Victoria yang baru saja lulus dari kuliah S1 nya harus menerima kenyataan pahit ketika tau orang tuanya telah dibunuh oleh seorang Mafia yang bahkan tak pernah ia jumpai sama sekali.
Dan hal lain yang lebih mengejutkan pun terjadi, sang ketua mafia yang membunuh kedua orang tua Victoria ternyata ingin menjadikan dia sebagai istrinya.
Lalu bagaimana dengan kehidupan Victoria selanjutnya? siapa sebenarnya si Mafia yang telah membunuh kedua orang tua Victoria? Akankah Victoria bisa membalaskan dendam atas kematian orangtuanya? atau justru dia akan jatuh ke dalam lubang cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiyah Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 29. Situasi Di Lucchese Family
Pesta meriah untuk menyambut anggota keluarga baru Cosa Nostra Family yaitu Victoria, terus berlangsung.
Dan pada akhirnya, tepat saat jarum pendek jam menunjuk ke angka 12, dan jam besar itu pun mengeluarkan bunyi yang cukup besar, pada saat itulah seluruh orang di dalam gedung pesta telah mencapai batas kemampuan mereka.
Satu demi satu dari mereka tumbang, ada yang tumbang karena telah mabuk berat, dan ada juga yang tumbang karena kelelahan setelah menari, bernyanyi, juga memainkan banyak permainan seru.
Namun dari banyaknya orang-orang yang tumbang itu, Victoria masih mampu berdiri dengan kokoh di atas lantai dansa.
Saat melihat seluruh teman-temannya sudah tidak ada yang bertahan lagi, Victoria merasa begitu kesepian. "Ahh ... Ayolah! Mari mainkan satu permainan lagi!"
Victoria menggoyangkan satu persatu tubuh orang-orang yang ada disekitarnya, mencoba untuk membangunkan mereka. Tapi hasilnya nihil, seluruh orang yang ada di pesta itu telah melanjutkan pesta mereka di alam mimpi masing-masing.
"Victoria!" Ketika Victoria masih sibuk mencoba membangunkan orang-orang, tiba-tiba suara teriakan dari Deresta langsung membuatnya mengalihkan fokusnya.
Dengan cepat Victoria melihat pria yang telah memanggilnya itu, "Ada apa? Bos Deresta!" balas Victoria dengan senyuman.
Melihat hal itu Deresta menaikkan salah satu alisnya, "Kamu mabuk?" tanya Deresta, dia menanyakan hal itu karena saat ini Victoria benar-benar seperti orang yang sedang mabuk.
Mendengar pertanyaan tersebut, Victoria langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak!" ujar Victoria, dan Deresta percaya. Karena memang, sejak tadi dia tidak melihat Victoria meminum bir sama sekali.
"Kalau begitu istirahatlah di kamarmu sekarang, pelayanan rumah ini telah menunjukkannya bukan?" Dengan tegas, Deresta menyuruh anggota barunya itu untuk beristirahat.
"Tapi aku masih belum lelah!" tolak Victoria, "Hmm ... Bos, apakah aku boleh melihat bintang dari taman sebentar? Setelah itu aku janji akan langsung tidur!" lanjut Victoria dengan suara memelas dan wajah yang memohon.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama!" balas Deresta dan Victoria pun langsung menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu aku tidur dulu, selamat malam Victoria!" Deresta melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan pesta itu, dan pergi menuju kamarnya.
Sementara Victoria, setelah mendapatkan izin dari Deresta, dia pun segera keluar untuk menuju ke taman rumah besar itu.
Sepanjang jalan menuju taman, mata Victoria tak henti-hentinya melihat ke setiap tempat yang ia lewati, mencoba untuk merekam semua tempat yang ada dengan otaknya, hal ini dia lakukan agar dia bisa jauh lebih mudah untuk beraktivitas dilingkungan baru itu.
Dan setelah sudah cukup lama dia berjalan, akhirnya kini Victoria sudah berdiri tepat di taman kediaman Cosa Nostra Family.
"Huft ...." Victoria menghela kasar napasnya sesaat, lalu setelah rasa lelahnya karena berjalan telah menghilang, mata wanita itu pun mencoba mencari keberadaan sebuah kursi.
Matanya bergerak dari kiri ke kanan untuk melihat seluruh sisi di taman itu.
Diputaran pertama dia tidak dapat menemukan satu kursi pun, namun anehnya saat dia kembali menggerakkan matanya ke kanan dan ke kiri, Victoria berhasil menemukan sebuah kursi.
Kursi itu terletak di bagian depan taman, dan jaraknya juga tidak terlalu jauh dari Victoria berdiri saat ini.
"Aneh, apa mataku sudah kelelahan ya?" gumamnya lirih, dan kemudian Victoria berjalan perlahan menuju ke kursi yang berhasil dia temukan itu.
Tak perlu waktu lama, hanya kurang dari 10 langkah, Victoria sudah berdiri tepat di hadapan kursi itu. Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, dia langsung duduk manis di kursi tersebut.
Kini mata Victoria melihat ke langit malam, "Indah!" lirih Victoria sambil tak henti-hentinya memandangi langit yang bertaburan dengan bintang-bintang itu.
Dan setelah merasa sudah cukup melihat langit malam yang indah, Victoria pun menurunkan kembali pandangannya, kini matanya menatap lurus ke depan.
"Rumah ini tak jauh lebih mewah dari kediaman Lucchese Family, namun seluruh anggota dari Cosa Nostra Family jauh lebih ramah, dan juga jauh lebih seru dibandingkan orang-orang di Lucchese Family."
"Fakta bahwa Cosa Nostra Family bukanlah kelompok mafia yang membunuh kedua orang tuaku, juga membuatku merasa lebih baik."
"Aku juga tidak dapat menyangkalnya, bahwa Deresta jauh lebih baik dari Kai. Apa mungkin, keputusanku untuk bergabung dengan Cosa Nostra Family adalah benar? Dan apa mungkin, Deresta tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Kai padaku?"
"Dunia ini penuh dengan tipu muslihat, dan aku benar-benar tak ingin terjebak di dalam lubang yang sama lagi! Tidak akan pernah!"
"Huft ... Baiklah kita nikmati saja dulu permainan ini, jika Deresta dan Kai ternyata memiliki sifat yang sama saja, maka aku akan segera kabur dari kediaman keluarga ini. Sejak awal aku memang sudah siap dengan segala kemungkinan."
......................
Disaat Cosa Nostra Family sedang melangsungkan sebuah pesta yang meriah, di kediaman Lucchese Family saat ini malah sedang ada keributan yang cukup besar.
Saat ini pemimpin mereka yaitu Kai, benar-benar sangat marah, dia pun mengumpulkan seluruh anggotanya di lapangan pelatihan.
Meski hari sudah malam, dan cuaca juga semakin dingin, Kai tidak mengizinkan seluruh anggotanya itu untuk memakai sehelai baju pun.
Di malam yang dingin ini, seluruh anggota dari Lucchese Family, kecuali Kai, hanya memakai celana pendek mereka.
"Bodoh! Kalian bodoh! Kau bodoh! Kau tak becus! Kalian payah! Kalian lemah!" Kai berteriak sembari memukul satu persatu anggotanya yang telah berbaris rapi di lapangan pelatihan itu.
Bahkan diantara orang-orang yang berbaris itu, juga ada Daniel, Alvaro, serta Alan. Tangan kiri, kaki kanan, bahkan supir Lucchese Family pun ikut diberi hukuman oleh pemimpin mereka.
"Angkat tangan bagi kalian yang bertugas bersama Victoria di penyerangan tadi pagi!" Lagi-lagi Kai berteriak, kini teriakannya pun terdengar semakin kencang.
Sontak mereka yang merasa dimaksud oleh Kai langsung mengangkat tangan kanan mereka, "Kami, Bos!" seru mereka berbarengan.
"Bodoh kalian!" Kai mengeluarkan pistolnya, lalu menembaki kaki dari orang-orang yang mengangkat tangan itu satu persatu.
"Bagaimana bisa kalian membiarkan Victoria, Consigliere kalian menjadi tahanan pihak musuh? Dimana kalian pada saat itu?! Bagaimana bisa Jake mendapatkan Victoria?! Jawab kalian semua, sialan!!" ucap Kai dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, juga nada membentak yang begitu mengintimidasi.
Tapi tidak ada seorang pun yang berani membuka suara mereka, saat ini semua orang benar-benar ketakutan.
"Jawab, atau aku tembaki kepala kalian satu-satu!" Kini Kai berbicara dengan suara yang sedikit pelan, namun hal ini justru semakin menambah kesan menakutkan.
"S–saat itu kami semua fokus bertarung, termasuk C–consigliere. Dan ditengah-tengah pertarungan, pemimpin Juerlo Family d–datang, lalu dengan cepat dia menyandera Consigliere, kami sudah berusaha merebutnya kembali, namun Si Jake itu malah mengancam a–akan menembak Consigliere Victoria jika kami terus m–mengganggu."
Setelah mengumpulkan keberaniannya dalam waktu yang cukup lama, salah satu dari orang yang telah Kai tembaki kakinya itu pun membuka suara, lalu dia menceritakan apa yang terjadi saat di pertarungan tadi pagi dengan terbata-bata.