NovelToon NovelToon
OKAY BOSSS

OKAY BOSSS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: manggiskaaa

mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.


bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.

Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dia lagi

Silla mengepalkan tangannya, menahan sumpah serapah yang sudah siap keluar dari mulutnya. Ego dan gengsinya terluka parah, tapi ia benar-benar tidak punya pilihan lain malam ini.

Setelah transaksi selesai, Sagara mengambil kantong belanjaan Silla sebelum gadis itu sempat meraihnya. Sagara menentengnya sambil menatap Silla dengan tatapan jail yang tak kunjung hilang.

"Utang lo ya, Sil. Nggak ada yang gratis di dunia ini," bisik Sagara sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan mendahului Silla yang sudah siap meledak karena emosi.

∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆

"Turunin gue di depan sini aja, Sag. Cepetan!" Silla menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan tangannya agar tidak mencakar wajah tampan-tapi luar biasa menyebalkan-di sebelahnya.

Setelah adegan pemaksaan sagara,makan nya ia terpaksa nebeng di mobil cowok rese itu.

Sagara, yang masih fokus menyetir dengan satu tangan, malah meliriknya sambil tersenyum miring. Bukannya menginjak rem, cowok itu justru sengaja mempercepat laju mobilnya, melewati gang yang Silla maksud begitu saja.

"Eh, kelewatan ya? Sorry, Sil. Makanya kalau ngomong yang jelas, jangan pakai urat," ucap Sagara santai, sama sekali tidak merasa bersalah.

"Sagara! Lo sengaja kan?! Gue mau pulang, bukan mau diculik sialannn!" jerit Silla frustrasi.

Di kantor, Sagara adalah CEO yang dihormati, berwibawa, dan dingin. Tapi image itu hilang ketika berhadapan dengan nya seperti ini,topeng itu langsung copot. Sagara kembali menjadi mantan pacar Silla zaman Sma dulu: rese, jail, dan hobi memancing keributan serta emosi silla.

"Siapa juga yang mau nyulik lo? Kegeeran," sahut Sagara. Tangannya tiba-tiba terulur, menjentik pelan dahi Silla yang sedang cemberut. "Gue cuma mau mastiin sekretaris gue ini pulang dengan selamat. Lagian jalanan di luar lagi gerimis, Sil. Nanti kalau lo sakit, kerjaan gue di kantor siapa yang urus?"

"Gue bisa naik taksi online, Sagara! Lagian gue ini sekretaris lo di kantor, ya! Sekarang udah jam pulang, lo gak berhak ngatur-ngatur gue!" Silla menepis tangan Sagara dengan kasar. Wajahnya sudah merah padam karena emosi.

Sagara terkekeh geli. Melihat Silla yang gampang meledak-ledak seperti kembang api selalu menjadi hiburan tersendiri baginya dari dulu hingga saat ini.Sengaja ingin memancing emosi Silla lebih jauh, Sagara memutar volume radio mobil sampai maksimal tepat saat lagu rock berputar. Suara dentuman musik langsung memenuhi kabin mobil, membuat Silla spontan menutup telinganya.

"SAGARA! KECILIN GAK?!" teriak Silla kalah suara dengan musik.

Sagara pura-pura tidak mendengar. Dia malah ikut mengetuk-ngetukan jarinya ke setir mengikuti irama lagu, sambil sesekali melirik Silla yang matanya sudah melotot tajam.

Pasrah karena teriakannya diabaikan, Silla langsung mencondongkan badannya ke depan untuk mengecilkan volume secara manual. Namun, tepat saat tangan Silla menyentuh tombol radio, Sagara sengaja menginjak rem mendadak karena alasan "ada kucing lewat".

DUK!

Tubuh Silla terdorong ke depan, dan dahinya sukses membentur dasbor mobil dengan pelan.

"Aduh! Sakit bego!" Silla mengusap dahinya, matanya kini menatap Sagara dengan pandangan membunuh. "Lo sengaja ya?! Mau bikin gue mati gegar otak?!Lo itu memang bahagia keknya kalo gue mati hah?!!"

Sagara yang melihat itu langsung panik sekaligus menahan tawa. Dia langsung mematikan radio dan memajukan tubuhnya mendekati Silla. "Eh, eh, sorry. Ada kucing tadi, beneran. Mana yang sakit? Sini gue liat." Tangannya terulur ingin memeriksa dahi Silla.

"Gak usah pegang-pegang! Jauh-jauh lo dari gue!kuman!!!" Silla menyentak tangan Sagara dan langsung menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil, membelakangi Sagara sepenuhnya sambil bersedekap dada,bibir nya maju menahan kesal.

Suasana kabin mobil mendadak hening. Sagara melirik mantan pacarnya yang sekarang benar-benar merajuk dengan bibir mengerucut dan napas yang masih memburu karena emosi.

Bukannya kapok, senyum jail Sagara malah kembali terbit. Dia merogoh kantong kemejanya, mengeluarkan sebatang cokelat, lalu mencolek bahu Silla dengan cokelat tersebut.

"Sil... marah ya?" tanya Sagara dengan nada suara yang sengaja dibuat imut. "Nih, gue kasih cokelat biar gak darah tinggi. Nanti kalau lo stroke, gue repot harus cari sekretaris baru ..belum tentu juga gue dapet sekertaris baru yang secantik lo."

Silla tidak bergeming, tapi telinganya memerah. Antara masih emosi, atau mulai salah tingkah dengan kalimat terakhir mantan kekasihnya itu.

"Nih coklat yang paling lo suka dari dulu,setiap jam istirahat lo selalu buru buru ke depan buat beli coklat ini"sagara menyodorkan coklat itu ke hadapan silla menunggu wanita itu mengambil.

Silla mengambil dan memakan nya.

Sepanjang perjalanan, selalu ada saja tingkah jahil Sagara. Mulai dari menaik-turunkan volume radio dengan sengaja, mengubah arah AC mobil tepat ke wajah Silla, hingga mengomentari cara bernapas Silla yang katanya "terlalu penuh emosi". Silla rasanya ingin melompat keluar dari mobil saat itu juga.

Setelah tiga puluh menit penuh siksaan batin bagi Silla, mobil mewah Sagara akhirnya berhenti tepat di depan pagar kosan Silla.

" Makasih tebengannya," ketus Silla, bersiap membuka pintu.

"Bentar," potong Sagara cepat.

Sebelum Silla sempat protes, Sagara sudah mematikan mesin, keluar dari mobil, dan memutari kap mesin dalam waktu singkat.

Cklek.

Pintu di sisi Silla terbuka dari luar. Sagara berdiri di sana memegang sebuah payung hitam yang sudah terkembang, menghalau rintik hujan agar tidak mengenai kepala Silla.

"Silahkan Turun, Tuan Putri," ucap Sagara, nadanya melembut sedikit, walau matanya masih menyiratkan kejahilan.

Silla agak tertegun, namun gengsinya tetap nomor satu. "Nggak usah sok manis deh."

Sagara tidak membalas. Begitu Silla turun, pria itu langsung merampas dua kantong plastik besar berisi belanjaan bulanan dari tangan Silla.

"Eh, biar gue bawa sendiri!"

"Lo bawa payung ini aja. Badan lo kecil, bawa ginian doang ntar encok, repot gue besok di kantor kalo sampe lo sakit," ujar Sagara sambil menyerahkan gagang payung ke tangan Silla, lalu berjalan mendahuluinya menuju teras kosan.

Mereka berjalan beriringan menerobos gerimis tipis sampai tiba didepan pintu kamar kos Silla yang terletak di lantai dasar. Sagara meletakkan kantong belanjaan itu dengan hati-hati di lantai teras yang kering.

Silla menatap belanjaannya, lalu beralih menatap Sagara yang bahu kemejanya sedikit basah karena memastikan Silla tetap terlindungi payung tadi. Rasa bersalah dan gengsi bertarung di dalam dada Silla.

"Y-ya udah... makasih," gumam Silla pelan, hampir tak terdengar.

Sagara tersenyum tipis, lalu tiba-tiba mencondongkan badannya maju, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Silla yang langsung menegang.

"Sama-sama, Mantan. Btw, kalau malam ini lo mimpiin gue gara-gara kepikiran kebaikan gue tadi, langsung chat aja ya? HP gue aktif 24 jam khusus buat lo," bisik Sagara dengan kedipan mata yang sangat menyebalkan.

"Sagara! Pergi nggak lo!" usir Silla dengan wajah yang mendadak panas, entah karena emosi atau hal lain.

Sagara tertawa lepas, melangkah mundur perlahan sambil melambaikan tangannya. "Dadah Silla! Jangan lupa kunci pintu, jangan kangen ya!" teriaknya jahil sebelum berlari kecil menembus gerimis kembali ke mobilnya.

Silla hanya bisa menghentakkan kakinya kesal, menatap kepergian mobil Sagara dengan jantung yang sialnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!