NovelToon NovelToon
Ternyata Bukan Aku

Ternyata Bukan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.

namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.

apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?

ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misya 3

"Kalau mulai tidak nyaman, bilang kepada saya dan kita pulang saja..." kembali Reyden mengingatkan Misya saat mereka baru saja tiba di halaman rumah kedua orang tua Reyden.

"Iya, Mas..." jawab Misya.

Reyden mengulurkan tangannya kepada Misya sebelum mereka masuk ke dalam rumah. Misya menatap sejenak, tangan kokoh suaminya kemudian membalas uluran tangan Reyden. Genggaman Misya kali ini cukup erat pada jemari Reyden, dan pria itu dapat merasakannya. Misya juga sepertinya sedang gugup karena akan bertemu kembali dengan saudara-saudara Reyden.

"Wah akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga!" sindir Tante Cindy saat melihat mereka berdua datang.

"Maaf kami datang terlambat, Tante, Bunda dan yang lainnya..." Misya melepaskan genggaman tangannya pada Reyden dan menyalami seluruh anggota keluarga.

"Tidak apa-apa, Sayang... Yang lainnya juga baru pada datang kok. Apa kabar menantu Bunda?" sapa Bunda Amelia, mertua dari Misya. Wanita yang sangat baik dan lembut. Wanita yang memperlakukan dia dengan sangat lembut seperti Maminya sendiri. Bunda Amelia dan Maminya Misya memang berteman, sehingga akhirnya Misya dan Reyden di jodohkan.

"Alhamdulillah Misya dan Mas Rey baik-baik saja, Bunda..."

"Apa kabar Mbak Misya?" sapa Merlyn, sepupu dari Reyden yang dari awal tidak terlalu menyikai Misya. Entah apa alasannya, karena Misya juga sampai sekarang tidak tahu. Dia hanya berusaha bersikap baik kepada Merlyn dan semua anggota keluarga suaminya. Baik yang menerima dirinya maupun yang tidak.

"Alhamdulillah kabar aku baik. Bagaimana kabar kamu sendiri, Merlyn. Aku dengar tahun ini kamu lulus kuliah ya? Mau di lanjut atau mau kerja?" tanya Misya basa-basi.

"Maunya sih kerja, biar jadi wanita karir dan setelah nikah juga aku mau kerja biar nggak cuma ongkang-ongkang kaki di rumah menghabiskan uang suami. Lagian aku ini adalah wanita yang aktif bukan wanita yang cuma bisa berdiam diri tanpa melakukan kegiatan yang berguna dan bermanfaat!" jawab Merlyn dengan tatapan meremehkan kepada Misya.

"Ah, kamu hebat sekali, Merlyn. Semoga semua niatan dan rencana kamu di lancarkan,"

"Sudah... Sudah, ayo kita makan dulu... Bunda juga sudah memasakkan menu kesukaan kamu dan juga Reyden,"

Merekapun berpindah ke ruang makan untuk menikmati hidangan yang disajikan Bunda Amelia. Suasana makan malam berlangsung relatif tenang karena kehadiran Bunda Amelia dan Ayah Bagaskara yang pandai menghidupkan suasana. Reyden sesekali menaruh potongan lauk ke piring Misya, sebuah gestur perhatian kecil yang tak luput dari pandangan sinis sepupu-sepupunya.

Seusai makan, para pria berkumpul di area teras depan bersama Ayah Baskara untuk membahas bisnis, sementara Bunda Amelia pamit ke dapur untuk menyeduhkan teh dan memotong buah. Kesempatan itulah yang dimanfaatkan oleh Merlyn dan dua sepupunya yang lain, Sherly dan Natasha, untuk menghampiri Misya yang sedang duduk sendirian di ruang keluarga.

Merlyn mendudukkan dirinya tepat di sebelah Misya, sementara Sherly dan Natasha duduk di sofa depan, sengaja mengurung Misya dalam lingkaran mereka.

"Mbak Misya," puji Sherly membuka suara dengan nada yang dibuat-buat manis.

"Tas yang kamu pakai tadi bagus banget deh. Koleksi terbaru brand ternama itu, kan? Pasti mahal banget. Mas Reyden royal banget ya sama kamu?"

Misya tersenyum canggung. "Oh, ini... Mas Rey yang belikan waktu dia dinas luar kota bulan lalu. Aku sebenarnya tidak minta, tapi Mas Rey yang belikan."

"Enak ya jadi Mbak Misya," timpal Natasha sambil menyilangkan kaki dan tertawa kecil.

"Nggak perlu capek-capek kerja, tinggal duduk manis di rumah, tahu-tahu dibelikan barang-barang bermerek. Beban hidupnya cuma mikirin mau masak apa hari ini."

"Beda kelaslah, Nat," sahut Merlyn cepat dengan nada sarkastis.

"Kita kan berpendidikan tinggi, punya cita-cita dan impian. Mana mau cuma jadi 'pajangan' di rumah? Lagian, kalau cuma mengandalkan kecantikan dan kepasifan, lama-lama suami juga bakal bosan, kan? Apalagi Mas Reyden itu pria mapan, pekerja keras, pasti butuh pendamping yang sepadan yang bisa diajak diskusi bisnis, bukan cuma yang pandai menyajikan teh."

Sindiran itu mendarat tepat di ulu hati Misya. Tangannya meremas pelan pinggiran gaunnya. Misya berusaha tetap tenang dan tersenyum, meski dadanya terasa sesak.

"Setiap orang punya perannya masing-masing, Merlyn," jawab Misya sehalus mungkin, berusaha membela dirinya tanpa nada emosi.

"Menjaga rumah dan memastikan kebutuhan Mas Rey terpenuhi juga sebuah tanggung jawab yang besar buat aku sebagai istri."

"Tanggung jawab?" Merlyn terkekeh geli, menatap kedua sepupunya yang ikut tertawa sinis.

"Aduh, Mbak... zaman sekarang jangan naif deh. Mas Reyden itu menikahi kamu cuma karena menghormati pilihan Tante Amelia saja. Jangan keperdeaan merasa Mas Rey benar-benar butuh kamu. Semua orang di rumah ini juga tahu, Mas Reyden itu tipe pria yang dingin dan perfeksionis. Mana mungkin tipe idealnya wanita yang cuma bisanya menunggu di rumah? Lagian spek Mas Rey itu tinggi loh!"

"Iya bener tuh," tambah Sherly.

"Lagian yang sebelumnya itu kelas banget ya? Aku bahkan setuju sama yang itu tuh..."

"Ihh, jelas beda kelas banget lah! Kalau sama yang itu aku juga bakalan bangga banget jadi sepupunya dong! Keren segala-galanya!" timpal Merlyn.

"Nggak cuma diam di rumah, masak dan nunggu di kirim uang dari suami. Tapi bener-bener bisa menunjukkan kualitas diri. Ah beneran deh, yang itu mah keren pake banget!" kali ini Natasha yang bicara.

Misya masih diam mendengar perkataan mereka yang masih coba dia cerna. Apa maksud dari pembicaraan mereka? Siapa yang sedang mereka bicarakan dan bandingkan dengannya? Apa salah kalau dia memilih untuk menjadi ibu rumah tangga saja? Padahal sebelumnya dia juga bekerja di perushaan milik Papinya. Hanya saja setelah menikah dia memutuskan menjadi ibu rumah tangga, apalagi dia sadar dengan pernikahan mereka yang atas dasar perjodohan. Sehingga kalau mereka sama-sama sibuk, tak akan pernah ada perkembangan dalam rumah tangga mereka.

"Kenapa diam, Mbak? Lagi mikir ya kalau mbak itu nggak selevel sama Mas Rey?" tanya Merlyn saat melihat Misya diam saja.

"Maaf kalau boleh tahu kalian sedang membicarakan siapa?" tanya Misya polos membuat ketiga sepupu Rey malah tertawa terbahak.

"Astaga dia kayaknya pura-pura ngga tahu atau emang dia pura-pura sok paling princess karena selalu di manjakan sama Mas Rey?"

"Maaf Sherly, saya benar-benar tidak paham dengan pembicaraan kalian? Tolong boleh di jelaskan? Agar saya juga bisa menjawab. Kalau menurut kalian saya salah karena memilih menjadi ibu rumah tangga dan mendapatkan nafkah dari suami saya. Bisa tolong jelaskan salahnya dimana?" tanya Misya.

"Males ah bicara dengan orang yang sok polos! Intinya, sebaik-baiknya istri adalah dia yang tidak membebankan banyak hal pada suaminya!"

"Siapa yang kalian sebut beban suami?" terdengar langkah kaki dan suara bariton Reyden. Di belakangnya juga ada Bunda Amelia yang mendengar sayup-sayup ucapan keponakannya.

"Mas Rey... " cicit mereka bertiga dengan wajah kaget bukan main. Tak mengira kalau Reyden akan tiba-tiba datang di sana.

1
ryuka
xiihhh gila ni cewe.. dia yg ninggalin dia yg ga terima pas udah ga di pikirin
Oma Gavin
ulet bulu gatel aurela ngga kapok juga sudah di cuekin sudah di bentak ngga di anggap kok masih saja menggatal
ryuka
haduhhh ada ulet keket gabtau diri muncul
ryuka
untung bapak ibu mertua nya baik ya misya
Oma Gavin
ulet bulu gatel mulai menggatal
Heni Setiyaningsih
/Heart/
Heni Setiyaningsih
bersyukur Misya punya mertua yg selalu menyayangi dan melindungi
nining cahyaningrum
bagus
Lembang Azam
bagus Rey sebelum trlambat, untung kamu cpt menyadarinya dan bergerak cp, klw enggak kamu yg tak ulek JD bergedel🤣
Oma Gavin
akhirnya reydhan tegas juga itu semua orang kenapa berkomplot musuhi misya dan bela aurelia
ryuka
diiihh dasar cewe cewe gila.. 🔥🔥🔥🔥🔥
nely_48
ku pegang kata² mu ya rey,,,
nely_48
hmmmm tunggu hukuman mu merlyn,, sok anggun sok merasa tinggi setinggi langit kau aurelia, gataunya cewe arogan n egois, pantas az bunda nya Rey lbh memilih menjodohkan dgn misya
Sri Angga
jgn cm dg kata tp buktikan
Ambu Rinddiany Thea
sok buktikan ters rey sm s misya kalo cinta kamu hanya buat ambu seorang eh salah , buat misya seorang maksdnya 🤭
Susan Paulina: Di tunggu Up selanjutnya Thor, tambah seruu 👍
total 1 replies
Ambu Rinddiany Thea
lanjuuut maak
Ambu Rinddiany Thea
kenapa sih ga apada terbuka aja 2 2 nya , s rey masih mendem soal s aurelia s misya masih mendem soal sepupu dajalna nu ngirim2 foto te bermerk , maenya ambu kudu turu gunung ie teh
falea sezi
lemah amay sya🤣🤣 kayak elu gk ada harga diri aja suami gt buang mending dpet cowok biasa tp di cintai wong suami mu aja dr awal. liat aurelia. ketara bgt dia g move on🤣
Susan Paulina: Lanjut lagi Thor hari ini, ceritanya seru banget
total 1 replies
nely_48
syukurlah reyden msh membela misya , berarti otak reyden msh waras
nely_48
idih km knp misya,, sampe segitu hancurnya km nangisin suami n mantan nya ketemuan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!