Ayuna putri yang akrab dipanggil Yuna ini terpaksa menikah dengan pria yang tidak dikenal sebelumnya karena berdasarkan tradisi adiknya tidak boleh menikah terlebih dahulu sebelum sang ayah kakak
Awalnya ia setuju tapi saat dirinya sah menjadi istri dari Yusuf Mahendra malah dipertemukan dengan pria yang selama ini ditunggu.
Yang tidak lain adalah pria yang ingin dinikahi oleh adiknya sendiri
Bisakah Yuna menerima kenyataan yang ada di depan matanya? Dan menerima Yusuf suaminya seutuhnya?
maraton bacanya entah bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marianay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bos Baru 1
"Nih, makan yang banyak "ujar bang Yusuf
Untuk sekian kalinya bang Yusuf menambah nasi goreng dipiringku, aku sudah merasa sangat kenyang
"Aku udah kenyang bang"protesku tak terima, dikira aku bakal kuat makan satu mangkuk besar nasi goreng.
"Udah, makan aja, dua suap lagi pun"
"Tapi aku udah kenyang " memelas, berharap dia menghabiskan sedikit lagi, rasanya aku tak sanggup bergerak, ini berlebihan
"Kamu yang bilang gak boleh buang makanan kan, jadi habisin ya"
Tak mau berdebat lagi, dengan terpaksa aku menyuapi lagi nasi goreng dalam mulut hingga habis dibantu dengan air
"Udah"ucapku
"Anak pintar, sekarang minum obatnya"ucapnya sambil membelai kepalaku berlapis jilbab
Mengambil cepat 2 macam obat ditangan bang Yusuf, menelan cepat setelahnya menegak air agar tak terasa apapun
"Jangan terlalu dipaksa Suf, Yuna bisa sakit lagi nanti"
"Mama gak usah khawatir, Yuna ini asli memang makannya banyak cuma dia agak malu" jelas bang Yusuf
Bang Yusuf berkata serius dengan memelankan kata terakhir. Dia mencoba berbisik tapi seluruh penghuni meja makan mendengarnya.
"Yang bener kak?"tanya Bella tepat disampingku terkejut
"Iya. hehe"jawabku sambil nyengir malu.
"Enak ya, makan banyak gak gemuk, rahasianya apa kak"
"Bella, kakakmu gak pakek rahasiaan segala tau"
"Ayo kita berangkat, nanti telat"ucap bang Yusuf
Kami beranjak dari duduk dan menyalami Papa dan Mama bergantian pamit.
Aku sudah memasuki mobil begitu pun dengan bang Yusuf
"Ada bawa obatnya?"
"Ada," jawabku sambil mengangkat tas, sudah ku masukkan dalam tas tadi.
"Nanti habis makan siang, obatnya diminum"
"Iya"
"Kalau kamu gak minum obatnya nanti abang sendiri yang bakalan datang kekantor mu"
"Iya-iya, aku minum nanti"
"Bagus"
Bang Yusuf mulai melajukan mobil membelah jalanan dengan kecepatan sedang, karena bosan aku membuka gawai, mungkin saja ada info penting dari kantor tempatku bekerja.
Tak ada info penting hanya ada beberapa pemberitahuan. Aku asik berselancar didunia maya, hingga tak terasa sudah sampai.
"Udah sampai "
Cepat aku membuka pengaman dan membuka pintu ingin turun.
"Tunggu!"
"Ada apa bang?"
"Kamu lupa?"tanyanya sambil menyodorkan tangan padaku
"Maaf bang lupa. Hehe"
Masuk kembali menyalaminya dengan benar dan berbalik ingin keluar.
"Bentar dek" sontak aku menoleh lagi. Bang Yusuf menangkup wajahku, mengecup keningku sebentar
"Udah dek, semangat sayang"ucapnya menyemangati
"I-iya abang juga. Assalamualaikum "
"Wa'alaikumussalam" Aku hanya melambai pada mobilnya yang mulai menghilang dari pandangan
Aku merasa menjadi wanita istimewa karena menikah dengannya. Dia benar-benar romantis sekali. masuk dengan hati riang melewati beberapa pegawai yang berlalu lalang.
"Ehem. , nih, seneng banget kayaknya, ceritain dong"
"Kepo, sana jauh-jauh"usirku
"Iss. Pelit amat lu Yuna"
"Memang gitu loh"
"Yee. Ceritain dong tentang babang ganteng lu itu "
"Gak mau."
"Kalian diam napa?"
"Tuh Yuna yang mulai"
"Enak aja "
"Sttt. Diam, Kalian tau gak?"
"Gak" jawabku dan Winda bersamaan
"Hari ini bos baru bakalan mulai kerja disini loh"
"Apa!"
"He-em, tuh lah. Kalian diam napa, malu dilihat sama yang lain"
"Oke"
"Mulai kerja"
"Siap "balasku dan Winda bersamaan
Kami mulai larut dalam pekerjaan masing-masing, tak terasa waktu sangat cepat berlalu. Satu pesan masuk dari bang Yusuf.
[Udah hampir jam makan siang ]
[Jangan lupa minum obatnya] titahnya
[Iya]
[Jangan makan sembarang ya]
[Iya bang]
[Jangan lupa ya sayang,]
[Iya]
[I love you my wife😗😍]
[Love you too]
Kami sudah seperti anak sekolahan saja masih kirim yang begituan, dasar bang Yusuf.
Sudah masuk waktu makan siang, aku dan dua teman yang kepo plus heboh banget ini sudah berada dikafe dekat kantor yang biasa. Memakan pesanan masing-masing.
Seperti biasa aku pun suka makanan sederhana seperti nasi, serta satu jus jeruk kesukaanku, memakannya dengan lahap. Habis memakan makanan berat aku mengeluarkan dua jenis vitamin yang kubawa tadi dari dalam tas, yang sudah diingatkan oleh bang Yusuf tadi. Belum meminumnya dua teman sudah heboh.
"Ciee. Yuna minum obat"
"Biasa aja kali"
"Eh, jangan-jangan ini obat khusus ibu hamil lagi, kan Si Yuna udah nikah, kalau gak jarang-jarang dia minun obat"
"He-em. Bisa jadi tuh,berarti bentar lagi kita bakalan jadi tante dong"timbal Sinta tak kalah heboh
"Lebay kalian, ini tuh cuma vitamin biasa"ucapku
"Kok gue gak percaya ya?"
"Iya, gue juga. Jujur aja napa sih Yun, jangan bohong, lu hamil kan?"
"Aku beneran gak bohong, lagian aku nikah baru seminggu, mana ada langsung hamil"
"Iya juga ya?"ujar sinta seraya berfikir
Aku berjalan menuju kantor lagi setelah makan siang, walau dikantor ada kantin khusus tapi sangat ramai hingga aku, winda dan Sinta memilih makan diluar kantor. Setidaknya bisa santai sebentar.
Sebuah mobil melaju dibelakangku membunyikan klakson beberapa kali hingga aku tersentak kaget, dan mundur untuk memberi jalan, dasar worang kaya.
Aku kembali duduk dikursi kerjaku kembali, mengerjakan beberapa berkas yang harus selesai dalam minggu ini, cukup banyak memang.
Hening.....
Semua fokus pada kerja masing-masing suara krusak-krusuk sangat terasa mengganggu konsentrasiku, 'ada apa sih?'
"Pstt. Yuna bangun!!"bisik Winda pelan
"Ada apa sih?"tanyaku
Semua sudah berdiri seperti menyambut seseorang penting, ada juga yang mendorong agar bisa kebagian tempat
"Itu loh bos baru udah dateng, berdiri napa"
Tanpa menimpali lagi aku juga ikut berdiri dengan yang lainnya. Celingak-celinguk mencari keberadaan boss baru yang dimaksud, entah aku yang terlalu pendek atau mereka terlalu tinggi hingga aku tak melihat apa-apa selain banyak orang yang berdiri.
"Wah. Ganteng ya bos baru, siapa namanya tadi?"ucap salah satu karyawati
"Wah guanteng ya boss baru kita" cerocos Sinta tiba-tiba
"He-em, aku jadi pengen nikah mau ngalahin gantengnya suami Yuna itu loh"timbal Winda
"Kenapa aku yang dibawa-bawa sih"kesalku
Aku kesal sendiri memikirkannya, kenapa selalu bang Yusuf yang dibawa sama mereka.
"Suka-suka dong, suami itu ganteng juga"ucap Winda
"Iss. Jangan bahas bang Yusuf lagi "
"Oo. Jadi namanya Yusuf, pantesan aja ganteng banget "
"Ergg. Terserah "
Selalu saja, dikit-dikit bang Yusuf. Aku jadi kesal sendiri.
"Ihh. Takut"
Mereka hanya cekikikan berdua, aku tak menghiraukan lagi, larut dalam pekerjaan agar bisa selesai tepat waktu.
Hari sudah petang, dengan sinar mata hari mulai terbenam diufuk barat, menandakan sore akan berganti malam.
Aku berselancar didunia maya setelah shalat isya tanpa menghiraukan bang Yusuf. Biarlah sekali-kali dia bosan,aku juga kadang bosan saat dia sangat setia dengan laptopnya itu.
Satu jam lebih berkutat didunia maya tak ada yang menarik, entah apa yang orang lihat dihandphone berjam-jam.
Mematikan ponsel, mulai merebahkan diri membelakangi bang Yusuf yang setia dengan laptopnya. Lagi-lagi aku juga yang bosan.
Berulangkali mencari posisi nyaman, membolak-balik badan, tak kunjung nyaman. Kuakui saja, tak bisa tidur jika lampu terang. Meringkuk dibawah selimut pilihan tepat.
"Jangan gitu dek, nanti kamu gak bisa nafas. Pengap"ucapnya.
"Terus gimana?" Bang Yusuf melipat laptop, menyimpan di nakas. Menuju saklar lampu dan mematikannya.
"Gini"ucapnya, mulai merebahkan diri disampingku. Aduh kok masih deg-degan sih
"Gak usah tegang dek, matiin lampu tuh" Aku pun menurut, hanya lampu disampingnya yang masih menyala, membaca do'a setelahnya mulai memejamkan mata. Terasa seperti ada angin menerpa wajahku.
"Abang ngapain?"sedikit membuka mata pelan.
"Emm. Gak, itu kamu kenapa pakek jilbab, kan abang bilang gak usah pakek" Aku hanya membeku saat dia mulai membuka jilbabku. Kenapa waktu seakan berhenti saat mata kami bertemu. Aku bisa hilang akal.
Aku malu....
••••••••••••••••••••••••••••••••
Pagi ini aku masih harus minum obat tanpa boleh bekerja apapun, masih dimanjakan oleh keluarga bang Yusuf, ya walaupun diizinkan bekerja padahal aku sudah merasa sangat sehat.
Sampai dikantor pun heboh dengan kedatangan bos baru, entah apa yang istimewa. Aku tak mau ambil pusing, yang jelas pekerjaanku harus selesai hari ini.
Pekerjaanku rasanya lebih cepat selesai karena tak ada yang mengganggu tentunya, sisanya bisa ku kerjakan usai makan siang. Pergi bersama duo kepo dan heboh, siapa lagi kalau bukan Sinta dan Winda .
Sepanjang makan mereka masih saja membahas bos baru, aku heran sendiri, kok bisa mereka sebegitunya suka sih?
"Eh, apa tau?"tanya Sinta tiba-tiba
"Gak tau,"jawab Winda
"Lihat deh Win, itu bos baru kan?"
"Eh iya, dia kesini loh?"balas Sinta sumringah
"Paling juga lewat atau duduk dikursi belakang "balasku cuek, mereka berdua masih sumbrigah, aku hanya menatap jengah, kembali menghabiskan makanan lagi.
"Permisi boleh saya duduk disini "sapa seorang dibelakangku, suaranya seperti tak asing.
"Bo-boleh silahkan " ucap Sinta cepat serta sopan.
Mereka tersenyum senang seakan aku tak ada, kirsi disampingku berdecit tanda ada yang menariknya.
Aku mengeser kursi agak menjauh menoleh kesamping melihat si empunya suara, semoga tak benar. Seketika aku melonggo.
"Ka-kamu"
Yang benar saja?
jgn lupa untuk mampir ya
di Mr. Latto- latto- mencari cinta sejati