Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGHUBUNGI IBU
Bzzztt...
Ponsel pintar itu bergetar pelan di dalam genggaman tangan jantannya. Logo sistem operasi perlahan muncul memenuhi layar, disusul oleh proses memuat data yang memakan waktu beberapa saat.
Begitu sinyal seluler di sudut atas layar terisi penuh dan tersambung ke jaringan... detik itu juga, keheningan di teras rumah kayu pecah berantakan.
Ting!
Ting! Ting!
Ting! Ting! Ting!
Suara rentetan notifikasi langsung berdatangan layaknya air bah tanpa bisa dibendung lagi. Layar ponsel di tangan Akira terus-menerus berkedip terang tanpa henti, memunculkan ratusan gelembung notifikasi baru yang masuk hampir bersamaan secara masif. Panggilan tak terjawab, pesan singkat operator, rentetan obrolan aplikasi pesan, hingga ratusan surat elektronik kerja memenuhi seluruh baris layar.
Daiki sampai terperangah kaget hingga mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. "Astaga, Akira-san... banyak sekali! Ponselmu bisa meledak kalau begini caranya!"
Sementara itu, Akira hanya bisa membeku di tempat duduknya. Wajah tampannya perlahan-lahan berubah pucat pasi menatap layar yang terus berkedip. Jemari tangannya mulai bergetar tipis.
Yukari memperhatikan perubahan drastis ekspresi pria itu yang kini seolah benar-benar telah kehilangan seluruh kata-katanya.
Butuh waktu hampir lima menit penuh hingga suara bising notifikasi di ponsel itu akhirnya benar-benar berhenti. Suasana teras kembali sunyi senyap, menyisakan deru napas Akira yang mulai terdengar tidak teratur.
Dengan tangan yang masih gemetar, Akira perlahan menyentuh layar, membuka daftar riwayat panggilan masuk dan keluar. Matanya bergerak lambat, membaca satu demi satu nama kontak yang muncul di sana dengan jumlah panggilan tak terjawab yang mencapai angka ratusan.
Sahabatnya
Haruka mantan istrinya
ayah dan ibu
Akira membuka beberapa pesan singkat yang paling atas. dari ratusan pesan itu yang berisi caci maki, kemarahan, ataupun kekecewaan dan kalimat kekhawatiran atas kepergiannya yang mendadak
Ting! Ting! Ting!
Rentetan suara itu belum juga berhenti, namun napas Akira sudah memburu hebat. Layar ponsel yang terus berkedip memamerkan nama "Ayah" dan "Ibu" justru terasa seperti hantaman godam yang membuat dadanya luar biasa sesak.
Bukannya merasa lega, seluruh tubuh Akira mendadak kaku, diserang rasa panik yang teramat sangat. Dunia yang selama beberapa minggu ini berhasil ia hindari, tiba-tiba saja mendobrak masuk tanpa ampun melalui benda pipih di genggamannya.
Klik!
Dengan gerakan kasar dan jemari yang bergetar hebat, Akira menekan lama tombol daya hingga layar itu kembali menghitam. Mati.
Tanpa sepatah kata pun, Akira langsung menyambar seluruh barang-barangnya di atas meja—dompet, dokumen, laptop—dan memasukkannya kembali ke dalam ransel hitam dengan sangat tergesa-gesa. Gerakannya begitu panik, seolah-olah jika dia terlambat sedetik saja, orang-orang dari masa lalunya akan langsung muncul di halaman rumah itu.
"Akira-san? Kau kenapa?" tanya Yukari, suaranya meninggi karena terkejut melihat perubahan drastis pria itu.
Daiki pun langsung menegakkan tubuhnya, ikut bingung melihat gelagat Akira yang mendadak seperti orang dikejar setan.
Akira tidak menjawab. Ia langsung menyampirkan ranselnya ke bahu, lalu berdiri dengan tatapan mata yang kosong dan tidak fokus. "Maaf... Daiki-san, Yukari-san. Aku... aku harus masuk ke dalam sekarang."
Bahkan sebelum Daiki sempat membalas, Akira sudah berbalik cepat dan melangkah lebar-lebar masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya terdengar terburu-buru di atas lantai kayu, disusul suara pintu kamar yang digeser kasar lalu ditutup dengan bunyi dentuman yang cukup keras.
Daiki dan Yukari hanya bisa terpaku membisu. Gelas minuman dingin yang baru diminum setengah kini terasa mendingin di udara sore yang mendadak terasa mencekam.
"Dia... kenapa, Daiki?" tanya Yukari menatap pintu dalam rumah yang kini tertutup rapat. "Padahal orang-orang itu mencarinya... mereka mengkhawatirkannya. Kenapa dia malah ketakutan sampai seperti itu?"
Daiki mengembuskan napas panjang, wajah cengegesannya hilang total, berganti gundah. "Trauma dan rasa bersalah itu tidak mudah, Yukari. Bagi Akira, ratusan pesan itu mungkin bukan bentuk kepedulian, melainkan tuntutan yang belum siap dia hadapi. Dia masih menutup diri terlalu rapat."
***
Suasana rumah kayu itu mendadak berubah menjadi sangat sunyi sejak sore itu. Akira sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Bahkan saat matahari perlahan tenggelam dan malam mulai menjemput, tidak ada tanda-tanda kehidupan dari balik pintu kamar pria itu.
Yukari berjalan ke ruang tengah. Jam dinding berdetak ritmis, menunjukkan angka sepuluh malam. Akira masih mengunci dirinya
Dengan langkah kaki yang sengaja dipelankan, ia berjalan menyusuri lorong kayu menuju kamar Akira. Begitu sampai di depan pintu geser tersebut, Yukari mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa.
"Akira-san...?" panggil Yukari lirih, suaranya nyaris berbisik memecah keheningan malam.
Tidak ada sahutan.
Perlahan, jemari mungilnya menyentuh bingkai pintu geser, lalu menariknya sedikit demi sedikit ke samping.
Sreeek...
Kamar itu gelap, hanya menyisakan sedikit sinar koridor yang masuk melalui celah pintu.
Di sana, di atas lantai, Akira sedang duduk bersandar pada dinding kayu. Kedua lutut ditekuk, Kepala yang tertunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya Dan tepat di atas lantai di depan kakinya, ponsel pintar berwarna hitam itu tergeletak mati, membisu, seolah menjadi saksi bisu atas hancurnya pertahanan diri seorang Takagi Akira malam itu.
Yukari perlahan melangkah masuk, membiarkan ruangan tetap remang dan ikut bersandar pada dinding yang sama, menemani Akira menatap kegelapan.
Bahu tegap pria itu mulai berguncang tipis. Ia menangis dalam diam—jenis tangisan menahan sesak yang justru terdengar sangat memilukan.
"Ternyata... aku belum siap, Yukari-san," bisik Akira. Suaranya pecah, parau, dan teramat lirih. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, frustrasi dengan kelemahannya sendiri.
Yukari menoleh. "Apa yang membuatmu takut, akira-san?"
Akira menurunkan tangannya, menatap kosong ke arah ponsel yang mati di lantai. "Tadi... di antara ratusan pesan, aku sempat membaca beberapa pesan dari ayahku. Isinya... cacian. Kemarahan karena aku pergi begitu saja." Akira menelan ludah yang terasa getir.
"Aku takut, Yukari-san. Aku takut jika aku kembali, aku hanya akan menjadi beban dan kekecewaan yang lebih besar untuk mereka."
Yukari mendengarkan dengan hati yang ikut berdenyut sakit. Ia bisa melihat ketakutan seorang anak yang mendambakan penerimaan orang tuanya di balik tubuh besar Akira.
"Akira-san," ucap Yukari lembut, mencoba mengalihkan sudut pandang pria itu.
"Kemarahan seorang ayah... terkadang hanya topeng dari rasa takut yang luar biasa. Beliau panik karena kehilanganmu, dan tidak tahu bagaimana cara mengekspresikannya selain meledak."
Yukari mengambil ponsel hitam di lantai, lalu menaruhnya perlahan di atas telapak tangan Akira.
"Kau sudah memberikan kesempatan pada waktu, untuk mengendalikan seluruh diam mu pada semesta. Sekarang, saatnya untuk tahu kebenaran. Kau tidak akan tahu sebelum mencobanya."
Akira memandangi ponsel di tangannya. Kata-kata Yukari perlahan memberi sedikit rongga di dadanya yang semula sesak. " apa pun hasilnya nanti, aku ada disini " yukari menenangkan
Dengan embusan napas panjang dan tangan yang masih gemetar, ia akhirnya menekan tombol daya.
Layar menyala. Tanpa menunggu notifikasi lain masuk, Akira langsung mencari kontak bernama "Ibu" dan menekan tombol panggil.
Tut...
Baru satu nada sambung berdering, panggilan itu langsung diangkat di seberang sana. Seolah-olah sang ibu memang tidak pernah melepaskan ponselnya dari genggaman selama berminggu-minggu.
"Akira...?"
Suara di seberang sana langsung pecah, menangis histeris. Suara seorang ibu yang begitu rapuh dan serak karena terlalu banyak menangis. "Akira, ini kau, Nak?! Kau di mana, sayang ? Tolong bicara pada Ibu..."
Tenggorokan Akira seketika tercekat hebat. Air matanya luruh semakin deras, membasahi pipinya. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, ia akhirnya bersuara.
"Ibu... ini aku, Akira," bisik Akira parau di sela isak tangisnya. "Maafkan aku, Ibu... Aku masih hidup."
Di sampingnya, dalam kegelapan kamar yang dingin, Yukari membekap mulutnya sendiri. Air matanya ikut mengalir deras, menyaksikan separuh jiwa Akira yang hancur malam itu perlahan-lahan mulai pulang.
Suara tangisan ibu terdengar semakin pecah. Suaranya bergoyang hebat antara rasa tidak percaya dan kelegaan yang teramat sangat. "Akira... Ya Tuhan, Akira... Kau benar-benar masih hidup, Nak? Kau di mana sekarang? Ibu... Ibu merindukanmu..."
Akira meremas pinggiran ponselnya, berusaha menahan agar tangisannya sendiri tidak sampai menenggelamkan suaranya. "Aku aman, Ibu. Aku di sebuah tempat yang tenang. Aku... aku baik-baik saja di sini."
Belum sempat sang ibu membalas, terdengar suara kasak-kusuk yang tergesa-gesa di seberang sana, disusul suara benda yang bergeser kasar. Sepertinya ponsel itu baru saja direbut secara paksa dari tangan ibunya.
Keheningan yang mencekam sempat merayap selama beberapa detik. Jantung Akira mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Ia tahu betul siapa yang kini memegang ponsel di seberang sana.
"Kau..." Sebuah suara berat dan serak menyapa indra pendengaran Akira. Suara sang ayah. Nada bicaranya terdengar bergetar, menahan badai emosi yang sangat besar. "Kau ke mana saja, Takagi Akira?! Kau pikir dengan kabur seperti ini, semua masalahmu selesai, hah?!"
Mendengar bentakan yang sarat akan kemarahan itu, tubuh Akira refleks menegang. Ketakutan yang ia ceritakan pada Yukari tadi seolah langsung terbukti. Ia memejamkan mata erat-erat, bersiap menerima rentetan caci maki selanjutnya.
Namun, kalimat berikutnya dari sang ayah justru runtuh total.
"Kau... kau tahu bagaimana ibumu menangis setiap malam sampai jatuh sakit karena mencarimu?! Kau tahu bagaimana rasanya mengira anak laki-lakiku satu-satunya sudah mati?!" Suara tegas sang ayah mendadak pecah di ujung kalimat. Pria tua yang selama ini selalu terlihat keras dan angkuh itu kini terdengar terisak. "Ayah tidak peduli dengan urusan persahabatan ayah, Akira... Persetan dengan semua kerugian itu. Ayah hanya ingin kau pulang... Ayah hanya ingin kau selamat..."
Hantaman kalimat itu telak meruntuhkan benteng terakhir di hati Akira. Air matanya mengalir semakin deras, namun kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena rasa bersalah yang teramat dalam yang akhirnya mencair. Ternyata kemarahan ayahnya selama ini memang hanyalah bentuk keputusasaan karena takut kehilangan dirinya.
"Maaf... Maafkan aku, Ayah," ucap Akira parau, suaranya kini sepenuhnya tenggelam dalam isak tangis. "Maafkan aku yang tidak berguna ini..."
"Sudah... Jangan bicara begitu. Yang penting kau masih hidup, Nak," sahut suara ibunya kembali, sepertinya beliau ikut mendekatkan wajahnya ke ponsel. "Katakan pada kami, kau ada di mana sekarang? Kami akan menjemputmu malam ini juga."
Akira menyeka air matanya, lalu melirik ke arah Yukari yang masih duduk setia di sampingnya di dalam kegelapan. Tatapan gadis itu begitu hangat, mengangguk pelan seolah memberikan restu penuh.
"Tidak perlu menjemputku malam-malam begini, Ibu, Ayah. Di sini sudah sangat larut," jawab Akira, suaranya berangsur-angsur mulai lebih stabil. "Besok... besok pagi aku sendiri yang akan menyetir pulang. Aku akan menemui Ayah dan Ibu."
Setelah percakapan panjang yang dipenuhi tangis haru dan janji untuk bertemu esok hari, panggilan telepon itu akhirnya terputus.
Kamar kembali diselimuti kesunyian, namun atmosfernya tidak lagi terasa mencekam seperti sore tadi. Kamar remang itu kini terasa jauh lebih hangat. Akira menurunkan ponselnya, lalu mengembuskan napas panjang, seolah seluruh beban seberat gunung yang menindih dadanya selama berbulan-bulan telah menguap tanpa sisa.
Ia menoleh ke arah Yukari. Di dalam keremangan, ia bisa melihat mata gadis itu yang sembap karena ikut menangis.
Akira mengulurkan kedua lengannya yang kekar dan membawa tubuh mungil Yukari ke dalam pelukannya. Ia mendekap gadis itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Yukari, seolah menyalurkan seluruh sisa rasa syukur dan kelegaan yang membuncah di dadanya.
"Terima kasih, Yukari-san," ucap Akira, suaranya bergetar tepat di telinga Yukari. "Kalau bukan karena kata-katamu tadi... aku mungkin tidak akan pernah berani menyalakan ponsel ini lagi."
Yukari sempat tertegun sesaat menerima dekapan hangat yang mendadak itu. Namun perlahan, ia menyunggingkan senyuman manis di tengah kegelapan. Kedua tangan mungilnya bergerak naik, membalas pelukan Akira sembari menepuk-nepuk lembut punggung tegap pria itu untuk menenangkannya.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Akira-san," bisik Yukari lembut, telapak tangannya masih berirama menepuk pelan punggung Akira yang hangat. "Kau sendiri yang mengumpulkan keberanian itu."