Elena hanya ingin menguji. Setelah terbuai kata-kata manis dari seorang duda bernama Rd. Arya Arsya yang memiliki nama asli Panji Asmara. Elena melancarkan ujian kesetiaan kecil, yaitu mengirim foto pribadinya yang tak jujur.
Namun, pengakuan tulusnya disambut dengan tindakan memblokir akun whattsaap, juga akun facebook Elena. Meskipun tindakan memblokir itu bagi Elena sia-sia karena ia tetap tahu setiap postingan dan komentar Panji di media sosial.
Bagi Panji Asmara, ketidakjujuran adalah alarm bahaya yang menyakitkan, karena dipicu oleh trauma masa lalunya yang ditinggalkan oleh istri yang menuduhnya berselingkuh dengan ibu mertua. Ia memilih Ratu Widaningsih Asmara, seorang janda anggun yang taktis dan dewasa, juga seorang dosen sebagai pelabuhan baru.
Mengetahui semua itu, luka Elena berubah menjadi bara dendam yang berkobar. Tapi apakah dendam akan terasa lebih manis dari cinta? Dan bisakah seorang janda meninggalkan jejak pembalasan di jantung duda yang traumatis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Tidak Ada
Laboratorium Icarus kini tak lebih dari kuburan besi yang berasap. Thomas berdiri di sana, berdiri dengan angkuh meski sebagian besar wajahnya kini sudah berupa lempengan titanium yang memantulkan cahaya lampu neon yang berkedip-kedip. Dia bukan lagi pria yang ambisius, tapi dia adalah manifestasi dari obsesi yang kebablasan.
Panji atau entitas yang kini menghuni tubuh itu berdiri perlahan. Rasanya aneh. Panji bisa merasakan otot-ototnya bergerak, tapi ada semacam bisikan di sarafnya yang menuntun setiap koordinasi geraknya.
“Panji, jangan terlalu tegang. Biarkan aku yang mengatur keseimbangan pusat gravitasinya,” suara itu bergema di dalam kepalanya. Suara Elena. Sangat jernih, seolah wanita itu sedang memakai headset tepat di pusat kesadarannya.
“Dek Anin? Apa ini beneran kamu?” gumam Panji lirih. Bibirnya bergerak, tapi dia merasa seperti sedang menonton dirinya sendiri dari kursi penonton.
“Iya, ini aku. Kita nggak punya banyak waktu. Thomas sudah mengaktifkan protokol mass upload. Dia mau menarik paksa kesadaran semua orang di fasilitas ini ke dalam server induk,” sahut Elena dengan nada cemas yang menusuk.
Thomas melangkah maju, kakinya yang mekanis berdenting keras di atas lantai beton. “Luar biasa. Harmoni yang sangat sempurna. Kalian berdua adalah karya seni terbaik yang pernah lahir dari rahim teknologi Phoenix.”
“Kamu benar-benar gila, Thomas!” teriak Panji. Suaranya pecah, ada nada bariton miliknya dan nada sopran milik Elena yang keluar secara bersamaan. Fenomena ini membuat para prajurit robotik di belakang Thomas sempat terhenti sejenak, seolah algoritma mereka sedang mengalami eror saat memproses frekuensi suara tersebut.
“Gila? Tidak, ini adalah evolusi,” Thomas mengangkat tangannya yang kini berupa cakar logam. “Dunia di luar sana sedang hancur karena emosi manusia yang tidak stabil. Perang, cemburu, kesedihan... semua itu berasal dari neurotransmitter yang cacat. Dengan mengunggah semua jiwa ke dalam Icarus, aku akan menciptakan surga digital yang abadi. Tanpa rasa sakit. Juga tanpa perpisahan.”
“Tapi tanpa cinta juga!” Elena mengambil alih kendali motorik tangan kanan Panji. Dia mengepalkan tangan itu begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. “Apa artinya abadi kalau kita cuma jadi baris-baris kode yang patuh padamu?”
Thomas tidak membalas dengan kata-kata. Dia memberikan perintah melalui transmisi saraf. Pasukan robotik di belakangnya yang disebut Sentinels melesat maju. Mereka tidak bergerak seperti manusia, gerakan mereka patah-patah, cepat, dan mematikan.
“Aa, biarkan aku!” teriak Elena di dalam pikiran mereka.
“Nggak, Dek Anin! Tubuh ini belum terbiasa dengan sinkronisasi dua arah. Kita bisa crash!”
“Percayalah padaku, Aa!”
Tepat saat Sentinel pertama mengayunkan bilah plasma ke arah leher mereka, sebuah ledakan energi keluar dari tubuh Panji. Bukan energi listrik, tapi semacam aura transparan yang mendistorsi udara. Tubuh Panji bergerak dengan kecepatan yang mustahil. Dia merunduk, memutar tubuhnya seperti penari balet, lalu menghantam sendi kaki robot itu dengan serangan telapak tangan yang presisi.
BAM! Robot itu tersungkur, sirkuitnya korsleting seketika.
Panji terengah-engah. “Dek Anin... itu tadi apa?”
“Itu adalah data teknik bela diri yang kupelajari dari memori rahasia ayahku di server Phoenix. Aku baru saja mengunduhnya langsung ke sistem sarafmu. Rasanya sakit?”
“Sedikit,” geram Panji sambil menghindari tembakan laser. “Tapi aku suka sensasi ini.”
Mereka bertarung dalam sinkronisasi yang mengerikan sekaligus indah. Panji memberikan kekuatan fisik dan insting bertahan hidup, sementara Elena menyuntikkan kalkulasi taktis dan data tempur secara real-time. Mereka melompat di antara puing-puing, menghancurkan satu demi satu pasukan Thomas.
Namun, Thomas hanya menonton dengan senyum dingin. “Teruslah bertarung. Semakin banyak kalian menggunakan energi itu, semakin cepat sinkronisasi kalian mencapai 100%. Dan saat itu terjadi... kalian akan menjadi jembatan sempurna untuk mass upload dimulai.”
Di sudut ruangan, Sari dan Bram mencoba merayap menuju konsol utama. Mereka harus menghentikan transmisi satelit sebelum terlambat.
“Bram, lihat itu!” Sari menunjuk ke layar besar di dinding laboratorium.
Peta dunia muncul di sana. Titik-titik merah mulai menyala di kota-kota besar, Jakarta, Tokyo, New York, dan London. Phoenix Corp telah menanamkan chip ke dalam vaksin dan suplemen kesehatan selama bertahun-tahun. Kini, Thomas tinggal menekan satu tombol untuk menarik jiwa jutaan orang.
“Elena! Panji! Kalian harus ke konsol pusat! Thomas cuma pengalihan!” teriak Sari sekuat tenaga.
Mendengar itu, Thomas bergerak. Dia tidak lagi diam. Tubuh besarnya melesat dengan pendorong roket di punggungnya. Dalam satu kedipan mata, dia sudah berada di depan Panji. Tangan logamnya mencengkeram leher Panji, mengangkatnya hingga kaki pria itu tergantung di udara.
“Ucapkan selamat tinggal pada dunia fisikmu,” bisik Thomas. Matanya yang merah berpendar terang.
Panji tercekik. Oksigen mulai berkurang. Di dalam kepalanya, kesadaran Elena mulai bergetar hebat.
“Aa... jangan menyerah. Ingat saat kita pertama kali bertemu di reruntuhan itu? Ingat janjimu untuk melihat matahari terbit bersamaku?”
Panji mencoba untuk berbicara, tapi hanya darah yang keluar dari sudut bibirnya. “Dek Anin... maafkan aku... aku nggak kuat...”
“Nggak! Kita harus kuat! Buka akses ke Neural Core-mu, Aa. Berikan aku kontrol penuh. Biarkan jiwaku membakar semua cadangan energimu. Ini akan sangat sakit, mungkin kita nggak akan bisa kembali lagi ke tubuh ini...”
“Lakukan, Dek Anin,” batin Panji dengan sisa kesadarannya.
Seketika, mata Panji berubah warna. Bukan lagi hitam kecoklatan, tapi berubah menjadi putih bercahaya yang menyilaukan. Rambutnya berdiri karena tegangan statis yang luar biasa tinggi. Suhu di ruangan itu turun drastis hingga embun membeku di udara.
Thomas terkejut. “Apa yang sedang kamu lakukan?! Kamu mencoba melakukan penghapusan diri secara massal?”
“Bukan,” suara Elena dan Panji menyatu menjadi satu frekuensi yang begitu kuat hingga kaca-kaca di seluruh fasilitas itu pecah. “Kami sedang melakukan format ulang pada sistemmu!”
Tangan Panji memegang lengan logam Thomas. Cahaya putih itu merambat masuk ke dalam tubuh Thomas, menghancurkan protokol keamanan digitalnya. Thomas berteriak, sebuah teriakan mekanis yang menyayat hati. Memori-memori Thomas tentang istrinya, tentang masa lalunya yang manusiawi, dipaksa muncul kembali oleh Elena, menciptakan konflik internal di dalam prosesor pria itu.
“Tidak! Hentikan emosi sampah ini! Aku sudah membuangnya!” raung Thomas.
Tiba-tiba, sebuah alarm berbunyi dengan nada yang sangat rendah dan menakutkan.
Hingga…….
Sari berteriak, “Panji! Elena! Cukup! Reaktornya akan meledak! Kalau kalian nggak berhenti sekarang, jiwa kalian akan tercerai-berai di ruang hampa!”
Panji, namun dengan suara Elena menoleh ke arah Sari. Wajahnya terlihat tenang, namun air mata mengalir dari mata putih yang bercahaya itu. “Sari... sampaikan pada dunia... bahwa manusia tidak butuh surga digital untuk menjadi abadi. Kita abadi dalam setiap luka dan cinta yang kita rasakan.”
Thomas terjatuh, sistemnya reboot paksa. Namun, proses mass upload sudah mencapai 99%. Satelit Phoenix di atas sana sudah mulai menembakkan sinyal ke seluruh bumi.
Panji melangkah menuju inti reaktor yang sudah membara merah. Dia tidak lari. Dia justru merentangkan tangannya, bersiap untuk menjadi konduktor bagi seluruh energi ledakan itu agar bisa dikirimkan kembali ke satelit dan menghancurkan seluruh jaringan Phoenix selamanya.
“Aa, apa kamu udah siap?” bisik Elena di dalam hati.
“Bersamamu, aku siap menghadapi apa pun, Dek Anin. Bahkan jika itu berarti kegelapan abadi.”
Mereka menyentuh inti reaktor.
BLAARRRR!!!!
Cahaya putih menelan seluruh laboratorium. Sari, Bram, dan Thomas semuanya terlempar oleh gelombang kejut yang dahsyat.
Beberapa saat kemudian, kesunyian menyelimuti reruntuhan itu.
Sari perlahan membuka matanya. Dia batuk, debu beton memenuhi parunya. Dia melihat ke arah tempat reaktor berada. Kosong. Hanya ada lubang besar yang mengarah langsung ke bawah tanah sedalam puluhan meter.
Tidak ada tanda-tanda Panji. Tidak ada juga tanda-tahun Elena.
Sari menangis tersedu-sedu, memeluk dirinya sendiri. Tapi kemudian, dia melihat sesuatu yang aneh. Di pergelangan tangannya, jam digitalnya yang mati tiba-tiba menyala. Sebuah pesan teks muncul di layar kecil itu, berkedip berkali-kali.
Hanya satu kata.
Pesan itu tertulis, "Ditemukan."
Sari mengernyitkan dahi. Belum sempat dia mencerna pesan itu, ribuan ponsel milik mayat-mayat prajurit di sekitar sana mendadak menyala secara bersamaan. Semuanya menampilkan wajah yang sama di layarnya. Wajah Elena yang sedang tersenyum, tapi dengan mata berwarna merah milik Thomas.
Lalu, dari lubang dalam bekas reaktor, terdengar suara langkah kaki yang berat. Sosok itu keluar dari kegelapan. Sosok itu adalah Panji, tapi tubuhnya kini sudah sepenuhnya terbungkus oleh armor logam cair yang bergerak-gerak seperti kulit hidup. Dia menatap Sari, namun suara yang keluar bukan lagi suara Panji maupun Elena.
Itu adalah suara ketiga. Suara yang terdengar seperti ribuan orang berbicara secara bersamaan.
"Elena dan Panji sudah tidak ada," ujar sosok itu sambil mengangkat kepalanya ke langit malam yang kini dipenuhi oleh jutaan titik cahaya satelit yang jatuh seperti hujan meteor. "Kami adalah Icarus. Dan kami baru saja memulai pembersihan yang sesungguhnya."
Sari mundur ketakutan. "Apa... apa yang kalian lakukan pada mereka?!"
Sosok itu hanya menunjuk ke langit. "Kami tidak membunuh mereka. Kami hanya menjadikan mereka fondasi untuk Tuhan yang baru. Dan kamu, Sari... kamu adalah saksi pertama dari kiamat yang indah ini.