Kisah cinta dua anak kembar yang memiliki nasib dan cinta berbeda. Vano dan Vana yang terlahir dari keluarga besar Mahesa, memiliki kekuasaan dan kekayaan turun termurah dari sang Daddy. Sosok dua saudara kembar ini memiliki sifat yang hampir sama, sama-sama memiliki ilmu bela diri dan pendirian yang kuat.
Zevana Alea Mahesa jatuh cinta pada Pria tampan bermata biru yang tak lain adalah Nathan. Hubungan mereka tidak lah berjalan mulus dan di tentang sang Daddy, sebab Nathan anak dari musuh bebuyutan kedua orang tuanya di masa lalu. Bagaimana kah cara Vana meyakinkan sang Daddy dan Mommy Delena?
Sementara Zevano Hendra Mahesa, Pria tampan bertubuh atletis ini banyak di gandrungi kaum hawa. Pembawaan nya yang Cool, dingin namun bersahaja mampu membuat wanita keplek-keplek. Kisah cinta nya mengalami dilema, dua wanita yang hadir dalam hidupnya membuat Zevano harus memilih. Siapa kah wanita yang akhirnya Vano pilih? Lalu bagaimana kisah cinta mereka selanjutnya?
Yuk ikuti terus kisahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Jebakan
Sore itu udara di pantai sangat lah segar, semilir angin berhembus sepoi-sepoi menerbangkan apa saja yang ada di sekitar. Dedaunan betebaran dan terjatuh dari ranting pohon yang rindang. Pohon kelapa melambai lambai bergerak kesana-kemari. Vana menatap pandangan indah itu di tempat nya ia duduk depan balkon.
"Nona, ini kopi susunya." seorang suster berbalut baju putih-putih memberikan secangkir susu panas
"Terima kasih suster Lena." Vana tersenyum kecil seraya menerima cangkir susu coklat.
"Apa yang perlu dibutuhkan lagi nona, bila tidak saya mau turun kebawah."
"Kenapa kau tidak pulang, bukankah ini sudah lewat jam pulang?"
"Saya masih menunggu Tuan Nathan kembali, ia berpesan jangan meninggalkan Nona sendiri."
"Hmm..." Vana meyerumput kopi susu buatan suster Lena "Tetapi bila kau ingin pulang tidak apa-apa, aku bisa menjaga dirinya ku sendiri."
"Tapi Nona, aku tidak berani membatah tuan Nathan, saya tidak mau di pecat."
Vana menghela nafas pelan "Ya sudah tidak apa-apa, kau istirahat aja di bawah."
"Baik Nona, saya permisi dulu. Bila masih ada yang dibutuh kan tekan tombol saja."
'Baik! Vana mengangguk.
Suster Lena berjalan kearah pintu, Vana menatap enggan dengan penampilan suster Lena yang terlalu ketat pakaiannya. Dadanya yang besar terlihat sesak dengan pakaian yang menurut Vana kekecilan di tubuhnya. Rok sepan mini berada diatas lutut dengan bongkahan bokong yang besar. Vana hanya menghela nafas panjang melihat pemandangan yang membuat kaum hawa menelan salivanya. Vana Ingin menegur suster Lena tetapi ia takut tersinggung.
"Bagaimana dengan Nathan dan Dr Alvin melihat kemolekan tubuh suster Lena, apakah mereka tidak tertarik dan bernafsu? pikirnya dalam hati
"Huft! itu bukan urusan ku! Vana membuang nafas kasar dan kembali meyerumput kopi susu dengan khidmat.
"Ya Tuhan sampai kapan aku akan terus berada disini? apakah kedua orang tua tidak mencari keberadaan ku? Vana terus menatap ombak yang terus berkejaran "Aku bagaikan seonggok daging yang tak berguna, menjadi wanita lumpuh Bukankah kemauan ku, tetapi takdir yang menjadikan ku seperti ini dan membawa ku pada Nathan."
"Kenapa saat di dekat Nathan, hatiku tidak bergetar? apakah cinta itu sudah habis? Vana membuang nafas pelan "Entahlah aku belum bisa memahami diriku sendiri semenjak Daddy membunuh Nathan, rasa bersalah pada Nathan begitu besar."
"Hoamm..." kenapa tiba-tiba aku mengantuk ya, padahal ini masih sore." karena tidak tahan dengan rasa kantuk yang menderu, Vana mendorong kursi rodanya masuk kedalam kamar. Di depan ranjang Vana naik keatas ranjang dan mulai menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam waktu Bali, Mobil Nathan sudah terparkir di garasi. ia turun dari mobil tanpa ada Alvin yang tadi pagi pergi bersama nya.
"TING-TONG
"TING-TING
Ceklek!
"Selamat malam Tuan." sapa suster Lena.
"Hmm..." Jawab Nathan lalu masuk kedalam ruangan. Pria itu membuka jas yang melekat di tubuh atletis nya.
"Dimana Alea."
"Nona Alea sedang tertidur Tuan."
"Tidur?! bukankah hari ini aku akan membawa Alea ke tempat praktek kenalan ku."
"Apa Tuan yakin akan membawa Nona berobat? Bukankah selama ini ada dokter Alvin yang menangani kondisi Nona alea."
"Di tempat Kenalan ku ini sudah banyak orang yang berhasil dan sembuh, tidak ada salahnya aku mencobanya di sana."
"Anda benar Tuan, Oiya apa mau saya buatkan kopi hitam."
"Hmmm .... boleh!
Suster Lena berjalan kearah pantry dengan gerakan menggoda, Nathan yang sudah duduk di sofa tak sengaja melihat bokong semok milik wanita seksi itu.
"****!! darimana Alvin merekomendasikan suster seperti itu, apa dia pikir aku akan tergoda! Nathan mendengus kesel.
Tak lama kemudian, suster Lena datang dengan membawa kopi panas pesanan Nathan dan menaruh nya diatas meja dengan gerakan seksual, Wanita seksi itu sengaja membungkuk agar buah dadanya terekspos. Aling-aling ingin menggoda malah membuat Nathan geram.
"Suster Lena, apa seperti ini pakaian yang Anda gunakan saat bekerja di rumah sakit?!
Suster Lena terdiam karena mendapat teguran telak, lalu ia gelengkan kepala dengan mengigit bibirnya.
"Lebih baik kau pulang sekarang! besok pakailah pakaian yang lebih sopan!" tukas Nathan tanpa menoleh kearah wanita yang berdiri di depan Nathan.
"Kenapa masih berdiri disitu! cepatlah pergi! usir Nathan seraya menyeruput kopi hitam buatan suster Lena. Terlihat bibir wanita itu menyinggung kan senyum dengan satu alisnya terangkat.
"Baiklah, saya permisi dulu Tuan!" wanita itu melangkah pergi dengan langkah pelan.
"Aku harus melihat Alea, apa dia benar-benar sudah tidur atau belum." Nathan beranjak dari duduknya saat akan menaiki anak tangga, tiba-tiba kepalanya merasakan pusing.
"Ahhkk! kenapa kepalaku tiba-tiba pusing!
"Tuan, apa anda tidak apa-apa?! tanya Suster Lena yang sudah berdiri di samping Nathan.
"Biar saya bantu kedalam kamar!
"Untuk apa kau kembali lagi, cepat sana pergi! aku bisa jalan sendiri! pekik Nathan seraya menepis tangan wanita seksi itu yang entah ia punya maksud apa? menjebak Nathan dengan menaruh obat tidur di kopinya.
Nathan terus berjalan sempoyongan kearah kamar, satu tangannya memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut, satu tangannya berpegangan pada dinding agar tidak terjatuh. Hingga hampir mendekati ranjang, Nathan ambruk dan terjatuh kelantai.
Wanita itu menyeringai dan masuk kedalam kamar Nathan. Ia berusaha melepas Pakaian Nathan dan menariknya ke atas ranjang size king dengan susah payah.
"Ahh, akhirnya aku bisa juga membawanya ke atas ranjang. Kini saatnya aku menjalankan aksi ku dan menaruh layar ini di berbagai sudut.
Wanita seksi yang berprofesi sebagai suster itu mulai menjalankan aksinya. Ia memiliki tiga kamera dan mulai mengarahkan keatas ranjang. Ia melepaskan seluruh pakaiannya, dan hanya tertinggal CD yang menutupi segi tiga pengaman. Sementara Nathan hanya tersisa boxser sebagai penutup nya. Suster Lena naik keatas ranjang dan tidur di samping Nathan dengan memeluk tubuh kekar pria bermata biru itu. ia menaruh selimut hingga batas perut saja, tentu saja buah dadanya terekspos jelas.
Setelah membidik foto dengan berbagai gaya. wanita itu buru-buru beranjak dari ranjang dan memakai pakaiannya kembali dan merapikan seperti semula, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.
"Aku sudah memiliki bukti perselingkuhan mu Nathan, cepat atau lambat semuanya akan terbongkar dan kau akan menikmati peran mu sebagai laki-laki bodoh di bawah perintah ku! dan wanita lumpuh itu..." suster Lena memutar matanya malas "Alea mu akan tersingkir sayang! kalian pikir aku tidak tahu siapa wanita itu? dia adalah wanita masa lalu mu yang hadir kembali." Suster Lena tersenyum masam "Kau tenang saja, mudah bagiku untuk menghabisi wanita lumpuh itu!"
Setelah semuanya beres, wanita itu mencium bibir Nathan dan melum*tnya "Aku sudah kembali sayang, walau bukan dengan wajah asliku! bisik wanita itu tersenyum puas. lalu berjalan pergi meninggalkan kamar peristirahatan Nathan.
***
Pagi itu Nathan di kejutkan oleh dering ponsel yang meraung-raung. Ia membelalakkan matanya meskipun agak sulit. satu tangannya mencari ponsel yang berada di atas tempat tidur. Ia menggeser tombol hijau tanpa melihat nama si penelpon.
"Hallo...."
"Hallo sayang, apa kabar? Tanya suara seorang wanita di ujung telpon dengan lemah lembut.
Nathan mengerut kan dahi nya. "Siapa kau?! hardik nya.
"Apa kau melupakan aku sayang? padahal baru beberapa bulan kita tidak bertemu."
Nathan mengingat dan menerka-nerka suara wanita di ujung telepon. sepertinya ia benar-benar lupa, apalagi kondisinya yang tidak baik, kepalanya masih sedikit pusing pengaruh obat tidur pemberian suster Lena.
"Ma'af, aku tidak bisa mengingat mu!" tanpa mau tahu siapa wanita itu, Nathan memutuskan sambungan teleponnya. ia terduduk dan bersandar di kepala divan. Alangkah terkejutnya Nathan, melihat tubuhnya tanpa pakaian dan tersisa boxser.
"Perasaan aku pulang masih memakai pakaian, sejak kapan aku membuka seluruh pakaian ku? Nathan terus berperang dalam hatinya.
"Sudahlah, kepala ku tambah pusing! Nathan tidak peduli lagi dengan yang terjadi semalam, ia mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.
Selesai membersihkan tubuh, Nathan membuka lemari dan mengambil pakaian casual, kaos hitam favoritnya dan celana jeans sebatas lutut. Tidak lupa ia menyemprotkan parfum bermerk ke tubuh atletisnya.
"Kebetulan ini hari weekend, aku akan membawa Alea ke klinik pengobatan kenalan ku." gegas Nathan keluar dari kamar dan menaiki anak tangga satu persatu hingga berakhir di depan kamar Vana.
Tok! Tok! Tok!
"Lea, apa kau sudah bangun?!
"Alea?!
Hening... tidak ada sahutan dari dalam kamar Vana. Nathan mulai curiga dan membuka kasar handle pintu.
"Lea! alangkah terkejutnya Nathan, tidak melihat Vana di dalam kamar. ia menerobos kedalam dan mencari keberadaan Vana, namun tidak ada.
"Tunggu! kursi rodanya masih ada disini. jangan-jangan ada yang menculik Alea! atau dia ke pantai? tapi mana mungkin ia berjalan sendiri." Nathan mulai kalut dan berlari menuruni anak tangga dengan langkah cepat. ia keluar dari villa dan mencari di area pantai, tempat yang biasa Vana singgahi bila ia sedang bosan, dan suster Lena sebagai kakinya untuk mendorong kursi roda Vana.
"Alea....." teriak Nathan.
"Alea...." ia terus berteriak tanpa peduli orang-orang menatapnya bingung.
"Ya Tuhan, aku harus mencari kemana?!
Nathan mengambil ponsel dari dalam saku celananya lalu mencari nama seseorang.
"Sial, kenapa saat genting begini, telpon Alvin malah tidak aktif! decak nya kesal.
"Hey! kau tahu wanita cantik itu siapa? tanya seseorang pada temannya yang berjalan di samping nya.
"Entahlah, tetapi sungguh aneh, dia tertidur di pantai tanpa sadar."
Nathan yang mendengar percakapan dua orang pria itu, mulai menemukan titik terang lalu ia mengejar dua laki-laki itu dan menepuk pundaknya.
"Maaf bang mengganggu! tadi kalian bilang, melihat wanita cantik di pantai?
"Iya benar Mas, dia seperti kebingungan."
"Sekarang dimana wanita itu?! tanya Nathan tak sabar.
"Dia tadi ada di sebelah sana! laki-laki itu menunjuk kearah selatan.
"Baik, terima kasih! gegas Nathan berlari kearah yang di tunjukan laki-laki tersebut.
"Jangan bawa aku pergi! lepaskan! teriak Vana, saat beberapa orang ingin mengangkat tubuh nya dan membawanya pergi.
"Mbak akan kami pindahkan ke tempat lain, disini Mbak jadi tontonan banyak orang, Kenapa Mbak tertidur di tepi pantai. sedang Mbak sendri tidak bisa berjalan!" tukas kepala adat yang berada di tempat itu.
"Saya juga tidak tahu, siapa yang membawa saya kemari, tiba-tiba saja saya sudah berada di pantai."
"Alasan saja Mbak ini. kalau mau bunuh diri jangan kotori tempat ini! sudah banyak orang mati terjun dari tebing itu!"
"Mana mungkin saya mau bunuh diri, sedangkan saya saja tidak bisa berjalan!" sungguh Vana di buat frustasi, dan anehnya ia tidak merasakan apa-apa saat keluar dari villa Nathan.
"Kak Nathan, kau berada dimana? aku bingung harus apa sekarang?! keluh Vana dalam hati.
"Ya sudah kita bawa saja ke balai desa, disana lebih aman."
"Tolong, antarkan saja saya kerumah kerabat saya."
"Alea...."
Semua orang yang berada disana di kejutkan oleh suara seorang yang berlari dari kejauhan.
"Kak Nathan!!!
Nathan berhambur memeluk Vana yang terduduk dengan tubuh basah. "Kenapa kau bisa berada disini?!" yang ditanya hanya gelengkan kepala sebagai respon.
"Jadi, wanita ini kerabat anda? tanya kepala adat.
"Iya! dia tunangan ku."
Vana mengeryitkan keningnya dan menatap wajah kesal pada Nathan.
"Ya sudah kalau begitu kami permisi. Tolong di jaga tunangan anda, jangan sampai nekad bunuh diri." tukas nya dan melangkah pergi bersama beberapa warga.
"Bunuh diri?! siapa yang mau bunuh diri! pekik Vana kesal.
"Ya sudah, sekarang kita pulang. kita bahas saja di rumah!"
"Tunggu Kak! Vana menghentikan tangan Nathan yang ingin mengendong nya.
"Ada apa Lea?!
"Antarkan aku kerumah mami Davin. Bukankah tempat ini tidak terlalu jauh dari pulau Ubud?"
Deg! seketika wajah Nathan berubah serius, hatinya sedikit berdenyut pedih. ia menelan salivanya untuk menetralkan suasana hatinya. Ditatapnya wajah wanita yang masih bertahta di hatinya.
"Tidak Lea, aku tidak akan kembalikan kau sebelum kau sembuh."
"Ada papi ku Robert, yang akan merawat dan mengobati ku di rumah sakit milik Daddy! aku janji tidak akan memberitahu pada kelurga ku kalau kau yang menculik ku, aku akan buat rekayasa agar kelurga ku percaya."
Nafas Nathan mulai tersengal, ia seakan tidak suka dengan rencana Vana dan tidak ingin mengembalikan kekasihnya dalam keadaan terpuruk. Sungguh ia tak rela bila harus berpisah dari wanita pujaan nya, walau sebenarnya Nathan tahu, Vana sudah tidak mencintainya seperti dulu.
Nathan yang sudah tidak ingin berdebat lagi, mengangkat tubuh Vana untuk di bawa pulang.
(Sekarang menuju kisah percintaan TWINS ya. jangan ada yang bilang Kapan bahagia nya? karena kisah ini baru saja akan dimulai untuk anak kembar Reno. Sudah pasti akan ada konflik dari kisah TWINS ini. Yuk ikut terus kelanjutannya)
💜💜💜💜