Warning
Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.
Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.
Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.
Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketemuan
Kamu sudah lama bekerja sama dengan Tante Miskha?”
Elang mengangguk, dengan arah mata yang tetap lurus ke jalan, karena saat ini pria itu sedang menyetir. Sementara, Rindu duduk di sampingnya dengan posisi miring dan menatap wajah Elang.
“Kamu ga pernah bilang,” kata Rindu lagi.
Elang pun menoleh ke arah sang istri. “Memang aku juga pernah bertanya padamu tentang pekerjaanmu? Tidak kan?”
Rindu masih menatap suaminya, sedangkan Elang menatap bergantian ke jalan.
“Iya, tapi aku selalu cerita. Apa pun itu. Walau aku tidak tahu kamu mendengarkan atau tidak. Dan kamu juga kenal teman-temanku, kenal bosku. Setidaknya itu meminimalisir kecurigaan pasangan saat kita berada di luar. Aku menjaga perasaanmu dan aku menjaga kehormatanku sebagai istri ketika di luar.”
“Good. Itu bagus.” Hanya itu, jawaban yang terdengar dari mulut Elang. Jawaban yang tidak sesuai ekpektasi Rindu.
Rindu ingin Elang juga membuatnya yakin bahwa pria itu melakukan seperti apa yang ia lakukan saat di luar rumah. Rindu butuh penegasan bahwa suaminya juga menjaga diri dan kehormatan sebagai seorang suami saat di luar.
Tidak ingin berdebat panjang, Rindu memilih diam dan meluruskan posisi duduknya. Ia ikut meluruskan pandangan ke jalan.
Rasanya lelah, jika harus berdebat dengan Elang, karena sepanjang pernikahan, Elang tak pernah mengucap maaf, jika salah. Pria itu juga menganggap sikap cuek dan dinginnya itu biasa.
Elang selalu bilang, “Aku memang seperti ini sejak dulu. Aku ya aku, seperti ini. Ini lah Aku
Elang, pria yang tidak mau dan tidak pernah mencoba mengerti orang lain, termasuk istrinya sendiri. Hanya dia yang harus dimengerti dan Rindu selalu mencoba mengerti Elang. Entah sampai kapan batas kesabaran itu selalu ada.
Beberapa menit kemudian, mobil yang Elang kendarai tiba di rumah. Sebuah rumah minimalis dengan tanah yang cukup luas. Tiga tahun lalu, Elang membangun rumah ini untuk Rindu. Seperti yang wanita itu inginkan, tanah yang terbilang cukup luas hanya dibangun sebagian. Sebagian lagi dari tanah itu digunakan untuk taman. Rindu memang menyukai tanaman. Ia menyukai rumah yang setiap harinya terkena paparan sinar matahari pagi dan angin.
Rumah itu menjadi salah satu cara Elang untuk menahan Rindu tetap menjadi istrinya. Kala itu, ia membangun rumah ini sebagai bentuk keseriusannya membina rumah tangga bersama Rindu dan Rindu pun setuju.
Ia memberi kesempatan pada suaminya. Kesempatan yang nyatanya tak digunakan Elang dengan baik, karena semua tetap sama.
Sejak sampai di rumah, Rindu masih memasang wajah kesal. Ia pun malas berbicara dengan Elang. Ini juga salah satu trik Rindu. Ia ingin menunjukkan pada Elang bahwa dirinya sedang merajuk. Namun, Elang tidak peka sama sekali. Pria itu malah ikut mendiamkan Rindu.
Ceklek
Elang membuka pintu kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Sontak, Rindu langsung meletakkan ponsel Elang yang sedang ia periksa.
“Ah, si*l. Ketahuan!” batin Rindu saat menoleh ke arah pria yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Elang tak berkata apa pun. Pria itu hanya melihat sosok sang istri dari balik cermin. Rindu memang selalu begitu, hampir setiap malam ia mengecek ponsel suaminya. Memang tidak pernah ada yang ganjal dalam setiap percakapan di dalam benda itu. Semua standar dan hanya berisi pekerjaan.
Rindu pun memilih bergantian menggunakan kamar mandi. Namun, saat kakinya hendak melangkah ke tempat itu, Elang bersuara.
“Sampai kapan kamu mengecek ponselku?”
“Entah lah. Mungkin, sampai aku menemukan sesuatu.”
“Tidak akan pernah. Kamu tidak akan pernah menemukan sesuatu,” ucap Elang. “Aku bukan pria brengsek.”
“Who knows?” Rindu mengangkat bahunya. “Hanya berjaga-jaga, tidak masalah bukan?”
“Kamu terlalu berlebihan. Ini akibat sering membaca novel perselingkuhan,” ucap Elang dengan tubuh yang masih menatap istrinya dari balik cermin.
Rindu pun tidak menjawab pernyataan itu. Yang dikatakan Elang memang benar, ia sering membaca novel tentang perselingkuhan. Bahkan tak jarang teman-teman di kantornya bercerita dan mencurahkan keluh kesah tentang suami mereka yang selingkuh. Oleh karena itu, pikiran Rindu menjadi buruk. Ia terlalu waswas dengan sikap Elang yang dingin dan cuek.
Elang membalikkan tubuhnya dan menatap sang istri. “Kamu tahu, sikapmu yang seperti ini justru yang membuat kita tidak pernah dekat. Pengalaman teman dan bacaan bukumu yang tentang itu-itu saja, membuat isi kepalamu buruk. Kamu selalu mencurigaiku. Jika kamu ingin aku berubah, maka kamu juga harus berubah. Tidak ada orang yang suka dicurigai.”
Elang melempar handuknya asal dan berlalu dari hadapan Rindu.
Brak
Elang keluar dari kamar dan menutup pintu kamar itu dengan keras hingga Rindu tersentak. Saat keluar dari kamar mandi, Elang memang sudah memakai piyamanya. Ia tidak pernah lupa membawa pakaian saat mandi.
Selama menikah, Rindu tak pernah melihat pemandangan suaminya yang keluar dari kamar mandi dengan handuk saja yang melilit di pinggang. Ia juga tidak pernah melihat Elang bertelanjang dada dan menampilkan dada kotak-kotak seperti di novel atau drama Korea.
Rindu menarik nafasnya kasar. Ia bisa menebak Elang berada di mana saat ini. Sudah pasti, pria itu memilih ke ruang kerja, bahkan mungkin sampai tertidur di sana.
⸻
Rindu bingung, hingga kini pencariannya masih belum berhasil. Tidak ada tanda-tanda perselingkuhan Elang dan Tante Miskha. Hanya ada parfum dan nama yang Elang sebutkan malam itu. Selebihnya, setelah kejadian itu, Rindu praktis tak lagi menemukan aroma parfum itu di kemeja Elang.
“Kamu sedang apa?” tanya Elang saat mendapati istrinya di ruang laundry dan memegang kemejanya yang baru saja dipakai.
“Menaruh kemejamu di sini,” jawab Rindu kikuk.
Elang menggelengkan kepala. “Kamu aneh. Baju kotor dicium-cium begitu.”
Rindu melempar kemeja itu kesal saat Elang sudah berlalu. Sungguh, ia sudah kehabisan akal. Di saat tanda itu diberikan, tapi di saat itu pula tiba-tiba tanda itu pun hilang setelahnya.
Hampir setiap siang, Rindu juga mengirim makan siang ke kantor suaminya. Meski ia juga bekerja, tapi Rindu mendapat toleransi dari bosnya dan memperbolehkan keluar saat jam makan siang. Di sana, Rindu pun tak menemukan sesuatu yang spesial. Setiap kali masuk ke dalam ruangan suaminya tanpa permisi, Elang hanya selalu ditemani oleh laptop kesayangan yang menyala di depannya.
Hari berikutnya, Rindu kembali mendatangi ruangan bosnya untuk meminta izin keluar saat makan siang.
“Pak Dirga, saya izin makan siang.”
Pria paruh baya yang sudah berusia lima puluh lima tahun itu pun mengangguk. “Ya, tapi jangan lama-lama!”
Rindu mengangkat ibu jarinya ke atas. “Oke, Pak.”
“Oh iya, Rin.” Pria itu memanggil sekretarisnya lagi.
“Iya, Pak.”
“Kamu ingin dibelikan kenang-kenangan apa dari saya?”
Rindu tersenyum. “Apa saja, Pak. Lagian, tidak perlu repot-repot. Tidak ada hadiah kenang-kenangan juga tidak apa, Pak.”
“Tidak bisa begitu. Kamu itu sekretaris terlama saya. Nanti orang-orang bilang apa kalau saya tidak memberi hadiah padamu. Saya ingin mendapat kesan baik saat keluar dari sini.”
Minggu ini adalah minggu terakhir bos Rindu bekerja. Usia yang sudah menua membuatnya harus pensiun dan akan digantikan oleh orang yang lebih muda. Dan rencananya, besok adalah hari terakhir pria itu bekerja.
Rindu tersenyum. “Terserah Bapak aja. Hadiah apa pun, pasti akan saya terima.”
“Oke. Apa pun ya, Rin? Kalau begitu, nanti sepulang kantor, saya ajak istri saya ke mall. Biasanya sesama perempuan tahu apa yang di butuhkan kan.
Rindu tersenyum dan mengangguk, lalu pergi dari hadapan Dirga.
Sejak dulu, ia nyaman memiliki bos seperti Dirga. Selain sopan, Dirga adalah panutan di kantor dan di rumahnya. Meski memiliki kedudukan dan harta berlebih, pria itu tidak berubah. Dirga tetap setia pada istrinya.
Dengan gesit Rindu berjalan menuju parkiran dan membawa mobilnya ke kantor Elang. Sedari rumah tadi, ia memang sudah membawa bekal untuknya dan untuk suaminya seperti biasa. Namun, sesampainya di dalam ruangan Elang, Rindu tak mendapati suaminya di sana. Menurut Dio, sekretaris Elang, saat ini pria itu masih berada di ruang rapat.
Rindu pun menunggu suaminya di dalam sana.
Kring… Kring…
Tiba-tiba pesawat telepon kantor yang ada di atas meja kerja Elang pun berbunyi. Rindu yang semula duduk di sofa, beranjak dan mendekati pesawat telepon itu.
Rindu mengangkat pesawat telepon itu. Namun, belum sempat Rindu bersuara, seseorang di balik telepon itu sudah lebih dulu bersuara.
“Lang, Tante tunggu di hotel biasa ya. Lantai tiga nomor tiga ratus dua. Jam dua. Jangan telat!”