apa ribut-ribut tengah malam begini?" Terdengar suara Gunawan terdengar tak jauh di belakang Mega. "Loh, Zean? Ada apa? Masuklah!" sambung pria itu sedikit terkejut karena menyadari Zean-lah yang datang.
Mega tak bisa lagi berbicara, ia memutuskan untuk langsung pergi meninggalkan dua pria beda usia itu.
"Sekarang katakan, apa apa tujuanmu kemari tengah malam begini? Dari mana kamu mengetahui alamat rumah ini?" tanya Gunawan setelah mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Maaf, Ayah. Saya mendapat alamat Ayah dari asisten Paman Hadi. Sekali lagi maaf karena kedatangan saya sudah mengganggu tidur, Ayah. Saya mau minta alamat Syifa di Amerika, saya baru tahu kalau dia sedang sakit," tutur Zean pelan sambil tertunduk.
"Bukannya kalian sudah pisah?" tanya Gunawan.
"Tidak, Ayah. Saya tidak pernah menjatuhkan talak pada Syifa. Dia masih sah istri saya," jawab Zean cepat.
Gunawan terdiam sejenak seraya mengembuskan napasnya. "Zean, kamu tahu kenapa putriku memilih pergi darimu?" tanya Gunawan dengan tatapan serius, membuat Zean menggeleng lemah.
"Tidak, Ayah."
"Dia sedang hamil, kamu tahu, itu. Dia membutuhkan perhatian lebih dari biasanya, kebersamaan lebih dari biasanya, dan yang pasti dia butuh kasih sayang. Syifa bukan wanita yang dengan mudah memilih pergi tanpa sebab. Dia sendiri telah mengatakan itu dengan tegas saat meminta izin agar kalian bisa menikah. Ayah menduga, dia kecewa padamu, terlepas dari sakit yang ia derita saat ini."
Zean masih tertunduk dengan berjuta rasa bersalah yang menyelimuti hatinya. Ia menyimak kata demi kata yang diutarakan sang ayah mertua.
"Jika kamu ingin meminta alamat Syifa, maaf, Ayah tidak bisa memberikannya, ini amanah Syifa sendiri," ucap Gunawan melanjutkan.
"Tapi, Ayah. Saya ingin menemani Syifa, dia istri saya, dia juga mengandung anak kami." Zean memelas berharap hati sang ayah mertua luluh.
"Maaf, Ayah tidak bi—" Ucapan Gunawan terhenti ketika Zean tiba-tiba turun dari sofa dan berlutut di hadapannya sambil menangkupkan kedua tangan.
"Saya mohon, Ayah. Sebagai suami, saya ingin mendampingi Syifa, menjalani susah-senang, sehat-sakit, muda-tua dalam hidupnya. Saya sangat mencintainya, Ayah. Tolong, Ayah."
Gunawan lagi-lagi terdiam, sama halnya dengan Zean, ia juga ingin sekali mengunjungi sang putri, tetapi apa daya, keadaannya yang tidak memungkinkan membuat pria paruh baya itu hanya bisa mendoakan dari jauh.
Gunawan menarik napas dalam seraya mengusap matanya yang berair entah sejak kapan, lalu beranjak mengambil selembar kertas di dalam laci meja, kemudian menuliskan alamat di sana.
"Ini alamatnya, berjanjilah pada Ayah untuk menjaga, menyayangi, dan membahagiakan Syifa, tolong jangan buat dia terluka. Ayah tidak akan memaafkanmu jika kau melakukannya," kata Gunawan menegaskan.
"Iya, Ayah, insya Allah."
.
🦋🦋🦋
.
Pagi harinya, Aura menemani Syifa jalan-jalan pagi di depan apartemen. Keadaan wanita itu yang semakin mudah kelelahan membuat Aura menyarankan untuk menggunakan kursi roda, tetapi Syifa menolak dengan alasan masih kuat.
"Suasananya indah dan sejuk, yah. Aku suka di sini," ujar Aura tersenyum sambil menggandeng tangan Syifa.
"Iya, aku juga suka, tapi bagaimana pun tetap lebih nyaman di rumah sendiri," balas Syifa pelan.
Keduanya melangkah perlahan meninggalkan apartemen. Aura terus saja bercerita agar Syifa tak merasa bosan. Namun, semakin lama, ia merasa Syifa yang ia gandeng seakan menimpakan bobot tubuh padanya.
"Syifa? Kamu kenapa? Kalau nggak kuat kita balik saja, yah." Aura mencoba membuat Syifa tetap terjaga, tetapi pada akhirnya wanita hamil itu hilang kesadaran dan hampir jatuh, tetapi berhasil di tangkap oleh seorang pria.
Aura begitu terkejut ketika pria bertopi itu tiba-tiba datang menangkap tubuh Syifa dan menggendongnya ala bridal style.
"Dokter Rafael? Dokter juga ada di sini?" Semakin terkejutlah Aura ketika menyadari bahwa pria itu tak lain adalah direktur rumah sakit tempatnya bekerja.
.
.
-Bersambung-
masya Allah cerita syifa bikin terharu banget, air mata g berhenti nangis dengan kisah meraka.
semangat selalu ya kak selalu bikin karya² terbaik yang menguras emosi dan air mata.
meski sudah beberapa tahun lalu up nya.
dan aku bacanya novel nya alif dl/Facepalm/
indahnya kisah cinta shifa zean 😍😍😍😍