NovelToon NovelToon
Jalan Kultivasi Sang Dewa

Jalan Kultivasi Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Adit

Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2 - Gadis Misterius dari Langit Malam

Tidak lama setelah meninggalkan tempat penjualan hasil buruan, Cang Xuan berjalan menyusuri jalan tanah desa menuju sebuah toko obat yang berada di dekat pusat pemukiman. Langit semakin gelap seiring matahari yang terus tenggelam di ufuk barat, sementara para penduduk mulai kembali ke rumah masing-masing sebelum malam benar-benar tiba.

Toko obat itu tidak terlalu besar. Bangunannya terbuat dari kayu tua yang telah berdiri selama bertahun-tahun, dan aroma berbagai tanaman obat langsung tercium begitu seseorang mendekatinya. Cang Xuan melangkah masuk tanpa ragu. Ia sudah terlalu sering datang ke tempat ini sehingga pemilik toko bahkan mengenalinya dengan baik.

Setelah menyebutkan obat yang dibutuhkan ibunya, ia mengeluarkan hampir seluruh uang hasil berburu yang baru saja diperolehnya. Koin-koin yang terasa begitu berharga di tangannya perlahan berpindah ke meja kasir. Sebagai gantinya, sebuah botol obat diberikan kepadanya.

Cang Xuan menerima botol tersebut dengan hati-hati, seolah benda itu jauh lebih berharga daripada seluruh uang yang telah ia keluarkan. Baginya memang demikian. Selama ibunya bisa sembuh, tidak ada yang perlu disesali.

Ketika keluar dari toko obat, ia membuka telapak tangannya dan menghitung sisa uang yang masih dimilikinya. Jumlahnya sangat sedikit, bahkan tidak cukup untuk membeli kebutuhan lain. Setelah berpikir sejenak, ia menggunakan seluruh sisa koin tersebut untuk membeli sepotong roti dari sebuah kios kecil di pinggir jalan.

Setelah transaksi itu selesai, kantongnya benar-benar kosong.

Tidak ada satu keping koin pun yang tersisa.

Namun Cang Xuan tidak terlalu memikirkannya. Setidaknya ia telah mendapatkan obat untuk ibunya dan sedikit makanan untuk mengganjal perut.

Ia kembali berjalan menuju rumahnya sambil membawa botol obat di satu tangan dan roti di tangan lainnya. Angin malam mulai berembus perlahan di antara jalan-jalan desa yang semakin sepi.

Saat itulah suara pelan tiba-tiba terdengar dari perutnya.

Grrrkk...

Langkah Cang Xuan sedikit terhenti.

Ia menunduk dan memegang perutnya sambil tersenyum tipis.

Baru saat itu ia menyadari betapa laparnya dirinya.

Sejak pagi, tidak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya. Seharian penuh ia menghabiskan waktu di hutan untuk mencari mangsa, berjalan dari satu tempat ke tempat lain sambil mempertaruhkan nyawanya menghadapi binatang buas. Tenaga dan energi yang terkuras sepanjang hari akhirnya mulai menuntut balas.

Sayangnya, hasil buruannya hari ini hanya cukup untuk membeli obat dan sedikit makanan.

Memikirkan hal itu, senyum tipis yang muncul di wajahnya perlahan berubah menjadi senyum pahit.

"Kemiskinan benar-benar hal paling mengerikan di dunia ini."

Ucapannya terdengar pelan, seakan hanya ditujukan untuk dirinya sendiri.

Monster Abyss memang menakutkan. Binatang buas di hutan juga berbahaya. Namun semua itu setidaknya masih bisa dilawan dengan keberanian dan kekuatan. Kemiskinan berbeda. Kemiskinan seperti bayangan yang selalu mengikuti ke mana pun seseorang pergi, perlahan menguras harapan tanpa terlihat.

Ketika sedang berjalan, pandangannya tanpa sengaja tertuju ke arah lapangan kecil di kejauhan. Di sana, beberapa anak seusianya sedang bermain bersama. Tawa riang mereka terdengar jelas di udara yang mulai dingin. Mereka saling berlari, bercanda, dan menikmati sisa waktu sebelum dipanggil pulang oleh keluarga mereka.

Cang Xuan memperhatikan pemandangan itu selama beberapa saat.

Tatapannya tenang, tanpa rasa iri ataupun kebencian.

Namun ada sesuatu yang sulit dijelaskan di dalam matanya.

Mungkin rasa penasaran.

Mungkin juga rasa asing.

Sejak kecil, kehidupannya memang berbeda dari kebanyakan anak lain. Ketika mereka menghabiskan waktu untuk bermain, ia sudah belajar memasuki hutan dan mencari cara bertahan hidup. Ketika mereka berkumpul bersama teman-teman, ia sibuk memikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk membeli makanan dan obat-obatan.

Perlahan, ia mengalihkan pandangannya dan kembali melanjutkan langkah.

Baginya, hidup tidak pernah memberikan banyak waktu untuk bermain.

Ia harus bekerja keras demi bertahan hidup bersama ibunya.

Di tengah perjalanan pulang, sebuah pikiran lama kembali muncul di benaknya.

Pikiran mengenai seseorang yang bahkan tidak pernah ia kenal.

Ayahnya.

Sejak kecil hingga sekarang, ia tidak pernah mengetahui siapa sosok pria itu. Apakah masih hidup atau sudah lama meninggal, ia sama sekali tidak tahu. Ibunya pun tidak pernah membicarakannya. Setiap kali topik tersebut muncul, wanita itu selalu mengalihkan pembicaraan atau memilih diam.

Awalnya Cang Xuan sering merasa penasaran, tetapi seiring berjalannya waktu ia mulai terbiasa dengan ketidaktahuan itu.

Bagaimanapun juga, ada atau tidak adanya sosok tersebut tidak mengubah kenyataan yang harus ia hadapi setiap hari.

Dengan botol obat yang tersimpan aman di tangannya, Cang Xuan terus berjalan menyusuri jalan desa yang semakin sepi. Cahaya lampu minyak mulai menyala satu per satu dari rumah-rumah penduduk, menerangi jalannya menuju rumah sederhana tempat ibunya sedang menunggu kepulangannya.

Langit telah berubah menjadi gelap ketika Cang Xuan akhirnya tiba di ujung desa. Di sana berdiri sebuah rumah kayu sederhana yang tampak jauh lebih tua dibandingkan sebagian besar rumah lainnya. Dinding kayunya telah memudar dimakan waktu, sementara atapnya menunjukkan tanda-tanda usia yang tidak lagi muda. Rumah kecil itu berdiri sendirian di pinggiran desa, jauh dari keramaian, namun bagi Cang Xuan tempat itu adalah rumah yang paling berharga di dunia.

Ia mendorong pintu kayu yang sedikit berderit lalu melangkah masuk.

"Aku pulang."

Suara lembutnya memecah keheningan di dalam rumah.

Tanpa membuang waktu, ia langsung berjalan menuju kamar yang berada di bagian dalam rumah. Langkahnya sudah terbiasa melewati ruangan sederhana itu. Tak lama kemudian, ia tiba di depan sebuah kasur tua yang menjadi tempat beristirahat ibunya selama beberapa bulan terakhir.

Di atas kasur tersebut berbaring seorang wanita yang tampak lemah. Wajahnya pucat dan tubuhnya terlihat jauh lebih kurus dibandingkan orang sehat pada umumnya. Penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun perlahan menggerogoti kesehatannya sedikit demi sedikit.

Mendengar suara langkah kaki, wanita itu membuka matanya dan menatap putranya yang baru saja pulang.

Senyum kecil muncul di wajah Cang Xuan. Ia mengangkat botol obat dan roti yang dibawanya seolah ingin menunjukkan hasil kerja kerasnya hari itu.

"Ibu, hari ini aku berhasil membeli obat."

Ia meletakkan botol obat itu di dekat kasur sebelum mengangkat roti yang berada di tangannya.

"Aku juga membeli roti."

Senyumnya sedikit berubah menjadi canggung.

"Maaf ya, Bu. Hari ini hanya bisa membeli ini."

Wanita itu terdiam.

Tatapannya berpindah dari obat ke roti, lalu kembali kepada wajah putranya. Semakin lama ia memandang, semakin jelas rasa bersalah yang muncul di matanya.

Bibirnya bergerak pelan.

"Aku..."

Namun sebelum ia sempat melanjutkan kata-katanya, Cang Xuan sudah lebih dulu tersenyum.

"Aku akan mengambil air dulu."

Ia berbalik dan hendak meninggalkan kamar, seolah sengaja menghindari pembicaraan yang sudah dapat ia tebak arahnya. Akan tetapi, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, suara lemah ibunya kembali terdengar dari belakang.

"Cang Xuan..."

Anak laki-laki itu berhenti dan menoleh.

Wanita tersebut memandangnya dengan mata yang sedikit bergetar.

"Maafkan Ibu."

Keheningan memenuhi ruangan sesaat.

"Ibu sudah merepotkanmu."

Suara itu begitu pelan, tetapi setiap katanya terasa berat.

"Katakan padaku, apakah hari ini kau sudah makan?"

Mendengar pertanyaan tersebut, Cang Xuan tidak menunjukkan sedikit pun keraguan. Ia justru memperlihatkan senyum cerah yang sama seperti biasanya.

"Tentu saja sudah."

Jawabannya terdengar sangat alami.

"Aku baik-baik saja."

Ia kemudian menatap ibunya dengan tatapan yang penuh keyakinan.

"Dan Ibu sama sekali tidak merepotkanku."

Suaranya lembut, tetapi tegas.

"Aku melakukan semua ini karena Ibu."

Setelah mengatakan itu, ia segera meninggalkan kamar menuju dapur kecil yang berada di samping rumah. Tidak lama kemudian, ia kembali dengan membawa segelas air yang masih hangat.

Cang Xuan meletakkan gelas itu di dekat kasur sebelum membantu ibunya duduk perlahan. Gerakannya sangat hati-hati, seolah takut membuat wanita itu merasa tidak nyaman.

"Pelan-pelan, Bu."

Ia menopang tubuh ibunya dengan sabar sampai wanita itu dapat duduk dengan stabil. Setelah itu, ia membuka botol obat yang baru dibelinya lalu menyerahkannya bersama segelas air.

Dengan bantuan putranya, wanita tersebut meminum obat itu sedikit demi sedikit.

Baru setelah semuanya selesai, Cang Xuan menghela napas lega.

Melihat perhatian yang diberikan putranya, senyum lembut perlahan muncul di wajah wanita itu.

"Terima kasih, Cang Xuan."

Tatapannya dipenuhi kehangatan dan kasih sayang.

"Ibu bangga memiliki anak sepertimu."

Mata wanita itu sedikit berkaca-kaca.

"Seharusnya anak seusiamu bermain bersama teman-temannya, bukan memikirkan hal-hal seperti ini."

Cang Xuan menggeleng pelan.

Baginya, perkataan itu sudah terlalu sering ia dengar.

"Ibu tidak perlu memikirkan itu."

Suaranya tetap tenang seperti biasanya.

"Yang penting Ibu cepat sembuh."

Ia tersenyum tulus, senyum yang selalu mampu membuat hati ibunya terasa hangat.

"Aku sangat sayang Ibu."

Kalimat sederhana itu membuat mata wanita tersebut semakin memerah. Selama beberapa saat ia hanya memandang wajah putranya tanpa berkata apa-apa, seolah berusaha mengingat setiap detail wajah anak yang telah berkorban begitu banyak untuknya.

Pada akhirnya, ia mengulurkan kedua tangannya dan memeluk Cang Xuan erat-erat.

Cang Xuan tidak menolak. Ia membalas pelukan itu dengan tenang sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu.

Pada saat yang sama, jauh di dalam hutan yang membentang di luar wilayah aman desa, malam telah sepenuhnya menguasai dunia. Tidak ada lagi sisa cahaya matahari yang mampu menembus kegelapan. Pepohonan raksasa berdiri bagaikan bayangan-bayangan hitam yang menutupi langit, sementara suara raungan Monster Abyss bergema dari berbagai penjuru, menciptakan suasana yang mampu membuat siapa pun merasakan ketakutan hingga ke tulang.

Di tengah hutan yang dipenuhi bahaya itu, seorang gadis muda sedang berlari sekuat tenaga. Langkahnya cepat, tetapi terlihat semakin tidak stabil seiring berjalannya waktu. Pakaiannya yang semula tampak berkualitas kini telah robek di beberapa bagian akibat pertempuran yang tak henti-hentinya ia lalui. Beberapa helai rambutnya menempel di wajah yang dipenuhi debu dan keringat, sementara napasnya terdengar berat dan tidak teratur.

Tatapan gadis itu sesekali menoleh ke belakang, dan setiap kali melakukannya, ekspresinya menjadi semakin suram.

Puluhan Monster Abyss sedang mengejarnya.

Makhluk-makhluk mengerikan itu bergerak di antara pepohonan dengan kecepatan yang tidak kalah darinya. Mata mereka yang berwarna merah darah bersinar di dalam kegelapan, seperti puluhan lentera kematian yang terus mendekat tanpa memberi kesempatan untuk melarikan diri.

"Sialan!"

Gadis itu menggertakkan giginya sambil terus berlari.

"Mereka terus bermunculan!"

Sejak beberapa waktu lalu, ia telah membunuh entah berapa banyak Monster Abyss. Namun setiap kali satu kelompok berhasil dimusnahkan, kelompok lainnya kembali muncul dari dalam hutan seolah tidak ada habisnya.

Tiba-tiba sebuah bayangan hitam melesat dari belakang.

Seekor Monster Abyss berukuran besar melompat dengan mulut menganga dan cakar tajam yang mengarah langsung ke punggungnya.

Meskipun tubuhnya sudah sangat lelah, refleks gadis itu masih luar biasa cepat.

Ia menghentikan langkahnya secara mendadak lalu berbalik.

Sreet!

Kilatan cahaya dingin melintas di udara.

Pedang di tangannya bergerak dengan kecepatan tinggi hingga hampir tidak terlihat. Dalam sekejap, tubuh monster yang menyerangnya terbelah menjadi dua bagian sebelum jatuh ke tanah dengan suara berat.

Namun gadis itu bahkan tidak sempat menghela napas lega.

Dari sisi kanan, kiri, dan depan, beberapa Monster Abyss lainnya langsung menerjang secara bersamaan.

Clang!

Clang!

Clang!

Suara benturan senjata dan cakar bergema di tengah hutan.

Percikan api sesekali muncul setiap kali pedangnya bertemu dengan cakar monster yang sekeras baja. Gadis itu bergerak tanpa henti, menebas, menghindar, dan menyerang kembali dengan teknik yang terlatih. Dalam waktu singkat, beberapa Monster Abyss kembali tumbang di bawah bilah pedangnya.

Sayangnya, jumlah musuh terlalu banyak.

Saat ia sedang menangkis serangan dari depan, seekor monster berhasil menyelinap dari sisi lain dan mengayunkan cakarnya.

Sreet!

Sebuah luka panjang langsung muncul di lengan gadis itu.

Darah segar mengalir keluar dan membasahi pakaiannya.

Gadis tersebut menggertakkan giginya menahan rasa sakit. Wajahnya semakin pucat, tetapi tatapannya masih dipenuhi tekad untuk bertahan hidup.

Energi berwarna biru tua perlahan mulai muncul dari tubuhnya.

Cahaya itu mengalir menuju pedang yang berada di tangannya, membuat bilah senjata tersebut memancarkan kilauan yang menakjubkan di tengah malam yang gelap.

Monster-monster di sekitarnya seakan merasakan bahaya dan mulai menggeram lebih keras.

Namun semuanya sudah terlambat.

Dengan satu langkah kuat, gadis itu memutar tubuhnya.

Wuuusshhh!

Energi biru tua yang terkumpul pada pedangnya meledak keluar membentuk pusaran raksasa yang menyapu seluruh area di sekitarnya.

Boom!

Gelombang energi dahsyat menghantam para Monster Abyss tanpa ampun.

Tubuh mereka tercabik-cabik dalam sekejap. Darah dan potongan tubuh beterbangan ke segala arah sebelum akhirnya jatuh menghantam tanah hutan.

Untuk sesaat, area di sekitar menjadi kosong.

Namun ekspresi gadis itu tidak menunjukkan sedikit pun kegembiraan.

Karena di balik pepohonan yang gelap, lebih banyak lagi mata merah mulai bermunculan.

Jumlah mereka masih terlalu banyak.

Bahkan serangan barusan tidak mampu menghentikan pengejaran tersebut.

Napas gadis itu menjadi semakin berat. Tubuhnya sudah berada di ambang batas setelah terus bertarung dan berlari tanpa henti.

Tanpa pilihan lain, ia kembali berbalik dan melanjutkan pelariannya.

Angin malam berdesir kencang di telinganya sementara langkah kaki para Monster Abyss terus terdengar dari belakang. Mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah.

Semakin lama, luka-luka di tubuhnya semakin memengaruhi kondisinya.

Penglihatannya mulai sedikit kabur.

Kakinya terasa semakin berat.

Namun ia tetap memaksa dirinya untuk terus bergerak.

Sampai akhirnya sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Tanah yang diinjaknya tiba-tiba retak.

Krek!

Ekspresi gadis itu langsung berubah.

"Apa?!"

Matanya melebar ketika merasakan pijakan di bawah kakinya runtuh begitu saja.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Saat menoleh ke depan, yang terlihat hanyalah sebuah jurang raksasa yang tersembunyi oleh kegelapan malam.

Semuanya terjadi terlalu cepat.

Tidak ada kesempatan untuk berhenti.

Tidak ada kesempatan untuk menghindar.

"Aaaahhh!"

Tubuhnya terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam.

Sosoknya terus jatuh melewati kegelapan tanpa dasar yang terlihat, sementara suara teriakannya perlahan menghilang ditelan malam.

Di atas sana, para Monster Abyss akhirnya berhenti di tepi jurang.

Mereka menatap ke bawah selama beberapa saat.

Mata merah mereka berkilat di tengah kegelapan, seolah memastikan bahwa mangsanya benar-benar telah jatuh.

Setelah itu, satu per satu monster tersebut berbalik dan menghilang kembali ke dalam hutan malam, meninggalkan tempat itu dalam keheningan yang mencekam.

Sementara itu, jauh di dasar jurang yang tersembunyi dari dunia luar, hamparan hutan lebat membentang tanpa diketahui siapa pun.

Bruk!

Tubuh gadis itu akhirnya menghantam tanah dengan keras setelah menembus lapisan dedaunan dan ranting-ranting pohon yang sedikit memperlambat jatuhnya.

Benturan tersebut membuat darah mengalir dari dahinya.

Tubuhnya yang sudah kehabisan tenaga tidak lagi mampu bergerak.

Kesadarannya perlahan mulai memudar.

Dalam pandangan yang semakin kabur, ia hanya dapat melihat siluet pepohonan tinggi yang menjulang di sekelilingnya serta kegelapan malam yang menyelimuti seluruh hutan.

Tidak ada suara manusia.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada siapa pun yang dapat menolongnya.

Perlahan, kelopak matanya menjadi semakin berat.

Pandangan terakhir yang ia lihat hanyalah hutan lebat yang asing dan kegelapan yang seolah tidak berujung.

Kemudian semuanya berubah menjadi sunyi.

Kesadarannya tenggelam sepenuhnya, dan gadis misterius itu pun jatuh pingsan di tengah hutan yang tidak diketahui siapa pun keberadaannya.

End Chapter 2

1
asri_hamdani
tangkap 1-2 kan bisa untuk ganjel perut lapar 🤔
.: karena menurut Cang xuan menangkap hewan hewan kecil seperti kelinci ataupun kucing hutan itu hanya membuang-buang waktu karena hewan tersebut memiliki pergerakan yg cukup lincah Apalagi walaupun berhasil menangkap dia hanya mendapatkan koin yg sedikit apalagi dia mempunyai waktu terbatas yaitu jangan sampai malam hari karena banyak monster abbys yg berkeliaran oleh karena itu daripada membuang buang waktu ke hewan yg memiliki nilai koin yg sedikit menurut Cang xuan lebih baik mencari hewan yg ukuran nya cukup besar dan mendapatkan koin yg lebih banyak dibandingkan harus bersusah payah menangkap hewan ukuran kecil
total 1 replies
Kevandra
B🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!