NovelToon NovelToon
Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam pengganti / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: Yukipoki

Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengintai di Balik Layar Kaca

Pukul delapan malam. Kompleks The Golden Bridge terasa mati setelah jam operasional berakhir. Hanya lampu-lampu keamanan otomatis yang berkedip di sepanjang koridor, memantul pada lantai marmer yang bersih mengkilap.

Nadia tiba di pintu samping sekolah, yang terhubung langsung ke gedung Komite. Ia mengenakan hoodie gelap di balik blazer sederhana, memegang tas tangan yang berisi dua hal: perangkat laptop mini terenkripsi miliknya, dan kunci KGS dari Ibu Rina.

Ia tidak mengira petugas keamanan akan menunggunya. Bapak tua dengan seragam rapi bernama Pak Jaya tersenyum sopan.

"Malam, Bu Nadia. Ibu Rina sudah telepon. Semuanya sudah siap untuk 'proyek khusus Kirana'," kata Pak Jaya dengan nada bangga.

Nadia tersenyum tulus. "Terima kasih banyak, Pak Jaya. Hanya satu jam. Saya janji tidak akan mengganggu keamanan."

"Silakan, Bu. Ruang Arsip aman dan dingin," jawab Pak Jaya sambil menggesek kartu aksesnya, membuka pintu kokoh yang menuju tangga bawah tanah.

Nadia turun. Setiap anak tangga terasa seperti langkah ke masa lalu yang suram. Ruang Arsip Komite adalah sebuah bunker kecil yang dipenuhi rak-rak berkas, diakhiri dengan dua server rack yang berkedip. Udara di sini dingin dan berbau kertas lama serta ozon dari mesin fotokopi yang jarang digunakan.

Nadia mengunci pintu di belakangnya dan menyalakan lampu meja kecil. Ia membuka tas tangannya. Persona ibu yang lugu telah ditinggalkan di lantai atas.

Prioritas pertamanya adalah akses digital. Server sekolah Komite adalah goldmine. Nadia dengan cepat mengidentifikasi unit server yang menyimpan data arsip Komite, bukan data akademik siswa. Ia memasang perangkat keras kecil (hardware sniffer) ke port jaringan utama server tersebut.

Perangkat itu akan menduplikasi dan memindahkan data arsip Komite secara perlahan ke hard drive internal Nadia. Proses ini akan memakan waktu setidaknya 40 menit.

Selagi perangkatnya bekerja dalam diam, Nadia beralih ke tugas fisiknya: berkas dan Grup WA.

***

Ia duduk di kursi putar yang tidak nyaman dan menyalakan ponselnya. Pertama, ia memeriksa Grup WA Inner Circle yang ia dan Rina targetkan.

Rio. Masalah bullying Rio telah meledak seperti yang direncanakan.

"Astaga, aku menangis membaca surat anonim itu," tulis salah satu ibu.

"Memang sudah keterlaluan. Anak-anak Super Mom itu makin lama makin kejam. Tidak ada etika," balas yang lain.

Nadia tersenyum tipis. Simpati itu adalah senjata pertamanya. Ibu-ibu ini telah terbelah. Kirana tidak dapat mengendalikan narasi emosional ini.

Ia beralih ke Grup WA Elite Moms—grup yang dikendalikan penuh oleh Kirana, dan tempat Nadia baru menjadi anggota pasif.

[Kirana Widjaja]: "Tolong abaikan hoax yang beredar di grup lain. Kami sedang mengurus masalah kecil di junior high dengan sangat profesional. Fokus Komite adalah Gala Dinner."

Nadia melihat balasan dari anggota inner circle Kirana.

[Ibu Siska]: "Tepat sekali, Bu Kirana. Mereka yang menyebar drama hanya iri."

[Ibu Vanya]: "Kasihan sekali yang membesar-besarkan masalah anak kecil. Memalukan."

Nadia menyadari betapa kuat tembok gaslighting (manipulasi psikologis) yang dibangun Kirana. Mereka menolak mengakui kebenaran demi menjaga status kelompok.

Namun, di antara balasan yang mendukung, ada satu ibu yang diam: Ibu Nina. Ibu Nina adalah pemilik butik haute couture yang sering menjadi sponsor Gala Dinner. Ia adalah kunci finansial bagi acara Kirana. Keheningan Nina berarti keraguan.

***

Nadia membiarkan ponselnya di sana dan beralih ke rak arsip fisik.

Ia harus menemukan berkas kasus Aksa. Berkas itu tidak ada di bagian "Sanksi Siswa". Kirana pasti menyimpannya di tempat yang lebih sensitif.

Nadia menggeser tumpukan berkas keuangan tahun 2023. Di baliknya, terselip sebuah binder hitam tanpa label. Nadia menariknya keluar. Di dalamnya, terdapat salinan berkas Aksa.

Dibuka berkas itu. Ada kesaksian tertulis. Saksi utama yang menjatuhkan Aksa adalah seorang guru Matematika, Mr. Taufik. Kesaksiannya sangat kaku dan terstruktur.

Nadia menemukan anomali. Di halaman terakhir, terdapat sebuah memo kecil, tulisan tangan Mr. Taufik, ditujukan kepada Kirana.

—'Bu Kirana, saya sudah tandatangani yang Anda minta. Tapi saya tegaskan sekali lagi, data statistik Aksa sangat original. Tindakan ini murni karena kewajiban.'—

Nadia mengambil foto memo itu dengan kamera ponselnya, memastikan timestamp (cap waktu) dan pencahayaan sempurna. Ini adalah bukti kunci. Kirana telah memaksa atau mengancam guru itu untuk berbohong.

Nadia menyimpan memo itu, tetapi tidak memindahkan berkas Aksa. Berkas itu harus tetap di sini, di tempat Kirana mengira sudah terkubur.

***

Terdengar bunyi dengungan dari server. Lampu hard drive Nadia berkedip cepat—proses duplikasi data Komite telah selesai.

Nadia mencabut perangkatnya. Ia telah mengunduh data lima tahun Komite: berkas keuangan yayasan amal, proposal bisnis, daftar kontak personal para donatur utama, dan yang paling penting, semua e-mail internal Kirana sebagai Ketua Komite.

Waktunya habis. Ia harus pergi sebelum Pak Jaya curiga.

Nadia mengembalikan binder itu tepat di tempatnya, menutupnya dengan rapi di bawah tumpukan berkas keuangan. Ia mematikan lampu meja.

Saat ia berjalan menaiki tangga, ia tidak merasakan kemenangan, melainkan sebuah beban. Ia kini memiliki kekuasaan mutlak, tetapi kekuasaan itu berbau kebohongan dan pengkhianatan. Ia telah berhasil menyusup, bukan sebagai ibu yang menuntut keadilan, tetapi sebagai agen rahasia yang dingin.

Di pintu keluar, Pak Jaya tersenyum. "Berhasil, Bu Nadia? Semoga display Kirana besok cantik."

"Pasti, Pak Jaya," jawab Nadia, senyumnya terasa palsu di bibirnya. "Terima kasih banyak atas bantuannya."

Nadia berjalan ke mobilnya. Kunci KGS, kunci Ruang Arsip, ia masukkan ke amplop kecil dan diletakkan di bangku belakang, untuk dikembalikan pada Rina besok.

Malam itu, di mobilnya, Nadia tidak langsung pulang. Ia membuka laptopnya. Lima tahun kehidupan Kirana tersaji di depan matanya. Ia tidak mencari skandal s*x atau nark*ba—itu terlalu mudah.

Ia mencari simpul kebohongan moral yang akan menghancurkan Kirana di mata komunitas ibu-ibu. Ia harus menemukan bagaimana Kirana menggunakan citra kesempurnaan untuk keuntungannya sendiri.

Matanya tertuju pada satu folder: "Dana Peningkatan Kualitas Yayasan Tangan Emas." Yayasan amal Kirana. Pilar utamanya.

Ini adalah tempat yang tepat untuk memulai pembalasan, pikir Nadia.

***

Pukul 11 malam. Nadia tiba di rumah, disambut oleh keheningan. Aksa sudah tidur.

Nadia duduk di meja kerjanya, memproses data e-mail Kirana. Dalam korespondensi Yayasan Tangan Emas, Kirana terus menerus menekankan "pengurangan dana operasional demi memaksimalkan donasi untuk anak-anak."

Namun, Nadia menemukan satu e-mail yang dikirim Kirana kepada akuntan suaminya.

—'Pastikan donasi kita ke Yayasan Tangan Emas tahun ini mencapai 5 Miliar. Itu penting untuk tax deduction dan publikasi. Tapi sisakan 3% untuk dana operasional Komite, tanpa dicantumkan di laporan publikasi. Kebutuhan branding kita lebih penting daripada biaya administrasi yayasan.'—

Tiga persen dari 5 Miliar adalah 150 Juta Rupiah. Dana yang seharusnya dialokasikan untuk anak-anak yatim piatu, dialihkan ke dana taktis Komite untuk membiayai branding Kirana—mungkin untuk membeli bunga mahal, goodie bag mewah, atau bahkan untuk membayar cyber trooper di media sosial.

Nadia bersandar. Ini bukan korupsi kriminal, tapi pengkhianatan moral yang sempurna. Menggunakan amal sebagai kendaraan citra pribadi. Inilah yang akan menghancurkan Kirana di mata para donatur dan ibu-ibu yang memujanya.

Ia mulai merancang campaign barunya, kali ini, ditujukan pada "Tangan Emas" Kirana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!