ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 15: Penjara di Atas Samudra.
Speedboat bermesin ganda itu membelah ombak Laut Jawa dengan kecepatan yang memekakkan telinga. Di belakang mereka, cakrawala masih menyisakan rona merah dari api yang melahap sebagian kediaman megah Alaska. Namun, bagi Alaska, api yang paling panas justru berkobar di dalam dadanya.
Ia duduk di kursi kemudi, jemarinya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Sesekali ia melirik ke arah kursi penumpang melalui spion. Sania duduk di sana, tenang seperti permukaan danau di pagi hari. Tidak ada jeritan histeris, tidak ada tuntutan penjelasan, hanya gerakan bibir yang samar—berzikir.
"Kau tidak takut mati?" tanya Alaska tiba-tiba, suaranya parau, berusaha mengalahkan deru mesin.
Sania menoleh sedikit, meski wajahnya tertutup cadar, matanya memancarkan kedamaian yang asing bagi Alaska.
"Kematian adalah gerbang pertemuan dengan Sang Pencipta, Tuan. Yang saya takutkan hanyalah jika saya menghadap-Nya dalam keadaan tidak membawa apa-apa selain dosa."
Alaska mendengus sinis, meski hatinya mencelos.
"Kau hampir kehilangan nyawamu karena kebodohanmu membantu pengawal tadi. Jika aku tidak menarikmu, ledakan kedua akan menghancurkan kakimu."
"Dan jika saya tidak membantu pengawal itu, mungkin hatinya akan mati sebelum raganya. Luka di kakinya bisa sembuh, Tuan. Tapi luka di jiwanya karena merasa dibuang oleh tuannya sendiri? Itu akan membekas selamanya," jawab Sania lembut namun telak.
Alaska memilih bungkam. Ia mengarahkan kapal menuju sebuah titik kecil di radar. Sebuah pulau pribadi yang tidak terdaftar di peta komersial. Pulau "Nirvana"—nama yang sarkastik bagi Alaska, karena baginya, pulau itu adalah benteng pertahanan terakhir, sebuah bunker mewah yang dikelilingi oleh air asin dan hiu-hiu lapar.
Isolasi yang Sempurna.
Fajar menyingsing saat mereka menginjakkan kaki di dermaga kayu pulau tersebut. Pulau itu indah, dengan pasir putih dan hutan tropis yang lebat, namun di tengahnya berdiri sebuah vila minimalis dengan teknologi keamanan tingkat tinggi. Kamera pengawas bergerak mengikuti setiap langkah mereka. Sensor laser tersembunyi di balik semak-semak indah itu.
"Ini rumah barumu," kata Alaska sambil melepaskan jaket taktisnya yang bernoda darah. "Di sini tidak ada akses internet untukmu, tidak ada telepon, dan tidak ada orang asing yang bisa kau temui. Hanya ada aku, Bara, dan tim keamanan inti yang sudah kupastikan loyalitasnya lewat sumpah darah."
Sania memandang berkeliling. Baginya, pulau ini indah sebagai ciptaan Tuhan, namun ia bisa merasakan aura "penjara" yang kental.
"Anda membangun surga untuk menyembunyikan neraka di dalam diri Anda, Tuan Alaska."
"Sebut sesukamu," balas Alaska dingin. "Bara, siapkan sistem pertahanan perimeter. Aktifkan protokol 'Blackout'. Tidak boleh ada sinyal keluar atau masuk tanpa izin khusus dariku."
Bara mengangguk patuh, meski matanya sempat mencuri pandang ke arah Sania. Ia masih ingat bagaimana wanita ini merobek bajunya sendiri untuk menolong rekannya semalam. Di mata para pengawal, Sania bukan lagi sekadar "istri bos", dia mulai dianggap sebagai sosok yang sakral.
Perang Dingin di Meja Makan.
Malam pertama di pulau itu terasa sangat sunyi. Hanya ada suara deburan ombak dan jangkrik hutan. Alaska duduk di meja makan panjang, menatap hidangan yang disiapkan oleh koki pribadi yang dibawa dari kota. Namun, ia tidak menyentuh makanannya.
Sania masuk ke ruang makan dengan pakaian yang lebih sederhana namun tetap tertutup rapat. Ia duduk di ujung meja yang jauh dari Alaska.
"Makan!" perintah Alaska singkat.
"Saya sudah makan sedikit tadi di dapur, Tuan. Terima kasih," jawab Sania.
"Aku tidak suka dibantah. Duduk dan makan bersamaku!"
Sania menurut, ia duduk namun tidak membuka cadarnya. Alaska memperhatikannya dengan intens.
"Sampai kapan kau akan memakai kain itu di depanku? Aku suamimu. Secara hukum dan... mungkin, secara paksa."
"Sampai Anda bisa melihat saya sebagai manusia, bukan sebagai aset atau titik lemah yang harus Anda sembunyikan," jawab Sania tenang. "Selama Anda memandang saya dengan mata seorang mafia yang penuh curiga, maka cadar ini adalah pelindung martabat saya."
Alaska meletakkan garpunya dengan denting yang keras.
"Kau bicara tentang martabat? Di luar sana, orang-orang menginginkan kepalamu hanya karena kau milikku! Kau aman di sini karena aku, Sania! Tanpa aku, kau hanya akan menjadi debu di tangan Scorpion."
"Keselamatan datang dari Allah, Tuan. Anda hanya perantara."
Sania menatap lurus ke arah Alaska.
"Dan tahukah Anda mengapa Scorpion mengincar saya? Bukan karena mereka membenci saya. Tapi karena mereka tahu, di balik dinding ego Anda yang setinggi gunung ini, ada satu ruang kecil yang Anda sebut 'takut kehilangan'. Mereka menyerang rasa takut Anda, bukan menyerah raga saya."
Kata-kata itu menghujam jantung Alaska. Ia berdiri, menghampiri Sania dan membungkuk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Sania bisa mencium aroma maskulin bercampur tembakau dan sisa-sisa bubuk mesiu dari tubuh Alaska.
"Jangan pernah merasa kau mengenalku, Sania," bisik Alaska dengan suara mengancam. "Aku tidak punya rasa takut. Aku menghancurkan musuh-musuhku sebelum mereka sempat bermimpi untuk menyentuh apa yang menjadi milikku."
"Lalu mengapa tangan Anda masih bergetar?" tanya Sania pelan.
Alaska tersentak. Ia melihat tangannya sendiri yang bertumpu di meja. Benar. Ada getaran halus di sana. Getaran yang tidak pernah ia rasakan bahkan saat ia harus mengeksekusi pengkhianat di depan matanya. Getaran itu adalah sisa dari kepanikan semalam saat ia melihat atap runtuh hampir mengenai Sania.
Ia segera menarik tangannya dan berjalan keluar menuju balkon, meninggalkan Sania dalam keheningan yang menyesakkan.
Bayang-bayang di Balik Pohon Kelapa.
Sementara itu, di markas sementara Scorpion yang terletak di sebuah gudang tua di pelabuhan kota, sang pria dengan bekas luka—yang kini diketahui bernama Dante—tengah menatap layar monitor yang menampilkan citra satelit pulau pribadi Alaska.
"Dia masuk ke lubang tikusnya," ujar Dante sambil menyeringai. "Dia pikir laut adalah pelindung. Dia lupa bahwa laut adalah kuburan yang paling luas."
"Tuan, sistem mereka tidak bisa ditembus lewat udara atau laut tanpa terdeteksi radar," lapor salah satu anak buahnya.
Dante tertawa pelan. "Kita tidak akan menyerang dengan kapal perang. Kita akan menggunakan apa yang tidak dimiliki Alaska: Pengabdian tanpa pamrih. Cari tahu tentang keluarga dari para pengawal yang dia bawa ke pulau itu. Setiap manusia punya harga. Dan setiap loyalitas punya titik retak."
Dante membelai foto Sania yang diambil secara diam-diam saat Sania sedang menyiram bunga di panti asuhan beberapa waktu lalu.
"Wanita ini... dia berbeda. Dia adalah jantung dari sang naga. Jika kita merobek jantungnya, naga itu akan mati dengan sendirinya tanpa perlu kita tebas lehernya."
Cahaya Fajar dan Diskusi Hati.
Hari ketiga di pulau, Alaska terbangun karena suara yang tidak biasa. Bukan suara alarm, bukan suara tembakan, melainkan suara lantunan ayat suci yang sangat merdu dari arah dermaga.
Ia berjalan keluar dengan kemeja yang tidak dikancingkan, mengikuti asal suara tersebut. Di ujung dermaga, di bawah cahaya fajar yang keunguan, Sania sedang duduk di atas sajadah kecilnya. Ia baru saja menyelesaikan salat Subuh dan sedang membacakan surah Ar-Rahman.
Alaska terpaku di balik pohon palem. Ia belum pernah mendengar suara yang begitu murni. Suara itu seolah-olah menyapu debu-debu kekejaman yang menumpuk di telinganya selama bertahun-tahun. Untuk sejenak, ia lupa bahwa ia adalah seorang ketua kartel yang tangannya berlumuran darah.
Sania menyadari kehadiran Alaska setelah ia menutup mushafnya.
"Fajar di sini sangat indah, Tuan. Apakah Anda tidak ingin melihatnya?"
Alaska mendekat, duduk di kursi kayu tak jauh dari Sania.
"Aku lebih sering melihat kegelapan daripada fajar."
"Itu karena Anda selalu membelakangi matahari," jawab Sania lembut.
"Sania," suara Alaska melembut, sesuatu yang jarang terjadi.
"Mengapa kau tetap baik padaku? Aku menculikmu, memaksamu menikah, membawamu ke tengah peperangan, dan sekarang mengurungmu di pulau ini. Secara logika, kau seharusnya membenciku dengan seluruh jiwamu."
Sania menatap laut lepas. "Membenci Anda hanya akan mengotori hati saya, Tuan. Dan dalam agama saya, saya diajarkan bahwa seburuk apa pun perlakuan seseorang, tugas saya adalah tetap menunjukkan kebenaran lewat akhlak. Selain itu..." Sania menjeda kalimatnya, "...saya melihat sesuatu di mata Anda semalam saat ledakan itu terjadi."
"Apa?"
"Kemanusiaan yang sedang berteriak minta tolong. Anda memeluk saya bukan hanya untuk melindungi saya, tapi karena Anda sendiri sedang ketakutan akan kesepian. Jika saya mati, Anda tidak punya lagi cermin untuk melihat siapa diri Anda sebenarnya."
Alaska terdiam seribu bahasa. Ia merasa telanjang di depan wanita ini. Semua senjata, uang, dan kekuasaannya tidak ada artinya dibandingkan dengan ketajaman intuisi Sania.
"Aku akan pergi ke kota malam ini," kata Alaska tiba-tiba, berusaha mengalihkan pembicaraan. "Ada urusan yang harus kuselesaikan dengan Dante. Aku akan membawa sebagian besar pasukan. Kau akan di sini bersama Bara dan sepuluh orang pengawal."
Sania merasakan firasat buruk.
"Jangan pergi dengan dendam, Tuan. Dendam adalah api yang akan membakar pembawanya sebelum membakar musuhnya."
"Ini bukan dendam, Sania. Ini bisnis," jawab Alaska tegas sambil beranjak pergi.
Namun, langkahnya terhenti. Tanpa berbalik, ia berkata, "Doakan aku... jika kau memang percaya doamu punya kekuatan."
Sania tersenyum di balik cadarnya.
"Saya selalu mendoakan Anda, bahkan sebelum Anda memintanya."
Jebakan yang Terbuka.
Malam itu, Alaska berangkat dengan dua speedboat tempur. Pulau itu kini terasa lebih sunyi. Bara berpatroli dengan kewaspadaan tinggi.
Di kamarnya, Sania tidak bisa tenang. Ia terus memutar tasbihnya. Tiba-tiba, lampu di vilanya berkedip. Satu kali. Dua kali.
Sania berdiri. Ia teringat kata-kata Alaska tentang sistem 'Blackout'. Harusnya lampu tidak berkedip jika sistem cadangan bekerja dengan benar. Ia berjalan menuju jendela dan melihat ke arah hutan.
Di sana, ia melihat titik-titik cahaya kecil yang bergerak cepat. Bukan kunang-kunang. Itu adalah laser bidik dari senapan runduk.
"Bara!" teriak Sania sambil berlari keluar kamar.
Namun, sebelum ia mencapai pintu, sebuah ledakan kecil menghancurkan panel listrik utama di lorong. Keadaan menjadi gelap gulita. Sania mendengar suara baku tembak di luar.
"Nyonya! Tetap di dalam!" suara Bara terdengar dari interkom yang masih menyala dengan baterai cadangan. "Ada penyusup! Mereka datang dari bawah air menggunakan skuter selam!"
Sania jatuh terduduk. Ia tahu, ramalan Dante benar. Alaska telah terpancing keluar, meninggalkan "permata"nya dengan penjagaan yang melemah. Namun, di tengah ketakutan itu, Sania tidak menangis. Ia segera memakai mukenanya yang paling tebal di atas gamisnya, mengambil mushaf kecilnya, dan berlutut di sudut ruangan.
"Ya Allah, jika ini adalah akhir dari perjalanan saya, izinkan saya pergi dalam keadaan rida. Namun jika Engkau masih memberi saya kesempatan, jadikanlah saya jalan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang tersesat ini," bisiknya dalam tangis.
Di luar, suara langkah sepatu bot terdengar di lantai marmer. Pintu kamar Sania didobrak dengan keras.
Seorang pria dengan pakaian selam hitam dan topeng tengkorak masuk. Ia menodongkan senjatanya ke arah Sania.
"Akhirnya... perhiasan Alaska ada di tanganku."
Namun, pria itu tertegun sejenak. Sania tidak lari. Ia tidak memohon ampun. Ia hanya menatap moncong senjata itu dengan mata yang sangat tenang, seolah-olah senjata itu hanyalah mainan plastik.
"Silakan, jika itu memang perintah Tuhanmu," ujar Sania dengan nada yang sangat datar.
Ketenangan Sania justru membuat penyusup itu ragu sejenak. Dan di saat keraguan itu muncul, sebuah tembakan menyalak dari arah jendela. Pria bertopeng itu tumbang.
Alaska berdiri di sana, di ambang jendela yang hancur, dengan napas tersengal dan baju yang basah kuyup oleh air laut. Ternyata, ia tidak pernah benar-benar pergi ke kota. Ia tahu itu adalah jebakan, dan ia menggunakan dirinya sendiri sebagai umpan untuk memancing keluar tim elit Dante yang bersembunyi di sekitar pulau.
Alaska melompat masuk, langsung memeluk Sania yang masih berlutut.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan suara gemetar yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.
Sania menatap suaminya. "Anda kembali?"
"Aku tidak bisa membiarkan doamu hilang dari dunia ini," jawab Alaska pelan.
Namun, di tengah momen itu, radio di saku Alaska berbunyi. Suara Dante terdengar tertawa di sana.
"Hebat, Alaska. Kau menyelamatkan istrimu. Tapi lihatlah ke arah dermaga. Aku tidak butuh istrimu jika aku bisa menghancurkan seluruh duniamu dalam satu ledakan."
Alaska melihat ke luar jendela. Sebuah kapal tanker kecil yang sudah dipasangi bom bunuh diri sedang melaju kencang menuju tangki penyimpanan bahan bakar di pulau itu. Jika itu meledak, seluruh pulau akan menjadi abu.
__Sering kali, Tuhan membiarkan kita merasa terpojok di dalam kegelapan, bukan untuk membiarkan kita hancur, melainkan agar kita menyadari bahwa hanya Cahaya-Nya yang tidak pernah padam. Penjara yang paling nyata bukanlah dinding batu atau lautan yang luas, melainkan hati yang menolak untuk memaafkan dan jiwa yang sombong untuk bersujud__
Bersambung ....