Squel (Stuck With Hot Brother)
Karena sebuah tragedi penggrebekan, mereka terpaksa menikah dan menjalani rumah tangga tanpa cinta. Apalagi status sebagai guru dan murid, membuat mereka menyembunyikan ikatan suci itu di depan orang lain.
Lantas bagaimana bahtera rumah tangga mereka akan berjalan? Sementara sang pemegang kendali hanyalah seorang pemuda SMA yang dikenal brutal dan nakal.
Ikuti kisahnya hanya di sini🤗
Ig @nitamelia05
Salam anu 👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Jangan Nguji Aku Terus, Ra!
"Jangan nguji aku terus, Ra, nanti kamu tahu akibatnya," bisik Zio tepat di telinga Aura, membuat wanita itu langsung meremang karena nafas Zio berhembus mengenai tengkuknya. Apalagi sentuhan lembut yang Zio berikan semakin terasa nyata.
Deru nafas Aura berhembus dengan kasar. Dia mulai merasakan geleyar aneh, hingga akhirnya dia berbalik dan berhadapan dengan Zio. Nyaris tidak ada jarak, bahkan pucuk hidung mereka hampir bersentuhan.
"Zi," panggil Aura sekali lagi dengan perasaan was-was. Namun, gelombang hasrat dalam tubuh Zio terasa begitu hebat, sehingga detik selanjutnya Zio meraup bibir ranum Aura dengan cepat.
Deg!
Dada Aura berubah bergemuruh, matanya terbelalak lebar karena nyatanya ia tak mampu menghentikan kenakalan suaminya. Gerakan lembut mulai Aura rasakan, sebuah sesapan dan juga lumaatan yang entah bagaimana ia bisa definisikan.
Namun, sumpah demi apapun. Ini nikmat, Aura tidak ingin munafik. Sebagai wanita dewasa dan juga normal, tentu semua ini adalah hal yang wajar.
Tak sampai di sana, tangan Zio kembali bergerilya untuk menyentuh tiap inchi tubuhnya. Bermuara pada pucuk indah yang membuat gairah Aura akhirnya terpancing juga.
Tubuh Aura yang semula bagai patung, berubah meliuk seketika.
Darah dalam tubuhnya memanas, dan dengan nalurinya ia mengulurkan tangan untuk mengusap rahang tegas Zio. Membuat pemuda itu membuka matanya lebar-lebar. Dia tatap wajah Aura dengan begitu lekat, dan senyum tipis langsung tercipta begitu saja.
Zio merasa bahwa malam ini dia akan mendapatkan haknya. Karena tak ada penolakan apapun dari Aura, bahkan sampai ia bertelanjang dada, Aura masih setia menatapnya dengan penuh hasrat.
Zio kembali menjatuhkan diri di samping Aura, mengangkat satu kaki wanita itu ke atas pahanya.
"Jangan salah, Ra, aku bisa lakuin lebih dari ini, because you are mine," ucap Zio dengan suaranya yang berat. Sumpah demi apapun, untuk pertama kalinya Aura melihat Zio seperti pria dewasa pada umumnya. Ditambah tubuh kekar yang dimiliki suaminya, membuat wanita itu memilih untuk tidak berpaling muka.
Zio membenahi rambut yang mengenai wajah Aura. Mereka saling tatap dengan debar yang sama hebat. Zio berusaha untuk kembali mencondongkan wajahnya, tetapi sebelum bibir mereka kembali menyatu, Aura justru memeluk Zio dan menulusupkan kepalanya di antara ceruk leher pemuda itu.
Pelukan itu terasa cukup erat, bahkan dengan jelas Aura bisa merasakan aroma tubuh Zio yang begitu maskulin. Hah, tubuh suaminya memang benar-benar terawat dengan indah.
Tapi ...
"Zi, aku belum siap," ucap Aura dengan nafas yang terengah-engah. Membuat tubuh Zio langsung berubah lemas seketika. Padahal gairahnya sudah ada di puncak ubun-ubun, tetapi Aura justru menghancurkannya dalam sekejap.
"Ra," panggil Zio mengiba. Karena rasanya sungguh menyiksa.
Aura menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Maafin aku, Zi, tapi aku benar-benar nggak bisa. Inget kesepakatan kita."
Zio menelan ludahnya dengan getir, kemudian menghela nafas panjang. Dia tidak mungkin memaksa Aura untuk melakukan semua itu dengannya, yang ada wanita satu ini akan membencinya.
Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Mungkin ekornya belum diizinkan untuk beratraksi. Zio melepaskan pelukan Aura, mau bagaimana dia harus menuntaskan hasratnya malam ini.
"Oke, nggak masalah. Aku ngerti kalo kamu belum terima aku," balas Zio berusaha untuk mengalah. Namun, entah kenapa tatapan mata itu membuat Aura jadi terlihat seperti orang jahat. "Kamu tidur duluan aja. Aku ke kamar mandi dulu." Sambung Zio seraya membenahi pakaian Aura, dan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.
Cup!
Kecupan di kening menjadi penutup aktivitas mereka malam ini. Karena detik selanjutnya Zio masuk ke dalam kamar mandi, sementara Aura bergeming di atas ranjang sambil terus menatap ruangan di mana suaminya berada.
Terdengar riak air yang berjatuhan ke lantai. Entah apa yang sedang dilakukan Zio sekarang.
"Hah, kenapa aku jadi merasa bersalah?" gumam Aura sambil menjambak rambutnya, mengingat wajah Zio yang nampak sangat kecewa.