Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.
Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".
Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 - Persiapan Dimulai
...FIORELLA FERRAZ...
Dua puluh hari, hanya dua puluh hari menuju kematianku. Aku akan menikah dan Jared akan tahu aku sudah menyerahkan diri pada orang lain. Papa bakal kena serangan jantung kalau sampai tahu. Aku mengkhianati kepercayaan pria yang paling kucintai, apa pun yang terjadi. Pelakunya Argo Romanov. Dia tidak seharusnya membawaku ke rumah itu dan memakaiku seperti itu. Pria dewasa dan beristri, dia yang salah, si brengsek itu!
Ah, siapa yang mau kutipu? Aku tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya. Mungkin kalau aku pura-pura dipaksa... tidak! Jangan. Aku tidak boleh berbohong sampai segitunya, mengarang hal seberat itu. Si jahat itu harus membantuku atau aku akan membongkar semuanya, titik.
"Perlu dikencangkan lagi, Nona Fiorella?"
"Kencangkan saja, aku mau gaunnya pas di badan."
Loretha masuk dan, tanpa sepatah kata, duduk di ranjang sambil melamun. Para perempuan itu mengukur setiap bagian tubuhku. Aku memperhatikan Loretha yang diam saja, tapi tidak mau bertanya sebabnya, tidak dengan orang-orang ini di kamar.
"Saya membawa majalah, Nyonya Loretha. Di sini ada semua model yang bisa kami buat," kata si desainer.
Loretha mengangkat kepala dan menyuruh majalah itu diberikan padaku untuk memilih model. Satu lebih cantik dari yang lain, dan harganya mahal sekali. Karena Papa yang bayar, aku pilih yang paling mewah saja. Adalberto Ferraz dan Argo Romanov yang paling diuntungkan oleh pernikahan paksa ini.
Aku memilih gaun yang paling mencolok, penuh kilau, mutiara, kerudung panjang, dan belahan dada yang menakjubkan.
"Gaun ini indah. Saya yakin Nona akan terlihat cantik memakainya."
"Sudah selesai, Nona-nona?"
"Sudah, Nyonya. Kami akan membuat sketsa dan perlu mengukur ulang badan Fiorella. Jangan hamil sebelum menikah, ya."
Para perempuan itu tertawa, Loretha juga tersenyum.
"Mustahil dia hamil." Aku ikut tertawa terpaksa mendengar ucapan Loretha. "Aku antar mereka ke bawah dulu, Fiorella."
Mereka keluar kamar, dan aku sadar tubuhku dingin karena ucapan Loretha: mustahil dia hamil. Rasanya aku sudah mengkhianati kepercayaan semua orang. Setiap hari berlalu, tali itu terasa makin rapuh.
"Fiorella!!" Jantungku berdegup kencang saat Argo masuk ke kamar dan langsung menutup pintu.
"Apa-apaan?!" Aku kaget, tidak menyangka dia ada di sini, tapi jantungku malah senang melihatnya.
"Aku ingin melihatmu." Dia berjalan ke ranjang dan duduk.
Aku buru-buru berpakaian, sementara dia mengamati setiap detail tubuhku.
"Istrimu sedang mengantar para penjahit ke bawah." Dia menatapku tanpa menjawab. "Kenapa?"
"Pernikahanmu makin dekat."
"Harusnya Tuan senang, kan Tuan yang memajukannya dua bulan."
"Siapa bilang aku tidak senang?" Dia bicara sambil menopangkan siku di lutut dan tidak melepaskan pandangan dariku.
"Aku sudah tidak sabar menikah dengan Jared. Pasti dia romantis, hal yang tidak ada pada Tuan."
"Kesabaranku makin habis menghadapimu, Fiorella. Kalau sudah habis total, kamu akan membenciku."
"Memangnya siapa bilang aku belum benci?" ejekku.
"Aku akan mengirim sebuah alamat. Aku mau kamu ke sana."
"Perjanjian kita cuma satu malam itu."
"Aku sudah mengubah perjanjiannya, setan kecil."
"Pertama, Tuan harus menghormatiku." Begitu aku selesai bicara, dia bangkit dari ranjang dengan murka dan mencengkeram leherku.
Darahku naik ke kepala, tapi anehnya di antara kakiku terasa panas. Aku mendorong dadanya dan mulai terbatuk.
"Tuan mau membunuhku?"
"Sayang kalau dibuang percuma."
"FIORELLA, KENAPA PINTUNYA DIKUNCI?" Loretha memanggil dari luar.
"Diam." Argo menaruh jarinya di bibirku, lalu masuk ke lemari besar dan menutup pintunya.
Sambil masih mengusap leher, aku membuka pintu supaya Loretha masuk.
"Ada apa?"
"Tadi tersedak air." Dia masuk dan menutup pintu di belakangnya, aku memakai blusku. "Hari ini Tante kelihatan diam sekali."
"Sudahlah, aku cuma khawatir tanpa alasan." Dia duduk di ranjang.
"Soal Jared?"
"Soal suamiku." Aku melirik lemari tempat Argo bersembunyi.
"Ada apa dengan Tuan Argo?" Aku mulai cemas, dia ada di situ. "Kita ngobrol di kamarku saja, yuk?" pintaku.
"Di sini saja, sebentar." Aku duduk, dan melihat ada yang tidak beres dengannya, kupeluk dia. "Dia pulang larut, dan kami melewati malam yang... sudahlah, lupakan. Sebenarnya aku mau minta sesuatu."
"Silakan."
"Aku dengar Blake sudah kembali, dia ada di luar. Waktu aku minta pengawalmu tetap di luar rumah, Argo tidak mau. Kamu tahu apa yang membuatnya berubah pikiran?"
"Aku? Tidak, Tante Loretha."
"Ya sudah, kukira mustahil dia mengabulkan permintaan itu, tapi ternyata dikabulkan."
"Tante Loretha, Tante istrinya. Menurutku Tante harus membuat dia menghormati Tante." Dia menatapku. "Maaf! Aku, gadis 18 tahun, malah menasihati perempuan dewasa yang sudah menikah."
"Aku mau mendengarmu. Apa yang harus kulakukan?"
"Menurutku Tante harus tegas. Kelihatannya Tante menerima semua yang dia katakan. Dia pria yang suka mengendalikan, mengendalikan segalanya dan semua orang, tapi pada Tante harus beda. Tante itu istri, bukan anak buahnya."
Terdengar bunyi dari lemari, dan Loretha menoleh. Tubuhku dingin, kukira dia akan berdiri memeriksanya.
"Pasti tikus, Tante Loretha."
"Tikus?" Dia menatapku ketakutan. "Nanti kusuruh pengawal memeriksanya. Tapi sebelumnya, aku minta nomor ayahmu."
"Nomor Papa?" Aku ingin bertanya kenapa, tapi terlalu lancang kalau menanyakannya. "Nanti kukirim. Kita ke kamarku sekarang?"
Akhirnya dia berdiri. Aku melirik sekali lagi ke arah tempat Argo bersembunyi, lalu kami pergi ke kamarku. Aku lega begitu keluar dari sana. Pria diktator itu berutang satu lagi padaku.