NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Bencana

...بسم الله الر حمن الر حم ...

..."Sandyakala" Aksa dan Amerta...

...Karya :  Ms_nyms...

***

Ting..

Tingg.. 

Ting, ting.. Ting.. Drrrt

Seluruh ponsel anggota prajurit berbunyi saat ini, mata mereka membulat sempurna setelah membaca pesan tersebut.  Reflek mereka segera berlari menyuruh warga untuk meninggalkan tempat tersebut, menjauh secepat mungkin.

"NDAANN!!! " teriak anggota nya kembali setelah kesekian kalinya, Mahija akhirnya tersadar.

Mahija yang juga membaca isi pesan tersebut pun tampak terkejut, pikiran nya sempat berantakan sejenak lalu berlari mendekati para anggota nya.  Ponselnya berdering, para warga membawa semua makanan bersama mereka dan mengikuti arahan dari salah satu anggota Mahija.

Fian juga ikut membantu para warga untuk menjauh dari tepi pantai, seluruh bapak-bapak mengawasi anak-anak untuk tetap berada di dalam pantauan. Mereka semua saling bahu-membahu membantu warga, empat orang anggota Mahija memindahkan mobil mereka ke tempat yang lebih aman.  Seluruh bapak-bapak sibuk mengawasi dan mengunci setiap rumah,  satu persatu rumah di cek apakah ada warga yang tertinggal. 

"Lapor, keadaan sudah terkendali" ucap Fian memberikan laporan pada Mahija yang masih berdiri di tembok pembatas. 

"Ndan, sudah aman..  " Yusuf yang baru saja mengecek keseluruhan setiap sudut pantai, apakah ada orang lain yang masih berada di daerah tepi pantai.

Drrrt drrrt suara ponsel berdering..

"Assalamu'alai... "

Belum usai Mahija menjawab salamnya, gempa yang diperkirakan oleh BMKG pun akhirnya datang.  Orang-orang berteriak, berlarian mencari perlindungan ke tempat yang lebih aman, sangat kencang hingga membuat tubuh Mahija, Fian, Yusuf dan beberapa anggota yang tersisa hilang keseimbangan dan terjatuh ke tanah.

"Allahuakbar..  Allahuakbar ya Allah..  "  Fian yang mencoba untuk berdiri sembari memegang lengan Mahija.

"Allahuakbar ya Allah...  "  Sahut Yusuf dan beberapa anggota lainnya. "Ya Allah, Allahuakbar! Allahuakbar!! "

"Ya Tuhaan..  Selamatkan saya" Hansen dengan keyakinannya, mencoba untuk tetap bertahan. 

Mahika melihat ke arah tepi pantai depan rumahnya, ada yang aneh menurutnya. Ia akhirnya mendekat ke arah pagar rumahnya yang menghadap ke arah tepi pantai, tidak ada satu pun warga yang berlalu-lalang seperti biasanya. Ia cukup kebingungan kemana seluruh warga atau anak-anak yang biasanya bermain,  bahkan yang sedang sekedar lewat saja.

Baru saja beberapa langkah ingin kembali duduk di teras rumahnya, langkahnya tergontai-gontai.  Keseimbangannya hilang begitu saja, hingga membuat nya terjatuh ke rumput halaman rumahnya. Lengannya terbentur pada besi ayunan rumahnya,  Mahika hampir saja hilang kesadaran karna kepalanya sedikit lagi menghantam sudut besi ayunan yang cukup tajam.

Mahika mencoba bertahan sambil bershalawat didalam hatinya, merangkak mendekati teras rumahnya.  Gempa membuatnya tidak bisa berdiri dengan sempurna,  ia merangkak sembari membereskan laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas.

Ia ingin masuk ke dalam rumah, mengambil beberapa barang berharga yang sudah di siapkan nya di dalam satu tas di kamarnya.  Namun gempa belum mereda sedikit pun, ia masih bertahan pada posisinya di teras rumah.

Mahija berlari setelah gempa sedikit mereda, secepat mungkin ia berlari ke rumah Mahika.  Fian dan anggota lainnya segera menuju ke tempat pengungsian warga, memantau dan mengamankan warga.

Mahija melompati pagar rumah Mahika yang tidak terlalu tinggi,  setelah melihat Mahika yang terduduk di teras rumahnya dengan memeluk tas laptopnya.

"MAHIKA!! " panggilnya.

Mahika hanya menoleh ke arah belakang dirinya, melihat pria yang memanggilnya itu melompati pagar rumahnya.

"AYO SEGERA MENGUNGSI,  ADA GEMPA SUSULAN SEBENTAR LAGI.  KEMUNGKINAN TSUNAMI JUGA ADA " jelas Mahija dengan tergesa-gesa. Mencoba berpikir bagaimana caranya untuk membawa Mahika secepatnya keluar dari dalam rumah ini.

"Saya mau ngambil berkas penting " ucap Mahika yang langsung di tanggapi Mahija yang berlari masuk ke dalam rumah. 

"DIMANA?? "

"TAS HITAM DIATAS LEMARI!! " teriak Mahika yang tak lama kemudian Mahija keluar membawa tas tersebut, mengunci rumah Mahika dan berlari keluar dari area rumah.

Mahika hanya mengikuti langkah Mahija yang terlalu cepat baginya,  kakinya sempat tersandung oleh baju gamis yang sedang di kenakan nya.

Mahija melihat ke belakang, Mahika tertinggal jauh dari dirinya.  Ia kembali mendekati Mahika dan mengikat sebuah tali yang terpasang di tas ke pergelangan tangan Mahika,  Mahika tampak terperanjat kaget atas perlakuan pria yang ada di hadapan nya ini.  Kembali berlari hingga akhirnya sampai di tempat pengungsian, beberapa detik sebelum gempa susulan akhirnya datang.

Warga berteriak dan saling merangkul.  Begitu pun para anggota Mahija,  Fian tampak sangat khawatir pada Mahija saat ini.

"Allahuakbar.. " Mahika mencoba berpegang pada tas yang masih di pakai Mahija.

Gempa telah reda, namun Mahija tidak mengizinkan para warga untuk beranjak dari posisi mereka sebelum ada perintah dari dirinya. Tas yang tadinya Mahija bawa, ia kembalikan pada Mahika yang kini terduduk menekuk kedua lututnya.

Drrrrt drrrrt.. 

Mahija segera mengangkat telepon masuk pada ponsel nya,  Fian mencoba melihat ke arah pantai. Mencoba mengecek apakah ada perubahan pada laut atau tidak, semoga yang di sangka-sangka tidak akan terjadi. 

"Assalamu'alaikum ndan..  "

"Waalaikumsalam,  Mahija bagaimana disana? Apakah baik-baik saja?  Bagaimana warga di sekitar sana " Komandan batalyon yang mendengar kabar bahwa Mahija dan anggota pleton nya sedang berada di daerah pesisir langsung menghubungi Mahija yang sempat terputus sambungan telpon nya.

"Siap disini aman terkendali, seluruh warga pesisir  telah diungsikan ke tempat yang lebih tinggi dan aman komandan.  Tidak ada yang terluka sedikit pun, berkat adanya kerjasama warga "

"Syukurlah,  tetap pantau.  Anggota tambahan akan menyusul kesana untuk membantu kalian. "

"Siap komandan, terimakasih"

"Kalau begitu selamat bertugas"

"Siap komandan, assalamu'alaikum"

Mahija segera menghubungi anggota pleton nya yang masih sedang berada di asrama,  mencoba menghubungi nya namun sedikit sulit karna sinyal yang terganggu.

"Hallo assalamu'alaikum..  Jal,  Rijal" panggil Mahija ketika sambung telepon terhubung.

"Waalaikumsalam ndan,  Saya sedang menuju kesana.  Tunggu ndan..  "

"Kamu bawa seluruh baju dinas anggota termasuk perlengkapan atribut kesini secepatnya nya.  Ambil dilemari masing-masing anggota termasuk senjata, minta bantuan Wisnu menyusun ke dalam tas mengerti Jal!!  "

"Siap sudah di laksanakan ndan "

Setelah menutup telpon, Mahija menghampiri Fian yang sedang memantau keadaan sekitar.  Baru 5 menit yang lalu gempa mereda, warga mulai tampak gusar dan khawatir.

Fian menatap sebuah permukiman di sebelah desa tempat mereka berada, berjarak perkiraan 4 - 5 kilometer dari desa mereka.  Cukup jauh jika berjalan kaki,  Fian menggunakan ponselnya sebagai pengganti teropong, ia menggunakan kamera ponsel nya melihat keadaan sekitar dari jauh.

Beberapa orang terlihat sedang berjalan disana, ada juga yang sedang makan atau sekedar membeli sesuatu tidak terlalu jelas dilihat dari posisinya berada. Aktivitas di desa sebelah tampaknya tidak mengetahui akan adanya tsunami, yang tidak diketahui apakah dengan gelombang tinggi atau tidak.

Mata Mahija membulat ketika sebuah gulungan ombak yang mulai membentuk gelombang mulai meninggi, Mahija langsung berteriak pada warga untuk tidak mendekati posisi Mahija dan anggota dan segera mundur menjauh.

"MENJAAUUH!!!! MENJAUH!!! " usir Mahija pada warga agar mendekati dinding perlindungan yang cukup kokoh dan tinggi.

Para warga naik ke atas bangunan yang tinggi namun tidak pada Mahija dan anggota nya yang tetap pada posisinya. Teriakan warga menyuruh Mahija dan anggota nya untuk segera naik tidak digubris sama sekali.. Mahija sadar posisi tempat mereka berdiri saat ini sudah cukup tinggi bagi mereka, mereka paham harus bagaimana nantinya.

"Allahuakbar..  "

"Allahuakbar.. "

" Allahuakbar.. "

Tangisan  mulai pecah,  para warga berteriak Sekuat-kuatnya menyuruh Mahija dan anggota nya untuk berlindung bersama mereka. Ketika gelombang tsunami mulai menyapu daratan tepi pantai, mendekati ke arah desa secara perlahan mulai membasahi daratan. 

"NAIK!!! " teriak para warga.. "NAIKK!!! "

Sama sekali tidak digubris oleh Mahija yang masih memantau rumah-rumah yang mulai basah karna air laut,  memantau setiap pergerakan air laut.

"Ndan..  "

"Tenang saja, lihat airnya tidak terlalu kencang. Ini hanya banjir gelombang air laut, tidak akan menghancurkan rumah-rumah yang ada di desa ini.  Tetap pantau desa ini di setiap sudut nya dan selalu siaga 1, cek ponsel kalian selalu." Perintah Mahija pada anggota nya "Fian dan Hansen tetap pantau dari atas, beri kode jika keadaan semakin memburuk, paham!! " Mahija dan anggotanya langsung bergerak pergi mendekat ke arah desa.

Warga yang melihat semakin histeris ketika Mahija dan anggota nya bukannya menjauh malah mendekati musibah,  mereka berteriak dan menangis sejadi-jadinya.

Fian kembali memantau dengan menggunakan kamera ponsel nya, rumah di desa sebelah ternyata sudah banyak yang hancur tersapu ombak.  Ternyata ombak disana lebih kencang, Fian baru sadar kenapa ombak di desa tempat nya berada seperti banjir.  Berkat adanya tembok pembatas, debit kecepatan ombak berkurang dan sedikit tertahan adanya tembok pembatas tepi pantai. Terlebih lagi para bapak-bapak sempat memasang tanggul goni pasir di sepanjang tembok.

"NDANN!! "

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!