Aku seorang wanita yang harus memikul beban kehidupan yang amat sangat pahit, hanya demi gengsi dan ambisi untuk menguasi anak laki-lakinya untuk harta dan tahta karena ingin dipandang oleh semua orang.
Awalnya kusangat bahagia karena dipersunting seorang calon imam yang mumpuni dalam segala hal, namun dengan berjalannya waktu semuanya terbuka dengan sengaja yang mengakibatkan buta mata buta hati, jangankan untuk mengerti pedulipun sudah tiada arti lagi.
Hidupku dihiasi dengan rasa penuh pana dan derita, hatinyapun sudah tak sanggup menerima karena duka yang mendalam. Padahal kuhanya pengakuan saja bukan ingin dimanja dan dipuja, pengakuan itu sudah luar biasa. Harta ku punya keluarga ku punya tapi pengakuan sebagai menantu buatnya kini tinggal kenangan semata.
Walau kelihatanya bahagia padahal kami sangat menderita karena perlakuan yang berbeda dan perhatian yang penuh dengan kebencian semata. Hilanglah semua harapan kini tinggal kenangan batu nisan jadi saksi kebencian seorang mert
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PASKUD Official Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
DIPERJALANAN PULANG.
Sepanjang perjalanan, umi mengungkap semua rahasia dan kejadian yang membuatku terheran dan membisu. Bahkan membuatku terperangan, sekejam itukah aku sesadis itukah sitriku sebengis itukah kami. padahal kami ga pernah melakukan apapaun dan minta apapun. Biaya hidupun hasil dari jerih payah kami berdua dan bahkan kepahitan hidupun ga pernah bilang sama siapa siapa cukup kami telan dalam dalam.
Heran juga ko bisa seperti ni, padahal dulu sebelum nikah begitu disayang, sekarang dah nikah dan punya anak malah dihilangkan bahkan mengakui keberadaannyapun ga mau. Dianggap tidak ada dan bahkan dianggap mati.
Dari uraian umi aku menyimpulkan mereka semua sirik pada kami karena sukse dan menjadikan keluarga serba ada dan bahkan sekarang kami bisa memberangkatkan orang tua umroh makin panas aja.
Intinya kami dijadikan kambing hitam dan kami dijadikan pelampiasan kejelekan kebinasaan kesialan dan kehancuran mungkin buat mereka, bahkan kami sering diadu dombain terutama pada papah, sehingga aku paham dan mengerti sikapnya seperti itu.
Alhamdulillah umi sudah mau mengakui istriku dan anak anaku bagian dari mereka, aku sudah cukup dan bersyukur ternyata dibalik penolakan ada himah kebahgian untuk aku kasih pada istri dan anaku.
Sebenarnya umi sayang dan selalu ingin bertemu dengan cucunya namun apalah daya terus dilarang bahkan diintimidasi dan bahkan tidak dikasih akses apapun untuk mengetahui keadaan mereka. Umi sudah ga sanggup menahan rindu sama mereka umi sudah ga bisa lagi jauh dari mereka, umi sangat bahagia dan segar sekali pada saat lepas dari kungkungan keluarga kakaku dan papahku. Umiku sangat ingin memeluk mantunya dan cucu cucunya.
Terima kasih ya Allah atas karuniamu yang begitu besar padaku, engkau berikan begitu indah dan tak sanggup untuk kuluapkan dengan kata kata. Hanya dengan hati yang lapangan dan tangan memberi sedekah pada yang berhak menerima.
Tak terasa perjalanan sudah sampe rumah, dan membuat anak anaku bingung bahkan istriku yang masih kerja ijin pulang karena tau ayahnya pulang. Ternyata kejutannya adalah Umi nya ayah dengan sneyum lebar dan tangisan serta pelukan yang erat dan tak mau lepas dari gemgaman. Umi menangis sejadi jadinya dan selalu berkata maaf nak … maafkan umi nak… maafkan umi nak.
Dengan bahgianya dan terharunya Umi membuat anak anaku juga nangis dan memeluk umi dengan eratnya. Makasih mamim, makasih mim., aku sayang mamim, aku kangen mamim, aku sedari dulu pengen peluk mamim pengen cium tangan mamim, pengen sentuhan tangan mamim, dan sekarang aku rasakan, rasanya mendapat seisinya bumi dan langit. Selesai kami pelukan. Ibuku meminta sesuatu sama mamih yang membuat mamim nangis kembali.
Umi ku menggendong mamim dengan lembut dan pelan. Buat Umi inilah kebahgian yang sesungguhnya. Inilah kemuliaan sesungguhnya, Umi ku memperhatikan detail kebutuhan dan keinginan mamimku. Dan anak anakupun tak mau kalah, dan mungkin membuat mamim kerasan disini dan mau tinggal disini sementara waktu.
Umi ku ga mau jauh dari mamim Umi ku terus memeluk mamim, Umi ku terus mencium kening dan tangan mamim. Mungkin kerinduan yang terpendam terpecah seketika bagaikan bom hirosima yang meluluh lantkan seisinya.
Umi
“Mim maafkan kami, jika kami punya salah khilap dan bahkan kami susah untuk memberikan kasih sayang sama mamim. Kami sangat mencintai dan menyayangi mamim. Kami rindu mamim kami rindu semua mim. Maafkan menantumu ini yang ga pernah sayang sama mamim."
Mamim
“Nak kamu ga salah, yang salah kami termakan omongan orang, yang salah kami terlalu percaya sama orang yang kebenarannya belum pasti. Yang seharusya minta maaf adalah kami bukan kamu nak. Sambil menangis."
Umi
“Tidak mih kami yang salah kami yang lupa kasih sayang kita yang ga peduli sama mamih dan papih. Maafkan kami mih."
Disinilah harusnya saling terbuka dan membaca bukan menutup akan kesalahan dan kemunapikan agar tak terjadi kebencian antar sesama. Salam manis.
semangat terus berkarya 👍👍
itu apa ya 🤔🤔
Sahur
sahuuuurrr
Terpaksa menikahi kepsek kejam hadir memberi like...
di tunggu ke hadirannya di karya ku ya...