Alexandria Rigest tidak menyangka akan terjebak di antara baku tembak pendemo Sebagai jurnalis dia ingin mengupas tuntas sisi gelap prilaku oknum-oknum yang duduk di parlemen. Ketika terjadi demo serta baku tembak di salah satu gedung pemerintah, Alexa ikut terjaring. Dia sendiri diculik oleh beberapa orang yang berpakaian hitam- hitam dan disekap di ruangan bawah tanah. Alvaro Ady Mema, itu nama bos gangster yang menculiknya. Kehidupan Alexa di manipulasi dan Alexa menjadi budak nafsu Alvaro yang terkenal kejam tidak punya prikemanusiaan. Bisakah Alexa lepas dari cengkraman Alvaro? atau dia malah jatuh cinta kepada bos mafia itu?
****
Hallo readers yang selama ini sudah support aku, mampir ya...
jangan lupa kasi like, gift, vote dan favorit. Trimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TITIK TERANG
Makanan yang dipesan oleh Alexa belum disentuh sama sekali. Keanehan gerak geriknya memancing tamu lain untuk membuat vidio mini dan mengirim ke Instagram dengan caption yang nyeleneh.
Mereka pada kepo dan ingin tahu siapa wanita itu, tanpa berani mendekat atau sekedar menyapa. Para tamu terdiam bengong melihat Alexa mendengarkan lagu yang sama berulang-ulang. Yang punya restoran sudah paham karena setiap tahun gadis misterius itu akan datang, duduk disitu memesan makanan yang sama dan mendengarkan lagu yang sama sambil menangis.
Lagu dari handphone jadul itu tidak keras tapi mampu membuat para pengunjung restoran ikut terbawa suasana. Mereka menebak-nebak dan berusaha bertanya kepada pemilik restoran apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga ada gadis aneh di restorannya menarik perhatian.
"Paman siapa gadis itu?" seorang tamu bertanya kepada kasir.
"Kejadian ini sudah sepuluh tahun terjadi dan setiap tahun gadis ini kesini untuk merayakan pertemuan terakhir dengan kakaknya yang mati terbunuh." kata pemilik restoran membuat pengunjung tambah penasaran.
Mereka semua kepo dan kesempatan ini di manfaatkan oleh pemilik restoran untuk menceritakan pristiwa masa lalu yang menimpa tamunya. Cerita itu berembus lancar bagi pengguna medsos, Ini marketing yang bagus untuk menarik pembeli.
Tiga puluh menit berlalu, Alexa sadar telah membuat semua mata memandang dirinya. Dia yakin sosoknya akan menjadi hiasan medsos. Namun dia tidak peduli, dan menghapus sisa air matanya dengan ujung syalnya.
"Apakah aku boleh duduk disini?" suara berat itu ada di belakangnya. Dadanya berdebar. Dia melihat meja lain penuh. Untuk menyamarkan suaranya dia memasukan makanan ke mulutnya.
"Silahkan...." jawabnya dengan mulut penuh makanan dan ditutup syal.
Mereka berdua duduk di depannya berbatas meja. Mata mereka menatap Alexa secara intens. Gadis itu meliriknya sepintas.
Alexa heran kenapa Alvaro dan Marchel berada di tempat umum? pikir Alexa. Dia jadi yakin kalau tamu restoran menyebar kan keberadaannya. Dia jadi takut kalau penyamarannya kentara. Bukankah dia sudah dianggap mati oleh masyarakat dan mati oleh Alvaro.
"Nona boleh kenalan?" tanya Marchel tiba-tiba. Alexa menyadari bahwa Alvaro dan Marchel sengaja datang kesini untuk menangkapnya.
Dia mengeluarkan ponsel jadulnya dan menulis RISHY. Marchel dan Alvaro saling pandang. Saat Alvaro mau mengambil ponsel Alexa, gadis itu cepat menarik ponselnya dan memasukan ke saku.
"Kau Alexa, aku mengenal matamu." Alvaro menatapnya tajam.
Alexa mengambil dua buah norimaki pakai sumpit serta melemparnya ke atas. Saat Alvaro dan Marchel menatap ke atas, kaki Alexa menendang dari bawah meja, kursi yang di duduki Alvaro dan Marchel jatuh dengan suara berderak keras. Kedua laki-laki itu jatuh terlentang bersamaan dengan jatuhnya dua buah norimaki ke mulut mereka masing-masing.
Alexa cepat berlari keluar. Empat orang pengawal Alvaro yang berada di luar mau menangkapnya. Alexa tidak mau mati konyol dan mengambil resiko, dia cepat menembak kaki ke empat pengawal itu dengan tipis. Artinya menyerempet saja. Suara tembakan membuat pengunjung berhamburan keluar menyelamatkan diri.
"Sialan dimana dia." teriak Alvaro kepada pengawalnya. Dia merasa malu di kadalin oleh Alexa. Di luar ke empat pengawal mengerang kesakitan dan kaki mereka berdarah.
"Goblok!! kemana larinya." bentak Alvaro menendang pengawalnya yang tergeletak di tempat parkir.
"Tuan tidak mengizinkan membunuhnya, kami takut menembak. Malah kami yang tertembak."
"Kalian berempat kalah dengan satu orang wanita, aku tidak habis pikir." Alvaro marah-marah ketika buruannya lepas, dia kesal melihat anak buahnya tertembak dengan mudahnya.
"Marchel antar mereka pulang, aku akan mencoba mencari wanita tadi." dia yakin wanita tadi adalah Alexa atau Maria. Kedua wanita itu adalah buruannya. Maria untuk dilengapkan dan Alexa.... ahh, mengingatkannya saja sudah membuat birahi Alvaro bergolak.
"Lebih baik Tuan pulang dulu, riskan berjalan sendiri. Apalagi sudah malam." Marchel memperingati boss nya.
"Tenang saja, aku hanya ingin memastikannya saja. Kalian pulanglah, bawa mereka ke klinik."
Karena malas berdebat Marchel pulang membawa empat orang pengawalnya. Sedangkan Alvaro keluar dari restoran ke arah yang berlawanan. Cepat juga wanita itu hilang. pikir Alvaro.
Alvaro bolak balik berapa kali mencari sosok wanita itu tapi tidak bertemu juga. Akhirnya dia menyerah dan memutuskan pulang. Alvaro menginstruksikan kepada para pengawal supaya berkeliling setiap hari, di sepanjang jalan itu. Dan harus di selidiki satu persatu rumah itu.
"Dua puluh orang pengawal bergantian berkeliling setiap hari, dari restoran Sushi sampai ke jalan Harmoni. Jika kalian bertemu dengan wanita ini, tangkap dia. Jangan ditembak atau menyentuhnya."
"Bagaimana mereka menangkap kalau tidak menyentuhnya, apa di tembak pakai peluru bius, seperti menembak binatang peliharaan atau memakai kejut listrik." Marchel protes karena omongan Alvaro tidak masuk akal.
"Tangkap pakai tangan, dua puluh pengawal tidak mungkin kewalahan." kata Alvaro memandang pengawalnya yang kekar-kekar.
"Siap Tuan." sahut mereka berbarengan dan berharap wanita itu cepat tertangkap.
Alexa yang menjadi target penangkapan kini sedang sibuk memantau pergolakan pasar modal. Dia sempat kaget melihat rekening Alfredo saldonya berpindah sedikit demi sedikit ke rekening Honduras Ini terjadi setelah Alfredo dinyatakan meninggal. Ini pencurian yang sangat rapi dan sulit diketahui, kecuali ada audit pemeriksaan keuangan.
"Apa yang kau dapat?" tanya Dansus atasan Alexa mendekat.
"Banyak, tapi ini komsumsi aku sendiri. Tolong jangan ikut campur, aku sudah berada di tengah-tengah mereka."
"Aku memberi izin dan mendukung, tapi jangan mengorbankan nyawa. Terkadang kau sengaja memancing buruanmu, itu tidak sesuai dengan prinsip kita. Slow bertindak, sembunyikan jati dirimu."
"Dimanapun akan sama hasilnya, aku cukup bangga tidak jebol ditahun-tahun lalu, tapi saat itu emosiku ikut terjebak. Aku menyukainya."
"Your crazy, kau tidak boleh pacaran, menikah dan punya anak, ingat itu. Kau jangan kembali mementahkan Memorandum of Understanding yang kau telah tanda tangani."
"Don't worry, aku selalu mengingatnya." pungkas Alexa.
"Cari kepemilikan perusahan Alvaro Derek dan income yang di dapat perbulan. Serta berapa dia melempar saham per lot." ucap Dansus membuat Alexa menepuk jidat. Dia baru ingat.
"Oke, aku perlu meretasnya dan membuat ancaman kepada Alvaro." jawab Alexa konsentari dengan laptopnya.
Alexa mulai berpetualang dan membuat database tentang perusahan Alvaro Derek yang di kelola oleh Alvaro sekarang. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, Alvaro bisa membuat perusahan ini berkembang dengan pesat. Walaupun ada campur tangan Alfredo, tapi kemajuan itu sangat jelas terasa.
Alexa mencari owner aslinya sebelum Alvaro mengklaim perusahan Derek menjadi miliknya. Sebelas tahun yang lalu kepemilikan perusahan derek tercatat Farida Rigest, owner aslinya. Setahun kemudian, berarti sepuluh tahun yang lalu di bulan januari Farida Rigest memberi kuasa penuh kepada Alfredo untuk mengelola perusahan ini.
Alexa duduk termenung. Berarti Farida ikut berada dibalik terbunuhnya papanya dan Rishy. Mereka jauh hari merencana kan, karena bulan oktober baru terjadi eksekusi dan perampasan hak.
*****