NovelToon NovelToon
Memorable Love

Memorable Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eva Hyungsik

Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memorable 32

Keluarga Arkana dan Wister duduk di meja restoran, menikmati makan malam yang lezat. Mereka baru saja menjemput Jason dan Naomi dari negara P, dan suasana sangat hangat dan bahagia.

Owen pamit ke toilet, meninggalkan keluarga yang sedang menikmati makan malam. Tidak lama kemudian, Calvin juga pamit dan mengikuti Owen ke toilet.

Di toilet, Calvin mendekati Owen yang sedang mencuci tangan. "Tuan Owen, aku perlu cerita sesuatu," katanya, suaranya rendah.

Owen menatap Calvin dengan kedua alis berkerut. "Apa itu, Tuan Calvin?"

Calvin mengambil napas dalam. "Rodez memintaku mencari tahu tentang Harisa. Aku pasti kau juga cukup mengenal wanita itu. Bukankah kalian berteman cukup lama?” 

Owen mengerutkan dahinya. “Kami memang saling mengenal. Tapi tidak cukup dekat,” 

Calvin menatap Owen dengan mata yang lebar. "Benarkah?"

Owen mengangguk. "Benar, Tuan Calvin. Sepertinya Stendy adalah orang yang tepat untuk kamu tanyain tentang wanita itu,” sahut Owen. 

Calvin manggut-manggut, sambil mengusap dagunya. “Tapi, Rodez memintaku untuk tidak memberitahukan hal ini pada Stendy. Sepertinya ini sangat serius, dan kemarin aku juga sudah mendapatkan informasi tentang wanita itu."

Owen menatap tajam pada Calvin. “Sebaiknya kita bicarakan di luar saja,” kata Owen, yang membuat Calvin tersenyum lalu mengangguk. 

Disinilah mereka berada di depan taman yang ada di dekat parkiran mobil. Calvin mengeluarkan sebungkus rokok dan pemantiknya. Dia menawarkannya pada Owen, namun pria itu menolaknya. Membuat Calvin tersenyum, seakan mengejek Owen. 

“Aku baru tahu kau tidak merokok,” kata Calvin. 

Owen memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. “Aku seorang dokter. Jadi harus bisa menjadi contoh bagi pasien,” jawab Owen, tanpa menoleh ke arah Calvin. 

Calvin masih tersenyum, sambil manggut-manggut. “Lalu, kapan kau akan berhenti menjadi dokter dan memulai mengurus bisnis orang tuamu?” 

Owen menoleh dan menatap dingin pada Calvin. “Bisa langsung pada inti pembicaraan saja, Tuan Calvin?” 

Calvin tertawa hambar, asap rokok keluar dari bibirnya. “Oke,” kata Calvin, sambil menghela nafasnya. 

“Rodez datang menemuiku dan memintaku untuk mencari tahu tentang Harisa dan juga… mantan suaminya,” 

Owen menoleh dengan tatapan terkejut. “Mantan suami?” beo Owen. 

Calvin mengangguk. “Iya. Ternyata wanita itu tidak melanjutkan sekolah saat diluar negeri, melainkan dia menikahi pengusaha kaya di negara W saat itu.” Calvin menceritakan semua yang dia tahu mengenai Harisa pada Owen sesuai informasi yang dia dapat. Membuat Owen sangat terkejut. 

“Jadi Harisa disetir oleh Ibu nya?” tanya Owen, yang dibalas anggukan dari Calvin. 

“Dan yang mengejutkan lagi, dia terlibat dalam kasus kematian mantan suaminya itu. Menurut informasi orang suruhanku, kasus itu telah ditutup. Sepertinya Nyonya Maria telah membayar polisi untuk menutup kasus ini,” kata Calvin. 

Owen menatap Calvin dengan tatapan serius. “Lalu, apakah Rodez sudah memberitahukan ini pada Stendy?” Calvin menggeleng setelah mendapat pertanyaan itu dari Owen. 

“Dia tidak ingin memberitahukan hal ini sebelum mendapatkan semua bukti dan saksi yang terlibat,” jawab Calvin. 

Owen mendesah kasar. “Sepertinya ini kasus yang cukup besar,” 

“Iya, kamu benar. Dan aku tidak bisa bayangkan, bagaimana jika Stendy mengetahui kenyataan ini.” Calvin menatap Owen. “Dia pasti akan berusaha untuk merebut Janice darimu,” sambung Calvin. 

Owen mengepalkan kedua tangannya, rahangnya pun mulai mengeras. “Tidak akan aku biarkan dia merebut wanitaku!” tegas Owen. 

Calvin menepuk pundak Owen pelan. “Aku yakin kau bisa melindungi adikku itu,” ujar Calvin. 

Owen mengangguk. “Terima kasih sudah percaya padaku untuk menjaga Janice,”

“Jadi, apa alasan kamu datang ke negara ini selain membantu paman Leo?” tanya Owen. 

Calvin menghisap rokoknya yang tinggal sedikit, lalu mengeluarkan asapnya dengan kasar. “Aku punya waktu tiga hari untuk ke negara W, dan mencari tahu semuanya.” 

Owen mengerutkan dahinya. “Maksudmu… kau akan menyelidikinya sendiri?” 

Calvin menggeleng dengan cepat. “Tidak. Orang kepercayaanku sudah tiba di sana. Saat ini mereka sedang mengawasi salah satu saksi yang mungkin tahu tentang Harisa.” 

“Kapan kau akan berangkat?” tanya Owen lagi. 

“Besok siang,” 

“Apa yang besok siang?” tanya seseorang yang membuat kedua pria itu menoleh bersamaan. 

“Janice,” 

“Sayang,” 

Ucap Owen dan Calvin bersamaan. Membuat Janice tersenyum. “Untung aku bertanya pada petugas kebersihan, katanya kalian ada di taman, jadi aku menyusul ke sini dan ternyata benar kalian disini,” kata Janice. 

Calvin tersenyum, sambil menunjukkan sebatang rokok ditangannya. “Aku ingin merokok. Jadi Tuan Owen menemaniku,” ujar Calvin. 

“Aku pikir dia merokok, ternyata tidak.” Tambah Calvin, sambil tertawa kecil. 

Janice melipat kedua tangannya didepan dada. “Kak Owen itu seorang dokter, Kak. Mana mungkin dia merokok,” celetuk Janice. 

Owen tersenyum mendengar ucapan Janice, dan mendekat ke arahnya. Lalu merangkul pinggang wanita itu. Calvin terkekeh kecil, dan menggelengkan kepalanya. 

“Sepertinya calon suamimu itu sudah sangat bucin denganmu, Janice.” 

Janice tertegun mendengar ucapan Calvin, kemudian dia mendongak dan menatap ke arah Owen. Matanya berkedip lucu, pikir Owen. Pria itu tersenyum lebar dan kemudian terkekeh. 

“Iya, aku sudah mulai bucin padanya,” kata Owen tanpa melepaskan tatapannya pada Janice. 

Pipi Janice berubah memerah, dia pun tersenyum simpul. 

Di negara P, Stendy duduk termenung. Sesekali dia menenggak minumannya, di tangannya terdapat selembar foto wanita yang entah dia dapatkan dari mana. 

“Ternyata kau pergi sudah cukup lama, Janice. Jadi ucapanmu waktu itu tidak main-main,” kata Stendy dengan sinis. 

Stendy mengambil ponselnya di dalam saku celananya. Dia kembali membuka isi chat grup di dimana isi chat itu membahas pernikahan Owen. 

Stendy tersenyum sinis, sambil berdecak kecil. “Diam-diam dia sudah mendapatkan wanitanya. Tapi aku penasaran siapa wanita yang mau menikah dengannya?” 

Namun, sejenak Stendy mengerutkan alisnya. Tatapan matanya memicing melihat postingan Owen yang menampilkan sosok wanita bergaun pengantin yang duduk di depan cermin. Stendy mencoba men-zoom gambar itu– sayangnya wajah si wanita tidak terlihat jelas. 

Stendy merasa kesal, dan melepaskan ponselnya begitu saja diatas meja. Dia kembali menenggak minumannya. Akan tetapi, ponselnya berdering dan nama Harisa muncul di layar. 

“Sayang, aku sudah di depan villa milikmu.” 

Dagi Stendy mengerut, dan menjauhkan ponselnya. Dilihat Jaya kembali layar ponselnya. 

“Untuk apa kamu ke sini?” tanya Stendy. 

“A-aku merindukanmu. Satu hari ini aku tidak bertemu denganmu di kantor,”  jawab Harisa. 

Ya, memang satu hari ini Stendy tidak berada di kantor. Dari pagi sampai siang dia hanya berada di villa dan mengerjakan pekerjaannya secara WFH. Kemudian setelah makan siang, dia bertemu dengan klien bersama Rodez sampai menjelang sore. Sehingga waktu untuk Harisa hari ini tidak ada. Maka dari itu Harisa datang ke villa. 

Stendy menghela nafasnya, dan memilih untuk membiarkan Harisa masuk ke dalam villa. Dia pun membuka pintu dan langsung mendapat pelukan dari wanita itu. 

“Aku merindukanmu,” kata Harisa, sambil tersenyum di dalam pelukan Stendy. 

Stendy tersenyum, dan tangannya pun mulai berada di pinggang Harisa. Dia tidak membalas pelukan itu dengan sepenuh hati, entah mengapa hati Stendy merasakan hal yang tidak biasanya. Hatinya terasa hampa saat bersama Harisa. Padahal dulu dia sangat bahagia jika dekat dengan Harisa. Tapi, malam ini sangat berbeda. 

“Kamu sudah makan?” tanya Harisa, dan dibalas gelengan kepala dari Stendy. 

Harisa tersenyum. “Kalau begitu kita makan bersama. Kebetulan aku membawakan ayam lada hitam kesukaanmu,” 

Stendy mengangguk, dan mereka pun masuk kedalam. Stendy duduk di kursi meja makan, sementara Harisa menyiapkan makanannya. 

“Ayo, makan!” kata Harisa. 

Stendy lagi-lagi tidak bersuara, dia hanya tersenyum dan mengangguk saja. Ketika memakan ayam itu, lidah Stendy merasakan sesuatu yang aneh. Rasa yang sama seperti masakan Janice. Stendy meletakkan sumpitnya, dan menatap ayam bumbu lada hitam itu dengan tatapan nanar. Harisa tertegun melihat yang dilakukan Stendy. 

“Ada apa? Apakah masakannya kurang enak?” tanya Harisa. 

Stendy menatap Harisa, dan kembali mengunyah makanannya di dalam mulut. Kemudian menggeleng pelan. 

“Ini kamu beli di mana?” tanya Stendy. 

Harisa tersenyum. “Aku membelinya di restoran Jixiang,” jawab Harisa. 

Stendy membeku mendengar nama restoran tersebut. “Pantas saja rasa masakan ini tidak asing bagiku. Bahkan aku merindukannya,” pikir Stendy dalam hatinya. 

Stendy mengambil gelas dan meneguk air hingga setengah gelas. “Lanjutkan makannya,” kata Stendy yang membuat Harisa tercengang. 

Harisa terus memperhatikan Stendy. Sepertinya wanita itu tidak tahu, kalau restoran itu adalah milik keluarga Arkana yang baru saja dibuka beberapa bulan yang lalu. Sementara Stendy sudah tahu, maka dari itu dia merasa sangat familiar dengan masakan tersebut. Sehingga membuat pria itu mengingat kembali sosok wanita yang sudah beberapa bulan pergi meninggalkannya. 

Stendy duduk di sofa, sambil menghisap sebatang rokok. Sementara Harisa baru saja keluar dari area dapur, dengan senyum menggoda. Wanita itu duduk di sebelah Stendy, tangannya terulur mengusap dada Stendy. Kemudian merayap ke area kancing kemeja yang dikenakan Stendy. Jemari Harisa bermain di kancing itu. 

“Aku merindukanmu,” bisiknya pelan. 

Stendy yang sedang fokus pada ponselnya pun, segera menghentikan tangan Harisa. Kemudian menoleh dan menatap datar ke arah wanita itu. 

Stendy mengalihkan pandangannya, lalu menarik nafas dan mendesah kasar. “Ini sudah malam, aku akan mengantarmu pulang.” Stendy menyingkirkan tangan Harisa dengan pelan, kemudian berdiri dari duduknya. 

“Bersiaplah!” kata Stendy, dengan suara datar. 

Harisa tercengang mendapat penolakan dari Stendy. Dia pun, mendengus kesal sambil menghentakkan kakinya. Dengan hati yang kesal dan kecewa Harisa pun, akhirnya menuruti perintah Stendy. 

Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan di antara Stendy dan Harisa. Membuat wanita itu agak geram dengan sikap Stendy yang sepertinya sedang menghindarinya. 

Harisa menoleh dan menatap Stendy. “Sayang, ada apa denganmu hari ini?” tanya Harisa. 

Stendy menoleh sekilas, dan kembali fokus menyetir. “Aku tidak apa-apa, memangnya kenapa?” tanya Stendy balik. 

Harisa mengerucutkan bibirnya. “Kamu berubah. Kamu seperti sedang menghindar dariku. Apakah aku berbuat salah?” tanya Stendy dengan suara memelas. Wajahnya dibuat memelas dan seperti orang yang ingin menangis. 

Stendy menghela nafasnya. “Aku tidak apa-apa. Hanya saja aku sedang merasa lelah,” jawab Stendy, sambil tersenyum tipis. 

Harisa memicingkan matanya, seakan tidak puas mendengar jawaban Stendy. “Benarkah? Kamu yakin tidak sedang ingin menghindariku?” 

Stendy kembali menatap Harisa, dan satu tangannya meraih tangan Harisa. “Aku tidak sedang menghindarimu,” jawab Stendy. 

Mereka sudah tiba di apartemen Harisa. Stendy masih menghentikan mobilnya di depan lobby. Pria itu pun,  menatap Harisa, namun entah mengapa hatinya merasakan hampa. Stendy masih tersenyum paksa, dia bahkan bingung dengan perasaannya saat ini. 

“Bagaimana, kalau besok kau berbelanja sepuas hatimu, nanti aku transfer uangnya. Anggap saja itu sebagai permintaan maafku karena satu hari ini mengabaikanmu,” kata Stendy lagi.

Harisa tersenyum lebar, matanya pun bersinar cerah. “Sungguh? Kamu akan mentransfer uang lagi. Apa aku boleh menghabiskannya?” tanya Harisa dengan semangat. 

Stendy mengangguk, sambil tersenyum, dan membuat Harisa semakin senang. Wanita itu pun, langsung mencium bibir Stendy dan segera keluar dari dalam mobil. 

Stendy menatap Harisa dengan tatapan datar. Stendy mengingat bagaimana reaksi Harisa tadi. Wanita itu terlihat begitu gembira, pikir Stendy. Senyum Stendy semakin memudar, seketika itu juga dia kembali teringat dengan Janice. Reaksi yang sangat berbeda, Stendy ingat saat dirinya mengabaikan Janice. 

Waktu itu Stendy mentransfer uang cukup besar untuk Janice, karena wanita itu mengajaknya nonton bioskop. Namun, Stendy menolak dengan alasan sibuk. Akhirnya Stendy mentransfer uang cukup besar ke rekening Janice. Akan tetapi, wanita itu menolak dan mengembalikannya ke rekening Stendy. 

Stendy sempat kesal, dan berpikir kalau Janice sok jual mahal. Namun, tanpa Stendy sadari kalau sebenarnya janice tidak membutuhkan uang pria itu. Yang dibutuhkan hanya saat itu adalah waktu dan kebersamaan dengan orang yang dicintainya. 

Perbedaan antara Janice dan Harisa  mulai dirasakan Stendy, walau secara meraba. Stendy kembali teringat hal-hal kecil yang mampu membuat dirinya semakin yakin, kalau Harisa hanya mengincar hartanya. Stendy mengusap wajahnya dengan kasar, sambil menyugar rambutnya kebelakang. 

Stendy kembali teringat, dirinya sering mengeluarkan uang cukup besar untuk kebutuhan Harisa. Bahkan saat berbelanja pun, wanita itu bisa setiap hari mengajaknya jalan ke mall setelah mereka pulang kerja. 

Stendy mengambil ponselnya, dan mengecek transaksi di M-Banking miliknya. Dia mendesah kasar, setelah sadar pengeluarannya sudah membengkak semenjak Harisa kembali ke dalam kehidupannya. 

Stendy menyandarkan kepalanya, “Apa aku sudah salah memilih?” gumam Stendy, setelah ingat kalau dulu Janice selalu hidup sederhana. Sangat jauh berbeda dengan Harisa. 

Harisa berjalan dengan hati gembira. Saat memasuki lift, tiba-tiba saja ada notifikasi dari M-Banking miliknya. Senyumnya kembali melebar dan dia pun, bersorak kegirangan. 

“Tidak lama lagi, kamu akan menjadi milikku. Dengan begitu aku bisa menguasai harta milikmu, Stendy. Dasar pria bodoh!” ucapnya dengan hati riang. 

Harisa tiba di apartemen, dan memasuki apartemennya dengan perasaan gembira. Namun, suara seorang wanita mengejutkan dirinya. 

“Baru pulang?” kata wanita yang sedang duduk di sofa, sambil menggoyangkan  gelas yang berisi wine di tangannya. 

“Oh, ya, Tuhan!” ucap Harisa, saking terkejutnya. 

“Mama,” gumam Harisa, seketika tubuhnya menjadi kaku. 

Wanita itu pun, tersenyum menyeringai. Dia berdiri dan melangkah dengan anggun menghampiri Harisa. 

“Sepertinya kau sangat bahagia,” kata mamanya Harisa. 

Wanita paruh baya itu berjalan pelan, sambil mengitari tubuh Harisa. Gelas yang dipegang sejak tadi, ditempelkan ke wajah Harisa. 

“Apa kau lupa dengan persyaratan yang pernah kau setujui?” tanya Maria, dengan nada berbisik. 

Tubuh Harisa sedikit menegang. Kemudian dia pun, menggeleng pelan. “A-aku tidak lupa, Ma,” jawab Harisa dengan suara gugup. 

Maria tersenyum, namun tatapannya begitu mengerikan bagi Harisa. 

“Aaakkkkhhh….!!” pekik Harisa, ketika merasakan sakit di kepala. 

Maria saat ini sedang menjambak rambut Harisa. Membuat Harisa meringis menahan sakit, sebab tarikannya cukup kencang. 

“Tapi, mengapa kau seakan melupakan dengan janjimu itu? Kau sudah telat satu hari tidak mentransfer uang yang sudah kita sepakati, Harisa!” bentak Maria, dengan semakin menjambak rambut Harisa. 

Harisa semakin meringis kesakitan, kepalanya mulai terasa pusing. Kemudian dengan kasar, Maria mendorong tubuh Harisa cukup keras. Sehingga kening wanita itu terbentur ujung meja. Lagi-lagi Harisa meringis merasakan sakit akibat benturan cukup keras di keningnya. Kepalanya pun mulai terasa pusing. 

1
kalea rizuky
g sbar liat sendy nangis darah
kalea rizuky
lama amat nikah nya Owen dan nunggu penyesalan suami durjana
Ryuken: 🥰

otw Kakak... 😁🙏
total 1 replies
kalea rizuky
lanjut donk nungguin nih Janice nikah ma Owen g sabar
kalea rizuky
cocok sendi sama herisa sama sama sampah
kalea rizuky
lama amat nikahnya biar Janice g mikir mantan yg goblok. trs
kalea rizuky
lupain laki goblok heran ya
kalea rizuky
uda ma jalang aja sana sini herisa g usa nyari Janice
kalea rizuky
laki serakah awas aja balik. ke laki tukang selingkuh. lu Janice masih banyak cwok lain
Ryuken: Sabar, Kak.... yg pnting dia g kayak si Bobby yg 1+1=2 🤣🙏
total 1 replies
kalea rizuky
pergi kok ngasih kode goblok lu
kalea rizuky
np g pergi ke. luar negri
kalea rizuky
jangan bertele tele thor lama amat perginya si cwek glblok ini
kalea rizuky
cwek goblok berkorban segitu nya demi cwok dih menjijikkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!