Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Kehancuran
Selasa pagi, Linguara menerima panggilan darurat dari Kho Group.
Penerjemah yang dijadwalkan untuk rapat investasi Jepang tiba-tiba masuk rumah sakit karena usus buntu. Bu Mira keluar dari ruangannya dengan wajah panik, memegang daftar nama penerjemah seperti daftar korban perang.
"Eve, kamu bisa ke Kho Tower sekarang?"
Eve baru saja membuka laptop. "Sekarang?"
"Rapat mulai satu jam lagi. Ini rapat tingkat direksi. Bahasa Inggris, Jepang, dan sedikit Mandarin bisnis. Kamu paling siap."
Nama Kho Group membuat Eve teringat berita televisi, kontrak tahunan, dan suami yang selalu terlihat sedikit aneh setiap kali perusahaan itu dibahas. Namun ia menepis pikiran itu. Pekerjaan adalah pekerjaan.
"Baik. Saya berangkat."
Kho Tower di SCBD berdiri seperti cermin raksasa. Lobi utamanya tinggi, dingin, dan berkilau. Logo KHO GROUP terpahat di dinding batu hitam. Resepsionis tersenyum profesional setelah melihat surat tugas Eve.
"Ruang rapat eksekutif, lantai tiga puluh."
Eve naik lift khusus tamu. Di dalam, lantai marmer memantulkan sepatunya. Ia sempat merasa kecil, lalu menertawakan dirinya sendiri. Ini hanya gedung kantor. Ia pernah menerjemahkan di zona konflik. Ia tidak akan gentar pada lift mahal.
Pintu lift terbuka di lantai tiga puluh.
Jerry Oei berdiri di koridor.
Mereka saling menatap.
Wajah Jerry yang biasanya terkendali berubah kosong selama satu detik. "Ka..."
Ia menggigit kata itu sebelum keluar sepenuhnya.
"Nyonya Lim," katanya cepat. Terlalu cepat.
Eve memegang map di dadanya. "Jerry? Kamu di sini?"
"Saya... bekerja di sini."
"Aku tahu kamu bekerja dengan Edric." Eve menatap lanyard di lehernya.
Tulisan di kartu identitas itu jelas:
Jerry Oei, Asisten Eksekutif Direktur Utama.
Eve membaca baris itu satu kali.
Lalu sekali lagi.
Asisten Eksekutif Direktur Utama.
Udara di koridor terasa lebih tipis.
"Direktur Utama siapa?" tanya Eve pelan.
Jerry membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang cukup cepat untuk menyelamatkan apa pun.
Pintu ruang rapat terbuka.
Edric keluar.
Ia memakai setelan gelap, rambut rapi ke belakang, jam tangan yang selama ini Eve kira hanya jam mahal biasa tampak seperti bagian dari kekuasaan yang sudah lama menyatu dengan tubuhnya. Di belakangnya berjalan beberapa direktur senior, semua menjaga jarak hormat. Seorang pria asing menjabat tangannya.
"Thank you, Director Kho."
Perwakilan Jepang di sampingnya membungkuk sopan dan berbicara dalam bahasa Jepang, menyebutnya pimpinan Kho.
Eve tidak mendengar sisa kalimat.
Ia melihat Edric.
Suaminya.
Pria yang memakai celemek merah muda di dapurnya. Pria yang bilang Bentley bukan mobil mahal. Pria yang duduk di lantai ruang tamu untuk mengaku mencintainya dari dua tahun lalu.
Pria yang saat ini berdiri di lantai eksekutif Kho Group, dihormati semua orang seperti pusat gravitasi.
Edric melihatnya.
Wajahnya berubah.
Tidak banyak. Hanya mata yang kehilangan warna, rahang yang mengeras, dan satu langkah kecil yang tidak selesai.
"Lina..."
Kata itu memecahkan sesuatu.
Semua potongan yang selama ini Eve abaikan runtuh dari langit-langit ingatan.
Gelang GEMMA yang terlalu mustahil untuk pria biasa. Hartono Mulya yang tiba-tiba kehilangan keberanian setelah mendengar nama Kho. Leonardo Lie yang menunduk. Jerry yang dipanggil Pak Asisten. Bentley, Rolls-Royce, Oma Liana yang terlalu anggun untuk tetangga biasa. Restoran 1973 yang manajernya hampir memanggil Jerry dengan gelar. Linguara yang tiba-tiba mendapat kontrak tahunan. Berita televisi tentang orang terkaya di Jakarta bernama Edric Kho.
Nama yang sama.
Bukan nama yang sama.
Orang yang sama.
Eve merasa wajahnya memucat lapis demi lapis. Namun di tangannya ada map kerja, di belakangnya ada nama Linguara, dan di depannya ada rapat yang membutuhkan penerjemah.
Ia menelan rasa sakit sampai tenggorokannya terasa berdarah.
"Saya penerjemah pengganti dari Linguara," katanya dengan suara resmi.
Jerry menatapnya seperti ingin meminta maaf dan lenyap bersamaan.
Edric membuka mulut.
Eve melewatinya.
Rapat berlangsung sembilan puluh menit.
Eve duduk di bilik penerjemah kecil dengan headset di telinga. Suara para direktur masuk, keluar melalui mulutnya dalam bahasa lain. Angka investasi, jadwal pembangunan, klausul risiko, model bagi hasil, semuanya bergerak seperti mesin. Ia menerjemahkan tanpa salah. Tidak ada jeda, tidak ada suara pecah, tidak ada tanda bahwa dunia pribadinya baru saja runtuh di koridor.
Setiap kali seseorang menyebut nama Edric dengan hormat, Eve harus menelan sesuatu yang pahit. Direktur Kho. Pak Edric. Pimpinan. Kata-kata itu melayang di udara rapat seperti gelar yang sejak awal memang miliknya, sementara di rumah ia membiarkan Eve percaya bahwa ia hanya pegawai biasa dengan bos bernama Jerry.
Di layar presentasi, logo KHO GROUP muncul berulang kali. Eve menerjemahkan visi perusahaan tentang kepercayaan, kemitraan, dan transparansi. Pada kata transparansi, napasnya hampir tersangkut. Ia memaksa dirinya menyelesaikan kalimat, lalu mengambil seteguk air yang terasa seperti logam.
Hanya tangannya yang mengkhianati.
Di bawah meja, jari-jarinya gemetar terus.
Feli duduk di sisi seberang ruang rapat sebagai perwakilan komunikasi keluarga. Ia melihat tangan Eve. Matanya memerah sejak menit kelima belas, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Satu kata salah di ruangan itu bisa menghancurkan profesionalitas Eve yang sedang bertahan dengan sisa harga diri.
Edric duduk di kepala meja.
Ia tidak melihat layar presentasi.
Ia mendengar suara Eve di headset, jernih, stabil, sempurna. Semakin stabil suara itu, semakin Edric merasa sesuatu di dalam dirinya dihukum. Ia pernah melihat Eve takut, marah, terluka. Namun ini lebih buruk. Ini Eve yang memilih menjadi profesional karena sebagai istri ia tidak lagi tahu harus percaya pada siapa.
Ketika rapat akhirnya selesai, delegasi Jepang memuji kualitas terjemahan.
"Interpreter Anda luar biasa," kata salah satu dari mereka.
Edric tidak bisa menjawab.
Salah satu direktur lokal ikut memuji. "Bu Eve sangat profesional. Linguara mengirim orang yang tepat."
Profesional. Kata itu seharusnya membuatnya bangga. Hari ini, kata itu hanya berarti ia berhasil tidak hancur di depan orang asing. Eve menunduk sopan, mengucapkan terima kasih dalam nada kerja yang rapi, lalu menyadari bahwa separuh ruangan memandangnya dengan rasa hormat baru tanpa tahu ia sedang berdiri di puing-puing rumah tangganya sendiri.
Edric ingin mengatakan bahwa ia bangga. Ingin mengatakan maaf. Ingin berdiri di depan semua orang dan mengakui bahwa perempuan yang baru menyelamatkan rapat itu adalah istrinya. Namun semua kata itu terlambat. Mengumumkannya sekarang hanya akan menjadi bentuk lain dari pemaksaan.
Eve melepas headset, merapikan map, dan berdiri. Kakinya terasa ringan, seperti tidak benar-benar menyentuh lantai.
Feli mengejarnya di luar ruang rapat.
"Kak Lina."
Eve berhenti.
Feli menahan air mata. "Tolong dengarkan aku. Kakak..."
"Jadi kamu benar-benar adiknya."
Itu bukan pertanyaan.
Feli menunduk. "Iya. Aku adik kandungnya. Maaf."
"Oma Liana?"
"Oma kami."
"Jerry?"
"Asisten kakakku."
Eve mengangguk pelan. Anehnya, jawaban-jawaban itu tidak lagi mengejutkan. Setelah gelas pecah, serpihan tambahan hanya membuat telapak kaki semakin berdarah.
"Terima kasih sudah jujur sekarang," katanya.
Feli menangis. "Aku ingin bilang, tapi..."
"Aku tahu." Eve memotong dengan lembut yang justru lebih menyakitkan. "Semua orang punya alasan."
Ia berjalan ke koridor.
Edric menunggu di dekat lift. Tidak ada direktur di sekelilingnya sekarang, tidak ada pengawal. Hanya Edric, wajah pucat, mata yang belum pernah Eve lihat seputus asa itu.
"Lina, saya bisa jelaskan."
Eve berhenti beberapa langkah darinya.
"Jelaskan bagian mana?" suaranya tenang. Terlalu tenang. "Bagian kamu Direktur Utama Kho Group? Bagian Jerry bukan bosmu? Bagian Oma Liana bukan tetangga? Bagian semua hadiah, semua bantuan, semua kebetulan itu ternyata kamu?"
Edric seperti menerima setiap kalimat sebagai pukulan.
"Saya salah."
"Ya."
Kata itu sederhana. Tidak keras. Tidak berteriak. Justru karena itu, wajah Edric semakin hancur.
"Aku ingin memberitahumu."
"Tapi tidak."
Eve menatapnya. Matanya merah, tetapi air mata tidak jatuh. Ia tidak akan menangis di lantai tiga puluh gedung Kho Group, di bawah logo keluarga yang selama ini mengelilinginya tanpa ia tahu.
Edric melangkah maju dan mengulurkan tangan.
Eve mundur satu langkah.
Satu langkah itu membuat koridor terasa selebar laut.
"Lina..."
"Jangan sentuh aku dulu."
Edric berhenti.
Di belakang mereka, pintu ruang rapat terbuka dan beberapa eksekutif keluar. Mereka langsung menunduk, pura-pura tidak melihat, lalu berjalan menjauh dengan langkah lebih pelan daripada biasa.
Eve menekan tombol lift.
"Aku perlu pulang."
"Saya antar."
"Tidak."
"Lina, tolong."
Pintu lift terbuka.
Eve masuk. Edric bergerak seolah ingin menyusul, tetapi berhenti karena kalimatnya sendiri di masa lalu kembali menampar: kalau kamu ragu sedikit saja, saya berhenti.
Ia tidak boleh memaksa sekarang.
Eve menatapnya dari dalam lift.
"Kamu tahu apa yang paling sakit?" tanyanya.
Edric tidak bisa menjawab.
"Bukan karena kamu kaya. Bukan karena kamu punya nama besar." Suaranya tetap rata, tetapi matanya basah. "Karena kamu pikir aku perlu dilindungi dari kebenaran."
Pintu lift mulai menutup.
"Atau mungkin kamu takut aku akan berubah menjadi Calista."
Wajah Edric kehilangan darah.
Nama itu adalah luka yang tepat. Karena benar, di bagian paling pengecut dirinya, Edric pernah takut. Takut Eve melihat uang sebelum melihat dia. Takut perempuan yang ia cari dua tahun akan pergi begitu tahu siapa dirinya. Takut trauma lama membuatnya mencurigai orang yang justru paling pantas ia percaya.
Dan sekarang ketakutan itu menjadi ramalan yang ia ciptakan sendiri.
Pintu tertutup.
Logam mengilap itu memantulkan wajah Edric yang terdistorsi, berdiri sendirian di koridor lantai tiga puluh.
Jerry mendekat perlahan. "Bos..."
Edric tidak bergerak.
Lama sekali, ia hanya menatap pintu lift yang sudah kosong.
Ketika akhirnya bicara, suaranya retak untuk pertama kali.
"Dia menyuruh saya jangan menyentuhnya."