Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum Selesai
Rapat panjang di lantai tiga puluh gedung Wins IT akhirnya selesai. Para direktur berjalan keluar ruangan, sementara Lucian masih duduk memeriksa berkas proyek pengembangan teknologi kecerdasan buatan terbaru milik perusahaan.
Tok! Tok!
Pintu ruangannya diketuk.
“Masuk!” perintahnya dengan suara datar.
Sekretarisnya masuk sambil membawa tablet.
“Tuan, Tuan Lucky datang. Beliau sedang menunggu di luar.”
Lucian mengangkat wajahnya.
“Lucky?”
“Benar, Tuan.”
“Suruh dia masuk.”
“Baik, Tuan.”
Tak lama kemudian, Lucky melangkah masuk dengan wajah yang sudah memerah karena menahan amarah.
“Lucian, kau benar‑benar sudah kehilangan akal sehat?”
Lucian meletakkan dokumen yang sedang dipegangnya.
“Apa maksudmu?”
“Tentang pernikahanmu dengan Annabella!” Lucky mengepalkan tangannya kuat‑kuat. “Kenapa kau sampai menikahi perempuan itu? Setelah semua yang dia lakukan kepada adik kita, kau masih memberinya tempat di keluarga ini?”
Wajah Lucky semakin memerah.
“Perempuan itu sudah menipu keluarga kita! Seharusnya kau membuangnya saja agar dia bisa menyusul kedua orang tuanya!”
Lucian menatap adiknya dengan tatapan dingin.
“Sudah selesai?” tanyanya dengan nada tenang.
Lucky tertegun sejenak, lalu kembali menggeram.
“Kau masih bisa bersikap setenang ini? Aku tidak mengerti apa yang ada di pikiranmu!”
Lucian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
“Aku punya caraku sendiri agar dia membayar semua kesalahannya.”
“Cara apa?”
“Menikahinya.”
Lucky mengerutkan kening bingung.
“Menikahinya? Apakah kau mencintainya?”
Sebuah senyum tipis tanpa kehangatan muncul di bibir Lucian.
“Pernikahan ini bukan tentang cinta, Lucky. Bagiku, ikatan pernikahan hanyalah belenggu untuk memastikan dia tidak bisa melarikan diri dari hukuman yang sudah kusiapkan.”
Lucky menatap kakaknya dengan tidak percaya. Ia tahu Lucian menyimpan dendam besar terhadap Annabella, tapi tidak menyangka kakaknya akan mengambil jalan seperti ini.
“Apa gunanya semua itu? Bukankah lebih mudah menceraikannya setelah kau selesai membalas dendam?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku belum selesai dengannya.”
Jawaban singkat itu membuat Lucky semakin kesal.
“Kau seharusnya langsung menceraikannya! Seorang kriminal seperti dia tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Winston. Apakah kau tidak memikirkan harga diri keluarga kita?”
Lucian melirik jam di pergelangan tangannya.
“Aku tidak punya waktu untuk membahas hal yang sama berulang kali.”
“LUCIAN!”
“Aku masih ada rapat berikutnya.”
Lucian berdiri, merapikan jasnya, lalu mengambil berkas proyek.
“Kalau tidak ada urusan lain, aku harus pergi.”
Lucky mengepalkan kedua tangannya.
“Kau akan menyesal sudah menikahi perempuan itu,” desisnya.
Lucian tidak menjawab sepatah kata pun. Ia berjalan melewati Lucky dan meninggalkan ruangan.
Lucky masih duduk di kursi dengan perasaan kesal. Tatapannya tertuju pada pintu yang baru saja tertutup.
“Baiklah, Kakak boleh saja mempertahankan perempuan itu,” gumamnya penuh kebencian. “Tapi jangan harap aku akan membiarkannya hidup nyaman di rumah ini.”
Ia mengepalkan tangannya semakin erat.
“Aku akan membuat Annabella menyesal telah kembali ke keluarga Winston. Aku akan membuatnya terusir dari rumah itu secepat mungkin!”
Lucky bersumpah tidak akan membiarkan Annabella menikmati statusnya sebagai istri Lucian. Baginya, perempuan itu hanyalah noda yang harus dihapus dari keluarga mereka.
__
Sementara itu, Annabella akhirnya tiba di kediaman Winston setelah berjalan cukup jauh dari rumah sakit. Kakinya terasa pegal sekali, tapi pikirannya lebih sibuk mengkhawatirkan Yumna yang terus menggenggam tangannya dengan erat.
Bagaimana kalau Lucian melihatnya?
Annabella belum tahu harus menjelaskan apa, tapi ia juga tidak tega meninggalkan anak itu sendirian.
“Yumna, nanti kalau ada orang bertanya, kamu diam dulu, ya?” bisiknya sambil berjongkok di depan anak itu.
Yumna memiringkan kepala.
“Kenapa, Onty?”
“Karena Onty ingin menjelaskan semuanya terlebih dahulu. Kamu mau membantu Onty?”
Anak itu mengangguk polos.
“Mau.”
Annabella tersenyum kecil, lalu kembali menggandeng tangan mungil Yumna.
Saat mereka mendekati pintu masuk, sebuah mobil pengiriman berhenti di depan rumah. Seorang kurir turun dan mulai menurunkan beberapa kardus besar.
“Permisi, apakah ini rumah keluarga Winston?” tanya kurir itu.
“Benar. Ada apa?”
“Saya mengantarkan paket untuk Nyonya Adara. Isinya beberapa baju dan barang‑barang lainnya.”
Sebuah ide muncul di benak Annabella. Ia melirik kardus‑kardus itu, lalu menatap Yumna. Jika bisa membawa anak itu masuk tanpa diketahui siapa pun, ia akan punya waktu untuk mencari cara menjelaskan keberadaan Yumna.
“Kalau begitu biar saya bantu bawa barang‑barangnya ke dalam.”
Kurir itu menatapnya ragu.
“Apakah Anda bekerja di sini?”
Annabella mengangguk.
“Ya. Saya juga bekerja di rumah ini. Anda bisa menyerahkan barang‑barangnya kepada saya.”
Ia berusaha tetap tenang agar kurir itu tidak curiga. Setelah memastikan alamat dan nama penerima, kurir itu pun mengangguk.
“Baiklah. Tolong pastikan semuanya sampai kepada Nyonya Adara.”
“Tentu.”
Kurir itu berpamitan setelah semua barang selesai diturunkan.
Begitu mobilnya pergi, Annabella berjongkok di hadapan Yumna.
“Yumna, kita harus bermain sebentar, ya.”
“Main apa, Onty?”
Annabella menunjuk salah satu kardus besar yang tutupnya masih terbuka. Di dalamnya ada pakaian‑pakaian mahal milik Adara.
“Kamu masuk ke dalam sini dulu. Nanti Onty akan membawamu masuk ke rumah.”
Yumna memandang kardus itu dengan mata bulat penasaran.
“Yumna macuk kotak?”
“Iya, Sayang. Tapi jangan takut, ya. Onty akan dorong pelan‑pelan. Kamu juga harus diam sebentar.”
Yumna berpikir sejenak, lalu mengangguk.
“Oke!”
Annabella membantu Yumna masuk dengan hati‑hati. Ia memastikan anak itu tidak terhimpit pakaian dan masih bisa bernapas dengan leluasa. Bagian atas kardus dibiarkan bercelah agar udara tetap bisa masuk.
“Yumna, kalau merasa tidak nyaman, langsung panggil Onty, mengerti?”
“Mengelti.”
Annabella tersenyum lega. Ia meletakkan kardus itu di atas troli bersama barang‑barang lain, lalu mendorongnya masuk ke dalam rumah.
Namun baru berjalan beberapa langkah, ia berpapasan dengan Ranti yang berdiri di dekat lorong sambil melipat tangan di depan dada.
“Dari mana saja kamu sampai baru pulang sore begini?”
Annabella berhenti di tempat. Di hatinya ingin menjawab bahwa ia tidak perlu melapor kepada Ranti, tapi ia segera teringat janjinya untuk menahan emosi.
“Aku dari rumah sakit. Aku baru saja menjenguk pamanku.”
Ranti mendengus sinis.
“Memangnya aku bertanya karena peduli dengan urusanmu?”
Annabella menunduk.
“Maaf.”
“Sudahlah, cepat bawa semua kardus itu masuk. Jangan sampai barang‑barang Nyonya terlambat diserahkan.”
“Baik.”
“Setelah selesai, datang menghadapku. Ada pekerjaan lain yang harus kamu kerjakan.”
Annabella mengangguk patuh. Ia tidak ingin membuat masalah yang bisa membuat Lucian mengetahui keberadaan Yumna. Ia terus mendorong troli sampai tiba di bangunan gudang tempatnya tidur. Begitu pintu tertutup rapat, Annabella segera menurunkan kardus besar itu dan membuka bagian atasnya.
“Yumna, kita sudah sampai.”
Kepala kecil Yumna muncul dari dalam kardus.
“Onty!”
Annabella membantunya keluar. Yumna memandang sekeliling ruangan, dinding‑dindingnya kusam, lantainya belum terlalu bersih, dan ada karpet compang‑camping yang terhampar di sudut. Wajahnya yang semula ceria perlahan berubah menjadi bingung. Ia menatap Annabella, lalu kembali melihat ke sekeliling ruangan.
“Onty bobo di cini?”
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???