Season 2 dari Aku Bisa Tanpamu 😘
Kehidupan pernikahan kedua Shofi yang semula berjalan begitu bahagia dan harmonis tiba-tiba diguncang dengan kecelakaan yang menimpa Awan, sang suami. Awan dinyatakan hilang dan belum bisa diketemukan dimana keberadaannya.
Tetapi Shofi dan keluarganya tidak pernah putus harapan. Mereka yakin bahwa dengan kuasa Allah SWT, Awan pasti bisa kembali dengan selamat dan rindu mereka akhirnya terobati.
Akankah kekuatan do'a dan keyakinan mereka benar-benar bisa membawa Awan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin Nuryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Bertambah Keluarga
Pagi ini Keinan dijemput oleh Hamzah. Hamzah yang akan mengantarkan Keinan untuk berangkat ke sekolah. Pulangnya nanti seperti biasa biar anak-anak di kafe yang akan menjemput dan mengantarkan Keinan ke rumah sakit ini lagi.
"Dedek Angkasa, Kak Keinan sekolah dulu, ya. Dedek nggak boleh rewel lho ya. Tungguin Kak Kei pulang sekolah, nanti kita main bareng. Ya," pamit Keinan yang kemudian mencium pipi baby Angkasa.
"Oke, Kak Kei," ucap Mas Awan dengan menirukan suara anak kecil, seolah-olah mewakili baby Angkasa menjawab perkataan Keinan tadi.
Aku tersenyum melihat semuanya itu. Keinan kemudian berpamitan kepadaku dan Mas Awan juga.
"Kakak berangkat sekolah dulu ya, Bun," pamit Keinan dengan mencium punggung tangan kananku.
"Iya, Kak. Belajar yang rajin, ya," pesanku yang kemudian mencium kening Keinan.
"Iya, Bun. Papa, kakak berangkat sekolah dulu, ya," pamit Keinan juga kepada Mas Awan dengan mencium punggung tangan kanan Mas Awan juga.
"Iya, Kak Kei. Di sekolah nggak boleh nakal ya, dengerin apa kata Bu guru," pesan Mas Awan yang kemudian juga mencium kening Keinan.
"Siap, Papa," balas Keinan.
"Kita berangkat sekarang ya, Kak," pamit Hamzah juga.
"Iya, Ham. Hati-hati, ya," aku dan Mas Awan menjawab hampir bersamaan.
"Assalamu'alaikum," salam Hamzah dan Keinan.
"Wa'alaikumsalam," aku dan Mas Awan pun menjawab hampir bersamaan lagi.
Hamzah dan Keinan kemudian meninggalkan ruangan rawat inapku ini dan berangkat menuju ke sekolahan Keinan.
🍁🍁🍁
Sekitar jam sembilan pagi, Mama Wulan dan ibuku datang. Mereka berdua diantar oleh Papa Surya dan Pak Yanto. Tetapi kemudian Papa Surya dan Pak Yanto pamit untuk berangkat ke rumah makan milik Papa Surya. Jadi hanya Mama Wulan dan ibuku saja yang tetap tinggal dan menemani kami di rumah sakit ini.
Tidak lama kemudian setelah Papa Surya dan Pak Yanto pamit,
"Assalamu'alaikum," terdengar suara orang yang mengucapkan salam seraya membuka pintu kamar rawat inapku ini.
"Wa'alaikumsalam," jawabku, Mas Awan, Mama Wulan, dan ibuku.
Ternyata itu adalah Kang Rijal yang datang bersama dengan dua orang perempuan.
"Kang Rijal, Umi Nur, Nisa," sapa Mas Awan bersemangat.
Mas Awan kemudian menghampiri mereka bertiga kemudian langsung mencium punggung tangan kanan wanita yang tadi dia panggil dengan sebutan Umi Nur itu.
"Abah Imron sama siapa kalau kalian bertiga kesini semua?" tanya Mas Awan.
"Dititipin ke perawat dulu sebentar. Tadi udah kita pamitin juga kok. Katanya nggak pa-pa kalau mau ditinggal kesini," jawab Umi Nur.
Mas Awan kemudian mengajak Umi Nur dan Nisa untuk menghampiri aku, Mama Wulan dan ibu. Kang Rijal mengikuti di belakangnya.
"Umi, Nisa, kenalin ini Mama Wulan, mama saya. Yang itu ibu Aminah, ibu mertua saya. Dan yang itu istri saya, Shofi, dan juga putra kami, Angkasa," kata Mas Awan memperkenalkan kami berempat kepada Umi Nur dan Nisa.
"Mama, ibu, Shofi, kenalin ini adalah Umi Nur, ibunya Kang Rijal. Dan juga Nisa, adik Kang Rijal," lanjut Mas Awan memperkenalkan Umi Nur dan Nisa kepada kami juga.
Mama Wulan dan ibuku kemudian menghampiri Umi Nur dan Nisa. Mereka berdua kemudian memeluk Umi Nur dan Nisa bergantian seraya mengucapkan terima kasih karena sudah menolong dan merawat Mas Awan selama ini.
Dapat aku lihat Umi Nur dan Nisa yang juga berkali-kali mengucapkan sama-sama. Setelah itu Umi Nur dan Nisa pun kemudian menghampiriku yang sedang memangku baby Angkasa.
"Selamat ya, nak Shofi, untuk kelahiran putra kalian," ucap Umi Nur memberikan ucapan selamat kepadaku.
"Terima kasih, Umi," balasku dengan tersenyum. "Dan saya juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena Umi Nur dan keluarga sudah menolong Mas Awan dan merawat Mas Awan selama hampir enam bulan kemarin. Terima kasih banyak ya, Umi."
Aku pun juga ikut mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama, nak Shofi. Tidak perlu mengucapkan terima kasih terus. Itu sudah menjadi kewajiban kami sebagai sesama manusia untuk saling tolong menolong," balas Umi Nur seraya memegang tanganku.
"Selamat ya, Teh, untuk kelahiran putra Teh Shofi dan Kang Awan," ucap Nisa.
"Iya, terima kasih ya, Neng," balasku.
Tentu saja Mas Awan sudah menceritakan tentang Abah Imron dan keluarganya kepada kami semua. Itu kenapa kami semua juga jadi tau tentang panggilan Eneng dan Akang dari daerah mereka tersebut.
"Oh iya, kami kesini selain mau nengokin Neng Shofi sama bayinya, juga sekalian mau mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada Bu Wulan dan keluarga yang lainnya. Terima kasih banyak karena sudah membayar semua biaya perawatan Abah selama di rumah sakit ini. Dan terima kasih banyak juga karena sudah mencarikan dokter spesialis terbaik untuk perawatan Abah selama di rumah sakit ini. Mohon maaf karena kami tidak bisa membalas semua kebaikan dari Pak Surya, Bu Wulan, dan seluruh keluarga yang lainnya. Kami cuma bisa mendo'akan semua kebaikan untuk seluruh keluarga Pak Surya dan Bu Wulan. Semoga semuanya selalu sehat dan selalu berada dalam lindungan Allah Subhanahu wata'ala. Semoga rezeki Bu Wulan dan seluruh keluarga juga semakin lancar dan barokah. Aamiin Yaa robbal 'aalamiin," kata Umi Nur panjang lebar menyampaikan ucapan terima kasihnya juga.
"Aamiin Yaa robbal 'aalamiin," balas Mama Wulan, ibuku, Mas Awan, dan juga diriku sendiri.
Mama Wulan kemudian menggenggam tangan Umi Nur seraya tersenyum lembut.
"Nggak perlu bilang terima kasih, Umi. Karena seperti yang sudah Umi Nur bilang tadi, itu semua sudah menjadi kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling tolong menolong. Dan juga, anggap saja ini adalah sebentuk ucapan terima kasih dari keluarga besar kami untuk semua pertolongan yang sudah Umi Nur dan keluarga lakukan selama hampir enam bulan ini kepada Awan," kata Mama Wulan.
"Sebenarnya tidak perlu sampai seperti ini, Bu Wulan. Sungguh, saya dan keluarga ikhlas kok nolongin Awan," ucap Umi Nur.
"Begitu juga dengan kami sekeluarga, Umi. Kami semua juga ikhlas kok melakukan semua ini untuk Abah Imron. Jadi udah ya, nggak perlu ada ucapan terima kasih lagi. Karena kita semua adalah saudara. Bahkan sekarang kita semua adalah keluarga. Betul kan, Umi?" kata Mama Wulan masih dengan senyumannya.
"Ah iya, tentu saja, Bu Wulan. Kita semua adalah keluarga sekarang," balas Umi Nur yang juga ikut tersenyum lembut.
Aku, Mas Awan, ibuku, Kang Rijal, dan Nisa pun kemudian juga ikut tersenyum.
"Boleh Eneng gendong dedek Angkasa-nya, Teh?" ijin Nisa kemudian.
"Tentu saja boleh, Neng. Silahkan," jawabku mempersilahkan.
Aku kemudian menyerahkan baby Angkasa kepada Nisa. Nisa menciumi pipi baby Angkasa kemudian mengayun baby Angkasa perlahan dalam gendongannya.
"Wah, Neng Nisa udah pinter banget ya gendong bayinya? Kayaknya udah siap nih kalau nanti punya bayi sendiri. Kode loh ini, Umi Nur, Neng Nisa kayaknya udah waktunya buat nikah ini," goda Mama Wulan.
Wajah Nisa terlihat langsung memerah karena malu. Sementara Umi Nur justru tertawa pelan.
"Ah, Bu Wulan bisa aja. Belum ada calonnya, Bu. Masih harus nunggu dulu. Mungkin belum saatnya juga," balas Umi Nur.
"Eh, belum ada calonnya? Masak sih gadis secantik Neng Nisa ini belum ada calonnya, Umi?" tanya ibuku juga seraya mengelus lembut pipi Nisa yang memerah.
"Sayangnya memang belum ada, Bu Aminah," jawab Umi Nur masih dengan tertawa kecil.
"Wah, kalau gitu kebetulan dong. Anak-anak di kafe kamu juga masih bujang semua kan, Wan? Kali aja ada satu yang cocok sama kriterianya Neng Nisa," celetuk Mama Wulan tiba-tiba.
"Eh, iya juga tuh, Ma. Oke deh, Ma. Nanti kapan-kapan biar Awan ajakin Nisa buat datang ke kafe. Biar Nisa bisa kenalan sama para jomblo itu. Syukur-syukur nanti bisa ada satu yang kepilih di antara mereka berempat," timpal Mas Awan juga.
"Mama! Mas Awan! Kumat deh usilnya. Kebiasaan," tegurku pura-pura marah.
Dan justru hal itu sukses membuat semua yang ada di dalam kamar rawat inapku inipun jadi tertawa. Tentu saja kecuali Nisa yang wajahnya justru semakin memerah dan tersipu karena terus digoda seperti itu.