"Aku akan menjadi perisaimu, meski seluruh dunia menentang kita."
Menjadi satu-satunya manusia di antara kawanan serigala membuat hidup Luna selalu terancam. Tapi berada di dekapan sang Alpha tampan berhati dingin, dia menemukan perlindungan yang tak pernah ia duga. Akankah cinta mereka bertahan di tengah kutukan dan perebutan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keheningan Sebelum Badai
Mendengar bisikan panik Maya, Luna merasakan seluruh tubuhnya mendadak kaku. Kata Rogue yang sempat diucapkan oleh tetua kawanan di aula tadi pagi kembali terngiang. Serigala liar tanpa kawanan yang kejam dan haus darah. Dan sekarang, makhluk-makhluk itu sedang mengintainya dari kegelapan hutan.
"K-kita harus bagaimana, Maya?" tanya Luna, suaranya hampir habis karena rasa takut yang kembali mencekik tenggorokannya.
"Saya harus segera melapor kepada Alpha Yudha, Nona," jawab Maya dengan wajah yang tampak sangat tegang.
Gadis pelayan itu buru-buru menarik tirai beludru tebal untuk menutupi jendela kaca, memutus pandangan dari luar. "Nona tetaplah di sini. Jangan dekat-dekat dengan jendela, dan jangan buka pintu untuk siapa pun selain Alpha!"
Setelah memastikan Luna aman di dalam kamar, Maya berlari keluar dengan tergesa-gesa. Suasana kamar yang tadinya terasa hangat kini mendadak berubah mencekam. Gemertak kayu bakar dari perapian yang biasanya menenangkan, kini terdengar seperti langkah kaki yang sedang mengintai di luar dinding kastil.
Luna duduk meringkuk di atas ranjang, memeluk kedua lututnya erat-erat. Gaun katun merah muda lembut yang baru dikenakannya tidak mampu menghalau rasa dingin yang perlahan menjalar dari dalam dadanya. Setiap kali angin malam berembus kencang dan menggoyang dahan pohon di luar, jantung Luna berdegup kencang, mengira itu adalah serangan dari kaum Rogue.
Tidak sampai sepuluh menit, pintu kamar didorong terbuka dengan kasar.
Yudha melangkah masuk dengan napas yang sedikit memburu. Wajah tampannya tampak sangat tegang, dan aura dominasi yang dipancarkannya begitu pekat hingga memenuhi seluruh penjuru ruangan. Di belakangnya, Maya mengekor dengan wajah menunduk cemas.
Begitu melihat Luna yang sedang ketakutan di atas ranjang, Yudha langsung bergerak cepat. Dalam beberapa langkah besar, dia sudah berada di tepi kasur dan langsung menarik tubuh rapuh Luna ke dalam dekapan dada bidangnya.
"Kamu aman, Luna. Aku di sini," bisik Yudha rendah, suaranya yang berat dan dalam bergetar oleh rasa protektif yang luar biasa besar. Tangannya yang kekar mendekap punggung Luna dengan sangat erat, seolah ingin menyembunyikan gadis itu dari seluruh bahaya di dunia luar.
Luna menenggelamkan wajahnya di leher Yudha, menghirup aroma maskulin dan angin malam yang pekat dari tubuh pria itu. Rasa aman yang instan langsung merayap di hatinya, perlahan meredakan gemetar di tubuh manusianya.
"Yudha... Maya bilang mereka Rogue. Mereka melihat ke arah jendela ini..."
"Aku tahu. Pengawal perbatasan juga baru saja melaporkan adanya penyusupan kecil," geram Yudha, rahangnya mengeras dan matanya sempat berkilat keemasan yang tajam di kegelapan kamar.
"Mereka sengaja mengincarmu untuk memancingku keluar dari kastil. Kaum Rogue mengira keberadaanmu adalah kelemahanku."
Yudha melonggarkan sedikit pelukannya, lalu menatap lekat-lekat mata bulat Luna dengan sorot mata yang penuh dengan tekad mutlak.
"Tapi mereka salah besar. Keberadaanmu di sini bukan kelemahanku, melainkan alasan terbesarku untuk menghancurkan mereka tanpa sisa."
Pria tampan itu berdiri, lalu berbalik menatap dua pengawal bertubuh besar yang rupanya sudah berjaga di depan pintu kamar sejak tadi. "Perketat penjagaan di lantai ini. Jika ada satu pun makhluk yang berani melangkah melewati tangga tanpa izinku, eksekusi di tempat."
"Baik, Alpha!" jawab kedua pengawal itu serempak dengan posisi siap sedia.
Yudha kembali menoleh ke arah Luna, berjalan mendekat dan mengecup kening gadis itu dengan sangat lembut sebuah kontras yang luar biasa dari perintah kejam yang baru saja dia berikan kepada anak buahnya.
"Aku harus memimpin pasukan untuk membersihkan perbatasan hutan malam ini, Luna. Aku tidak akan membiarkan bajingan-bajingan itu tidur dengan tenang di dekat wilayahku."
Jemari kecil Luna refleks mencengkeram ujung kemeja hitam Yudha, ada rasa berat yang mengganjal di dadanya saat harus melepas pria itu pergi ke medan pertempuran.
"Kamu... akan kembali dengan selamat, kan?"
Yudha tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh keyakinan yang sangat menawan di wajah tampannya. Dia menggenggam tangan Luna dan mengecup punggung tangannya hangat.
"Aku adalah Alphamu, Luna. Tidak ada satu pun serigala liar yang bisa menyentuhku. Tunggu aku di sini."
Dengan langkah mantap, Yudha berbalik dan berjalan keluar dari kamar, menyisakan keheningan malam yang menjadi saksi dimulainya badai konflik besar yang akan menguji kekuatan ikatan takdir mereka.