Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keraguan Julian
Elena tidak sanggup lagi menatap mata cokelat Julian yang begitu intensional dari jarak semenit ini. Merasakan hawa panas yang makin membakar pipinya, wanita itu memejamkan mata rapat-rapat, lalu melontarkan rengekan kecil yang tenggelam di balik bantal.
"Jules... udah, ah! Jangan godain terus, geli tau!" rengek Elena lirih, kedua tangannya yang menempel di dada Julian mencoba mendorong tubuh tegap itu pelan, meski tanpa tenaga yang berarti.
Julian tidak langsung bergeser. Masih bertahan di posisi yang sama menindih tubuh mungil Elena dengan kedua lengan sebagai tumpuan wajah tengilnya perlahan memudar, berganti dengan raut wajah yang lebih serius dan dalam. Tatapan matanya mengunci kelopak mata Elena yang terpejam.
Pria itu menghela napas panjang, lalu mulai menyuarakan hal yang selama ini diam-diam membebani dan mengganjal di kepalanya.
"El, buka matamu sebentar," bisik Julian, suaranya terdengar berat dan sarat akan keheranan yang tertahan.
Elena membuka matanya perlahan, mendapati tatapan Julian yang kini dipenuhi campur aduk emosi.
"Aku tuh heran... sekaligus kesal banget sama kamu," ucap Julian blak-blakan, menyuarakan kebingungan yang membakar dadanya selama bertahun-tahun.
"Selama ini aku selalu mandang kamu sebagai cewek yang aneh banget. Kamu itu dingin, susah ditaklukkan, bahkan kelihatan gak punya ketertarikan apa-apa sama hal-hal berbau fisik. Jujur, El... dulu aku sempat mikir kalau kamu itu cewek yang gak punya hasrat seksual sama sekali. Dan tahu apa yang bikin aku makin gedek bukan main?"
Julian menundukkan kepalanya sedikit lebih rendah, memangkas jarak di antara mereka. "Begitu tahu kalau cewek yang aku kira dingin dan tanpa gairah ini... justru sudah diserahkan sepenuhnya ke Nathaniel. Rasanya kayak ditampar, El."
Elena mendengarkan celotehan panjang Julian dengan tenang. Tidak ada kemarahan atau rasa tersinggung di wajah cantiknya. Sebuah senyum tipis, hampir tanpa beban namun sarat makna, terukir di bibirnya yang seksi.
"Aku ini manusia biasa, Jules," jawab Elena pelan namun pasti, menatap lurus ke dalam mata cokelat Julian. "Aku juga punya rasa, punya gairah... Aku bukan patung."
Elena jeda sejenak, mengusap lengan Julian yang menegang di sisinya.
"Tapi... gairahku itu nggak bisa bangun gitu aja cuma karena sembarang orang atau bentuk fisik. Hasratku cuma bisa muncul kalau aku merasa aman dan benar-benar mencintai orang itu," lanjut Elena dengan nada jujur yang menyayat.
"Dan sayangnya... gairah pertamaku itu justru berlabuh di pria yang sekarang sudah membuang dan meninggalkanku."
Ucapan Elena menggantung hangat di udara kamar hotel yang hening. Pengakuan jujur itu tak hanya menjawab keheranan Julian, tapi juga mengunci pergerakan pria itu di atasnya—meninggalkan Julian yang terpaku mencerna setiap kata yang keluar dari bibir sahabatnya.
Keheningan sempat mendominasi sesaat setelah pengakuan jujur Elena menggantung di udara. Namun, di bawah jarak yang begitu tipis ini, Julian perlahan menyadari ada perubahan ritme di dalam diri wanita di bawahnya.
Dada Elena naik-turun dengan cepat. Debar jantung gadis itu bergemuruh tak beraturan—bukan lagi sekadar karena rasa canggung akibat posisi mereka, melainkan karena gejolak emosi dan sengatan kata-kata yang baru saja ia ucapkan sendiri.
Sikap tengil Julian yang sempat surut perlahan-lahan kembali menyeruak. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring penuh godaan, memanfaatkan kelemahan kecil sahabatnya itu.
"Oh..." bisik Julian tepat di depan bibir Elena, nada suaranya sengaja dibuat mengejek namun sarat getaran. "Jadi, kalau si bajingan Nathaniel itu adalah pria pertama yang berhasil ngebangunin hasrat kamu... itu artinya, sekarang aku adalah pria kedua yang ada di daftar itu, ya?"
Elena sontak melotot kecil, pipinya yang sudah merona kini kian membara mendengar godaan telak tersebut. "Jules, jangan mulai deh—"
Belum sempat Elena menyelesaikan kalimatnya atau mendorong dada Julian, pria itu tidak menunggu jawabannya lagi. Tanpa ragu, Julian langsung menunduk dan melumat bibir mungil Elena dengan lembut namun penuh kuasa.
Seketika, mata Elena terbelalak lebar.
Selama puluhan tahun persahabatan mereka, setiap kali Julian mencuri kecupan di bibir Elena, reaksi gadis itu selalu sama: kaku, pasrah, diam tanpa perlawanan, atau sekadar membiarkan tanpa balasan apa pun karena batasan yang mereka jaga.
Namun, tidak untuk kali ini.
Di luar dugaan, seolah pertahanan terakhirnya runtuh bersama lelah dan rasa penasarannya sendiri, bibir Elena bergerak. Perlahan tapi pasti, ia membalas lumatan mesra Julian dengan kehangatan yang tak pernah ditunjukkannya pada pria manapun selain masa lalunya. Sentuhan itu terasa begitu hidup, menyalurkan rasa lapar dan kerinduan yang sama-sama terpendam.
Mendapat balasan yang begitu mengejutkan, Julian justru mendadak tersentak. Alih-alih memperdalam ciuman itu, ia langsung menarik kepalanya mundur. Napas Julian memburu, matanya menatap tajam ke arah wajah Elena dengan sejuta tanda tanya besar yang berkecamuk di kepalanya.
Masih dalam posisi menindih tubuh mungil Elena, Julian terdiam kaku. Ia menunduk, memberikan tatapan penuh selidik dan sarat makna kepada wanita di bawahnya, menuntut penjelasan atas apa yang baru saja terjadi.
Elena tidak membuang muka. Dengan napas yang masih memburu dan sudut bibir yang sedikit basah, ia menatap mata cokelat Julian lalu memberikan anggukan kecil—sebuah isyarat tipis yang memberikan lampu hijau, meruntuhkan seluruh keraguan yang selama ini membatasi benteng di antara mereka berdua.
ayo tor lanjutin update nya