Cinta Terhalang Dinding Pesantren
Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.
Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.
Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.
Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 - Ta'aruf yang Benar
Setelah khitbah bulan depan ditunda, setelah Muthi'ah berani bicara di depan Ayahnya, setelah Nadira damai, akhirnya suasana Darul Hikmah agak tenang.
Kiai Hasyim memanggil Jay dan Muthi'ah, tapi kali ini tidak sendirian. Ada Nyai Maryam dan Ustazah Khadijah.
Di ndalem, sore, teh hangat lagi.
"Jay, Muthi'ah, Abi dan Pak Haji sudah sepakat memberi kalian waktu. Tapi waktu itu bukan untuk pacaran ya. Waktu itu untuk ta'aruf yang benar. Ta'aruf yang ada pendampingnya, ada adabnya," kata Kiai Hasyim.
Jay dan Muthi'ah duduk agak jauh, jarak dua meter, seperti waktu rapat Haflah dulu. Canggung.
Nyai Maryam tersenyum, "Jadi gini, Nak. Mulai minggu depan, kalian ta'aruf resmi. Tidak ada jalan berdua, tidak ada chat pribadi. Yang ada, kalian diskusi visi misi. Kalian bertemu di sini, di ndalem, atau di kantor Ustazah Khadijah, ditemani Umi dan Ustazah. Boleh tanya apa saja, tapi yang penting, saling melihat cara masing-masing berpikir."
Minggu pertama ta'aruf.
Di ndalem, Jay dan Muthi'ah duduk, ditemani Nyai Maryam. Di meja ada kertas visi misi.
"Jay, coba kamu duluan, visi kamu lima tahun ke depan apa?" tanya Nyai Maryam.
Jay agak gugup, padahal biasanya tegas kalau mengajar, "Visi saya, Umi, saya ingin meneruskan pesantren cabang yang di Malang itu, saya ingin membuat program beasiswa untuk santri yang ingin kuliah bahasa Arab di luar negeri. Dan saya ingin... punya keluarga yang sakinah, yang saling mendukung mimpi masing-masing."
Muthi'ah mendengarkan, kaget, visi Jay ada beasiswa, sama seperti list yang dia kasih dulu.
Giliran Muthi'ah, "Visi saya, Umi, saya ingin kuliah Pendidikan Bahasa Arab di Malang, lulus, terus jadi guru, terus kalau ada rezeki ingin lanjut S2 di Turki atau Mesir. Dan saya ingin punya keluarga yang saling mengerti, tidak saling menghalangi mimpi."
Nyai Maryam tersenyum, "Cocok ya, sama-sama ingin pendidikan. Terus, Jay, kalau istri kamu nanti kuliah S2 di luar negeri, kamu izinkan?"
Jay langsung menjawab, "Izinkan, Umi. Justru saya yang akan dukung, carikan beasiswanya."
Nyai Maryam mancing, "Beasiswa seperti list yang kemarin itu ya?"
Jay merah mukanya, ketahuan. Muthi'ah kaget, "Jadi list beasiswa kemarin dari... Gus Jay?"
Nyai Maryam tertawa, "Ya dari Jay lah, Muthi'ah. Siapa lagi yang membuat tabel serapi itu?"
Muthi'ah tersenyum, senyum yang agak malu, tapi senang. Akhirnya tahu, yang menjaga dari jauh itu benar-benar Jay.
Minggu kedua, mereka mengajar santri junior.
Muthi'ah mengajar kelas 1 putri, mengajari huruf hijaiyah dengan cara yang sabar sekali. Ada santri kecil yang menangis karena tidak bisa-bisa, Muthi'ah mengelus kepalanya, "Tidak apa-apa, pelan-pelan ya."
Jay mengintip dari jendela kelas putra, yang lagi mengajar kelas 1 putra, mengajari wudhu. Ada santri kecil yang wudhunya terbalik, Jay tidak marah, dia mempraktekkan lagi pelan-pelan, sambil bercanda, "Ayo, wudhunya seperti kucing cuci muka, jangan seperti bebek berenang."
Nyai Maryam yang mengawasi dari jauh berbisik ke Ustazah Khadijah, "Lihat, mereka sama-sama sabar ya."
Habis mengajar, mereka bertemu lagi di kantor Ustazah Khadijah untuk evaluasi. Tidak boleh saling masuk kelas, hanya boleh mengintip dari jendela, adabnya tetap dijaga.
"Bagaimana, Muthi'ah, melihat cara Jay mengajar?" tanya Ustazah Khadijah.
Muthi'ah menjawab jujur, "Gus Jay sabar, Ustazah. Saya kira Gus Jay tegas terus, ternyata kalau dengan santri kecil bisa bercanda juga."
Jay juga ditanya, "Jay, bagaimana melihat cara Muthi'ah mengajar?"
Jay menjawab, "Muthi'ah sabar sekali, Umi, Ustazah."
Mereka saling puji, tapi dengan malu-malu.
Minggu ketiga, mereka disuruh mendiskusikan masalah: kalau nanti punya anak, mau didik bagaimana.
Muthi'ah bilang, "Saya ingin anak saya hafal Quran, tapi tidak dipaksa. Dikenalkan dengan cara yang menyenangkan."
Jay bilang, "Saya setuju. Saya tidak mau anak saya merasa seperti saya dulu, harus jadi teladan terus, harus nurut terus. Saya ingin anak saya punya pilihan."
Nyai Maryam dan Ustazah Khadijah saling pandang, tersenyum. Visi mereka makin nyambung.
Ta'aruf yang benar itu tidak seperti pacaran. Tidak ada jalan berdua ke kantin, tidak ada chat "sudah makan belum?". Yang ada, duduk dengan jarak, ditemani ibu-ibu, membicarakan visi misi.
Canggung? Iya, canggung sekali awalnya.
Tapi lama-lama, dari canggung itu, tumbuh rasa hormat. Muthi'ah hormat dengan cara Jay berpikir yang dewasa. Jay hormat dengan cara Muthi'ah yang berani bicara, yang sabar mengajar santri kecil, yang punya mimpi besar ingin kuliah.
Suatu sore, habis ta'aruf, Muthi'ah mau pulang ke asrama putri, Jay masih di ndalem. Nyai Maryam memanggil Muthi'ah pelan.
"Muthi'ah, makasih ya sudah mau ta'aruf dengan cara yang benar seperti ini."
Muthi'ah tersenyum, "Makasih juga, Umi, sudah ditemani."
Di serambi, Jay lagi membereskan kitab, melihat Muthi'ah lewat dari jauh, hanya anggukan kecil, bukan senyuman genit, tapi anggukan hormat.
Muthi'ah membalas anggukan juga.
Tidak ada kata-kata cinta, tidak ada surat-suratan. Hanya anggukan hormat yang artinya: aku menghargai kamu, aku mengenal kamu pelan-pelan, dengan adab.
Dan itu, buat mereka berdua, sudah lebih dari cukup.
Ta'aruf yang benar itu tidak butuh dinding yang runtuh, tapi butuh pintu yang dibuka pelan-pelan, dengan pendamping, dengan adab, dengan restu.