Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20: Wajah yang Familiar
Lalu ia mematikan ponsel, melihat ke dapur tempat Sari sedang mencuci mangkuk, dan tersenyum sangat tipis.
Senyum itu hilang begitu Meilan masuk.
Sani meletakkan ponsel lama Darto di meja dengan gerakan terlalu tenang. Di layar sudah tidak ada berita apa pun. Hanya wallpaper kartun lama yang biasa dipakai Darto untuk menghibur Lala.
"Bosan?" tanya Meilan.
"Sedikit."
"Orang bosan biasanya main gim. Kamu baca berita."
Sani menatapnya, lalu tersenyum lemah. "Saya tidak ingat cara main gim."
"Tapi ingat cara menghapus riwayat?"
Ia terdiam.
Meilan tidak mendesaknya. Anak itu belum siap membuka identitas, dan memaksa terlalu cepat hanya akan membuatnya melompat keluar dari jendela sebelum luka sembuh. Ia mengambil ponsel itu dan menyimpannya.
"Mulai hari ini, tidak ada internet tanpa izin."
"Iya, Bu Meilan."
Satu minggu setelah Sani datang, rumah Meilan mulai menemukan ritme baru yang aneh. Pagi hari anak-anak berangkat sekolah. Sari mengurus dapur dan perban. Darto membantu mengantar pesanan kecil Yuni yang mulai laku di pasar pagi. Sani duduk di teras belakang saat matahari hangat, membaca buku lama yang diberikan Bobo, meski caranya memegang buku lebih mirip orang menunggu serangan daripada benar-benar bersantai.
Hari Minggu, Patrick mengirim daging dan arang dengan pesan: `Anak-anak perlu makan enak. Jangan tanya harga.`
Meilan membalas: `Kalau terlalu mahal, kupotong dari bagian keuntunganmu.`
Patrick menjawab dengan stiker menangis.
Sore itu, mereka membuat panggangan kecil di halaman. Lala duduk paling dekat Sari, matanya berbinar melihat jagung diputar di atas bara. Hugo berusaha terlihat berani memegang kipas bambu, tetapi asap membuatnya batuk. Yan mengambil alih kipas tanpa banyak bicara. Bobo duduk di bangku kecil, membaca label bumbu dan mengingat urutan mana yang lebih dulu dipakai.
"Kalau garam masuk terakhir, daging lebih lembut," katanya.
Sani yang duduk di kursi rotan menatapnya.
Awalnya hanya sekilas.
Lalu lebih lama.
Bobo mengangkat wajah. "Kenapa lihat Bobo?"
Sani seperti tersadar. "Tidak apa-apa."
"Kamu bohong."
Lala langsung menoleh. "Ko Sani bohong?"
Sani tampak kikuk menghadapi dua anak tiga tahun yang satu terlalu tajam dan satu terlalu polos. Ia mencoba tersenyum. "Wajah Bobo... rasanya seperti pernah kulihat."
Tangan Meilan yang sedang membalik daging berhenti.
Asap naik di antara mereka, tipis tetapi cukup untuk memberi jeda. Yan menatap Sani. Hugo juga berhenti mengunyah jagung.
Bobo menyentuh wajahnya sendiri. "Di mana?"
Sani mengerutkan kening seolah benar-benar mencari ingatan. "Entah. Mungkin di mimpi."
"Bobo bukan mimpi," kata Lala serius.
Sani tertawa pelan, lalu meringis karena lukanya tertarik.
Meilan melanjutkan membalik daging. "Kalau kamu ingat sesuatu, katakan."
"Saya akan coba."
Namun setelah itu, selera makan Meilan hilang.
Kalimat Sani membuka pintu yang sejak Bab 17 ia paksa kunci dari dalam. Chelsea, foto Reynard, gosip tentang pria yang tidak bisa punya keturunan, gudang tua Jakarta Timur, dan wajah Bobo yang semakin hari semakin jelas garisnya. Semua itu kembali berdiri di ruang yang sama.
Sari mencoba mencairkan suasana dengan membagi jagung bakar tambahan. Lala cepat lupa dan sibuk meniup ujung jagungnya. Hugo berdebat dengan Yan soal siapa yang lebih kuat memegang kipas. Hanya Bobo yang masih menatap Sani.
"Kalau ingat, bilang Mama," kata Bobo.
Sani mengangguk. "Iya."
"Jangan bilang orang lain dulu."
Meilan menoleh.
Bobo menatap daging di piringnya, seolah kalimat itu bukan hal besar. "Mama tidak suka orang asing tahu rumah kita."
Sani memandang anak kecil itu lebih lama. Kali ini bukan hanya karena wajahnya. Ada sesuatu pada nada pendek Bobo yang terlalu mirip perintah seseorang yang pernah ia dengar di ruang rapat keluarga besar.
Meilan merasakan kulit tengkuknya meremang.
Malamnya, setelah anak-anak tidur, Meilan menemui Sani di ruang depan.
"Kalau kamu merasa rumah ini berbahaya, aku bisa mencarikan tempat lain."
Sani menatapnya. "Maksudnya, Ibu ingin saya pergi?"
"Aku ingin tahu apakah kamu membawa bahaya yang tidak bisa kamu jelaskan."
"Saya tidak akan menyakiti anak-anak."
"Aku tidak bertanya itu."
Ia menunduk. Untuk anak yang pandai menyembunyikan diri, Sani punya titik lemah yang terlalu jelas: ia tidak tahan melihat Lala takut, tidak tahan Sari kecewa, dan terlalu sering memperhatikan Bobo seperti mencari jawaban.
"Kalau saya pergi sekarang, mereka akan lebih mudah menemukan saya," katanya akhirnya. "Kalau saya tinggal, Ibu juga dalam bahaya."
"Jadi dua pilihan sama-sama buruk."
"Iya."
Meilan menyilangkan tangan. "Kamu tinggal satu bulan. Sembuh, lalu kita bicara ulang. Selama itu, tidak ada kebohongan yang membahayakan anak-anak."
Sani menatapnya lama, lalu mengangguk.
"Terima kasih."
"Jangan berterima kasih terlalu cepat. Aku mahal."
Untuk pertama kalinya, Sani benar-benar tersenyum kecil.
Keesokan harinya, Meilan pergi ke Restoran Pangesto. Patrick menunggunya di kantor belakang dengan laporan keuangan setebal menu restoran.
"Kamu siap dengar kabar baik atau buruk dulu?"
"Kabar baik."
"Pendapatan bulan ini tembus seratus juta Rupiah. Setelah kasus racun, orang justru penasaran. Klarifikasi cepat, review pelanggan, dan video Pak Zhou menangis sambil bilang tidak menjual racun... entah kenapa viral."
Pak Zhou yang sedang lewat langsung memerah. "Saya tidak sengaja viral."
"Justru itu yang membuat orang percaya," kata Meilan.
Laporan itu bukan hanya angka. Di dalamnya ada daftar menu yang paling laku, jam ramai, biaya bahan, dan nama staf yang performanya naik setelah diberi sistem bonus kecil. Meilan menandai beberapa kolom.
"Naikkan standar kebersihan yang terlihat pelanggan. Sarung tangan, label tanggal, dapur separuh terbuka. Setelah kasus racun, orang harus melihat kita tidak takut diawasi."
Patrick mencatat cepat. "Kamu mengubah trauma jadi strategi pemasaran."
"Kalau luka tidak dipakai untuk belajar, ia cuma jadi bekas."
Patrick membuka halaman lain. "Kabar buruknya, Leo benar-benar bergerak. Ada broker Jakarta yang bertanya soal pemasok kita, izin restoran, bahkan Cantika. Nama yang muncul belum jelas, tapi koneksinya bukan kelas kecil."
"Biarkan dia bergerak."
"Kamu terlalu santai."
"Aku punya bukti gudangnya, pembayaran ilegal, dan daftar kontainer. Orang yang panik akan membuat kesalahan lebih besar kalau merasa masih punya jalan keluar."
Patrick menatapnya seperti ingin bertanya berapa banyak rahasia gelap yang disimpan perempuan ini di ponselnya, tetapi akhirnya memilih tidak tahu.
"Kamu menakutkan, Mei."
"Bagus. Dunia lebih sopan pada orang yang menakutkan."
Namun ketika ia pulang malam itu, keberanian yang ia tunjukkan pada Patrick tidak ikut masuk ke kamar.
Bobo tidur di samping Lala. Lampu kecil membuat wajahnya terlihat jelas. Meilan duduk di tepi kasur, membuka foto Reynard yang dikirim Chelsea, lalu meletakkan layar ponsel di sebelah wajah Bobo.
Ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kata kebetulan.
Alisnya.
Hidungnya.
Garis bibirnya.
Cara wajah itu tampak dingin bahkan saat tertidur.
Tangan Meilan mulai gemetar.
Bukan karena takut.
Karena kemiripan itu sudah tidak bisa dijelaskan sebagai kebetulan.