Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Rania menghela nafasnya, hidupnya seperti nya tidak akan tenang lagi nantinya, dia sangat yakin jika Ardi tidak akan berhenti sampai disini, apalagi dia sudah melayangkan gugatan perceraian saat ini.
"Sepertinya aku harus mengungsi lebih dulu, dia pasti akan berusaha menerobos masuk kerumah ini walaupun dihadang oleh security didepan".
Dia menggelengkan kepalanya dan membersihkan sisa-sisa barang-barang keluarga Ardi yang masih tertinggal dirumahnya, seperti nya dia harus menjual rumah ini agar nyaman.
"Sebaiknya aku menjual rumah ini saja, aku akan membeli rumah lain agar mereka tidak tahu dimana aku berada, aku juga harus berpesan pada suster dirumah sakit agar tidak mempersilahkan Ardi menemui aku".
Dia menghubungi beberapa kenalannya yang bekerja dibagian properti dan dia akan melihat-lihat rumah sekaligus membantunya untuk menjualkan rumahnya nanti.
"Syukurlah, kelihatannya lebih baik seperti ini saja". Ucapnya begitu mendapatkan kabar baik dari para sahabatnya
Dia bergegas kembali keluar rumah dan melihat rumah yang ditawarkan oleh teman-temannya agar urusannya cepat selesai, entah mengapa dia tidak mau menunggu untuk urusan yang satu ini.
Sesampainya disana, dia tertarik pada rumah itu dan akhirnya memutuskan untuk membelinya sedangkan barang-barangnya nanti akan diurus oleh orang suruhannya.
"Terima kasih yah Adam, aku suka rumahnya, nanti barangnya aku urus dulu untuk pindahan kesini secepatnya ". Ucap Rania menjabat tangan sahabatnya ini setelah kesepakatan terjadi.
"Tentu Rania, ayo kita ke notaris untuk mengurus nama dan lainnya, aku akan langsung memberikan kuncinya setelah tandatangan nanti".
Rania mengangguk mengikuti langkah Adam untuk mengurus surat-surat rumah yang baru dia beli.
Setelah tandatangan itu terjadi, mereka kembali duduk di cafe untuk makan siang bersama.
"Ran, kenapa kamu menjual rumahmu, kan itu rumah impianmu sejak dulu?".
Sebagai teman lama, mereka sering bertukar pikiran saat membangun rumah milik Rania itu tapi sekarang dia jual tentu saja itu menjadi pertanyaan besar untuknya.
"Aku hanya ingin ganti suasana Adam, lagian aku juga akan bercerai dari suamiku, aku tidak mau dia mendapatkan hartaku".
Adam menatap sahabatnya tidak percaya, padahal yang dia tahu Rania begitu mencintai suaminya.
"Loh kok bisa bercerai sih Ran, bukannya kalian berdua saling mencintai yah?".
Dia menatap dengan tatapan bingung pada sahabatnya ini karena selama ini mereka memang terkenal saling mendukung dan mencintai.
"Maaf Adam, aku tidak bisa mengatakan banyak cukup itu saja, tidak baik menceritakan aib rumah tangga pada orang lain sekalipun itu sahabat kita".
Adam hanya mengangguk pelan dan tidak ingin lagi ikut campur.
"Ya sudah tidak apa-apa, aku minta maaf jika terkesannya ikut campur, oh iya kamu hubungi saja teman kita Ramdan agar dia membantu proses cerai kamu, kan dia pengacara".
Rania mengangguk dengan senyum lebar, dia baru ingat jika mereka punya teman seorang pengacara selama ini.
"Baiklah, makasih yah, aku akan menghubungi dia setelah ini".
"Iya sama-sama".
Mereka kembali larut dalam pekerjaan mereka masing-masing karena keduanya sedang memakai leptop mereka saat ini
"Oh iya Ran, aku sudah mendapatkan beberapa calon pembeli yang tertarik pada rumahmu, kira-kira kapan kamu ada waktu?".
Adam memperlihatkan chat dari beberapa orang yang tertarik dengan iklan yang dia tawarkan itu
Wajah Rania mengambang sempurna, inilah enaknya memiliki teman yang punya keahlian dibidang properti dan profesional, urusan seperti ini akan sangat cepat terproses.
"Terima kasih yah, aku tidak menyangka jika prosesnya cepat sekali".
"Tentu saja, terus kapan kamu ada waktu untuk itu?".
"Setelah kita tandatangan di notaris saja, tenang saja komisinya aku kirim ke rekeningmu yah".
Adam tersenyum lebar mendengar kata komisi, melihat tingkah sahabatnya Rania akhirnya tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Dengar kata duit aja matamu langsung hijau". Ucapnya dengan tawa pelan
"Tentu dong, namanya juga duit, kamu tahu sendiri aku sedang mengumpulkan uang untuk menikah dan membeli rumah".
Rania terkekeh pelan sambil mengangguk, sahabatnya memang sedang berjuang mengumpulkan rupiah
"Ya sudah, yuk pergi dan sampaikan salamku untuk calon istrimu itu".
Adam hanya mengangguk mempersilahkan Rania masuk mobilnya dan dia kembali ke mobilnya sendiri menuju notaris untuk membalikkan nama rumah itu.
Setelah semua beres, Rania dan Adam bertemu dengan calon pembeli rumah Rania, walau rumah ini memiliki banyak kenangan tetap saja hanya ada luka yang menggores hatinya dan dia bersyukur semuanya akhirnya selesai karena dia mendapatkan kesepakatan harga.
"Baiklah Bu, saya setuju dengan harga yang ibu tawarkan, rumahnya sangat bagus, cocok untuk kami karena memiliki banyak kamar".
"Terima kasih pak, besok pagi kita urus di notaris agar semuanya mudah".
"Iya Bu, saya beri waktu ibu Rania mengosongkan rumah selama 5 hari soalnya kami akan menempatinya hari Minggu nanti".
Rania mengangguk kemudian menjabat tangan orang itu dengan senyum mengambang.
"Ya sudah aku pulang dulu yah Ran, kamu siap-siap gih, aku bantuin kamu panggil orang untuk bantu-bantu mengangkat barang".
Rania tersenyum lebar kemudian mengangguk dan berterima kasih pada sahabatnya itu.
"Makasih yah, aku akan bawa barang-barang pribadiku dulu, nanti barang yang lainnya akan diurus oleh orang saja".
"Ok, aku pulang yah".
Rania mengangguk dan mengantar sahabat dan juga orang yang membeli rumahnya hingga ke teras rumah dengan senyum lega
"Syukurlah, walau sangat capek, aku bisa bernafas lega setelah ini".
Dia segera membereskan barangnya karena akan mencicil keperluannya yang akan mulai dibawah kerumah baru agar Ardi Tidka tahu keberadaannya.
Ardi yang akhirnya sampai dirumah keluarganya mendapatkan serangan bertubi-tubi dari sang ibu
"Ngapain kamu bawah koper seperti itu Ardi, kamu diusir Rania?"
"Iya Bu, Rania menitipkan barangku pada pos security dan akua sudah tidak bisa masuk kedalam kompleks karena Rania memblokir ku pada security ".
Dia mengangkat kopernya turun dan memasukkan nya kedalam kamar yang masih tersisa.
Kedua perempuan itu langsung mengikuti Ardi masuk kedalam kamar itu dengan jengkel setengah mati
"Dasar anak bodoh, sekarang bagaimana kamu bahkan Tidka bisa membujuk Rania dan malah diusir seperti ini". Bentak sang ibu dengan keras
"Iya nih kakak, bagaimana dengan mobil dan kuliahku kalau kakak tidak kembali dengan kak Rania".
Mereka tidak peduli Dnegan kesialan yang menimpa Ardi, bagi mereka itu tidak penting, lebih penting mereka harus bisa kembali kerumah itu lagi.
"Diam, aku ini capek malah kalian ejek terus menerus sejak tadi, berisik kalian, jangan sampai aku mengusir kalian juga dari sini, ingat aku yang membayar dan membiayai kalian selama ini". Bentak Ardi dengan keras.
"Pergi kalian kalau kalian masih banyak bicara