Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arsip yang Terkunci
Pukul delapan malam.
Kompleks The Golden Bridge yang di siang hari selalu hidup oleh lalu-lalang mobil mewah dan percakapan penuh basa-basi kini berubah sunyi. Setelah jam operasional berakhir, tempat itu menjelma menjadi bangunan dingin yang nyaris tak bernapas.
Lampu keamanan otomatis menyala redup di sepanjang koridor, berkedip perlahan seperti denyut jantung yang dijaga mesin. Pantulan cahaya itu menari di lantai marmer mengilap, menciptakan bayangan panjang yang terasa asing dan tidak ramah.
Nadia tiba di pintu samping sekolah—jalur khusus yang langsung terhubung ke gedung Komite. Ia mengenakan blazer sederhana, namun di baliknya tersembunyi hoodie gelap yang sengaja ia pakai untuk menyamarkan siluet tubuh. Di tangannya, sebuah tas tangan tampak biasa, padahal di dalamnya tersimpan laptop mini terenkripsi, perangkat duplikasi data, dan kunci KGS pemberian Ibu Rina.
Semua telah dipersiapkan dengan rapi.
Namun Nadia tidak menyangka akan disambut seseorang.
Seorang petugas keamanan berdiri tak jauh dari pintu. Tubuhnya sudah renta, namun seragamnya tampak rapi dan disetrika sempurna. Wajahnya ramah, senyumnya tulus.
“Selamat malam, Bu Nadia,” sapa pria itu. “Saya Pak Jaya. Ibu Rina sudah menelepon. Katanya semua siap untuk proyek khusus Bu Kirana.”
Nada suaranya terdengar bangga, seolah ikut menjadi bagian dari sesuatu yang penting.
Nadia tersenyum, senyum yang ia latih bertahun-tahun—hangat, bersih, tanpa celah kecurigaan.
“Terima kasih banyak, Pak Jaya. Saya cuma butuh waktu satu jam. Tidak akan mengganggu keamanan,” katanya sopan.
“Oh, tidak masalah, Bu,” jawab Pak Jaya cepat. “Ruang Arsip aman. Dinginnya juga pas. Saya antar, ya.”
Ia menggesek kartu akses di panel pintu baja tebal. Bunyi klik mekanis terdengar pelan sebelum pintu itu terbuka, memperlihatkan tangga yang mengarah ke bawah tanah.
Nadia melangkah masuk.
Setiap anak tangga yang ia turuni terasa semakin berat. Bukan karena fisik, melainkan karena kesadaran bahwa ia sedang menuruni lapisan terakhir dari dunia yang selama ini tertutup rapat.
Tangga itu panjang, sempit, dan sunyi. Cahaya lampu neon putih memantul di dinding beton polos, membawa Nadia seolah mundur ke masa lalu—ke hari-hari ketika ia masih percaya pada sistem, pada keadilan, pada kejujuran institusi pendidikan.
Ruang Arsip Komite terletak di ujung lorong bawah tanah. Bentuknya menyerupai bunker kecil. Rak-rak besi berjejer rapat, dipenuhi map dan binder beraneka warna. Di sisi kanan ruangan, dua unit server rack berdiri kokoh, lampunya berkedip konstan, seperti mata yang tak pernah tidur.
Udara di sana jauh lebih dingin. Bau kertas lama bercampur dengan aroma ozon dari mesin fotokopi usang yang jarang digunakan.
Nadia menutup pintu di belakangnya, lalu menguncinya. Bunyi kunci beradu logam terdengar nyaring di ruang hening itu.
Ia menyalakan lampu meja kecil di sudut ruangan, lalu membuka tasnya.
Persona ibu lugu telah ia tinggalkan di lantai atas. Di tempat ini, yang tersisa hanyalah Nadia yang lama—perempuan yang berpikir dengan data, strategi, dan ketepatan waktu.
Prioritas pertamanya jelas: akses digital.
Server Komite adalah tambang emas.
Ia melangkah mendekat, mengamati panel-panel server dengan mata terlatih. Butuh waktu kurang dari satu menit baginya untuk mengenali unit yang menyimpan arsip internal Komite—bukan data akademik siswa, melainkan dokumen administratif, komunikasi internal, dan laporan keuangan.
Nadia mengeluarkan perangkat kecil seukuran telapak tangan dari tasnya, lalu menyambungkannya ke port jaringan utama.
Lampu indikator menyala.
Perangkat itu mulai bekerja, menduplikasi seluruh arsip ke hard drive internal Nadia. Prosesnya akan memakan waktu sekitar empat puluh menit.
Sambil menunggu, Nadia mengalihkan perhatiannya ke ponsel.
Notifikasi dari Grup WhatsApp Inner Circle bermunculan tanpa henti.
Masalah perundungan Rio telah meledak, persis seperti yang ia rancang.
“Astaga, aku menangis membaca surat anonim itu,” tulis seorang ibu.
“Ini sudah kelewat batas. Anak-anak yang dibanggakan itu ternyata kejam,” balas yang lain.
“Di mana hati nurani kita sebagai orang tua?” sahut pesan berikutnya.
Nadia tersenyum tipis.
Simpati adalah senjata paling mematikan di komunitas ini. Dan ia baru saja menyalakannya.
Ibu-ibu mulai terbelah. Narasi yang selama ini dikendalikan Kirana kini bergeser ke ranah emosional—wilayah yang tidak bisa diatur dengan rapat atau keputusan sepihak.
Nadia lalu membuka Grup WhatsApp Elite Moms—ruang kekuasaan Kirana.
Di sana, suasananya sangat berbeda.
[Kirana Widjaja]:
“Tolong abaikan hoaks yang beredar di grup lain. Kami sedang menangani masalah kecil di junior high secara profesional. Fokus utama Komite saat ini adalah Gala Dinner.”
[Ibu Siska]:
“Tepat sekali, Bu Kirana. Drama seperti ini hanya dibuat oleh orang-orang yang iri.”
[Ibu Vanya]:
“Kasihan sekali yang membesar-besarkan masalah anak kecil. Memalukan.”
Nadia menghela napas pelan.
Begitu rapi. Begitu terlatih.
Gaslighting yang dibangun Kirana seperti tembok tebal—menyederhanakan penderitaan, mengecilkan luka, lalu menyalahkan korban.
Namun di antara semua balasan setia itu, ada satu hal yang membuat Nadia berhenti menggulir layar.
Ibu Nina diam.
Tidak ada komentar. Tidak ada dukungan. Tidak ada emoji.
Padahal Nina adalah sponsor utama Gala Dinner, pemilik butik haute couture yang prestisius. Keheningan Nina bukan kebetulan.
Itu keraguan.
Dan keraguan adalah awal dari keruntuhan.
Ponsel Nadia ia letakkan kembali di tas. Fokusnya kini kembali ke rak arsip.
Ia mulai mencari berkas Aksa.
Bagian “Sanksi Siswa” ia periksa terlebih dahulu. Tidak ada.
Nadia tersenyum dingin.
Tentu saja Kirana tidak akan menyimpan dosa itu di tempat yang mudah dijangkau.
Ia menggeser tumpukan berkas keuangan tahun 2023. Di baliknya, terselip sebuah binder hitam tanpa label. Tidak mencolok. Tidak mencurigakan.
Namun nalurinya bergetar.
Nadia menarik binder itu keluar.
Di dalamnya, ia menemukan salinan lengkap berkas Aksa. Tuduhan, kronologi, keputusan Komite—semuanya ada. Diapit oleh kesaksian tertulis dari guru Matematika, Mr. Taufik.
Kesaksian itu tampak kaku, terlalu rapi. Bahasa formal yang dipaksakan.
Lalu Nadia membalik halaman terakhir.
Sebuah memo kecil, ditulis tangan.
—“Bu Kirana, saya sudah menandatangani dokumen yang Anda minta. Namun saya tegaskan sekali lagi, data statistik Aksa sangat original. Tindakan ini murni karena kewajiban.”—
Napas Nadia tercekat.
Inilah yang ia cari.
Tanpa ragu, ia mengeluarkan ponsel dan memotret memo itu dari berbagai sudut. Ia memastikan pencahayaan sempurna, timestamp jelas, dan konteks tidak bisa disangkal.
Ini bukan sekadar bukti manipulasi.
Ini adalah pengakuan terpaksa.
Namun Nadia tidak memindahkan berkas Aksa. Ia mengembalikannya ke binder, lalu menyelipkannya kembali ke tempat semula.
Kirana harus merasa aman.
Dengungan server semakin nyaring. Lampu indikator berkedip cepat.
Proses selesai.
Nadia mencabut perangkat kecil itu dan menyimpannya kembali ke tas. Kini ia memegang data lima tahun Komite: laporan keuangan yayasan, proposal bisnis, daftar donatur, dan—yang paling berharga—email internal Kirana.
Lampu meja ia matikan.
Saat menaiki tangga kembali ke permukaan, Nadia tidak merasa menang. Yang ia rasakan justru beban berat menekan dadanya.
Ia kini memegang kekuasaan. Namun kekuasaan itu dibangun dari kebohongan dan pengkhianatan.
Di pintu keluar, Pak Jaya menyambutnya dengan senyum.
“Berhasil, Bu Nadia? Semoga display Bu Kirana besok cantik,” katanya tulus.
“Pasti, Pak,” jawab Nadia, senyumnya terasa asing di wajahnya sendiri. “Terima kasih banyak.”
Di mobil, Nadia memasukkan kunci KGS ke dalam amplop kecil. Ia akan mengembalikannya pada Rina esok hari.
Namun malam itu, Nadia tidak langsung pulang.
Ia membuka laptop di dalam mobil.
Lima tahun kehidupan Kirana terbentang di layar.
Ia tidak mencari skandal murahan. Ia mencari simpul kebohongan moral—sesuatu yang bisa menghancurkan Kirana di mata komunitas yang memujanya.
Matanya berhenti pada sebuah folder:
Dana Peningkatan Kualitas Yayasan Tangan Emas
Yayasan amal Kirana. Pilar citranya.
“Di sini,” gumam Nadia, “semuanya akan runtuh.”
Pukul sebelas malam, Nadia akhirnya tiba di rumah. Keheningan menyambutnya. Aksa sudah terlelap.
Nadia duduk di meja kerja, membaca email-email Kirana dengan saksama.
Satu pesan membuat jantungnya berdebar.
—“Pastikan donasi Yayasan Tangan Emas mencapai lima miliar tahun ini. Penting untuk tax deduction dan publikasi. Sisakan tiga persen untuk dana operasional Komite, tanpa dicantumkan di laporan publik.”—
Tiga persen.
Seratus lima puluh juta rupiah.
Bukan korupsi terang-terangan.
Namun pengkhianatan moral yang sempurna.
Nadia bersandar pelan.
“Inilah awalnya,” bisiknya.
Dan di malam sunyi itu, balas dendam Nadia memasuki fase baru.