NovelToon NovelToon
BEAUTY

BEAUTY

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:76.7k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Selalu dianggap jelek dan dihina oleh suami dan keluarganya, bahkan hingga diceraikan. Membuat Nadi Djiwa membalaskan dendamnya dengan merubah penampilannya, ia ingin membuat mantan suaminya menyesal karena telah menceraikannya, dan ia pun ingin merebut kembali perusahaan yang ia rintis dari nol.

Akankah Nadi berhasil membalaskan dendamnya? Cerita selengkapnya hanya ada di novel Beauty - NovelToon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Cindy memandangi cek yang di berikan Nadi untuk pembayaran sop buntut sebanyak 5.000 porsi untuk acara pernikahannya. "Banyak sekali, apa aku sanggup membuatnya?" ia berpikir siapa yang akan ia ajak untuk membantunya membuat sop sebanyak itu, sementara ia hanya memiliki dua orang pegawai. "Ternyata mendapatkan banyak pesanan juga memusingkan."

Di tengah kebingungannya memikirkan pesanan Nadi, tiba-tiba saja dari arah belakang ia mendengar suara langkah yang tertatih. Ia sedikit bingung sebab putrinya sedang bermain di sebelah rumah, dengan rasa penasaran Cindy menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat Surya bangun dari kursi rodanya dan berjalan dengan tertatih mendekat ke arahnya. "M-mas Surya..." suaranya terdengar gemetar dan terbata-bata, ia begitu senang hingga meneteskan air mata bahagianya. "Mas Surya bisa jalan?" ia bergegas menghampiri Surya dan membantunya duduk di kursi.

"Maafkan aku Cindy," ucapnya, secara perlahan ia duduk di kursi kemudian meluruskan kakinya. "Aku tidak benar-benar lumpuh dan gila. Aku hanya ingin tahu siapa saja orang-orang yang peduli denganku di saat kondisiku terpuruk," Surya tersenyum sinis. "Ternyata teman dan bahkan keluargaku sendiri pergi meninggalkanku."

Cindy bingung harus senang karena Surya bisa berjalan dan terlihat normal atau ia harus marah karena Surya telah menipunya selama lebih dari dua bulan ini. Belum sempat ia mengeluarkan reaksinya, Surya terlebih dahulu berkata. "Maaf tadinya aku sempat mengira kau juga akan meninggalkanku sepertinya yang lainnya tapi ternyata, justru kau satu-satunya orang yang menerima kondisiku dan merawatku dengan baik."

Cindy menghela napas dalam, dan ia duduk di hadapan Surya. "Sebetulnya dulu aku hanya ingin memanfaatkan mas untuk legalitas anak yang aku kandung sebab ayahnya tak mau bertanggung jawab, tapi melihat kebaikan mas Surya pada Alin dan beberapa kali mas Surya membelaku di depan ibumu, membuatku tak bisa meninggalkanmu."

"Tapi aku rasa kau tak hanya sekedar kasihan padaku," ucap Surya sembari tersenyum. "Setiap malam kau selalu memelukku dan memberikan kecupan selamat tidur."

Wajah Cindy memerah, ia tak bisa bilang jika ia tidak mencintai Surya, tapi untuk mengatakan bahwa ia mencintai Surya pun rasanya ia malu. "Kemarilah," pinta Surya, mengulurkan tangannya. Ia merengkuh Cindy ke pangkuannya ketika Cindy berada di hadapannya. "Mari kita mulai semuanya dari awal. Bukankah kita sama-sama menginkan memiliki keluarga kecil yang bahagia? Kenapa kita tidak saling berusaha membahagiakan satu sama lain? Aku sudah lelah jika harus bercerai dan mencari yang lain, aku ingin berhenti di kamu. Apa kau mengingikan hal yang sama?"

Cindy menganggukkan kepalanya, ia memeluk Surya dengan erat. "Aku mau, Mas," bisiknya.

Surya memegang dagu Cindy hingga Cindy mentapnya. "Terima kasih ya, Cin." ia mendekatkan wajahnya ke bibir Cindy. Baru saja Surya hendak mendaratkan bibirnya ke bibir Cindy, mereka mendengar suara tangis Lisa.

Cindy tersenyum. "Maaf, Lisa bangun," ia beranjak dari pangkuan Surya dan bergegas mengambil putrinya dari tempat tidurnya.

Surya memanggil Cindy dan memintanya untuk membawa Lisa kepadanya. "Anak Papa semakin hari semakin cantik," ia medekap Lisa dengan penuh kasih sayang.

Seorang ibu mana yang tak terenyuh melihat seseorang yang bukan ayah kandungnya, teramat menyayangi putrinya, untuk itulah Cindy tidak bisa meninggalkan Surya. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" Surya melihat Cindy nampak berkaca-kaca memandangi dirinya. "Bukankah kau sedang menghitung daging untuk sop buntut di pernikahan Nadi? Kenapa tidak dilanjutkan?"

"Mas tahu jika Nadi akan menikah?"

"Ya tentu saja aku tahu, aku kan ada di sudut ruang tamu ketika kalian mengobrol. Aku hanya sulit berjalan bukan tuli, tentu aku mendengar semua yang kalian bicarakan."

Cindy meraih buku catatan anggaran belanjanya dan cek yang di berikan Nadi padanya. "Aku sudah menghitung semuanya, tapi masih ada kelebihan sekitar tujuh puluh lima juta dari uang yang di berikan oleh Nadi. Aku berencana memberikan empal dan variasi menu lainnya. Namun aku kekurangan orang jika membuat semua itu, menurut mas bagaimana? Apa uangnya di kembalikan saja pada Nadi."

Surya tahu betul siapa Nadi, wanita itu memang sengaja memberikan uang lebih kepada Cindy, bahkan Surya tahu jika sebenarnya pesanan sop buntut itu hanya semata-mata ingin membantu Cindy karena bisa saja Nadi memasukan menu tersebut pada catering hotel tempat ia memesan makanan untuk pesta pernikahannya. "Jangan, dia tidak akan menerimanya."

"Lalu bagaimana? Sekarang aku tidak mau menerima yang bukan hakku, apa lagi Nadi sudah banyak membantu. Keuntungan dari 5.000 porsi saja sudah lebih dari cukup bagiku."

Surya pun setuju dengan apa yang di katakan Cindy, ia menghela napasnya sembari berpikir. "Tidak ada jalan lain, kita harus cari orang yang mau membantu kita membuat pesanan ini."

"Siapa? Aku sudah keliling komplek ini, tapi ibu-ibu di sini sibuk dengan urusannya masing-masing!" Cindy memegang keningnya, ia hampir kehabisan akal mengurus pesanan Nadi yang hanya tinggal dua minggu lagi.

Di tengah kebingungan mereka tiba-tiba saja, mereka mendengar suara teriakan Alin memanggil ibundanya dari luar. "Mah..." Alin berlari menghampiri Cindy di dalam.

"Ada apa sih kak, kok teriak sambil lari-lari begitu?" tanya Cindy bingung.

Untuk sesaat Alin terkejut melihat Surya duduk di kursi sembari menggendong adiknya. "Kursi roda Papa?" tatapannya beralih ke kursi roda yang berada beberapa meter di belakang dan kembali menatap Surya. "Apa Papa sudah bisa jalan?"

Surya tersenyum sembari menganggukan kepalanya. "Masih belum bisa berlari sepertimu," ia merentangkan tangannya, meminta Alin mendekat ke arahnya. "Tadi ada apa teriak-teriak manggil Mama?" ia mengelus punggung Alin yang basah karena keringat. "Sampai basah begini bajunya."

Melihat papanya sudah tidak duduk di kursi roda membuat Alin hampir saja melupakan berita yang akan ia sampaikan. "Di depan ada Eyang dan Aunty Bintang," ucap Alin.

"Hah?" Cindy terkejut. "Kenapa tidak bilang dari tadi, kak?" ia beranjak dari tempat duduknya dan bergegas keluar rumah.

"Mama.." panggil Cindy dari pintu.

Mentari dan Bintang langsung menoleh ke arah Cindy, dengan ragu-ragu keduanya menghampiri Cindy. "Kau saja yang ngomong," bisik Mentari kepada putri bungsunya.

Bintang melotot. "Kok aku sih? ya Mama dong!" protesnya, suara Bintang lebih kencang dari suara Mentari hingga Cindy dapat mendengarnya.

"Silahkan masuk Mah, Tang... Mas Surya dan anak-anak ada di dalam," Cindy mempersilahkan keduanya masuk ke kediamannya.

"Namaku Bintang, kak. Kalau cuma Tang nanti aku di kira temennya obeng," protes Bintang ketika melewati Cindy.

"Maaf," ucapnya sembari tersenyum, ia mengatar adik ipar dan ibu mertuanya menemui suaminya di dalam. Melihat wajah keduanya yang napak tegang dan serius tentu ada hal serius yang ingin mereka bicarakan. Cindy mengambil Lisa dalam dekapan Surya dan menaruhnya di stroler. "Kak, tolong ajak adek ke warung ya. Tapi jangan sampai keluar, di warung saja sama Mba Caca."

Alin mengangguk, ia pun mendorong stroler adiknya menuju warung. Melihat Alin membawa Lisa pergi. Mentari mulai menangis tersedu-sedu, ia menceritakan bahwa kini ia tak memiliki apa pun termasuk tempat tinggal, sebab mereka harus ikut menanggung hutang-hutang judi Gading.

"Huhu... kepala Mama rasanya ingin pecah, Surya. Setiap hari kami ditagih oleh debt collector bertubuh besar dan terus mengancam kami. Kami juga tidak punya tempat tinggal, pemilik kontrakan tempat kami tinggal sudah memberi peringatan untuk mengosongkan rumah sebab kami tidak membayar kontrakan selam tiga bulan." Mentari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

1
Yunerty Blessa
Nadi bertemu dengan Aaron.. sungguh pilihan yang tepat..
Yunerty Blessa
akhirnya semua bahagia.... sungguh sebuah karya yang mantap walaupun singkat... makasih banyak kak thor 😘❤️
Yunerty Blessa
tahniah buat kehamilan Nadi dan Sofia
Yunerty Blessa
Nadi belum percaya kalo dia hamil..
Yunerty Blessa
semoga Nadi cepat hamil....biar dia buktikan bukan Nadi yang mandul melainkan Surya....
Yunerty Blessa
bahagia selalu Aaron dan Nadi
Yunerty Blessa
benar apa yang dikatakan oleh Cindy
Yunerty Blessa
syukur Surya bagi tumpangan kalo tidak tidur di bawah kolong jembatan
Yunerty Blessa
aduh gagal lagi... apakah kejutan buat Nadi setelah menikah dengan Aaron
Yunerty Blessa
syukur lah hati Nadi terbuka kembali untuk menerima Aaron dan Alyssa
Yunerty Blessa
Alyssa sakit kerana merindukan mu Nadi
Yunerty Blessa
kasian sekali nasib mu Cindy... apakah Surya dan Cindy sudah berpisah
Yunerty Blessa
kau kan bisa berbicara berdua tentang diri mu.... jangan terus putuskan..
Yunerty Blessa
balasan buat keluarga kalian....
Yunerty Blessa
sabarlah Aaron....bagi Nadi waktu
Yunerty Blessa
terima lah hakikat nya..
Yunerty Blessa
tapi Nadi tidak semua lelaki seperti Surya
Yunerty Blessa
percaya saja Aaron....Nadi bisa menyelesaikan masalahnya dengan Surya
Yunerty Blessa
kena kau Surya.... rasakan 🤣😏
Yunerty Blessa
seperti nya Aaron mulai bucin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!