Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”
Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.
Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Dalam bayangan
Adzan subuh berkumandang ketika Raina terbangun. Ia melakukan rutinitas ibadahnya, shalat lalu mengaji sebentar. Ketika ia selesai, jam masih menunjukkan 05.20. Di ranjang VVIP, Julian masih tertidur lelap—napas teratur, wajahnya jauh lebih tenang daripada beberapa hari lalu ketika ia koma.
Waktu bergerak perlahan hingga pukul 06.00.
Julian mulai membuka mata.
Raina sigap menghampirinya. “Pagi, Julian. Tidurnya nyenyak?”
Julian hanya mengangguk kecil, menahan karakter asli yang jauh lebih dingin daripada yang ia tampilkan di depan perempuan itu. Setelah sarapan sederhana yang disiapkan perawat, Raina meminta izin pulang.
“Aku harus bukain warung dulu,” katanya, tersenyum canggung. “Nanti malam, sekitar jam tujuh atau delapan, aku balik lagi.”
Julian membiarkannya pergi, hanya menjawab dengan anggukan.
Begitu pintu tertutup, ketenangan kamar itu terasa berbeda—sunyi, tapi menekan.
Julian termenung lama. Ia memperhatikan sekitar: fasilitas mewah, peralatan medis paling mutakhir, aroma antiseptik yang khas.
Raina… membayar semua ini?
Dia mengingat pembawaan Raina: sederhana, penampilannya biasa saja, dan mengelola warung makan kecil. Tidak masuk akal ia mampu membayar kamar VVIP berhari-hari.
Tidak. Seseorang pasti mengurus administrasinya. Daniel?
Jika Daniel sudah menemukannya—kenapa tidak muncul?
---
Menjelang siang, pintu akhirnya diketuk pelan.
Sosok tinggi berjas gelap masuk terburu namun tetap menjaga wibawa.
“Julian.”
Nada suara itu membuat Julian menegakkan tubuh. “Daniel.”
Daniel menghampirinya. Raut wajahnya mencerminkan kelegaan yang amat sangat, tapi juga kemarahan terpendam.
“Gott… akhirnya.” Daniel mengembuskan napas panjang. “Kau sadar. Kau benar-benar sadar.”
Ia menatap Julian dari ujung kepala hingga kaki, memastikan tak ada luka tambahan. “Aku hampir kehilanganmu.”
Julian menjawab dengan senyum samar yang hanya dipahami Daniel. “Kau lambat datangnya.”
“Aku mencarimu selama berhari-hari hampir tanpa tidur,” Daniel membalas cepat. “Kau ditemukan jauh… terlalu jauh dari lokasi kecelakaan. Itu saja sudah membuat semuanya mencurigakan.”
Julian meneguk ludah. “Ceritakan.”
Daniel duduk. Suaranya turun menjadi bisikan gelap.
“Mobilmu baik-baik saja, tidak ada kerusakan rem. Tapi seseorang menabrakmu dari samping dengan kecepatan tinggi. Bukan kecelakaan acak.”
Matanya mengunci mata Julian. “Dan yang paling janggal: kau dipindahkan dari lokasi kecelakaan ke Bogor. Bukan dibiarkan di jalan. Kau dipindahkan, Julian. Seolah seseorang ingin kau mati tapi tidak ingin tubuhmu langsung ditemukan.”
Julian menegang.
Ia teringat cerita dari Raina—bagaimana ia menemukannya di dalam plastik sampah besar di pinggir jalan gelap.
"Di buang" Ucap Julian dengan tatapan dingin yang menusuk.
“Ya.” Daniel mengangguk. “Dan jelas… ada niat menjauhkanmu dari pertolongan.”
Hening beberapa detik.
“Vivienne?” suara Julian melemah.
Daniel menatap ke bawah. “Hilang. Sampai sekarang. Timku dan asistennya sedang mencarinya, tapi belum ada jejak.”
Julian memejamkan mata sesaat. “Temukan dia. Hidup atau mati.”
“Akan kulakukan.” Daniel mencondongkan tubuh, menatap Julian tajam.
“Tapi ingat satu hal: jangan biarkan siapa pun tahu kalau kau masih hidup. Bahkan Vivienne sekalipun.”
Julian tersentak kecil. “Kenapa?”
“Karena kita belum tahu siapa lawan dan siapa kawan. Keadaanmu sekarang lebih aman jika orang orang itu mengira kau sudah ‘ mati’. Sampai kita tahu siapa yang mencoba membunuhmu, rahasia ini harus tetap dijaga.”
Julian akhirnya mengangguk. “Baik.”
---
Menjelang sore, tiga polisi datang ke rumah sakit. Mereka adalah tim yang menangani kasus “penemuan korban tidak dikenal” yang ditemukan oleh Raina. Mereka belum tahu siapa Julian sebenarnya.
Saat langkah mereka terdengar di lorong, Daniel langsung bersembunyi. “Aku harus bersembunyi. Jika mereka tahu kau punya seseorang yang menjagamu, itu bisa menimbulkan pertanyaan.”
“Pergi,” ucap Julian cepat.
Daniel menghilang melalui pintu servis.
Tak lama, tiga polisi itu masuk.
“Sore, Tuan. Kami dari Polres Bogor. Kami mendapat informasi Anda sudah cukup stabil untuk dimintai keterangan.”
Julian memasang ekspresi kebingungan yang natural, sesuai rencana. “Saya… akan mencoba. Saya hanya ingat sedikit.”
Polisi mencatat.
“Nama Anda?”
“Julian. Hanya itu yang saya ingat pasti.”
“Kami menemukan Anda di kawasan sepi, dibungkus plastik besar. Apa Anda ingat kenapa bisa sampai di sana?”
Julian menunduk, pura-pura menekan pelipis. “Saya… hanya ingat saya sedang ke Bandung. Berniat akan liburan bersama tunangan saya. Tapi saat saya kembali dari bandara terjadi sebuah kecelakaan.Setelah itu… gelap.”
“Tunangan Anda di mana sekarang?”
“Di Singapura. Cuaca buruk, penerbangannya tertunda. Harusnya dia menyusul. Saya tidak tahu apa dia sudah sampai atau belum.”
Para polisi saling pandang.
“Apakah Anda ingat ada yang mengejar Anda? Atau seseorang yang mencurigakan?”
Julian menggeleng cepat. “Tidak ingat.”
Setelah mengajukan beberapa pertanyaan dasar, polisi akhirnya berkata, “Jika ingatan Anda kembali atau ada detail baru, mohon hubungi kami. Kami akan terus menyelidiki siapa yang melakukan ini.”
Julian mengangguk.
Polisi pamit dan pergi.
Begitu langkah mereka menjauh, pintu samping terbuka perlahan. Daniel muncul kembali.
“Mereka percaya?”
“Untuk saat ini,” jawab Julian pendek.
Daniel berdiri di samping tempat tidur, menatap jendela yang mulai gelap.
“Ini baru permulaan, Julian. Seseorang mencoba menghilangkanmu.”
Julian menatap Daniel, dingin namun terkontrol.
“Dan kita akan mencari tahu siapa.”