Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DOKTER JUGA BISA
Raniya… Calon istriku…~ Sebuah pesan masuk dari Nathan tampak di notifikasi pada layar ponsel Raniya. Dia sedikit menghela napas berat ketika hendak meraih ponselnya di atas nakas samping tempat tidur yang saat itu ia tempati.
Kenapa, Nath? ~ Balas Raniya singkat. Raniya masih memandangi layar ponsel di aplikasi chatnya bersama Nathan. Terdapat tulisan
mengetik di bawah kontak nama Nathan. Dia menunggu tulisan apa yang akan dikirim oleh calon suaminya itu kepadanya.
Apa kamu bahagia akan menikah denganku?~ Dahi Raniya mendadak mengkerut ketika membacanya.
Tentu dong, Nath… Kamu ini bagaimana? Kenapa nanyanya begitu kepada calon istrimu sendiri? ~ Tulis Raniya dengan cepat-cepat.
Tidak, Ran… Aku takut saja kamu akan kecewa nantinya. Aku hanya seorang dokter, Raniya… Mengingat ceritamu, bahwa dulu kamu ingin dinikahi oleh seorang polisi. Aku tiba-tiba jadi kepikiran soal itu…~ Raniya menarik kepalanya ke belakang seolah terkejut.
Kepikiran apa, Nath? Kamu jangan aneh-aneh gitu, deh… Lagian, siapa pun suami aku kelak, aku ingin dia seperti ayah. Menyayangi dan
menjagaku dengan segenap jiwanya. Dan itu telah aku percayakan kepadamu seutuhnya mulai dari saat ini.
Iya, Ran… Aku janji. Aku akan menjagamu sepanjang usiaku, hingga aku tiada di bumi ini. Siapa pun yang menjadi suamimu, meski bukan aku sekalipun. Aku hanya ingin kamu bahagia… ~ Raniya menggeleng-geleng tidak
mengerti.
Kamu apaan sih, Nath…? Dari tadi lagi. Jangan aneh-aneh lah… Lima hari lagi kita nikah loh…
Hehehe… Iya, iya… Maaf, calon istriku. Tadi aku hanya kedatangan suami istri yang memeriksakan kandungan istrinya di rumah sakit. Suaminya itu polisi loh, Ran… Makanya aku kepikiran kamu. Suaminya itu baik, bisa sempetin waktunya buat nganterin istrinya itu untuk periksa kandungan.
Jadi???~ Raniya terlihat memasang wajah sewot ketika membaca pesan dari Nathan yang menceritakan kedatangan pasiennya tadi siang.
Nggak apa-apa kok, Ran… Aku Cuma mau cerita saja. Dua hari setelah pernikahan kita, prediksi hari kelahiran anaknya. Oh ya, Ran… Dia juga titip salam loh buat kamu. Tadi aku sedikit cerita tentang pernikahan kita kepada mereka.
Iya, nggak apa-apa… Nanti pas kamu ketemu dia lagi, salamin balik buat dia dari aku. Sekarang kamu tidur. Udah malam, Nath… Besok kamu bahkan masih kerja. Lah aku? Cuma dipingit seharian di rumah…~ Tulis Raniya menutup percakapan mereka lewat chat pribadi.
Hehehe… Sabar ya, calon istriku. Sebentar lagi kita akan menikah. Ya sudah, aku tidur ya… Assalamu’alaikum, calon istriku…
Iya, aku sabar kok… Wa’alaikumussalam…~ Balas Raniya. Dia tersenyum berat membayangkan sesuatu. Baru saja Raniya hendak menaruh ponselnya kembali ke atas nakas, lagi-lagi Raniya kembali mendapatkan pesan masuk dari Nathan. Dia mengurungkannya, dan segera membuka pesan itu.
Sebuah foto perempuan yang diterimanya.
Raniya… Tadi aku tidak sengaja menemukan foto pasienku itu tercecer di lantai ruang kerjaku. Ini dia, istri polisi itu. Dia cantik, bukan? Tapi kamu jauh lebih cantik bagiku, Ran… Aku melihat cinta di antara mereka.
Dia begitu istimewa diperlakukan oleh suaminya. Itu mengajarkan aku bagaimana
berlaku juga kepadamu kelak, selama aku menjadi suami kamu.
Maaf Raniya… Aku hanya ingin memberitahumu itu. Jangan cemburu aku menyimpan fotonya. Nanti pas kami ketemu lagi, aku akan mengembalikan lagi kepadanya.
Have a nice dream, Raniya…
“Semoga mimpi indah juga, Nath…” Ucap Raniya tanpa mengetiknya untuk dikirim kepada Nathan.
“Siapa dia? Kenapa jika melihatnya, aku jadi teringat seseorang?” Tanya Raniya kepada dirinya sendiri dengan nada bergumam. Dia terlalu keras untuk berpikir ketika memerhatikan foto perempuan yang dikirim Nathan, dan pada akhirnya menyerah dalam ketidaktahuan.
Raniya melihat kembali ponselnya yang masih menyala. Dia sudah tidak lagi mendapati tulisan online di pemberitahuan terakhir dilihat di kontak chatnya dengan Nathan.
“Mungkin Nathan sudah tertidur…” Pikir Raniya. Dia meletakkan ponselnya dan berbaring di tempat tidurnya yang empuk.
*****
“Sebenarnya, siapa pun kamu. Kita akan cepat lebih dekat jika kamu yang ngejar-ngejar aku adalah seorang polisi.” Ungkap Raniya kepada
Nathan. Mereka saat itu berjalan-jalan santai di jalanan desa setelah Nathan berhasil membantu persalinan seorang perempuan hamil di desa itu.
Dahi Nathan mengeriting dengan tiba-tiba ketika mendengar pengakuan Raniya yang menggelikan. “Kenapa begitu?” Tanyanya. Dia butuh alasan untuk pengakuan Raniya yang aneh dan unik bagi dirinya.
“Aku dan ayahku dulunya pernah ditolong sama seorang polisi. Kami dicegat perampok, sampai ayahku harus menerima pukulan dari mereka yang berjumlah lebih dari dua orang. Mereka sangar dan menakutkan. Aku sampai teriak dan menangis, berharap pertolongan dari Allah cepat datang. Dan ajaibnya, polisi itu datang menyelamatkan kami dengan tiba-tiba.
Polisi itu sangat baik dan pemberani. Menurut pemikiran polos ku dulu, polisi itu begitu hebat dan luar biasa. Jadi… Aku sampai berikrar ingin menikah dengan seorang polisi.” Tutur Raniya begitu detail menjelaskan
alasannya kepada Nathan.
Nathan tersenyum mendengar cerita Raniya. “Alasan kamu tepat sekali untuk menjauh dan menolak dekat denganku berkali-kali, Ran. Tapi…” Ucapan Nathan menggantung.
Raniya menghentikan langkahnya dan menatap lekat wajah bingung pemuda ber blezer putih di depannya saat itu. “Tapi kenapa, Nath?”
“Tapi… Apa itu juga alasan kamu menjadi perempuan tegas dan keras selama ini, Ran?” Tanya Nathan tampak ragu, takut kalau-kalau Raniya akan tersinggung karenanya.
Raniya menggeleng pelan.
“Lalu apa?” Desak Nathan menatap lekat wajah Raniya yang tertunduk. Baru kali itu dia melihat titik kelemahan pada perempuan di
hadapannya saat itu.
“Aku hanya punya ayah, Nath. Hanya beliau yang aku punya di dunia ini. Beliau melakukan apa pun untukku. Bahkan beliau memberi aku
dunianya. Jadi, aku bertekad menjanjikan syurga untuknya kelak. Aku juga tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan ibuku yang rela tiada demi bisa melahirkan aku ke dunia ini. Memisahkan ibuku dari ayahku. Aku harus jadi anak mereka yang baik dan menjadi perempuan yang baik-baik untuk mereka. Aku tidak ingin menyeret ayahku ke dalam neraka.” Tutur Raniya dengan air mata telah mengalir indah di pipinya yang mulus.
Nathan terdiam sesaat setelah mendengar penjelasan Raniya. Dia ikut tertunduk, tapi karena malu kepada Raniya dan dirinya sendiri, terutama kepada Tuhannya. “Maafkan aku, Ran… Tidak seharusnya pula aku bertanya tentang itu. Seharusnya aku sudah menyadari dari awal, bahwa perempuan shalihah seperti kamu tidak perlu ditanyakan tentang dirinya yang begitu tertutup untuk
aku dan kaum adam lainnya.” Ucap Nathan tampak merasa bersalah dan menyesal.
“Tidak apa, Nath… Aku juga baru sadar, ternyata tidak hanya polisi yang bisa berjasa kepada masyarakat lainnya. Seorang dokter pun juga bisa. Aku telah keliru dengan pikiranku yang tidak berubah. Konyol dan
kekanak-kanakan.” Sahut Raniya sembari mengusap air matanya yang masih berjejak
di pipinya itu.
.
.
.
.
.
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍