NovelToon NovelToon
Memorable Love

Memorable Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:130
Nilai: 5
Nama Author: Eva Hyungsik

Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memorable 23

Baik Owen maupun Janice sama-sama menoleh. Namun, Janice kembali memalingkan wajah untuk menghapus air matanya yang sempat turun. 

“Hei, ada apa dengan Janice. Kau apakan anak perempuan Mama, Owen?” tanya Rania, yang langsung terlihat panik saat melihat Janice menghapus air matanya. 

Owen tercengang mendengar tuduhan dari sang mama. Dia pun memutar matanya malas. “Aku tidak melakukan apa-apa, Ma.” Tangan Owen sudah terangkat seperti orang yang menyerah. 

Rania menatap sinis pada Owen. “Mama tidak percaya dengan ucapanmu itu. Awas saja kalau Janice kenapa-kenapa! Mama akan gunduli kepalamu itu.” 

Owen semakin tercengang mendengarnya. Dia pun dengan cepat menggelengkan kepalanya. Sementara itu Janice sudah menahan tawanya.

“Aku baik-baik saja, Ma. Tadi tidak sengaja mataku kelilipan, lalu Kak Owen mencoba meniup mataku untuk menghilangkan debunya,” kata Janice, dia terpaksa berbohong agar Owen tidak dituduh macam-macam oleh Rania. Apalagi sampan di ancam akan digunduli. 

Rania menelisik wajah Janice. “Beneran kamu nggak apa-apa?” tanya Rania, dan dibalas anggukan oleh Janice. 

“Ya sudah, Papa dan Hansel sudah menunggu di ruang makan. Sudah waktunya kita makan malam,” ajak Rania yang dibalas anggukan oleh Owen dan Janice. 

Rania menggandeng tangan Janice dan meninggalkan Owen di belakang. Pria itu hanya bisa mendesah pelan dengan sikap mamanya yang seolah melupakan anak kandungnya.

“Kalian meninggalkanku?” keluh Owen merasa terabaikan. 

“Kau punya kaki, jalan sendiri ke ruang makan!” sahut Rania, sambil berteriak sedikit. 

Janice menoleh ke arah Owen dan tersenyum lepas. Membuat pria itu ikut tersenyum dan senang. 

Malam semakin larut, tadi setelah makan malam seperti kebiasaan keluarga Wister. Berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati teh hangat dan berbincang sedikit. Dalam perbincangan mereka, terselip obrolan mengenai acara pertunangan Owen dan Janice. Rania dan Leo meminta mereka untuk menyegerakannya. Namun, Hansel lebih mengusulkan kalau Owen dan Janice segera menikah tanpa melalui pertunangan. Sebab dia sangat ingin memiliki keponakan lucu, agar ada yang menemaninya bermain PS. 

Wajah Janice dan Owen saat itu terlihat memerah, karena ucapan Hansel. Rania pun tidak mau kalah dengan Hansel. 

“Mama juga sangat ingin bermain dengan cucu Mama, bukan hanya kamu saja.” 

Owen membawa Janice ke kamarnya, dan mereka berjalan bersama. Ketika mereka tiba di kamar, Owen membuka pintu dan membiarkan Janice masuk terlebih dahulu.

"Tadi saat masuk ke kamar, apakah sangat berantakan?” tanya Owen.

Janice tersenyum dan menggeleng, "Tidak. Malahan aku merasa tersindir saat melihat kamarmu,” jawab Janice, yang langsung mendapat tatapan bingung. 

“Kenapa?” 

“Kamarmu rapi dan wangi,” jawab Janice. “Semua barang-barang dikamar ini tertata sangat rapi,” sambung Janice. 

Owen tersenyum kembali mendapat pujian dari wanita itu, dan untuk beberapa detik, mereka hanya berdiri di sana, saling menatap. Janice merasa jantungnya berdetak lebih cepat, dan dia tidak bisa tidak merasa bahwa Owen juga merasa hal yang sama.

Tiba-tiba, Owen melangkah lebih dekat ke Janice, dan Janice merasa nafasnya terhenti. "Aku senang kamu bisa menginap di sini," katanya, dengan suara yang lembut.

Janice tersenyum dan mengangguk, "Aku juga senang, karena bisa lebih dekat dan mengenal keluargamu. Saat bersama keluargamu, aku merasa seperti sudah sangat lama mengenal dan juga aku merasa seperti bagian dari keluarga Wister,” ujar Janice, sambil tersenyum bahagia. Bahkan Owen dapat melihat binar bahagia dk mata Janice ketika wanita itu bercerita. 

“Aku sangat bahagia mendengarnya. Dan, semua yang kau rasakan sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Kau akan benar-benar menjadi bagian dari keluarga Wister,” kata Owen, membuat Janice tertegun. 

Owen meraih tangan Janice, dan menggenggamnya sambil mengusap lembut. Owen menatap mata Janice. 

“Aku serius menginginkan kamu menjadi istriku, Janice. Bukan karena keinginan kedua orang tuaku, tapi…” 

Tok.. Tok…

Owen terpaksa menghentikan ucapannya setelah mendengar suara ketukan dari pintu. Owen mendesah kasar, membuat Janice menahan senyumnya. Janice dan Owen menoleh ke arah pintu kamar ketika handle pintu di tekan. 

“Oh, ada kamu Owen. Mama pikir kamu sudah di kamar Hansel,” kata Riana, sambil membawakan pakaian untuk Janice. 

Mendesah pelan. “Mama mengganggu saja,” gumam Owen, yang hanya didengar oleh Janice. 

Janice kembali menahan tawanya, dan mendekati Rania. “Terima kasih, Ma. Maaf aku lagi-lagi merepotkan Mama,” kata Janice. 

“Husstt! Sudah Mama katakan jangan sungkan seperti itu. Lagi pula Mama tidak merasa direpotkan,” jawab Rania. 

“Oh, iya, Owen, Janice. Mama dan Papa lupa kasih tahu kalian berdua. Besok kalian harus datang ke toko perhiasan langganan Mama untuk memesan cincin. Tadi siang Papa kalian berdua sudah berdiskusi bersama lewat telepon,” kata Rania, membuat Janice dan Owen terkejut. 

Keduanya saling menatap bingung, padahal Owen baru saja menyampaikan keinginannya untuk meminta Janice menjadi istri sungguhannya. Tiba-tiba saja mamanya meminta mereka berdua untuk memesan cincin. Owen sempat bingung, haruskah dia menuruti keinginan orang tuanya. Sementara dia takut Janice kembali belum siap. 

“Ma, sebaiknya hal ini biarkan Owen bicarakan dulu berdua dengan Janice.” 

Rania menatap anak dan calon menantunya itu. “Jangan lama-lama memberi keputusan,” kata Rania yang dibalas anggukan oleh Owen. 

Rania pun pamit kembali ke kamar dan meninggal Owen berdua dengan Janice di kamar. 

Owen kembali mendesah kasar. Kemudian dia menatap ke arah Janice. “Apakah kamu siap?” tanya Owen. 

Janice paham dengan pertanyaan Owen, kemudian dia pun mengangguk dan tersenyum. “Iya, Kak.  Aku siap,” jawabnya. 

Owen tersenyum, dan mengangguk. “Kalau begitu sepulang aku bekerja kita langsung ke toko perhiasan langganan Mama,” ucap Owen yang dibalas anggukan kepala oleh Janice. 

“Sebaiknya kamu istirahat, aku akan ke kamar Hansel. Selamat malam, Janice.” kata Owen. 

“Selamat malam, Kak.” 

Mereka berdiri di sana, saling menatap, dengan tangan yang masih terikat. Owen  merasa bahwa ini adalah momen yang sangat spesial, dan dia tidak ingin momen itu berakhir. Tanpa Owen sadari, Janice pun merasakan hal yang sama. Rasanya dia sangat enggan ditinggal oleh Owen sendirian di dalam kamar. Entahlah, mengapa Janice cepat merasakan kenyamanan saat berdekatan dengan Owen. Mungkin karena selama satu bulan terakhir ini, Owen selalu memberikan perhatian kecil dan memberikan hal yang tidak sama sekali pernah diberikan Stendy padanya. Jadi, Janice pun cepat merasa nyaman dan tenang saat bersama Owen. 

Keesokan paginya, saat mereka menikmati sarapan Owen meminta Janice untuk tidak ke kampus dulu. Owen pun, juga sudah meminta izin pada dosen pembimbing Janice. Mau tidak mau, Janice nurut dengan perintah Owen. Owen dan Leo, pun pamit untuk berangkat bekerja. Sementara Hansel, anak itu masih berada di dalam kamarnya. Rania sudah mengatakan, kalau hari ini Hansel ada pertandingan basket jam 10 pagi. Jadi Hansel meminta sang mama untuk membangunkannya pukul 7 pagi. 

Di negara P, Jason dan Naomi baru saja tiba di rumah mereka. Wajah lelah terlihat jelas di wajah keduanya. 

“Sebaiknya kita istirahat terlebih dahulu, sore nanti baru kita ke makam Jessica,” kata Jason pada Naomi. 

“Baiklah,” jawab Naomi. 

Sementara itu di villa Margonda, Stendy baru saja menerima laporan dari orang kepercayaannya bahwa Jason dan Naomi telah kembali. Akan tetapi tidak bersama Janice. 

“Paman dan Bibi kembali tanpa Janice. Apakah mereka sengaja melakukan itu?” monolog Stendy. 

Tiba-tiba saja ponselnya berdering, dan nama Harisa tertera di layar ponselnya. Sejenak Stendy terdiam, dirinya masih teringat malam panas yang mereka lakukan di apartemen wanita itu dua hari yang lalu. 

Stendy mengusap wajahnya, dia teringat jika malam itu dirinya tidak memakai pengaman. 

“Semoga saja tidak pernah terjadi,” gumamnya, kemudian dia menerima panggilan telepon tersebut. 

“Halo,” 

“Sayang, bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” 

“Bicara saja langsung disini saja, sepertinya hari ini jadwalku padat.” 

“Baiklah. Aku hanya ingin menanyakan lowongan pekerjaan di kantormu. Aku bosan tidak ada hal yang bisa aku kerjakan selain berdiam diri di apartemen.” 

Mendengar keluhan Harisa membuat Stendy berpikir sejenak tentang lowongan pekerjaan. 

“Kamu bisa menjadi sekretaris di perusahaan yang aku dirikan, Harisa.” 

“Benarkah?” Harisa menyambut kabar baik tersebut dengan hati bahagia. “Lalu, kapan aku bisa memulai pekerjaanku sebagai sekretaris kamu?” 

Stendy tersenyum. “Kamu datang saja ke perusahaan. Kita bertemu di sana,” jawab Stendy. 

“Oke, aku akan bersiap dan berdandan dengan cantik. Supaya bos tempatku bekerja tidak kecewa memiliki sekretaris sepertiku,” 

Stendy tersenyum lebar mendengar ucapan Harisa. “Kamu ini, awas saja kalau kamu genit dengan pegawai lainnya saat bekerja nanti.” 

“Itu tidak akan mungkin, karena aku sangat mencintaimu.” 

Stendy pun bersiap untuk berangkat ke kantor miliknya. Sementara perusahaan milik Fandy masih pria itu yang meng-handle-nya, walaupun perusahaannya sedang dalam kondisi krisis. Baik Fandy maupun Stendy masih mencari investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan milik Fandy. Mengingat Jason sudah mundur dari kerjasama mereka, dan itu semakin membuat Fandy kebakaran jenggot. Sebab yang keluarga Arkana lebih banyak menanam saham di perusahaan nya. Sebenarnya bisa saja Jason mengambil alih perusahaan milik Fandy itu. Namun, Jason tidak tertarik dengan bisnis yang dijalani Fandy. Akhirnya, Jason meminta Calvin untuk mengurus semuanya. Tidak mudah memang, karena semua membutuhkan proses. Tapi, pada akhirnya Fandy bisa mengembalikan modal saham milik Jason atas bantuan Stendy. 

Stendy telah tiba di perusahaannya, namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya. 

“Tuan Stendy, maaf ada yang ingin bertemu dengan Anda,” ucap salah satu petugas keamanan di lobby. 

Stendy mengerutkan dahinya. “Siapa?” 

Petugas itu menunjuk pria paruh baya yang sedang duduk sambil memperhatikan gedung kantor milik Stendy. 

“Itu orangnya, Tuan.” 

Stendy memperhatikan sosok yang membelakanginya, dan pria itu juga masih fokus pada interior lobby kantor. Bahkan penampilan pria paruh baya itu benar-benar membuat Stendy enggan untuk menemuinya.  Kemudian Stendy  kembali menatap petugas keamanan. 

“Saya tidak mengenalnya. Tolong tanyakan apa keperluannya, dan sampaikan pada asisten saya. Tapi, ingat! tetaplah berjaga-jaga. Kita tidak tahu ada niat apa orang itu datang ke perusahaan ini.” 

Petugas tersebut membungkuk sebentar. “Siap, Tuan!” 

Stendy pun kembali memasuki kantornya dan menaiki lift khusus menuju ruangannya. Sementara itu petugas yang diperintahkan Stendy tadi akhirnya menemui kembali pria paruh baya tersebut. 

“Maaf, Pak. Untuk sementara waktu Tuan Stendy sedang tidak bisa diganggu. Tapi, Anda bisa langsung menyampaikan tujuan Anda ke Tuan Rodez. Dia adalah asisten Tuan Stendy,” ujar si petugas keamanan yang tetap ramah, namun tetap waspada. 

Wajah pria itu berubah pias, ada rasa kecewa karena tidak bisa berbicara  langsung pada Stendy. Tapi, mendengar nama asisten Stendy, membuat pria itu merasa memiliki sebuah harapan. 

“Begitu rupanya. Baiklah, kapan Saya bisa bertemu dengan Tuan asistennya?” tanya pria itu. 

“Mungkin sebentar lagi beliau akan datang,” 

Pria paruh baya itu manggut-manggut. “Baiklah, Saya akan menunggu beliau di sini.” 

Sementara itu, Stendy baru saja memasuki ruangannya. Tidak lama Rodez pun datang. 

“Pagi, Tuan.” 

Stendy mendongakkan wajahnya. “Hmm, pagi. Kita sedang berdua saja, Rodez.” 

Rodez tertawa kecil mendengar Stendy protes seperti itu. “Ya, aku hanya ingin menghargaimu sebagai atasanku saja,” jawab Rodez. 

“Aku membawakan calon kandidat pegawai yang akan menjadi sekretaris kamu,” kata Rodez. 

Stendy menatap berkas yang baru saja diletakkan oleh Rodez. Lalu, Stendy menggeleng. 

“Tidak perlu. Aku sudah dapat kandidatnya,” jawab Stendy menolak semua CV yang masuk. 

Rodez mengerutkan dahinya. “Sudah dapat, Siapa?” tanya Rodez yang penasaran. 

“Harisa,” 

“Apa?” Rodez sangat terkejut. Bagaimana tidak terkejut, kalau dirinya sangat tahu tentang Harisa. Sebab selama wanita itu lulus kuliah di luar negeri, dia tidak memiliki pengalaman kerja. 

“Kau yakin dengan keputusanmu ini?” tanya Rodez lagi. 

“Mengapa kau bertanya seperti itu? Ini sudah menjadi keputusanku. Mulai besok Harisa akan bekerja sebagai sekretaris di perusahaan ini,” kata Stendy, dengan tegas. 

Rodez mendesah kasar. “Terserah kau saja. Jika terjadi sesuatu jangan salahkan aku,” ujar Rodez mengingatkan. 

Stendy mengerutkan alisnya. “Mengapa sepertinya kau sangat tidak setuju dengan keputusanku?” 

Rodez memutar bola matanya, karena malas menanggapi. “Aku tidak yakin dia bisa bekerja dengan baik sebagai sekretaris di perusahaan ini,” 

“Apa alasannya? Mengapa kamu bisa berkata seperti itu?” 

Rodez menaikkan bahunya. “Entahlah, filling ku saat ini sangat kuat. Tapi, semua balik ke diri kamu saja. Kau ‘kan pemilik perusahaan ini. Jadi, ya, aku pun tidak bisa melarang lagi atau pun menolaknya. Karena kau yang lebih berhak dj perusahaan ini,” sahut Rodez, sambil berdiri dan hendak pergi. 

Namun, sebelum itu Stendy kembali berbicara dan menahan langkah Rodez. “Tolong kau temui pria paruh baya yang ada di lobby. Tanyakan apa tujuannya ingin menemuiku. Jika dia datang hanya untuk minta sumbangan berikan saja,” kata Stendy. 

“Oke,” jawab Rodez yang kembali berjalan meninggalkan ruangan Stendy. 

Sepanjang perjalanan menuju kobby, dalam hati Rodez bertanya-tanya siapa pria yang ingin menemui Stendy. Karena tidak biasanya, jika itu orang yang ingin meminta sumbangan amal atau sejenisnya. Karena orang seperti itu pasti akan meninggalkan proposal untuk penggalangan dana. 

Rodez tiba di lobby dan langsung menuju meja resepsionis. “Aku dengar ada seseorang yang ingin bertemu dengan Tuan Stendy,” kata Rodez pada si resepsionis. 

“Benar, Tuan. Itu orangnya sedang duduk di ruang tunggu. Seorang pria tua memakai kemeja biru,” jawab si resepsionis sambil menunjuk orang tersebut, dan kebetulan sekali orang itu pun menoleh ke arah Rodez. Pria itu pun tersenyum dan membungkukkan tubuhnya sebentar. 

“Hmm, baiklah. Terima kasih,” 

Rodez pun berjalan menghampiri pria paruh baya tersebut. Begitu pun dengan si pria paruh baya tersebut, sambil tersenyum. 

“Maaf, Pak. Apakah benar Anda ingin bertemu dengan Tuan Stendy?” tanya Rodez dengan sangat ramah. 

Bapak itu pun tersenyum dan mengangguk. “Iya, Tuan. Perkenalkan nama saya Liam Ma,” jawab pria itu yang ternyata adalah ayah kandung Harisa. 

Rodez membalas uluran tangan Liam, sambil mempersilahkan pria itu untuk duduk. Rodez memperhatikan penampilan Liam yang terlihat sangat sederhana. Merasa sedang diperhatikan, Liam pun tersenyum salah tingkah dan juga merasa sedikit malu. 

“Maaf, Tuan. Sudah mengganggu waktu Anda.” 

Rodez kembali fokus pada Liam. “Tidak apa, Pak. Kalau begitu ada keperluan apa Bapak mencari Tuan Stendy?” 

“Apakah Tuan Stendy masih berhubungan dengan Harisa?” tanya Liam yang membuat Rodez mengernyitkan dahinya. 

“Anda mengenal Harisa?” pancing Rodez bertanya kembali. 

Liam mengangguk. “Iya, saya mengenalnya. Sangat mengenalnya,” jawab Liam. 

Liam terdiam sejenak, matanya memperhatikan kanan kiri mereka. Ada rasa takut jika tiba-tiba saja Harisa datang dan mengenal dirinya. Rodez paham, karena Liam terlihat sedikit gelisah akhirnya Rodez mengajak Liam untuk ke sebuah cafe yang ada di  seberang kantor Stendy. Rodez merasa bahwa ada suatu hal penting yang ingin disampaikan mengenai Harisa. Rodez memesan ruangan privat dalam cafe tersebut. 

“Jadi, apakah ada yang ingin Anda sampaikan mengenai Nona Harisa?” tanya Rodez, mulai membuka obrolan mereka. 

“Harisa adalah putri semata wayang saya, Tuan.” 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!