NovelToon NovelToon
Mencintai Gadis Indigo

Mencintai Gadis Indigo

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Berondong / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:24.4k
Nilai: 5
Nama Author: La-Rayya

Kehidupan ala Barat ++


Bagaimana jadinya jika kau jatuh cinta pada seorang gadis yang bisa melihat masa depan?

Bertemu dengannya pertama kali langsung merubah hidup Ryuga. Ia begitu tertarik dengan penampilan Yumi, gadis yang sering membawa payung berwarna hitam kemanapun ia pergi meski hari terlihat begitu cerah.

Amanda Yumi, seorang gadis yang bisa melihat masa depan. Namun, ia sendiri tak bisa melihat masa depan akan berapa kali ia jatuh cinta. Termasuk dengan hadirnya cinta yang diberikan Ryuga Oliver kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La-Rayya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Tentang Kemampuan Yumi

Yumi mendapatkan kemampuannya untuk melihat kemungkinan yang akan terjadi di masa depan dimulai sejak 20 tahun yang lalu.

Saat itu dia masih berusia 10 tahun...

Suatu hari, ayahnya meninggalkan dia di rumah tetangganya karena ibu nya tengah mengandung sang adik dan kondisinya tengah tidak stabil jadi orang tua Yumi memutuskan untuk tinggal di rumah sakit sampai sang ibu melahirkan.

"Yumi, ingatlah untuk bersikap baik dan ramah dengan semua orang disini." Ucap ayah Yumi seraya memberikan tas Yumi saat mereka berdiri di depan pintu rumah tetangga mereka.

"Tapi ayah, aku ingin pergi dengan ayah. Bisakah aku tinggal di rumah sakit dengan ibu?"

"Kau akan bosan di sana. Lagi pula tetangga kita ini punya anak yang usianya hampir sama dengan mu. Ayah yakin kalian akan berteman dengan baik."

"Tapi...."

"Tinggallah disini dengan baik. Ayah janji bahwa ayah akan membelikan mainan apapun yang kau inginkan ketika kami kembali nanti."

Mata Yumi masih berakhir saat Bu Naira sang tetangga, keluar dari pintu rumahnya menyambut kedatangan Yumi.

"Oh nak Yumi, selamat datang. Ayo masuk." Bu Naira meminta Yumi masuk ke dalam rumah, sementara Bu Naira sendiri masih berbicara dengan ayah Yumi.

Momen dimana Yumi masuk ke dalam rumah itu, seorang anak laki-laki muncul menghadangnya untuk tidak bisa masuk ke ruang tamu.

"Hei, kenapa kamu menangis? Untuk apa terus menangis. kau itu benar-benar gadis yang cengeng." Ucap anak lelaki yang terlihat seusia dengan Yumi itu mengejek.

Yumi bisa melihat dengan jelas raut wajah itu tampak sangat menjengkelkan.

"Aku tidak cengeng. Memangnya kenapa kalau aku menangis? Wajar saja kan, karena aku sedih ditinggal kedua orang tuaku." Ucap Yumi membela dirinya sendiri.

"Halah, orang tuamu bukannya pergi meninggalkanmu selamanya. Mereka hanya pergi sebentar saja. Beberapa hari lagi mereka akan kembali. Jadi berhentilah menangis. Menangis itu hanya akan membuatmu terlihat lemah."

"Kau salah, ayah bilang tidak apa-apa untuk menangis ketika kau merasa sedih. Aku tidak menangis karena aku lemah, aku hanya mengkhawatirkan ibuku yang ada di rumah sakit. Wuhuhuhuhu...."

Dan Yumi pun mulai menangis lagi.

"Hei Henry! Apa yang kau lakukan dengan tamu kita? Ibu dan ayah sudah memberitahu kita untuk bersikap baik dengannya."

Seorang anak laki-laki yang lebih tua dari Yumi dan Henry berlari mendekat ke ruang tamu ketika dia mendengar suara tangis Yumi yang keras.

"Iiisssshhh... Aku hanya memintanya untuk berhenti menangis dan dia malah mulai menangis lagi seperti bayi."

"Henry berhentilah bersikap buruk, sekarang minta maaf padanya."

"Tidak, dan aku tidak akan pernah berteman dengan anak cengeng seperti dia." Ucap Henry lalu berlari ke kamarnya setelah dimarahi oleh kakaknya.

"Aku minta maaf dengan apapun yang dikatakan adikku kepadamu. Dia mungkin akan terlihat seperti itu pertama kali bertemu, tapi dia adalah anak yang baik."

Kakak Henry itu berlutut dan mengusap kepala Yumi mencoba untuk mengusap air mata Yumi.

"Ngomong-ngomong namaku Saka, aku 16 tahun dan adikku yang tadi itu baru 11 tahun namanya Henry."

"Aku Amanda Yumi 10 tahun, senang bertemu denganmu." Ucap Yumi memperkenalkan dirinya sama seperti yang diajarkan oleh ayahnya sejak dia masuk taman kanak-kanak dulu.

"Apa kau suka makan kue stroberi? Kami punya beberapa makanan manis di dalam lemari pendingin." Ucap Saka seraya mengajak Yumi masuk ke dalam ruang tamu kemudian menuju dapur.

"Iya, aku mau stroberi."

"Kalau begitu ini untukmu."

Saka memberikan sepotong kue penuh stroberi sebagai toppingnya. Mulut Yumi sudah berair hanya karena melihat kue itu.

"Terima kasih untuk makanannya." Ucap Yumi sopan.

Yumi baru saja hendak memakan kue itu ketika dia mendengar suara keras dari hentakkan kaki seseorang.

"Hei, itu kue stroberi ku. Aku menyimpannya di lemari pendingin tadi malam."

"Jangan khawatir Henry, aku hanya mengambil sepotong kecil kue itu. Jadi kau masih bisa memiliki sisanya, lagipula kau hanya memakan kuenya dan membuang stroberi nya."

"Tapi aku mau kuenya."

Henry mulai membuat masalah lagi dan Yumi tidak ingin melawannya.

"Jika kau memang menyukai kuenya, maka aku hanya akan mengambil stroberi yang ada di atasnya. Ini, kau bisa mengambilnya lagi."

Yumi menyerahkan kue itu kepada Henry setelah dia mengambil topping stroberi nya dan menaruhnya di piring lain lebih dulu.

"Hmmmmpp...."

Henry mengambil piring itu dari tangan Yumi dan berjalan kembali ke kamarnya.

"Maaf karena kenakalan nya lagi. Mungkin dia hanya tidak biasa dengan melihat ada anak lain berada di dekatku." Ucap Saka.

Yumi menghabiskan sepanjang hari berdiam diri di ruang tamu dengan menonton televisi. Sementara Saka sibuk mengerjakan tugas sekolahnya didekat Yumi.

Ketika malam tiba, Yumi tidur di kamar Henry, sementara Henry sendiri harus tidur bersama sang kakak. Hal itu semakin membuat Henry kesal kepada Yumi.

Keesokan paginya, Saka mengajak mereka Yumi dan Saka keluar rumah untuk bermain bola di lapangan. Hal itu dilakukan oleh Saka agar Yumi dan Henry bisa berteman. Meski Yumi memang menyukai permainan itu, sebenarnya dia ingin berdiam diri di rumah sepanjang hari karena dia tahu bahwa hari akan sangat dingin untuk bermain di luar. Tapi Saka terus mendorong Henry dan Yumi untuk keluar. Jadi Yumi tidak punya pilihan lain selain ikut bermain.

Awalnya semuanya menyenangkan. Tapi setiap kali Saka tidak melihat ke arah mereka, Henry akan mengambil kesempatan untuk mengerjai Yumi dengan menendang bola ke arahnya.

Satu kali saat Saka tengah berbicara dengan temannya yang baru saja lewat di dekat lapangan, Yumi terkena bola tepat di wajahnya yang ditendang oleh Henry. Bola itu lalu menggelinding jauh setelah mengenai Yumi.

"Hei, apa yang kau lakukan disitu? Cepat pergi dan ambil bola itu, bawa kembali ke sini." Teriak Henry kepada Yumi.

Yumi awalnya tidak ingin menghiraukan Henry, tapi saat ia mengingat bahwa bola itu milik Saka, jadi Yumi pun memutuskan untuk mengejar bola yang menggelinding jauh.

Yumi terus berjalan jauh dan semakin jauh ke bawah. Lapangan itu sebenarnya berdekatan dengan sebuah anak sungai kecil. Saat Yumi tengah menuruni tepian sungai untuk mengambil bola itu, dia tidak menyadari sebuah batu ada di depannya. Jadi dia tersandung dan terjatuh menggelinding seperti bola ke bawah. Yumi beruntung saat itu karena dia hanya mendapat luka di lututnya dan sedikit pusing ketika terjatuh. Untungnya, dia mendarat dengan aman di tepian sungai yang sedikit berlumpur.

Yumi berdiri dan mulai mencari bola. Tapi bola itu sudah hilang. Yumi memutuskan untuk kembali dan meminta maaf kepada Saka. Namun dia tiba-tiba mendengar sebuah suara tangisan dari jarak yang tidak terlalu jauh dari tempatnya terjatuh.

Yumi perlahan mendekat kearah dimana suara itu berasal dan ternyata, dia menemukan sesosok bayi yang terbungkus kain biru di sana.

Ketika jari Yumi menyentuh kulit bayi itu saat dia menggendong nya, sesuatu yang aneh muncul di depan mata Yumi. Itu seperti sebuah tanda atau lebih tepatnya tanda persentasi. Awalnya Yumi tidak mengerti apa yang terjadi, tapi dia tidak panik sedikitpun. Yumi hanya bingung dan ketika dia melihat ke bawah, ke arah wajah bayi itu, sebuah nomor dengan persentasi muncul dan dia mendengar suara yang tidak familiar yang lebih tepatnya seperti suara bisikan.

"Bertemu dengan takdirnya, 100%."

Sebuah tanda angka 100% bersinar di antara bayi itu dan Yumi. Yumi awalnya terdiam membeku beberapa saat sebelum dia mendengar namanya dipanggil.

"Yumi.... Yumii... di mana kau?"

Itu adalah suara dari Saka dan dia terlihat begitu khawatir kepada Yumi.

"Aku di sini."

Yumi berteriak balik dan melambaikan tangannya untuk membuat supaya Saka menyadari dimana dirinya.

Saka berlari dengan cepat ke arah Yumi. Ketika dia menyadari bahwa Yumi tengah menggendong seorang bayi, dia pun bertanya kepada Yumi. Apakah Yumi melihat orang dewasa di sekitar area itu tapi Yumi memberitahukan kepada Saka bahwa dia hanya melihat bayi itu sendirian di tepian sungai.

Saka memberitahu kepada Yumi bahwa mereka harus meminta bantuan dan untungnya di sana ada seorang polisi yang tengah berpatroli dan mereka pun memberi tahu kepada polisi itu bahwa Yumi telah menemukan seorang bayi di pinggir sungai.

Polisi itu membawa Yumi dan Saka ke kantor polisi untuk dimintai keterangan dan ketika mereka menyadari bahwa lutut Yumi berdarah, mereka dengan cepat membawa Yumi ke rumah sakit.

Saat tiba di rumah sakit yang sama di mana ibu Yumi juga melahirkan adiknya, Yumi merasa begitu lega karena dia datang di waktu yang tepat. Jadi masalah tentang bayi yang dibuang itu dapat dilupakan Yumi.

Ketika pertama kali Yumi melihat adiknya yang baru lahir, dia melihat hal yang aneh lagi. Sebuah angka 11% muncul di depan Yumi dan kemudian Yumi menangis. Tidak ada orang lain yang mengetahui kenapa Yumi menangis hari itu.

Saat tahun ajaran baru dimulai, Henry akhirnya pindah ke sekolah Yumi dan menjadi teman sekelas Yumi. Awalnya Yumi berpikir bahwa Henry akan kembali jahat kepadanya, tapi Yumi begitu terkejut ketika Henry datang mendekatinya dan memberikannya sekotak penuh permen padanya.

"Aku minta maaf tentang apa yang pernah terjadi hari itu." Ucap Henry meminta maaf dengan tulus untuk yang pertama kalinya pada Yumi.

Yumi tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya, ketika dia mendengar hal itu dan Yumi pun bertanya kepada Henry.

"Apa aku tidak salah dengar? Kenapa kau meminta maaf kepadaku?"

"Karena... karena kau hampir mati di sana."

Henry terlihat menahan tangis nya agar tidak terjatuh di depan Yumi.

"Ketika aku memintamu untuk mengambil bola itu, kau tiba-tiba menghilang. Dan ketika kami mencari mu, aku menemukan bercak darah di rumput dan batu. Jadi aku pikir bahwa kau sudah terluka atau di culik oleh orang jahat."

"Ppfffftttt... Hahaha imajinasi mu terlalu tinggi untuk anak berusia 11 tahun. Aku hanya tergores di lutut." Ucap Yumi lalu menerima permen dan permintaan maaf dari Henry saat itu.

Sejak saat itu Henry selalu mengikuti Yumi dan akhirnya mereka berteman. Henry selalu memanggil dirinya sebagai sahabat baik Yumi, karena memang dialah satu-satunya teman yang dimiliki Yumi.

Kepribadian Henry sedikit demi sedikit berubah saat mulai berteman dengan Yumi, kecuali rasa marah dan posesifnya terhadap sesuatu yang dia sukai.

Saat Yumi tumbuh lebih besar, Yumi pun menyadari makna dari kemampuan yang dimilikinya. Di mana dia melihat berbagai macam angka yang menunjukkan suatu kemungkinan yang akan terjadi. Yumi pun menyadari bahwa dia bisa menggunakan hal itu untuk dirinya sendiri, jika dia ingin mengetahui sesuatu.

Yumi masih mengingat kala itu, saat dia memutuskan untuk memberitahu orang-orang di sekolah tentang kemampuannya. Tapi hanya Henry saja yang benar-benar percaya kepada Yumi. Pertama kalinya Yumi berbohong kepada Henry adalah saat dia memberitahu Henry, bahwa dia mendapatkan kemampuan itu sejak dia lahir karena Yumi tidak ingin Henry bertanya lebih banyak lagi tentang hal itu kepadanya.

Berbagai tragedi pun terjadi dan Yumi mencapai titik di mana dia ingin bunuh diri. Tapi Henry selalu ada di sisinya untuk membuat Yumi percaya bahwa masih ada harapan.

Untuk semua hari dimana Yumi habiskan bersama dengan Henry, untuk semua waktu di mana Henry selalu membuat Yumi tersenyum, dan semua cerita yang dibuat Henry untuk membuat Yumi merasa lebih baik, membuat Yumi akhirnya jatuh cinta kepada Henry.

Benar sekali. Henry adalah cinta pertama Yumi.

Itu adalah kali kedua Yumi berbohong kepada Henry. Berbohong kepada dirinya sendiri, dan berbohong kepada perasaannya sendiri.

Saat itu Yumi begitu takut karena dia tidak percaya bahwa dia jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Yumi mencoba melihat kepada kemampuannya untuk melihat kemungkinan, apakah dia bisa bersama dengan Henry sebagai pasangan. Tapi hasil yang di lihat Yumi, hanya menyakiti dirinya.

Kemungkinan Henry menolak cinta 97%.

Beberapa bulan kemudian mereka pindah ke asrama yang sama di kampus. Yumi merasa tidak nyaman hanya dengan berada satu area tempat tinggal dengan Henry, karena akan selalu melihat Henry setiap harinya. Jadi dia selalu memutuskan untuk menghabiskan waktu di luar asrama dibanding mengobrol dengan Henry.

Hari-hari pun berlalu, perasaan Yumi terhadap Henry semakin mendalam. Yumi pun berusaha keras untuk melupakan perasaannya itu, mengingat dia pernah melihat gadis tengah menyatakan cintanya kepada Henry tepat di depan asrama para pria. Hal itu terlalu sakit untuk dilihat Yumi dan mendengar bagaimana jawaban Henry akhirnya karena entah jawabannya itu menerima atau pun menolak, itu sama saja akan tetap menyakiti perasaan Yumi. Jadi dia pun memutuskan untuk berlari menjauh.

Yumi tahu bahwa jika Henry menerima cinta gadis itu, itu hanya akan membuat dia lebih sakit hati dan merasa sendirian karena Henry tidak akan berada di sisinya lagi. Dan jika Henry menolak gadis itu, Yumi hanya akan melihat bagaimana Henry menolak cinta seseorang dan membayangkan bagaimana jika dirinya yang akan ditolak cintanya saat dia mengakui rasa cintanya kepada Henry.

Yumi merasa begitu sangat putus asa saat itu. Jadi dia pun memutuskan untuk menghabiskan sepanjang malamnya dengan berjalan-jalan dan menghabiskan waktunya sendirian. Tapi siapa yang tahu bahwa saat itu dia tengah berjalan sendirian ke arah pasar dan dia akan bertemu seseorang yang akan merubah cara dirinya melihat dunia. Seseorang yang akan mengisi luka hatinya yang menganga dan pria yang membuat dia mengerti bagaimana semuanya tidak harus selalu berjalan sesuai dengan apa yang dia inginkan.

Bersambung....

1
Yani Cuhayanih
Apakah thor indigo juga seperti aku
blush.and.ochre
thor up lgi dan kurangin typo yaaa
saltsanddanmoothies
Jangan lupa makan thooooor! Habis itu ketik bab-bab baruuuu
BeijingBand
Kelanjutan cerita author itu kayak hujan ditengah kemarau thor.. alias ditunggu-tunggu!
Pai Konyol
Rasanya kaya terombang ambing bacanya! Aku bener-bener merasa seperti nyata!
El
lanjut 👍
El
lanjut Thor, ceritanya bagus mski klihatannya sdkit pmbaca sih 🤦🏻‍♀️ pkoknya smangat thor jgn smpai gantung ya critanya 👍
virshere ads
masyaAllah suka banget novelnya padahal udah lama ga baca novel,tiba2 mau baca ini ternyata seru banget
booksand peonies
lh kok smpe sini,,,??? thor mna lanjutanx,,,kok kgk ad juga hari updatex,,,?
infinite soul
Lha aku digantung窶ヲ aku tunggu next chapnya kak!
junemoment
Maaf ya thor kalau kita teriakin buat up bab terus pdhl author yg mikir.. soalnya emg aku nunggu bgt lanjutannya
Wajah Boneka
Ah, lanjutannya gimana nih? Aku udah kepo pake banget huhu
Diambil Oleh Anggur
yah mana sambungannya thor :( rasanya kaya putus sama doi
Zizi Suartini
Biasanya sebelum tidur aku baca-baca dulu cerita di NT dan cek-cek karya favoritku udah up belum‾ seneng deh Thor! Makasih karena udah berkarya‾
El
beh nakal jg ya Yumi 😁
El
meweek 😭
El
menjadi indigo itu ada baik ada juga buruknya
El
bagus ceritanya thor 👍
El
waaah, cerita baru lagi. sepertunya bakal seru. aku mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!