Rachel adalah definisi dari kesempurna, masa depannya begitu cerah, hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Ibunya, hingga banyak yang merasa iri pada Rachel. Namun, tanpa mereka tahu, Rachel merasa hidupnya seperti boneka, terutama setelah perceraian Ayah dan Ibunya.
Hingga akhirnya, Rachel sudah muak dengan hidupnya yang selalu diatur oleh Ibunya dan memutuskan untuk pergi menemui Ayahnya dan memilih tinggal bersamanya, Rachel yang terbiasa dengan kemewahan, begitu tersiksa ketika berada di tempat Ayahnya yang jauh berbeda dengan kehidupan mewahnya bersama Ibunya.
Tanpa Rachel sadari, kedatangannya untuk menemui Ayahnya membawa sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di mana ia dipertemukan dengan seorang pria dengan seribu macam permasalahan dalam hidupnya.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Rachel mampu bertahan tanpa kemewahan dari Ibunya? Siapakah pria dengan seribu macam permasalahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cuma Itu?
Dandi terdiam cukup lama, jemarinya mempermainkan tutup gelas plastik yang sudah kosong. Matanya menatap lurus ke arah tumpukan ban bekas, seolah sedang melihat masa lalu yang ingin ia lupakan, pertanyaan Rachel tentang Ibu Daniel, menjadi saklar yang mematikan keceriaan Dandi yang tersisa.
"Soal Ibunya...," Dandi menggantung kalimatnya dan menghela napas panjang lalu menggelengkan kepala perlahan.
"Gue nggak berani, Rachel. Kalau soal itu, mending lo tanya langsung ke orangnya, itu satu-satunya luka yang bahkan gue nggak berani bahas," ucap Dandi.
"Seburuk itu?" tanya Rachel pelan.
"Lebih dari buruk, Ibunya adalah alasan kenapa Daniel benci hidup," ucap Dandi dan mencoba mengakhiri pembicaraan.
"Udah malam, habisin makanannya terus tidur. Kalau Daniel balik dan lihat lo masih bangun gara-gara gue ajak gosip, besok nama gue tinggal kenangan," lanjut Dandi.
Baru saja Rachel ingin membalas ucapan Dandi, tiba-tiba terdengar suara geraman mesin motor dari luar. Diikuti dengan dentuman pintu gulung besi yang dibuka paksa dari luar, Daniel masuk dengan langkah tegas seperti biasanya. Ia tidak mengenakan hoodie, hanya kaos dalam hitam yang kini robek di bagian bahu dan noda d*r*h yang mulai mengering di lehernya.
Daniel berhenti mendadak saat melihat Rachel sedang duduk di tengah bengkel bersama Dandi, matanya yang tajam langsung mengunci Rachel lalu beralih ke arah makanan yang sedang disantap wanita itu.
"Kenapa belum tidur?" tanya Daniel.
"Aku... aku sedang makan," jawab Rachel pelan, bahkan suaranya hampir hilang.
Daniel berjalan mendekat, aroma keringat dan bau amis d*r*h yang menyengat langsung memenuhi penciuman Rachel. Saat pria itu melewati lampu bohlam, Rachel tersentak karena ada luka sayatan yang cukup dalam di lengan kiri Daniel, d*r*hnya masih menetes pelan ke lantai semen.
"Daniel, lenganmu!" pekik Rachel.
Rachel refleks berdiri dan mencoba meraih tangan Daniel, namun pria itu menyentaknya kasar.
"Ini sudah biasa, habiskan makananmu dan segera istirahat. Oh ya, besok Om Brian akan datang dan menjemputmu, karena orang suruhan Ibumu sudah pergi," ucap Daniel lalu masuk ke salah satu ruangan yang ada di bengkel tersebut.
"Cepat habiskan," ucap Dandi lalu menyusul Daniel.
Dandi masuk ke ruang belakang dengan wajah tegang dan segera menutup pintu kayu di belakangnya rapat-rapat agar Rachel tidak mendengar pembicaraan mereka. Begitu Dandi masuk, ia mendapati Daniel sedang duduk di bangku kayu sambil menahan geraman dan berusaha membersihkan luka sayatan di lengannya dengan sobekan kain perca.
"Gila, El! Lo habis perang di mana lagi?" bisik Dandi sambil buru-buru mengambil kotak P3K.
"Jangan bilang lo balik ke arena ilegal itu cuma buat cari gara-gara," lanjut Dandi.
Daniel mendongak, matanya berkilat tajam meski terlihat lelah yang luar biasa. "Bukan arena, gue dihadang di persimpangan gudang tadi. Ada sekitar enam orang dan mereka bukan orang lokal," ucap Daniel.
Dandi terhenti saat sedang menuangkan alkohol ke kapas, "Maksud lo... orang-orang jas hitam itu lagi? Yang suruhan emaknya si tuan putri?"tanya Dandi.
"Bukan mereka, yang ini lebih kasar dan gerakannya serampangan, terus mereka bawa senjata tajam," jawab Daniel sambil meringis saat Dandi mulai menekan lukanya.
"Sepertinya mereka preman bayaran yang disewa untuk menyisir distrik ini," jawab Daniel.
"Terus? Lo habisin mereka semua sendirian?" tanya Dandi tak percaya.
"Gue nggak punya pilihan, kalau gue nggak beresin mereka di sana, mereka bakal terus buntuti gue sampai ke bengkel ini. Beruntung gue masih bisa ngelawan mereka sebelum ada yang sempat lapor ke atasan mereka," ucap Daniel dan napasnya mulai sedikit lebih teratur.
Dandi menghela napas panjang, tangannya dengan terampil membalut lengan Daniel. Ia sempat ingin mengatakan soal pembicaraannya dengan Rachel tadi, terutama saat Rachel menyinggung soal ibu Daniel, namun melihat kondisi Daniel yang sedang tidak baik-baik saja seperti ini, Dandi memilih menelan kembali kata-katanya. Ia tahu betul, menyebut kata Ibu di depan Daniel saat ini sama saja dengan menyulut sumbu dinamit.
"Lo harus hati-hati, El. Kalau mereka udah mulai sewa preman lokal, berarti penjagaan mereka makin luas. Luar biasa emaknya Rachel, niat banget jemput anaknya sampai bikin kacau negara orang," ucap Dandi.
"Makanya besok dia harus pergi dari sini, bengkel ini sudah terendus. Om Brian bilang dia punya tempat yang lebih aman atau mungkin dia bakal langsung bawa Rachel ke pelabuhan bawah untuk disembunyikan sementara," ucap Daniel.
Daniel berdiri, ia mengenakan kaos bersih dengan gerakan kaku karena luka di punggungnya juga kembali berdenyut da berjalan ke arah pintu lalu berhenti sejenak sebelum keluar.
"Tadi kalian ngobrolin apa?" tanya Daniel.
Dandi tersentak, jantungnya nyaris melompat keluar dari dada. Ia buru-buru memutar otak, mencari alasan yang tidak akan membuat Daniel curiga. Sambil berpura-pura sibuk merapikan botol alkohol, Dandi tertawa hambar.
"Ngobrolin apa? Biasalah, El. Dia penasaran sama daerah disini yang kotor, nggak kayak di Jakarta," jawab Dandi asal dan mencoba terdengar sesantai mungkin.
Daniel menatap Dandi lama, matanya yang tajam menyipit seolah sedang memindai kejujuran di balik wajah kusam sahabatnya itu.
"Cuma itu?" tanya Daniel.
"Iya cuma itu, Rachel kayaknya masih canggung sama gue. Dia nggak banyak omong," ucap Dandi.
Daniel tidak menjawab. Ia hanya mendengus tipis, sebuah reaksi yang sulit diartikan lalu melangkah keluar menemui Rachel yang masih duduk kaku di area bengkel.
Pagi harinya, distrik pelabuhan masih diselimuti kabut tipis dan bau karat yang khas. Daniel sudah bangun sejak pagi, ia berdiri di depan pintu gulung besi yang terbuka sedikit dan memantau pergerakan di luar, lengannya yang dibalut perban putih tampak kontras dengan kaos hitamnya.
Sekitar pukul tujuh, sebuah mobil van tua yang tertutup rapat berhenti di depan bengkel. Brian turun dari sana, penampilannya lebih rapi namun wajahnya terlihat sangat kuyu karena kurang tidur.
"Daniel," panggil Daddy Brian dengan nada lega.
Rachel yang mendengar suara Ayahnya langsung berlari keluar dari kamar, "Daddy!" panggil Rachel.
Mereka berpelukan erat di tengah aroma oli dan bensin, Daddy Brian mengelus rambut putrinya dengan tangan yang kasar.
"Maafkan Daddy, Rachel. Kita harus segera pindah, orang-orang suruhan Mommy-mu mulai menyewa preman lokal untuk menggeledah setiap sudut distrik ini. Mereka tidak akan berhenti sampai kamu ditemukan," ucap Daddy Brian.
"Kita mau ke mana, Dad?" tanya Rachel cemas.
"Ke rumah milik teman Daddy di pinggiran kota yang lebih tersembunyi," jawab Daddy Brian.
.
.
.
Bersambung.....
yaaa kaaannnnn
bahwa suatu saat Rachel akan kembali kepada Cintanya yg tinggal di Vietnam
akankah Daniel mengejar Rachel ke Indonesia
like lah Daddy Bryan sudak lampu ijo😁😁🤗
ini emaknya Rachel bener2 kebangetan deh, nyari anak kayak nyari tahanan yg kabur. gila sih udah kayak psikopat aja emaknya.😤😤😤
hemmmm bakal ngamuk nih nanti si daniel
dan sang alpha yg menjaga 🤭
dr interaksi kecil, sentuhan ringan, obrolan yg menjurus keranah pribadi. akhirnya nyaman😄😄😄
lanjut thorrr😁