Syahira Nazira gadis berusia 21 tahun dijodohkan dengan anak pemilik pondok tempat dia menuntut ilmu agama tanpa sepengetahuan darinya.
Namun, dia tetap menjalankan perjodohan tersebut karena tidak mau durhaka dengan orang tuanya. Syahira yang berniat menikah dengan orang yang dia cintai harus menguburkan harapan itu dan mencoba menerima apa yang orang tuanya pilihkan untuknya.
Zaidan pria berusia 28 tahun, juga ikut berkorban untuk bisa melihat orang tuanya bahagia. Zaidan yang baru kembali dari Mesir harus mengorbankan perasaannya sendiri dan menerima permintaan kedua orangtuanya.
Menikah tanpa ada rasa cinta sama sekali bahkan tidak saling kenal satu sama lain. Bagaimana sikap keduanya setelah menikah?.
Ikuti terus!!!
Dukung terus karya remahan author.
berupa! Like, komen, vote, gift, and start. sebagai motivasi dan juga dukungan dari kalian semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umul khaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Tidak terasa hari yang Syahira tunggu akhirnya tiba, ia akan mengikuti MTQ bersama yang lain. Syahira yang di dampingi 2 pria tampan dalam mengikuti lomba kali ini membuat yang lain iri, terutama Nazila yang memang tidak pernah suka dengan Syahira sajak dia datang, di tambah lagi karena kasus satu minggu yang lalu di mana dia yang ketahuan menyebarkan foto Zaidan dan Syahira yang lagi berduaan yang menyebabkan semua heboh dan menuduh Syahira dan Zaidan yang bukan-bukan.
Pada saat itu, Nazila telah minta maaf pada Syahira dan juga Zaidan. Dia mengaku salah karena dia tidak tau kalau Syahira dan Zaidan sudah menikah. Syahira yang baik hati selalu memaafkan kesalahan orang lain dengan mudahnya. Dia tidak tau saja kalau pandangan Nazila tidak akan pernah berubah terhadapnya.
" Aku nggak akan biarkan kamu bahagia Hira, aku akan membuat gus Zaidan berpaling dari kamu" gumam Nazila menyeringai.
Melihat pemandangan Syahira dan Zaidan selalu bersama, membuatnya kesal dan marah. Nazila merasa semua impian nya sudah hilang karena kehadiran Syahira di pondok itu, semua perhatian yang semula di tujukan untuknya kini berpaling ke Syahira semua.
" Aku akan merebut suami kamu Syahira"batin Nazila.
Syahira pergi bersama Zaki dan Zaidan menggunakan mobil yang sudah tersedia di pondok untuk kepentingan pondok seperti ini misalnya. Meskipun, Zaidan memiliki mobil sendiri tapi karena ini kepentingan pondok dia akan menggunakan fasilitas pondok bukan karena pelit, tapi semua usulan dari Zaki yang tidak enak dengan Zaidan.
Mereka berempat sudah sampai di tempat penyelenggaraan lomba, Syahira bersama Garry juga sudah siap mengikuti lomba. Saat di mobil Syahira duduk di samping Zaidan sementara Zaki bersama Garry duduk di depan berdua.
Yang tadinya, Zaidan tidak mau ikut dan menyuruh umminya saja dan juga ustazah yang sudah berumur untuk mendampingi Syahira, namun setelah tau ada Garry juga Zaidan mengubah keputusannya karena kedua laki-laki itu yang menyukai istrinya bahkan terang-terangan mengatakan itu padanya.
Jadi, Zaidan memilih dia langsung yang mengantar Syahira ke tempat penyelenggaraan. Jadilah, Zaidan sendiri yang mendampingi sang istri, sementara kedua orang tuanya datang belakangan sebagai pemimpin.
Semenjak hari itu sebenarnya, Zaki tidak pernah lagi mendekati Syahira, ia juga sudah meminta maaf secara pribadi pada Zaidan mengenai omongannya tempo hari. Namun, Zaidan tetaplah Zaidan yang tidak mau Zaki dekat dengan Syahira, ditambah ada Garry juga.
" Sayang! kamu udah siap?" Tanya Zaidan. Semenjak semua tau kalau mereka suami istri Zaidan sudah tidak segan-segan lagi memanggil Syahira dengan sebutan sayang lagi di depan umum, kecuali kalau sedang di dalam pondok dan banyak santri atau santriwati.
" In Syaa Allah, Bi. Aku udah siap, doakan yang terbaik untuk aku" ucap Syahira.
" Abi selalu meminta yang terbaik untuk istri Abi" balas Zaidan.
Zaki menahan sakit di hatinya saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut Zaidan, bahkan Syahira juga begitu bahagia di samping Zaidan. Tidak jauh berbeda dari Zaki, Garry yang memiliki perasaan yang sama pada Syahira tidak kalah sakit. Perasaan yang sudah lama ia simpan, kini harus dia hapus karena ia juga tidak mungkin merebut Syahira yang sudah bersuami, Garry cukup tau diri.
" Semoga kamu selalu bahagia Syahira" batin Garry dan juga Zaki melihat dari pantulan kaca mobil.
Sampai di tempat, Zaki memarkirkan mobil di parkiran yang sudah tersedia. Mereka turun secara bersamaan. Hanya Syahira yang perempuan di sana, karena setiap lembaga pendidikan hanya dua yang akan mengikuti lomba satu putra dan satu putri. Putri diwakilkan oleh Syahira dan putra di wakilkan oleh Garry.
Sambil menunggu perlombaan di mulai, mereka berempat makan siang terlebih dahulu. Syahira sangat gugup kali ini tidak seperti biasanya. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak, dia sendiri tidak tau kenapa.
" Semoga semua baik-baik aja, kenapa rasanya kepalaku sakit sekali" batin Syahira.
Semenjak turun dari mobil dan makan, Syahira tidak berbicara sama sekali. Zaidan bukannya tidak peka namun, ia pikir Syahira merasa gugup karena akan mengikuti perlombaan.
Namun, Garry yang sudah sangat hafal dengan karakter Syahira yabg selalu saja santai dalam artian tidak terlalu memikirkan tentang perlombaan karena ia sangat yakin, kalau Allah sudah berkehendak tidak ada yang bisa mencegah termasuk menang atau kalah.
Berbeda dengan kali ini, Syahira lebih banyak diam dan wajahnya juga terlihat lebih pucat.
" Syahira, kamu baik-baik aja?" Tanya Garry.
Zaki dan Zaidan yang sedang membahas masalah perlombaan ikut menoleh ke arah Syahira yang belum menyentuh makanannya sama sekali hanya mengaduknya saja.
" Saya baik-baik aja" balas Syahira tidak mau membuat yang lain panik.
" Syahira kalau kamu merasa tidak enak badan tidak apa-apa, biar Garry saja yang mewakili pondok kita" ucap Zaki.
" Saya nggak papa ustadz, In Syaa Allah saya bisa" balas Syahira.
" Benar apa yang ustadz Zaki bilang, kalau tidak enak badan kita pulang saja" sambung Zaidan merasa khawatir.
" Saya baik-baik aja" balas Syahira sekali lagi menekan kata baik-baik aja, meskipun yang dia rasakan malah sebaliknya.
Suara panitia yang mengumumkan kalau acara akan segera di mulai menghentikan mereka bertanya lebih lanjut karena Syahira yang mengalihkan pembicaraan dan mengajak mereka untuk masuk ke dalam.
" Kita masuk saja" ucap Syahira.
Zaidan mau nggak mau menuruti apa yang Syahira sampaikan, meskipun ia sangat cemas dengan keadaan Syahira. Ia sangat yakin ada yang sang istri sembunyikan darinya, tapi karena tidak mau Zaki dan Garry ikut panik Zaidan mengiyakan saja.
Sebelum masuk ke dalam, Zaidan meminta izin kepada Zaki membawa Syahira sebentar.
Zaidan membawa Syahira ke tempat yang sepi, ia ingin menanyakan langsung pada sang istri. Mungkin Syahira tidak mau membuat Zaki dan Garry panik makanya tidak mau mengatakan yang sebenarnya itu yang Zaidan pikirkan, makanya ingin bicara berdua dengan Syahira.
" Sayang! Kamu yakin, kamu baik-baik aja? Kenapa Abi merasa ada yang kamu sembunyikan dari Abi!" Ucap Zaidan ketika mereka sudah agak jauh dari tempat perlombaan.
" Syahira baik-baik aja,Bi. Abi nggak usah khawatir. Kita masuk aja!" Ajak Syahira.
" Sayang, gimana Abi nggak khawatir coba, suara kamu lemas begini" ucap Zaidan.
Zaidan memastikan tidak ada orang yang lewat, merasa aman ia menyibakkan cadar yang Syahira gunakan.
" Sayang, kamu sangat pucat. Kita pulang saja, atau kita ke rumah sakit. Kali ini dengarkan Abi, Abi nggak mau terjadi sesuatu sama kamu" ucap Zaidan.
" Tapi, Bi...."
" Sayang, kali ini dengarkan Abi. Abi mohon, kesehatan kamu lebih penting" potong Zaidan.
Syahira hanya bisa pasrah, ia tidak bisa membantah apa yang suaminya bilang, ia menganggukkan kepalanya setuju. Biarlah kali ini ia mundur.
"Abi telpon ustadz Zaki dulu, bilang kalau kita akan pulang" ucap Zaidan.
Belum sempat Zaidan menelpon Zaki, Syahira sudah jatuh pingsan. Untung Zaidan suami yang sigap dengan cepat menangkap tubuh Syahira yang hampir jatuh.
" Sayang!" Panggil Zaidan sangat panik.
Zaidan membopong tubuh Syahira menuju mobil mereka terparkir, di parkiran Zaidan berpapasan dengan orang tuanya yang baru saja sampai dan juga sahabat Syahira.
" Nak, kenapa dengan Syahira?" Tanya ummi Aminah ikut panik. Alana dan juga kiyai Ahmad ikut panik melihat Syahira yang pingsan.
" Zaidan nggak tau ummi, kami ke rumah sakit dulu" ucap Zaidan.
" Ummi ikut, Abi masuk saja bawa Alana masuk sebagai ganti Syahira. Ummi ikut Zaidan" ucap ummi Aminah.
" Hati-hati, kalau ada apa-apa cepat kabari Abah" ucap kiyai Ahmad.