NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Potensi Dusun Teduh

Dinginnya malam menerpa tubuh dua gadis yang berboncengan motor matic warna biru. Sementara itu, motor sport warna hitam yang dikendarai laki-laki berjaket kulit mengawal mereka dengan setia dari belakang.

Mendadak Linda menyembunyikan wajah di punggung Azra sambil tersenyum malu. Spontan Azra menggeliat kegelian, "Kamu ngapain, Lin? Ndusel-ndusel gitu. Geli iih, Linda." Azra mencondongkan tubuhnya ke depan, menjauh dari Linda.

"Iih, Kak. Aku kedinginan, cuma mau berlindung aja, biar nggak dingin, pelit!"

"Hahaha ... dingin apa dingin? Jangan-jangan kamu mikirin omongan Azzam tadi ya. Iih, geli Linda! Jangan nempel-nempel kayak gitu, aku nggak tahan geli ..." jelas Azra sambil memukul kaki Linda. Kemudian dia membetulkan kembali posisi duduknya.

"Apaan sih, kak." Dipukulnya punggung Azra pelan, Linda memilin ujung jilbab Azra sambil senyum-seyum menahan malu.

Motor sport di belakang mereka maju, menyejajarkan posisi.

Si pengendara membuka tutup helm full face nya. Nampak wajah pemuda, berkumis tipis, menyembul dari balik helm.

"Ambil jalan lurus saja, Mbak. Agak jauh, tapi lebih terang dan aman."

"Aku nggak biasa lewat jalan itu, Zam. Kamu yang di depan ya," suara Azra tertelan suara deru motor.

"Apa Mbak? Nggak kedengeran!" teriak Azzam.

"Kamu yang di depan ...," kali ini Linda yang berteriak.

Azzam memberi isyarat gerakan tangan, agar mereka menepi. Setelah berhenti, Azzam turun menghampiri dua gadis yang dikawalnya.

"Kalau aku di depan, malah khawatir, karena nggak bisa jaga kalian yang di belakang. Nggak papa, jalan ini lurus saja, sekitar 300 meter, nanti belok kiri. Aku ngikuti dari belakang. Nanti aku kasih tanda lewat kaca spion. Gitu aja ya, Mbak Rara?" saran Azzam, sudut matanya melirik sekilas ke arah Linda yang menunduk dalam di punggung Azra. Azzam tersenyum simpul.

"Yo wis sekarepmu. Kalau gitu aku duluan nih ... Linda jangan tidur." Tegur Azra sambil menggoyang punggungnya yang ditempel erat oleh Linda.

"Hmm ..." jawab Linda sambil tetap menyembunyikan wajahnya. Azzam tertawa pelan.

"Jangan jauh-jauh dari kami yo, Zam," teriak Azra sambil melajukan motornya kembali bergerak.

Azzam menjawab dengan membunyikan klakson motornya.

Jika kemalaman saat kunjungan warga, biasanya Azra tidur di rumah mereka. Demi keamanan, kata warga yang dikunjungi. Area yang dilewati masih banyak sawah dan kebun tebu yang sepi dan gelap bila malam tiba.

Tapi malam itu, Linda tidak ingin menginap dengan alasan belum terbiasa tidur di rumah warga. Akhirnya setelah makan malam, Azzam, cucu lelaki Pak Wandi yang baru datang dari kerja, diminta mengawal dua gadis itu kembali ke Pustu.

______

Kantor Desa Sukamakmur di pagi hari.

Berkunjung ke kantor desa, warga akan disambut gapura batu bata tinggi menjulang di kanan kiri pintu masuk. Arsitekturnya khas peninggalan kerajaan Jawa kuno. Warna bata yang dibiarkan alami membuat suasana kantor desa terasa hangat dan membumi.

Berjalan ke arah kanan setelah pintu masuk, ada petugas di ruang khusus yang siap dengan buku tamu, bertugas mencatat data dan keperluan tamu. Ruang khusus ini juga berfungsi sebagai pos keamanan.

Setelah mengisi buku tamu, Lukman memarkirkan motor sport yang terletak di belakang pos keamanan.

Saat keluar dari area parkir, beberapa warga dan staf yang lewat, menyapa dan mengangguk hormat kepadanya. Khas adab orang desa.

"Mau bertemu Bapak, Mas?" Tanya salah satu staf yang kebetulan lewat.

"Inggih, Pak Carik. Bapak wonten?"

"Jam segini biasanya Bapak masih di masjid, Mas. Salat Duha. Monggo mau menunggu di kantor Bapak atau ke masjid, monggo kerso," jawab Pak Ali, Sekretaris Desa yang biasa dipanggil Pak Carik.

"Saya ke kantor saja kalau begitu, ada perlu kedinasan sama Bapak. Monggo, Pak." Lukman mengangguk sopan dan berjalan lurus ke ruang Kepala Desa yang terletak di bagian depan pendopo paseban.

Melewati ruang staf perangkat desa di sisi kanan pendopo, Lukman berhenti sejenak. Dia berjongkok dan mengamati tanaman yang tumbuh di pot berjajar rapi.

"Tanaman asparagus itu, Mas," jelas seorang ibu berjibab putih yang lewat di dekatnya.

"Inggih, saya tertarik, kok bisa dia tumbuh di sini," Lukman berdiri dan menoleh ke ibu yang mengajaknya bicara, "Eh, Ibu Laksmi. Mau ngurus apa, Bu?"

"Ini lho, minta surat pengantar buat ngurus KTP anak." Mata Bu Laksmi beralih ke tanaman yang baru saja diamati Lukman.

"Asparagus memang biasa tumbuh di dataran tinggi, tapi di beberapa wilayah juga bisa dibudidayakan. Kenapa Mas Lukman tertarik dengan tanaman ini?"

"Buat pemulihan, Dik Arun, Bu. Katanya bisa ningkatin imun dan bagus buat kesehatan rahim Arun pasca keguguran. Betul begitu ya, Bu?" tanya Lukman memastikan.

"Betul, Mas. Sepertinya ini jenis shatavari. Akarnya ya, kalo nggak salah, yang dipakai untuk pengobatan. Ngomong-ngomong, ada keperluan apa Mas ke kantor desa?"

"Mau ketemu Bapak Kepala Desa, Bu."

"Oo, ketemu Romo..."

"Itu kalau di rumah, Bu. Dipanggil Romo," jawab Lukman sambil tertawa ringan.

"Iya, ya. Pak Kades disiplin sekali orangnya. Tapi warga suka. Kalau nggak suka, nggak mungkin beliau dipilih sampai 3 periode. Semoga periode berikutnya beliau lagi yang mimpin. Eh, itu Mas, Pak Kades sudah keluar dari Masjid," tunjuk Bu Laksmi ke arah Masjid Raya.

Lukman memandang ke arah yang ditunjuk Bu Laksmi. Nampak seorang pria yang berkharisma, keluar dari Masjid Raya Desa Sukamakmur.

Masjid besar itu, terletak di sebelah kantor Kepala Desa, dipisahkan taman dan kolam ikan yang asri.

Lukman bergegas menuju kantor Bapak Kades, setelah berpamitan dengan Bu Laksmi. Sambil menunggu kedatangan Pak Kades, Lukman menerima panggilan dari ponselnya yang berdering. Berbicara sebentar, kemudian dimatikan. Dari kejauhan Pak Kades tersenyum ke arahnya.

Saat sudah dekat, dijabatnya tangan Lukman erat. "Sehat, Nak Lukman?" Tanya Pak Kades.

"Alhamdulillah, sehat Pak." Jawab Lukman.

"Mari masuk. Kita bicara di dalam." Pak Kades memasuki ruangan diikuti Lukman.

Hawa dingin menerpa badan, ketika memasuki ruang Kepala Desa. Bukan karena ber-AC, melainkan banyaknya ventilasi dan jendela yang terbuka. Dipermanis dengan tanaman hias yang diletakkan dengan apik di beberapa sudut dalam ruangan, menambah nuansa teduh ruangan tersebut.

Duduk di sofa tamu, Pak Kades menyimak dengan seksama penjelasan proposal yang diajukan Lukman.

Kondisi jalan masuk dari Desa Sukamakmur ke dusun-dusun ada kerusakan di beberapa titik.

Dan yang paling parah, akses menuju dusun Teduh dan dusun Ngestiasri. Jalan aspalnya sudah banyak lubang, diperparah dengan timbunan tanah yang dilakukan warga untuk menutup lubang.

TPK Desa, setelah mendapat persetujuan Musrenbangdes, segera menggandeng kontraktor swasta lokal guna pengaspalan jalan-jalan rusak di Desa Sukamakmur.

"Insya Allah, setelah jalan-jalan utama ini diperbaiki, maka jalan menjadi bagus. Kalau akses jalan bagus, investor pasti mulai melirik Desa Sukamakmur." Jelas Lukman di akhir paparan proposalnya.

"Baik, seperti itu saja pengaturannya. Setelah ini silahkan temui TPK Desa di ruang staf. Nanti mereka yang akan menjelaskan detail yang sudah kita sepakati bersama."

Ucap Pak Kades sambil menyerahkan proposal Lukman.

Lukman menerima kembali proposalnya. Setelah berpamitan, Lukman bergegas ke ruang staf desa. Senyumnya cerah.

Terbayang di pelupuk matanya, Desa Sukamakmur akan segera bertransformasi menjadi desa yang maju. Terutama Dusun Teduh—dusun yang menyimpan 'mutiara mahal' yang siap membawa kesejahteraan bagi seluruh warga desa. ​

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!