Alana Pattinson harus menelan pil pahit, setelah lulus strata dua, perusahaan yang didirikan ayahnya mendadak bangkrut, terlilit hutang.
Mencari pekerjaan di luar tidaklah mudah, apalagi dengan gaji tinggi untuk membiayai rumah sakit ayah serta hidup kedua adiknya.
Alana terpaksa menerima tawaran menikah dari pria tua kaya raya, yang menjamin perusahaan ayahnya bangkit kembali, tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku.
Namun tidak seindah yang dibayangkan, karena sosok lain datang dan mengganggu kehidupan Alana. Bahkan berani melawan untuk mengambil kedudukan Alana.
Lewis Jansen tidak terima pada kenyataan, bahwa ayahnya menyerahkan posisi pimpinan utama perusahaan kepada ibu tirinya yang masih sangat muda. Segala upaya dia lakukan demi merebut semua haknya.
Ikuti terus kisahnya hanya di Noveltoon
Trap My Stepmother
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 Tidak Akan Menceraikanmu
Lewis menemani ibu tirinya, mengantar Alana ke kantor. Pria ini tidak peduli Alana irit bicara, selama bisa terus tetap dekat dengan ibu tirinya, Lewis lakukan.
Mereka berdua bersikap professional di kantor, meskipun banyak pasang mata mencemooh, tidak sedikit juga mengumpat dan mengutuk Alana. Memberi banyak kutukan bagi wanita penggoda. Padahal banyak yang tidak tahu alasan sebenarnya.
“Biarkan saja mereka. Bila perlu kamu pecat saja Al. Aku tidak rela wanitaku disakiti!” Lewis mengepalkan tangan, dia gatal menanti kepemimpinan JSN jatuh ke tangannya.
“Tenang saja Lewis aku bukan anak kecil atau remaja labil. Selama mereka masih bisa bekerja dengan baik kenapa tidak? Abaikan saja bibir dan hatinya yang membenciku.” Balas Alana, hatinya nyaris mati rasa.
Terlalu banyak menerima caci maki menjadikan dirinya sosok yang dewasa, walaupun di tengah gelapnya malam Alana sering menangis sendirian.
“Kamu memang berbeda Alana, ini yang membuatku jatuh cinta.” Lewis sangat terpesona akan sikap ibu tirinya.
Sepasang manusia yang saling mencintai tanpa memiliki status itu disibukkan dengan kegiatan kantor, baik di dalam ataupun di luar. Hingga sore hari Lewis dan Alana selalu berdua, bahkan keduanya ke rumah sakit menjenguk James.
“Alana? Lewis?” panggil James, napasnya tersendat.
“Tuan James, bagaimana kabar Anda? Jangan memikirkan perusahaan. Aku yakin Anda pasti sembuh.” Alana menebar senyum, dia berharap suami tuanya ini segera sembuh, walaupun menurut catatan medis, tidak akan bisa.
“Lewis, kau datang. Kemari lah nak, mendekat lah! Daddy menyayangimu Lew!” Ucap James mencoba menahan sakit setiap kali bicara satu atau dua patah kata.
“Hu’um. Cepatlah sembuh James. Pulanglah ke rumah, aku tahu rumah sakit ini tidak nyaman untukmu, benar kan?” sikap Lewis dingin, sebenarnya dalam hati begitu mencemaskan Ayahnya.
“Kau perhatian kepadaku kan?” tanya James masih mengharap maaf dari putra tunggalnya itu.
“Alana. Ah maksudku Mom, aku tunggu di luar.” Lewis Jansen segera keluar dari ruangan yang menyebalkan, dia gatal, bibirnya ingin bertanya atas dasar apa Ayahnya menikahi Alana. Namun Lewis masih memiliki hati tak ingin menambah beban pikiran pria tua itu.
Cukup lama Lewis menunggu, dia yang tidak sabaran pun terpaksa menunggu lama. Tapi sebuah panggilan telepon dari Liam memaksanya meninggalkan Alana.
Terjadi masalah cukup serius di salah satu pabrik, kerusakan pada salah satu mesin.
Ditemani Liam, Lewis mendadak ke luar kota. Mungkin pulang malam atau besok pagi.
Di dalam ruangan
“Ke mana lagi anak itu Alana? Ingat Alana, kau harus bisa menahan perasaan. Aku tidak menyetujui kalian bersama. Paham?” Ucap James Jansen sangat tegas di sela rasa sesak dadanya.
“I-iya Tuan. Tuan James, hasil tes kehamilan itu palsu. Sepertinya seseorang sengaja membuat isu ini, secara tidak langsung menjatuhkan ku. Aku memiliki bukti kuat menyanggah pemeriksaan sebelumnya.” Tutur Alana mengeluarkan amplop.
“Benarkah? Kau tidak hamil anak Lewis? Sejujurnya aku kecewa Alana tapi tidak apa, artinya kau memang menjalani tugasmu dengan baik. Terima kasih Alana. Lalu bukti apa saja yang sudah kamu dapatkan?” James Jansen memaksakan diri merubah posisinya, dia mencoba duduk.
“Tampaknya Nyonya Debby selalu mentransfer uang perusahaan ke rekening Patricia. Diam-diam mulai menghubungi komisaris untuk mendapatkan dukungan sebagai Presiden Direktur. Nyonya Debby juga berusaha mengambil alih anak perusahaan. Diam-diam bertindak sebagai investor asing tapi dana yang digunakan milik JSN, dia mencuci uang dalam jumlah banyak. Aku belum bisa menemukan banyak bukti Tuan, maaf.”
Alana bekerja sangat keras dari pagi hingga malam, dia tidak pernah lupa akan tugasnya, untuk menendang keluar Debby Jansen.
“Tuan … apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Alana ragu-ragu, hatinya berdebar menunggu jawaban James.
“Apa? Tanyakan saja!”
“Setelah tugasku selesai, apa boleh kontrak pernikahan kita berakhir? Aku … aku akan kembali ke Patt Group, boleh Tuan?” Alana benar-benar serius ingin pergi menjauh dari keluarga Jansen.
“Apa itu alasannya? Atau kau ingin menikahi putraku? Kau jangan lupa kalau aku menyuntik dana sangat besar ke Patt Group. Semua strategi yang dijalani pun milikku, hingga perusahaan keluargamu mulai bangkit. Itu tidak gratis Alana. Aku tidak akan menceraikan mu sampai kapanpun. Kau jangan bodoh Alana, publik tahu kalau Alana Pattinson adalah istri James Jansen, apa kata dunia jika akhirnya Lewis menikahi ibu tirinya sendiri?”
Alana menelan saliva susah payah, semua yang James katakan memang benar adanya. Kendati wanita muda ini tetap berharap jika dirinya dan Lewis Jansen bisa bersama suatu saat nanti, terikat dalam pernikahan.
Setelah berbincang cukup lama, Alana keluar rumah sakit. Dia menunggu sopir di halaman, sembari bertukar pesan dengan adiknya.
‘Nyonya Alana? Maaf Anda menunggu lama.’
Alana mengerutkan kening karena gelagat aneh dari pria yang datang mengaku sopir. Rasanya tidak pernah melihat wajah ini baik di rumah ataupun kantor.
Semula Alana bersiap melayangkan tinju, mengikuti pria itu dari belakang tapi melihat mobil yang digunakan, Alana menghilangkan kecurigaannya.
“Mungkin dia sopir baru.” Batin Alana, dia melepas sepatu dan tasnya. Duduk menyandar menatap ke luar jendela.
Namun lirikan mata sopir itu memberi sinyal bahaya, Alana mengambil heels di bawah kaki. Tiba-tiba mobil terhenti, kunci dan pintunya terbuka. Dua orang pria masuk, dengan gerakan cepat membius Alana.
“S-siapa kal…” Alana Jatuh dalam pelukan salah satu pria, kepalanya ditutup, kedua tangan dan kaki diikat.
‘Kerja bagus. Pasti Nyonya akan membayar mahal.’ Ucap seorang pria, kemudian keluar membawa Alana masuk ke dalam mobil Van.
Mobil itu membawa Alana ke salah satu klinik di pinggiran kota. Mereka mengikat Alana pada brankar, menutup kedua matanya.
‘Nyonya Anda yakin melakukan ini?’ seorang dokter mulai memeriksa tubuh Alana menggunakan stetoskop dan mengambil sampel darahnya.
“Tentu saja aku yakin. Apa yang tidak? Kalian tenang, bayarannya berlipat ganda setelah menyelesaikan tugas. Pastikan semua berhasil, aku ingin dia menanggung malu dikemudian hari.” Kilat kebencian begitu dalam dari seorang Debby Jansen.
Satu per satu pakaian Alana terlepas, berganti dengan baju pasien.
“Berapa lama prosesnya? Aku harus segera mengembalikannya ke rumah.” Debby melirik jam di pergelangan tangan.
‘Satu sampai dua jam setelah hasil lab keluar Nyonya. Anda jangan khawatir, Nyonya Alana tidak akan bangun hingga lima jam ke depan, saya menambah dosis obat cukup banyak.’
“ Bagus, kau memang bisa ku andalkan.” Debby Jansen tersenyum.
“Akhirnya Alana, kau tidak hanya akan kehilangan suami dan Lewis, tapi namamu di publik pasti rusak. Semua orang akan mengutuk-mu karena kau hamil anak pria lain. Hahaha.” Tawa Debby Jansen sangat puas bisa menjalankan rencananya.
Debby yakin kali ini berhasil menyingkirkan Alana selama-lamanya dari kehidupan keluarga Jansen.
TBC
besok ya 🙏
semangat kak nulisnya 💪🏻🥰