Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.
Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.
Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.
Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.
Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.
Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.
Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Usai melangkah pergi dengan derai air mata dan ketakutan yang tersisa, bayangan Gabriella Margareth lenyap dari lorong asrama pelatih. Pintu kamar Zacheriyya kembali tertutup rapat, mengunci keheningan yang kini hanya diisi oleh embusan napas Zacheriyya dan Evander.
Di dalam kamar berukuran sedang itu, aroma kopi hitam dan mint tipis menyeruak.
Zacheriyya berlutut di tepi ranjang, merapikan beberapa pakaian taktis, jaket kedap angin, serta perlengkapan medis darurat ke dalam tas ransel militernya. Di sisinya, Evander ikut berlutut, membantu memasukkan gulungan kaus kaki dan perlengkapan kecil dengan gerakan yang teramat cekatan.
"Gabriella benar-benar konyol," gumam Zacheriyya seraya menarik ritsleting salah satu kompartemen ranselnya. "Membawa berita sampah dan mengira bisa menghancurkan hubungan kita dengan dongeng masa lalu? Sungguh nekat."
Evander terkekeh rendah, jemarinya sengaja menyelip di antara jemari Zacheriyya yang sedang melipat kain. "Dia hanya panik, honey. Lagipula, mana mungkin aku terpengaruh berita murahannya?"
Zacheriyya melirik suaminya dengan mata menyipit tajam. "Dan kau... aku sudah bosan memperingatkanmu untuk lebih berhati-hati jika datang ke kamarku. Kau ini peserta sipil! Bagaimana kalau ada pelatih lain atau Mayor yang melihatmu menyelinap masuk hampir tiap malam?"
"Itu karena aku merindukanmu, Sayang," sahut Evander tanpa rasa bersalah sedikit pun, menyunggingkan senyuman miring yang teramat seksi. "Bayangkan, kita dua tahun tidak bersama—"
"Dan 'Potter' tidak bersemangat karena tidak dapat jatah dan akan karatan hingga hampir meninggoy!" lanjut Zacheriyya dengan raut wajah yang dibuat-buat tragis.
DEG!
Evander mendadak mematung kaku. Pria Knight itu mengerutkan alisnya, menatap Zacheriyya dengan binar mata terkejut yang perlahan berganti menjadi senyuman manis nan hangat.
"Kau... kau masih ingat namanya Potter?" bisik Evander dengan suara bass-nya yang begitu lembut, merapatkan tubuhnya ke Zacheriyya.
Zacheriyya memutar matanya malas, menghembuskan napas panjang. "Kita berpisah baru dua tahun, Evan... bukan satu abad."
"Tapi dua tahun bagiku sama dengan dua abad, Sayang," sahut Evander tak mau kalah, memajukan wajahnya hendak mengecup pipi wanita itu.
PLAK!
"Omong kosong," potong Zacheriyya cepat, tangannya mendarat memilin pinggang Evander dengan sebuah cubitan tajam dan panas.
"Aww! Sayang... panas!" meringis Evander sembari mengusap pinggangnya yang berbekas merah, meski matanya tetap tertawa. "Cubitanmu kenapa makin hari makin panas, hmmm?"
"Makanya jangan menggodaku terus," balas Zacheriyya dingin, menepuk bahu tegap Evander tegas. "Sana balik ke kamarmu di asrama bawah. Siapkan semua yang kau butuhkan untuk simulasi menginap di lembah nanti sore. Dan ingat, jangan lupa bawa selimut hangat."
Evander menggelengkan kepala, menyandarkan dagunya di pundak Zacheriyya dari belakang. "Aku tidak butuh selimut. Ada dirimu."
"Tidak bisa!" tegas Zacheriyya menepis kepala pria itu pelan. "Kita akan tidur di dua tenda terpisah bersama peserta lain. Kau di tenda pria, aku di tenda pengawas."
Evander merengut, memasang raut wajah frustrasi secara dramatis. "Itu artinya kita LDR lagi, Sayang? Ahh, tidak... aku tidak bisa tidur tanpamu!"
"Jangan mulai, Evander Vale-Knight—"
NIII-NOOO! NIII-NOOO! NIII-NOOO!
Kalimat Zacheriyya terputus seketika!
Sebuah sirine darurat bersuara nyaring mendadak meraung-raung dari sudut atas dinding kamar. Lampu indikator kode berbahaya warna merah di atas pintu berkedip-kedip cepat, memancarkan pendar merah menyala yang membakar keheningan sore.
Ini bukan sirine latihan biasa.
Ini adalah Code Red—tanda resmi bahwa sistem komando EOD pusat baru saja menerima laporan konfirmasi adanya ancaman bom riil atau bahaya terorisme aktif di wilayah Los Angeles!
Sensasi santai di dalam kamar menguap dalam kurun waktu satu detik.
Zacheriyya langsung menyambar sabuk taktisnya, menguncinya di pinggang dengan gerakan refleks militer yang sempurna. Binar matanya yang tadinya hangat kini berubah menjadi sangat dingin, tajam, dan berdarah dingin.
"Tetap di sini, Evander," perintah Zacheriyya tegas, melangkah menuju pintu.
Namun, sebelum jemari Zacheriyya menyentuh gagang pintu, sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangannya. Evander berdiri di belakangnya, wajahnya yang tengil tadi telah lenyap, berganti menjadi raut pria dominan yang tak teratahkan.
"Aku ikut," ujar Evander singkat, nada suaranya tidak menerima bantahan.
"Tidak bisa! Kau peserta warga sipil, Evander! Warga sipil tidak diizinkan masuk ke ruang komando darurat!" tembak Zacheriyya keras.
"Aku tidak peduli pada aturanmu, Zacheriyya," bisik Evander dengan mata mengunci iris wanita itu. "Jika ada ancaman bom riil yang melibatkan keselamatanmu, aku tidak akan pernah duduk manis di kamar asrama bagaikan orang bodoh. Aku ikut."
Melihat dominasi dan ketegasan mutlak di mata suaminya, Zacheriyya menarik napas pendek. Ia tahu betul, menolak Evander saat pria ini sedang dalam mode pengawal protektif hanya akan membuang waktu berharga.
"Ikut di belakangku dan tutup mulutmu," desis Zacheriyya mengalah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lima menit kemudian, di dalam Ruang Operasi Taktis Markas EOD Pusat Los Angeles.
Suasana di dalam ruangan berpendingin udara itu tampak begitu tegang dan mencekam. Puluhan layar monitor raksasa memetakan peta digital kota Los Angeles, menampilkan titik-titik koordinat dan arus lalu lintas real-time. Mayor, Instruktur Hendrick, dan para Kapten, serta jajaran perwira EOD senior berkumpul di sekitar meja bundar bermonitor holografik.
Kedatangan Zacheriyya yang diikuti oleh Evander sempat memancing tatapan heran dan kerutan dahi dari beberapa perwira.
Hendrick menatap Evander dengan binar
mata penuh keheranan, namun situasi darurat membuat tidak ada seorang pun yang sempat memprotes keberadaan sang peserta sipil.
"Laporkan situasinya!" tegas Zacheriyya melangkah mendekati meja komando.
Mayor menekan tombol kontrol, memproyeksikan sebuah dokumen terenkripsi yang baru saja masuk ke peladen resmi kepolisian Los Angeles sepuluh menit yang lalu.
"Seseorang baru saja meretas saluran komunikasi darurat kepolisian," ujar Mayor dengan suara berat. "Pelaku tidak meminta tebusan uang. Dia hanya mengirimkan dokumen digital berisi Tiga teka-teki peledak. Pelaku mengklaim salah satu atau seluruh lokasi di dalam teka-teki ini telah ditanami bahan peledak rakitan tingkat tinggi yang siap dipicu sebelum tengah malam."
Seluruh ruangan hening. Lampu sorot meja menerangi tiga baris puisi yang terpampang di layar raksasa:
TEKA-TEKI 1:
Aku tempat bintang tidur berdiri, Cahaya ku redup saat malam tiba, Ratusan nama di bawah kakiku, Tapi aku bukan kuburan. Carilah di mana mimpi dijual per meter.
TEKA-TEKI 2:
Aku penjaga yang tak pernah berkedip, Melihat kota dari atas, Sayap ku terbentang tapi tak terbang. Di jantung pemerintahan aku berdiri. Ledakan ku akan membangunkan semua.
TEKA-TEKI 3:
Aku rumah bagi yang haus kecepatan, 28 tikungan, 1 tujuan, Dengungan ku memekakkan saat siang, Tapi malam ini aku sunyi. Carilah aku di tempat mobil bermimpi.
Hendrick langsung menunjuk teka-teki pertama dengan tongkat penunjuk.
"Teka-teki pertama sangat jelas! 'Tempat bintang tidur berdiri... ratusan nama di bawah kakiku...' Ini mutlak mengarah pada Hollywood Walk of Famehdi Hollywood Boulevard! Ribuan nama bintang terukir di trotoar sana! Tempat itu padat, ikonik, dan sangat mudah diserang malam hari!"
"Setuju," potong Kent cepat. "Dan teka-teki kedua, 'Penjaga yang tak pernah berkedip... di jantung pemerintahan aku berdiri'. Ini pasti merujuk pada patung elang dan area Los Angeles City Hall! Gedung pemerintahan utama kota ini. Target politik yang teramat sempurna!"
Mayor mengangguk tegas. "Tim Alfa dan Tim Bravo EOD, segera bergerak ke Hollywood Boulevard dan City Hall sekarang juga! Kosongkan area!"
"Tunggu!"
Sebuah suara bass yang begitu tenang dan dominan memotong instruksi Mayor.
Seluruh perwira menoleh. Evander melangkah maju satu tindak dari belakang barisan Zacheriyya, menatap layar proyeksi dengan mata yang berkilat tajam dan analisis yang teramat dingin.
"Pria sipil... apa yang kau lakukan? Jangan mencampuri urusan strategi operasional!" tegur beberapa senior Zacheriyya tajam dengan alur alis bertaut.
Evander sama sekali tidak memedulikan. Tangannya terulur, menunjuk baris-baris teka-teki di layar.
"Dua teka-teki pertama itu... adalah pengecoh," ujar Evander tenang, tatapannya menyapu seluruh tim EOD. "Siapa pun pelaku yang menulis ini, dia sangat paham bagaimana alur berpikir tim penjinak bahan peledak militer. Kalian digiring untuk membagi fokus dan mengirim pasukan ke tempat-tempat ramai."
Zacheriyya menatap Evander, menguji pemikiran suaminya. "Apa alasanmu menyebut dua tempat itu pengecoh, Evander?"
Evander tersenyum tipis. "Hollywood Boulevard adalah tempat umum yang terlalu luas. Jika bom diletakkan di sana, sinyal kekacauannya akan menyebar liar tapi sulit dikontrol oleh pelaku. Begitu juga City Hall. Jika kalian mengirim tim ke Hollywood Boulevard, kalian paling-paling hanya akan menemukan sebuah koper kosong yang dipasangi speaker pemutar suara detak bom untuk memicu kepanikan massal. Dan di City Hall? Kalian hanya akan menemukan sebuah drone dengan lampu strobo yang berkedip cepat untuk membuat kalian mengira itu adalah timer bom aktif."
Ruangan menjadi sangat hening. Para perwira mulai mencerna analisis logis yang disampaikan pria sipil dari keluarga Knight tersebut.
"Lalu... bagaimana dengan teka-teki ketiga?" tanya Zacheriyya dengan nada menuntut yang fokus.
Evander melipat kedua tangannya di dada, melangkah mendekati layar dan menunjuk Teka-Teki 3.
"'Aku rumah bagi yang haus kecepatan... 28 tikungan, 1 tujuan...' Awalnya, orang awam atau tim keamanan akan berpikir ini adalah sirkuit balap mobil di pinggiran kota," papar Evander dengan binar mata seorang pecinta kecepatan. "Tapi perhatikan baris terakhirnya: 'Carilah aku di tempat mobil bermimpi.'"
Evander menoleh pada Zacheriyya, mengunci tatapan mereka.
"Mobil tidak bermimpi di dalam sirkuit balap yang bising," lanjut Evander.
"Mobil-mobil paling mahal, langka, dan eksotis di dunia 'bermimpi' di dalam galeri pameran. Ini mengarah pada Museum Mobil dan Showroom Mobil Mewah Downtown LA—sebuah kompleks tertutup dengan koleksi mobil balap legendaris yang memiliki interior replika 28 tikungan sirkuit Monaco di ruang pamer utamanya!"
Zacheriyya membelalak pelan, langsung menyambungkan kepingan teka-teki itu dalam otaknya. "Lokasi itu sepi saat malam hari... sangat mudah disterilkan tanpa memancing kerusuhan sipil yang tak terkendali!"
"Tepat," sambung Evander tajam.
"Lokasi itu sepi, sehingga pelaku memiliki kontrol penuh atas ledakan. Dan yang paling krusial: jika tempat itu meledak dan menghancurkan miliaran dolar koleksi langka serta aset pengusaha dunia, tidak banyak korban jiwa publik yang jatuh... namun citra keamanan kota Los Angeles akan hancur total di mata dunia internasional karena seluruh media nasional sedang meliput pameran otomotif di sana besok pagi!"
BUM!
Analisis tajam Evander menghantam kesadaran seluruh perwira di ruang komando.
Mayor mengebuk meja komando dengan telapak tangannya, raut wajahnya berubah teramat serius. "Tim Operasional! Cek titik koordinat Museum Mobil Downtown sekarang juga!"
Seorang operator komputer berteriak panik dari sudut meja. "Mayor! Sinyal frekuensi radio aneh terdeteksi aktif di basemen Museum Mobil Downtown! Ada pola pemancar sinyal peledak berdaya tinggi yang baru saja aktif!"
Analisis Evander... seratus persen tepat!
Zacheriyya menoleh pada Evander, menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan rasa bangga dan kepercayaan mutlak.
"Tim EOD Utama," seru Zacheriyya melangkah tegas menuju pintu keluar, merapikan sarung tangannya. "Kita bergerak ke Museum Mobil Downtown LA sekarang juga!"
Dan di balik langkah tegap Zacheriyya, Evander berjalan berdampingan di sisinya dalam kegelapan malam—dua jiwa pemberani yang siap menaklukkan ancaman terbesar di kota mereka.
omg evander aku padamu😘😘
gemes deh ama merka berdua