Baru naik kelas 12, sudah di nikahkan? Alana dan Barra terpaksa menikah, karena permintaan terakhir sang Ayah, sebelum Ayah Alana pergi untuk selamanya. Namun, kisah cinta mereka tidak semulus jalan tol dan tidak seindah Romeo and Juliet. Kepribadian keduanya bertolak belakang. Akankah pernikahan mereka bertahan Lama? Yuk simak Kisah Alana dan Barra.
*Kalau Ayah gak minta aku nikah sama kamu, mana mungkin aku mau! Itu semua karena keterpaksaan! — Alana Valerie.
*Awas aja ya lo berani macem macemin gue! Gue bakal minta pertanggung jawaban lo Alana! — Barra Ardana Abiputra.
*AKU SAYANG BANGET SAMA KAMUUUUU — *****
Bestie tolong maklum ya jika banyak typo yang betebaran 🥰👌🏻
HAPPY READING & HAPPY KIYOWO BESTIE 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAP 31 : STORY TELLING
Malam ini malam yang indah sama seperti malam malam biasanya, bintang bintang bertebaran memenuhi langit yang luas, mereka seolah olah berlomba lomba perihal siapa bintang yang paling cantik malam ini. Angin mengembus dengan lembut, menyapu setiap inci ukiran pada wajah manis kedua insan yang terduduk menikmati indahnya malam.
Barra dan Alana, kini duduk di gazeboo yang terdapat 2 kursi malas dan beberapa cemilan di hadapannya. Mereka mempersiapkan ini seolah akan terjadi obrolan panjang malam ini. Barra menoleh pada Alana yang berada di sampingnya, ia tersenyum saat melihat Alana sedang memejamkan matanya.
Gadis yang berada di sampingnya itu benar benar menikmati malam yang cerah ini. Barra tidak ingin mengganggu Alana sebenarnya, tapi pertanyaan pertanyaan yang sejak sore tadi sudah memenuhi pikirannya, Kini meminta jawaban dari sang pemilik pertanyaan itu.
Ehem...
Deheman Barra menyadarkan Alana dari alam bawah sadarnya. “Jadi sebenarnya apa yang terjadi,Al?” Tanya Barra dengan lembut, pemuda itu tidak ingin merusak malam yang indah ini.
Barra hanya ingin tahu kenapa Gery bisa melakukan hal seperti itu. Tidak mungkin kan Gery melakukan hal buruk kalau tidak punya alasan? Pasti ada sesuatu yang Alana sembunyikan. Barra pun ingat, Alana pernah menanyakan pada Barra, apakah ia kenal dengan Gery. Pemuda itu memang tidak mengenal Gery, bahkan ia baru pertama kali melihat laki laki itu.
Alana membuka matanya perlahan dan menoleh pada Barra dengan tatapan yang tak dapat di artikan. Manik mata itu tidak menampakkan kesedihan atau pun kebahagiaan. Barra pun memperhatikan manik mata yang menatapnya.
"Kamu mau tahu karena peduli atau hanya sekedar penasaran?" Tanya Alana tampak serius.
Barra terkesiap akan pertanyaan itu, kenapa bisa bisanya Alana bertanya seperti itu. Begitu buruk kah Barra di mata Alana? Apakah ia terlihat laki laki brengsek yang tidak mempunyai tanggung jawab? Arghh.
" Ya gue peduli lah. Lo gak nyadar apa, lo sekarang udah jadi tanggung jawab gue, Al. Lo udah di titipin ke gue sama bokap lo." Jelas Barra.
"Ohh... Pedulinya karena itu." Alana mengangguk ngangguk mengerti. Namun, pemuda di sebelahnya mengerut alisnya, tidak tahu maksud dari perkataan Alana.
Alana menyadari ekspresi kelimpungan Barra, gadis itu menghela nafas pelan. Benar benar tidak peka laki laki yang ada di sebelahnya ini.
"Jadi mau tau tentang Gery gak nih?" Tanya Alana.
" Mau lah, cepet jelasin." Ujar Barra. Pemuda itu sebelumnya sudah membatalkan nongkrong bareng sahabatnya, perkara pertanyaan pertanyaan yang melanda pikirannya.
Alana melingkarkan tangannya ke lutut, ia memeluk lututnya seraya menghadap atas melihat bintang bintang yang tidak puas memberinya kekaguman.
Lalu Alana menoleh Pada Barra, ia bersiap menceritakan semuanya.
"Waktu hari kedua aku masuk sekolah, tiba tiba dia nungguin aku di lorong yang arah parkiran, kebetulan di sana udah sepi. Terus dia minta paksa nomor aku, karena aku takut jadi aku kasih aja, biar aku cepet cepet pergi dari sana. Aku pikir dia bakal ngechat biasa aja, tapi makin lama makin keterlaluan. Aku pernah tanya Anggi tentang Gery. Ternyata Gery itu emang anaknya pendiem dan gak suka sosialisasi makanya jarang orang yang tahu dia, paling temen sekelasnya aja, dia juga jarang keluar kelas banget katanya. Aku gak tahu dia kelas berapa, aku gak nanya soal itu. "
Kemudian Alana merogoh ponsel yang ada di saku hoodienya, gadis itu memperlihatkan semua pesan dari Gery yang menurutnya tak lazim. Begitu banyak pesan ancaman dari Gery, gara gara Alana hanya membaca pesannya tidak membalasnya.
" Ini sih obsesi bukan cinta namanya!" Ujar Barra.
Tanpa mengindahkan perkataan Barra, gadis itu terus menceritakan semuanya pada Barra, ia tidak melewatkan sedikitpun, begitu detail dan jelas. Barra mengeraskan rahangnya, ia sangat kesal mendengar cerita Alana. Apalagi saat melihat pesan pesan yang di lontarkan Gery pada Alana, begitu tidak pantas di sebutkan laki laki menurutnya.
Bener bener sikopat tuh laki! Batin Barra.
"Kenapa lo gak cerita dari dulu?! Kenapa waktu udah ada kejadian gini lo baru cerita? Gue jamin dari sekarang, gak akan ada hal hal buruk yang terjadi sama lo. Asal lo janji mau terbuka ke gue, jangan ada yang di sembunyiin kek gini." Barra menarik Alana ke dalam pelukannya, pemuda itu kali ini benar benar khawatir pada Alana.
Tapi kenapa setiap aku ada masalah, malah Elang yang ada disana bukan kamu. Batin Alana.
Alana perlahan membalas pelukan Barra, ia mengembangkan senyuman manis di bibirnya. Pelukan Barra begitu nyaman, gadis itu seperti enggan melepaskannya, Rasa nya ia ingin seperti ini sepanjang waktu.
Aku harap, semoga kepedulian kamu ini berasal dari hati, bukan dari rasa tanggung jawab yang terpaksa harus kamu jalani, Bar. Batin Alana.
Barra melepaskan pelukannya dan menatap wajah Alana dengan lekat.
Tak
"Aw!" Pekik Alana, lalu ia mengusap jidatnya dengan wajah yang cemberut. "Sakit tahu!"
Barra menyentil kening Alana dengan gemas. "Awas aja kalo ada yang lo sembunyiin lagi, gue sentil lo lebih kenceng dari ini." Ancam Barra dengan kekehan pelan.
Tanpa mengindahkan perkataan Barra, gadis itu berbaring dengan kursi malas yang empuk sebagai bantalan dan menatap kembali langit langit yang indah.
" Barra... Gimana kalo nanti ada cowok lain yang aku cintai dan dia pun mencintaiku? Apa kamu akan mengingkari janji kamu pada Ayah? Dan melepaskan aku?" Pertanyaan random yang terlintas dari pikiran Alana, sukses membuat Barra terkejut.
Pemuda itu tidak tahu harus mengatakan apa, ia pun bingung. Jika harus melanjutkan pernikahan ini tanpa ada cinta di dalamnya, apa akan bertahan lama dan harmonis? Atau ia harus berusaha mencintai Alana? karena sebuah ikatan janji yang sudah ia buat dengan Anton.
"Kenapa lo tiba tiba nanyain itu? Random banget otak lo." Ujar Barra seraya berbaring juga di sebelah Alana, dengan kedua tangan nya di lipat ke belakang kepala untuk di jadikan bantalan dan menatap langit kerap kerlip.
"Ish, aku kan nanya. Seumpanya gitu gimana? Ke depannya kan kita gak tahu juga lho."
"Nah justru itu, kita gak tau masa depan seperti apa. Bisa jadi lo malah suka sama gue atau sebaliknya kan? Atau bisa jadi rahasia hubungan kita ini tersebar di sekolah, jadi gak akan ada yang berani deketin lo. Jadi, lo gak usah nambah nambahin beban pikiran gue deh. Gue bukan dukun atau peramal yang bisa liat masa depan." Jelas Barra.
Alana diam tidak membalas atau memberikan pertanyaan lagi, ia seperti di buat bungkam oleh penjelasan Barra tadi. Dan gadis itu pun berkutat dengan pikirannya sendiri, seraya mengambil beberapa cemilan, lalu melahapnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haii bestie, maaf author telat up nya. Karena dari kemarin aku terlalu rajin, jadi rebahan aja dan scroll tiktok. Emang ya jadi netijen indo itu sibuk, belum masalah ini selesai ada masalah baru lagi. Tapi tenang aja kok, author ini netijen yang baik dan budiman jadi tidak pernah ninggalin komenan negatif di akun siapa pun.
Jadi, untuk kalian yang ninggalin komen negatif di akun othor ini. Othor hanya mendoakan semoga kalian sehat selalu dan di jauhkan dari penyakit hati yang bisa merusak hidup kalian, Aamiin.
HAPPY KIYOWO BESTIE 🤎