WARNING!
NO BOOM LIKE! HARGAI KARYA ORANG!
“Permisi! Maaf saya mengganggu, kenapa kamu malam-malam sendirian disini?” tanya Radit.
Wanita itu berhenti bernyanyi, ia sedikit mengangkat kepalanya. Tapi, ia tidak menjawab pertanyaan Radit.
“Hey, Mbak. Kenapa diam saja? Kenapa mbak berada di kelas ini sendirian? Apakah mbak tidak takut?” tanya Radit.
“Saya gak bisa pulang!” sahut wanita itu dengan suara pelan.
“Kenapa?” tanya Radit. Wanita itu hanya menggeleng pelan.
“Saya antar, ya!” tawar Radit. Wanita itu menjawab lagi dengan anggukan kepala.
Radit segera mengulurkan tangannya, wanita itu menyambut tangan Radit yang hangat. Radit terkejut setelah meyentuh tangan wanita itu, tangan yang begitu dingin.
“Kenapa tangannya begitu dingin? Apakah dia sakit?” batin Radit.
.
.
.
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tempat dan nama tokoh. Itu semua hanya kebetulan semata. Dan karya ini hasil imajinasi saya sendiri, bukan PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 31
Kini, Lastri dan Herman sudah tiba di kota A. Lastri pun meminta Herman untuk menghubungi Darto.
“Cepat, hubungi Darto. Tanyakan sama dia, udah sampai atau belum? Kalau udah sampai, dia dimana? Kalau belum, bilang sama dia, kita tunggu dia di penginapan ini,” kata Lastri pada Herman.
Saat ini, Herman dan Lastri sedang beristirahat di sebuah penginapan yang ada di kota itu.
Herman pun segera menghubungi Darto.
“Hallo!”
“Hallo, dimana kamu? Udah sampai kota A apa belum? Kalau belum, kami tunggu di penginapan X.” Herman segera memberi tahu Darto, dimana keberadaannya dan Lastri.
“Aku sudah di kota A sejak siang, sekarang aku berada di kostan putriku. Jika kalian ingin istirahat di penginapan, istirahat lah. Nanti aku akan menyusul kesana,” kata Darto.
“Baiklah kalau begitu!” Herman pun segera mematikan sambungan telpon itu.
“Bagaimana? Apa kata Darto, udah sampai mana dia?” tanya Lastri.
“Nanti dia kesini, dia udah sampai di kota A siang tadi,” kata Herman.
“Jadi, dia udah sampai duluan?”
“Iya, sekarang dia berada di kostan putrinya.”
“Ya udah, kita tunggu dia dulu. Sekarang aku mau mandi dulu,” kata Lastri sembari masuk ke dalam kamar mandi yang ada di penginapan itu.
Saat ini, Lastri sudah berada di kamar mandi. Ia berniat menghilangkan lelahnya dengan berendam air hangat di dalam bathtup. “Uhh! Seger nya,” ucap Lastri sembari menyandarkan kepalanya.
“Lastri..! Lastri..!”
“Herman, jangan bercanda,” kata Lastri yang mendengar suara yang terus menyebutkan namanya. Ia pikir, suara itu berasal dari Herman yang sedang mengerjainya.
“Lastri!”
“Bangkek nih si Herman!” Lastri bangkit dan keluar dari bathtup itu, ia memakai jubah mandi yang tersedia di penginapan. Ia keluar untuk memarahi Herman.
“Herman!” panggil Lastri pada Herman.
“Ada apa?” Mendengar Lastri memanggil namanya, Herman bangkit dari sofa yang ia duduki. “Ngajak main?” Herman menarik turunkan alisnya.
“Siapa yang ngajak main?” cetus Lastri. “Ngapain kamu manggil-manggil terus?” tanya Lastri dengan tatapan tidak suka.
“Siapa yang manggil, dari tadi aku diam di sini dan tidak bersuara,” kata Herman. “Bilang aja kalo kamu cuman cari alasan buat main sama aku, kan? Aku siap kok, lagian hubungan kita masih sama kayak dulu kan?”
Plak! Lastri menampar wajah Herman. Ia tidak suka, jika Herman mengungkit hubungan mereka yang tidak pernah jelas apa namanya. Teman ranjang, atau sepasang kekasih. Yang pasti, mereka tidak pernah meresmikan hubungan mereka.
“Kenapa kamu nampar aku? Apa ada kata-kata yang salah?” Herman menatap nyalang pada Lastri yang ada di hadapannya.
“Maaf,” kata Lastri. “Tapi beneran, kenapa kamu manggil-manggil aku?” tanya Lastri.
“Aku juga beneran, aku gak manggil kamu,” ucap Herman dengan jujur.
“Kalau bukan kamu yang manggil, terus siapa? Cuman kita berdua yang ada di ruangan ini,” kata Lastri dengan tatapan menyelidik.
Herman hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban. Lalu, ia angkat bicara. “Jangan-jangan, arwah itu tau kalau kita ada di sini?”
“Ngawur kamu! Mana mungkin,” kata Lastri.
Swossss..! Angin bertiup, menghempus dan membuat gorden penginapan itu bertiup kesana kemari.
Herman segera meraba tengkuk nya. “Kok, tiba-tiba dingin banget sih, Las,” kata Herman.
“I-i-iya, apa hari mau hujan ya. Kok dingin banget, tapi di luar cerah,” Lastri ikut mengusap tengkuk lehernya. Ia pun tidak jadi berendam lagi di dalam bathup, ia segera berganti pakaian di hadapan Herman.
.
.
.
“Bu, bapak ke penginapan X sekarang, ya! Bapak ingin segera menemui Lastri dan Herman,” kata Darto kepada Istrinya. “Nanti, Ibu dan Dian langsung susul aja ke gedung itu.”
“Iya, pak. Bapak hati-hati di jalan,” kata Istri Darto, yaitu Ibu Diandini.
Darto pun segera menaiki ojek yang sudah ia pesan. Ia meminta di antar ke penginapan X, tempat Lastri dan Herman beristirahat.
Setelah menempuh perjalanan dengan kecepatan sedang selama dua puluh lima menit, akhirnya ojek yang di tumpangi Darto sampai di depan penginapan X.
“Permisi, mbak. Apa apa pelanggan yang datang dan menginap disini dengan nama Herman?” tanya Darto dengan sopan.
“Tunggu sebentar, saya cek dulu!” dengan setia, pria separuh baya itu menunggu resepsionis ya penginapan itu mengecek daftar.
“Oh, atas nama Bapak Herman dan istrinya,” kata Resepsionis itu. “Mereka menempati kamar nomor 5.”
“Terimakasih, mbak,” kata Darto kepada resepsionis muda itu. Ia pun segera menuju kamar dengan nomer 5.
Sesampainya, di depan kamat nomor 5 itu. Darto segera mengetuk pintu.
Tok tok tok!
Herman yang duduk sofa segera bangkit dan membuka pintu. “Kamu sama istrimu?” tanya Darto.
“Enggak,” kata Herman.
“Tapi, resepsionis itu menyebutkan namamu dan istrimu,” kata Darto.
“Oh, Lastri bukan istriku.” Jawab Herman. Darto pun masuk kedalam kamar itu, ia memandang pada Lastri yang sedang tidur meringkuk dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya.
“Kalian dari melakukan itu lagi?” tanya Darto dengan tatapan tidak suka.
“Kalau iya, kenapa?” Herman tersenyum sinis pada Darto yang tidak pernah sejalan dengan dirinya dan Lastri.
“Kalian keterlaluan, bukankah kalian berdua sudah memiliki keluarga masing-masing?” Darto menghembuskan napas dengan kasar.
“Tukar rasa itu gak masalah, lagian mau sama mau, siapa yang bisa melarang. Kamu ingat, yang gak mau aja bisa kita paksa!”
“Astagfirullah, kalian memang tidak punya adab dan etika!” akhirnya, Darto memutuskan keluar dari kamar itu dan menunggu di luar saja. Ia begitu tidak tahan menyaksikan kelakuan buruk kedua teman di masa lalu nya itu.