Mencintaimu seperti menggenggam bara api. Semakin dalam aku menautkan hati ini semakin nyata rasa sakit yang dirasakan, dan itu membuat aku semakin sadar, tidak ada ruang sedikitpun di hatimu untukku. Aku begitu sangat mencintainya, tapi tidak untuk dia, dia bahkan tidak pernah melihat kesungguhan aku sedikit saja.
Nabila maharani bagai menelan pil pahit dalam hidupnya, di malam pengantin yang begitu bahagia, ia disuguhkan dengan takdir atas kehancuran dirinya. Ternoda di malam pengantin, sesuatu yang ia jaga terenggut paksa oleh sahabat sekaligus adik iparnya. Bisma maulana ikhsan kamil, ada apa denganmu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Mata Bila tak sengaja bertabrakan dengan Gema yang juga tengah duduk bersama menikmati makan malam. Bila langsung memutus tatapan itu, dan menunduk.
"Bila, ayo duduk, kita makan malam bersama ya?" ujar Mama Mita mempersilahkan menantunya.
"Hmm ... kebetulan Bila masih kenyang, Ma, Raziknya mana ya?" tanya Bila mengalihkan perhatiannya. Mendadak suasana menjadi sangat canggung.
"Kenyang dari mana sih, Non, 'kan tadi belum sempat makan malam di rumah, buru-buru ngajak Lastri ke sini?" celetuk Mbak Lastri nyengir. Bila mendelik kesal.
"Nah ... belum makan, 'kan? Ayo ... silahkan langsung gabung saja."
"Jangan khawatir, Bila, Razik aman dan tidak rewel, biarkan dia main di sini dulu, Papa masih kangen," ujar Pak Hans mengemukakan pendapatnya. Bila hanya menanggapi dengan senyuman tipis, tak enak menyela, namun sebenarnya hatinya dongkol.
Bila tidak punya pilihan selain duduk, dan menanti kabar Razik dengan bimbang. Seakan tidak ada yang mau mengerti perasaannya. Sumpah, ini adalah hati tersulit yang harus terlewati, dan semua ini gara-gara orang yang sedari tadi hanya diam, tanpa menyapa karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
Perempuan berhijab navy itu baru saja mengambil duduk tepat di samping Bisma, agak berjarak dengan mantan suaminya, saat tiba-tiba Gema langsung menyudahi acara makan malamnya. Jangankan menyapa kabar, bahkan duduk satu meja makan pun, pria itu sudah tidak mau lagi, mendadak perasaan itu terasa nyeri, masih sama, terlalu sakit.
"Maaf, saya duluan, kebetulan sudah kenyang," ucap Gema tenang, meninggalkan meja makan begitu saja, padahal isi piringnya masih lebih dari separonya.
"Bila, ayo sayang, ambil nasi dan lauknya?" titah Bu Mita menginterupsi.
"Iya, Ma, Bila ambil sekarang," jawabnya mencoba tenang, di tengah rasa yang entah. Sementara Bisma sendiri hanya diam, menekuri isi piringnya.
Makan malam yang sama sekali tidak terasa nikmat, bukan makanannya yang tidak enak, tetapi perasaan Bila yang campur aduk menjadi satu. Susah payah perempuan itu mencoba menelan suapan demi suapan yang terasa berat di tenggorokan.
"Bila, malam ini nginap di sini ya, Mama masih kangen sama Razik," pinta Mama Mita langsung.
"Uhuks ....!"
Perempuan itu sampai tersedak makanannya sendiri mendengar permintaan mertuanya.
"Minumnya Non," Lastri gesit mengambilkan untuk majikannya. Perempuan itu langsung menerima dan meneguknya secara perlahan.
"Terima kasih, Mbak," ucapnya setelah menghabiskan dari seperempat isi gelas tersebut.
"Kalau makan hati-hati Bila, jangan sambil memikirkan sesuatu yang bahkan tidak peduli terhadapmu," sindir Bisma cukup menohok. Seakan tahu isi kepala Bila saja, pria itu berasumsi sendiri.
Usai menikmati makan malam yang susah payah perempuan itu habiskan. Bila cukup waswas menanyakan keadaan Razik, hatinya tidak tenang, perempuan itu dari tadi siang meninggalkan belum ketemu dengan anaknya. Bisma benar-benar berhasil membuat perempuan itu kesal seharian.
"Razik mana?" tanya Bila menarik ujung kaus suaminya, saat pria itu hendak beranjak dari ruang makan. Bisma melirik tangan itu, dan seketika Bila melepasnya.
"Di kamar," jawab pria itu datar.
Bila bingung sendiri, sementara Mama Mita tengah sibuk membereskan sisa makan malah dengan bantuan pembantunya. Papa dan Pandu entah ke mana, Lastri masih setia menemani perempuan itu yang tengah menunggu kepastian.
"Udah, Non Bila nginep aja, Razik juga udah betah di sini, atau mau pulang aja, Non, gimana?"
"Aku mau pulang, sebentar Mbak, aku lihat Razik dulu."
"Razik ada di kamar ayahnya Bila, kamu langsung ke kamar saja, malam ini nginep di sini, Mama masih kangen, papa juga," ujar mertuanya menegaskan.
"Kamar Bisma yang sebelah mana, Ma? Bila mau lihat Razik." Bila akhirnya mengalah.
"Kamu ke atas Bil, pintu coklat kamar pertama terdekat dari tangga, kamarnya Bisma," ujar Bu Mita memberi petunjuk.
Bila mengiyakan, lekas bangkit dan mengayunkan langkah pada undakan tangga. Sebelumnya menyuruh Lastri untuk menunggu, karena hati kecilnya tetap mengatakan ingin pulang.
Mendadak hatinya tak tenang, resah, dan cukup waswas. Sumpah demi apa, menginap di rumah mertuanya dan harus sekamar dengan Bisma adalah mimpi buruk baginya, perempuan itu benar-benar seperti terjebak di kubangan derita.
Perlahan Bila menekan handle pintu, membuka dengan perasaan enggan. Perempuan itu mengintip terlebih dahulu di ambang pintu, netranya menyorot sekeliling dengan rasa penasaran dan tak tentu.
"Masuk Bila!" Suara bass itu menyeru tepat di belakang perempuan bergamis hitam itu.
"Astaghfirullahalazim ...." Bila yang kaget, cukup terjingkat dengan tangan mengusap dada dramatis. Ingin mengumpat tetapi tidak pada tempatnya.
"Razik mana? Katanya di kamar?" tanyanya resah, saat tiba-tiba Bisma menutup pintunya, dan menatap begitu dalam.
Bila spontan cemas, perempuan itu mundur waspada. Tidak mungkin Bisma ingin berbuat nekat, sedang di sini banyak orang. Tiba-tiba pikirannya kacau dan berputar, keringat dingin mulai menyapa saat pikiran itu melayang dan menemukan fakta, bahwa dulu pria di depannya itu juga melakukan di saat villa itu bahkan banyak penghuninya juga. Bukan tidak mungkin, Bisma bisa memaksanya sekali lagi.
Spontan Bila berjongkok histeris ketakutan, kedua tangannya menutup telinga kanan dan kiri dengan terus menggeleng pelan. Buliran bening itu sudah berdesakan keluar.
"Jangan, Bisma! Jangan, aku mohon!" rintihnya nelangsa ketakutan.
Bisma yang melihat itu langsung ikut berjongkok dan menangis. Ia begitu ikut terluka menyadari betapa istrinya trauma atas ulahnya.
"Maafkan aku, Bila, maaf, aku tidak akan menyakitimu," ucap pria itu sendu. Tangannya yang hendak terulur mengusap buliran bening itu, hanya mampu mengudara tanpa berani menyentuh. Bila masih bergetar dan menangis sesenggukan.
kalo masih memendam kebencian
aturan berkumpul aja sama emak2 tukang gosip, baru maklum kalo masih benci sama bisma