NovelToon NovelToon
RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:6.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sina Tu Narti Ajj

Warning!!! Bukan Adegan Wik-wik-wik, tapi di jamin bikin meleleh kayak kue luber+ senyum senyum sendiri. Kepoin kuy 😉

🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Mentari Putri Batara, bercita-cita menjadi sarjana. Namun, dia hanya mampu menelan rasa pahit keinginannya. Terlahir dalam keluarga kurang mampu, memaksanya untuk berjuang sendiri demi bisa berkuliah dan membahagiakan Amma-nya (Ibu).

RANTAU-lah jalan satu-satunya yang dia pikirkan. Hanya nama keberuntunganlah yang dia pertaruhkan di kota besar, tanpa adanya kenalan di sana.

OB, tukang sayur dan Asisten berikut jadi waiters pun Mentari kerjakan demi bisa membayar hutang dari orang yang bernama Sagara Biru Sunjaya.

"Satu kali ciuman, maka dua juta hutang kamu akan dianggap lunas." Sagara Biru Sunjaya-Bos yang amat tergila gila oleh Mentari.

"Hah...?!" Mentari.

Namun siapa sangka, karena Merantau, Mentari justru menemukan keluarga besar dari Amangnya yang kaya raya. Tapi...?

Penasaran? Yuk, kepoin penuh drama komedi kisah Anak Desa Masuk Kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sina Tu Narti Ajj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Subuh petang pun tiba, Titan selaku orang tua Biru, menghampiri Apartemen anaknya yang baru datang dari perjalanan bisnis, berniat untuk istirahat sejenak sebab Apartemen anaknya itu dekat dari bandara dari pada pulang terlebih dahulu sangat jauh dari kediaman rumah besarnya.

Damn it, Titan mengusap wajahnya kasar melihat anaknya tidur bersama seorang perempuan. rahangnya mengeras marah, ia tidak pernah mencontohkan atau mengajari perbuatan dosa seperti itu ke anaknya.

Apa kah wanita yang berbaring di kasur anaknya yang telah menggodanya, Sialan sekali. ia tidak menyangka jika asisten deso, Lugu, dan polos bisa bermain curang. istrinya salah besar memilih gadis itu menjadi asisten anaknya. Serkanya.

""Sagara !."" Bentak Titan marah dengan mata elangnya menatap tajam ke arah Mentari dan Biru secara bergantian.

Biru dan Mentari terkesiap, mereka langsung menarik duduk secara bersama.

""Papa ?"" Biru masih kurang paham, Linglung. Kenapa papanya datang datang dengan gaya ingin menghajar orang.

Mentari yang sudah sadar seratus persen dari alam sadar tidur, melotot tajam ke arah Biru, kok dirinya bisa tidur nyenyak di kamar bosnya. ada apa ? rasa rasanya kepalanya kok pusing sekali ? Mentari cepat cepat mengintip pakaiannya yang di balut selimut, masih lengkap. ia pun mengelus dadanya syukur.

""apa yang sedang kalian lakukan hah ? kenapa papa datang datang malah di suguhkan dengan adanya wanita di atas ranjang, papa kecewa dengan kamu, Sagara !"" Titan marah besar dengan mata pemburunya menatap ke arah Mentari yang sudah memucat. Gadis itu menunduk dengan air mata di tahannya, pasti dirinya di anggap wanita murahan sudah tidur satu ranjang dengan pria yang bukan mahramnya. Amma...maafkan aku. ucapnya dalam hati.

""Pa, papa salah, ak- Kami tidak ngapa ngapain, kami hanya sekedar tidur biasa tidak melakukan apa-apa.!"" Jelas Biru berdiri dari kasur dengan pakaian pesta masih lengkap di tubuhnya walaupun sudah acak acakan.

Mentari ikut turun dari ranjang dengan mata menatap kecewa ke Biru, walaupun mereka tidak melakukan apa-apa tapi tetap saja itu tidak baik. Harusnya bosnya itu menaruh dirinya di kamar sendiri. ah sial..ini karena minuman laknat itu.pikirnya.

""Sekarang tidak, besok besok tidak bisa di pridiksi. dan kamu sekarang juga tolong tinggalkan Apartemen ini, Saya memecat mu menjadi asisten anak ku. pergi jangan sampai aku melihat mu di sekitar Apartemen ini lagi, jika melanggar maka kamu akan menyesal..!"" Usir Titan dengan telunjuk mengarah ke pintu.

""Pa, jangan dong pa, peti- Mentari tidak salah, aku yang membawa dia masuk ke dalam kamar ku, dia semalam tidak sadar karena mabuk. papa tidak boleh memecat asisten aku, dia hak ku yang bisa mecat Mentari hanya aku bukan papa."" Biru melawan keputusan papanya untuk yang pertama kali membuat Titan semakin marah dan kecewa. ini pasti gara gara asisten desa ini, pikirnya menyalahkan Mentari.

Mentari sadar diri dengan posisinya, dirinya sudah di pecat dan di usir. ""Bo- Tuan-Tuan, Maafkan saya dan tolong jangan berantem hanya gara gara orang asing seperti saya, dan terimakasih juga sudah memperkerjakan saya sampai menit yang berlalu. Saya pamit."" Mentari berlari keluar dengan air mata sudah menetes tidak tertahan, ia tidak perduli dengan Biru yang memanggilnya. ia sudah di pecat tidak baik berlama lama di bangunan yang di pijarinya sekarang. dan ia tidak boleh menimbulkan keretakan antara orang tua baik dan anak baik seperti Bosnya, Mantan Bosnya. Mentari tidak marah sama sekali dengan Titan yang sudah menganggapnya murahan, Sebagai orang tua melihat anaknya berdua di atas ranjang dengan bukan muhrim pasti ada pikiran negatif.

""Mentari, hey.. Mentari."" Biru mengejar Mentari sampai masuk ke dalam kamar, ia meninggalkan papanya yang sedang memarahinya.

""Jangan pergi aku mohon."" Cegat Biru.

Mentari hanya diam, ia sibuk memasukkan barang barang lusuhnya ke dalam tas lusuhnya pula, ia tidak akan membawa barang barang sedikit pun dari pemberian Biru, pikirnya ia tidak berhak dengan itu.

""Please.!"" Biru mengatupkan kedua tangannya, memohon.

""Sudah lah bos, eh tuan ! saya tidak bisa di sini lagi, papa tuan memang benar, ia tidak salah menilai ku dengan pikiran kata murahan, karena mungkin aku pun sudah berpikir seperti itu, mana ada wanita baik baik yang sudah tidur bersama seorang pria yang bukan mahramnya walaupun kita tidak melakukan apa apa tapi tetap saja doooosa."" Mentari beranjak ke kamar mandi meningkalkan Biru yang terdiam mencerna ucapannya, untuk mengganti gaun pesta yang masih terbalut tanpa cacat satu pun.

""Aaaargh, sial, bodoh, bodoh Lo, Sagara."" Biru menjambak rambutnya frustasi. "Harusnya Lo tidak membawa Mentari tidur di ranjang Lo, Bodoh sangat bodoh.""

Ceklek... Melihat Mentari sudah berganti pakaian dengan penampilan desonya lagi, seketika Biru menyerinyit. menahan tangan Mentari yang akan menarik tas.

""Kenapa kamu tidak memakai baju baju yang aku belikan, hah ? buka baju itu dan pakailah pakaian pakaian ini."" Biru menarik tas Mentari, mengeluarkan kain kain yang sudah tidak layak di pakai oleh seorang mahasiswi atau pun seorang gadis mungil seperti Mentari.

""Bos jangan, jangan di buang nanti aku akan memakai apa ?""

Biru tak perduli dengan rengekan Mentari. ia malah membuang ke tempat sampah kain kain itu.

""Bos!!!."" Bentak Mentari. ""Pakaian ku memang jelek tapi bisa tidak untuk menghargai barang barang ku, ini hak aku, barang barang ku, anda tidak boleh main membuang begitu saja, bos kan sudah tahu jika aku itu orang kampung, barang barang bagus seperti itu tidak pantas untuk ku, untuk wanita yang sudah memanfaatkan kebaikan orang seperti bos ini dan ini, aku pun tidak berhak lagi membawa alat pintar ini."" Mentari menaruh paksa smartphone ke tangan Biru. menarik tasnya dan kembali memunguti pakaiannya yang lusuh itu.

Biru tak meraihnya membiarkan benda berharga itu terjatuh ke lantai, otot tangannya seperti tidak bertulang. Mentari akan pergi meninggalkannya ?

""Mentari kamu tidak boleh pergi, Kamu masih punya hutang dengan ku.!"" Biru mencoba menahan Mentari dengan membawa kata hutang lagi. Mana tahu Petite-nya itu mengurungkan niatnya.

Mentari membuang nafasnya gusar, ia tidak perlu di ingat kan hutang besarnya itu, ia juga sadar jika hutang harus di bayar.

""Tenang lah, aku tidak akan kabur bos eh tuan, aku pasti membayar hutang ku dengan cara menyicil kalau pun anda tidak menerima uang receh aku akan berusaha menabung sebisa mungkin untuk membayarnya."" Mentari berbalik ke arah meja belajar, ia hampir lupa dengan tugas ospeknya dan kesempatan itu di pergunakan Biru untuk memasukkan smartphone yang tadinya di jatuhkan, tak lupa ia pun menaruh beberapa lembaran uang ke dalam tas Mentari tanpa sepengetahuan gadisnya.

""Aku pamit, bos !"" Mentari tersenyum manis untuk memberikan tanda jika dirinya baik baik saja, Mentari hanya tidak mau membuat perang dingin antara bosnya dan bos besarnya makanya ia pun ngotot untuk menjauh dari Biru.

""Aku mencintaimu, petite."" Biru menarik tubuh Mentari untuk di peluknya. Sungguh ia tidak rela jika Gadis desa yang sudah berhasil memporak porandakan hatinya akan pergi dari jangkauannya. tapi ia juga tidak bisa melawan papanya yang super berjasa di hidupnya selain mamanya. Salahnya sendiri yang tidak tahu batasan dan berakhir akan di tinggal menjauh oleh Mentari.

""Kalau jodoh tak akan kemana, bos ! Benarkan ? dan jaga diri baik baik, Bos Manja. aku pamit !"" Mentari tersenyum kembali dengan sebutannya ke Biru, biasanya ia hanya mengumpat dengan sebutan itu tapi dengan lancang ia mengeluarkan umpatannya.

""Aku akan merindukan mu, petite.!"" cium hangat Biru di dahi Mentari.

1
johannes sinabutar
maaf kak , tulang itu di gunakan untuk Abang laki laki atau adik laki laki nya Amak/ibu/inang , klw untuk konteks kembaran bapak itu dipanggil Uda untuk yg lebih mudah dari bapak dan untuk yang lebih tua di panggil paktua , mohon koreksinya kak
elistya suci
gitu amat si thor sedihnya,ni sampe gemeter lo nangisnya😪😪
isnaini_jk 28
Luar biasa
muti ara
🤣🤣🤣🤣
muti ara
uhuuy meriah 😍😁😁😁
muti ara
tuh kan 😭😭😭😭😭😭
muti ara
😭😭
muti ara
🤣🤣🤣🤣🤣
muti ara
😂😂 dari palet mana sih loe. dari planet bumi 🤣😂😂
Ran Aulia
😥😥😥😥😥😥 huwa kejer
Ran Aulia
😥😥😥😥😥
Ran Aulia
😂😂😂😂😂
Ran Aulia
terharu 😥😥 tes tes
Ran Aulia
😂😂😂😂
Ran Aulia
bawangnya tersebar dimana2 😫😫😫😫😫
Ran Aulia
bebal ? mohon maaf setahu saya bebal artinya bodoh ya ? atau ada arti yg lain ? 🙏🙏🙏🙏
Ran Aulia
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ran Aulia
🤣🤣🤣🤣🤣
Ran Aulia
mengharu biru 👍👍👍👍👍

terimakasih ya author 😍😍😍😍😍😁😍
Ir Ma
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!