Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.
Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.
Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Palsu dan Pertemuan Diam-diam
Hari-hari berlalu dengan pola yang sama: pelajaran, tugas, dan interaksi singkat yang selalu membuat hati Liān Huā berdebar. Namun yang paling membuatnya bingung adalah betapa seringnya dia bertemu dengan Kaisar Yuán Zhēn — entah secara kebetulan atau tidak.
Suatu pagi, dia sedang berjalan membawa sebuket bunga segar yang baru saja dipetik dari kebun belakang, hendak membawanya ke ruang istirahat, ketika dia berpapasan dengan kaisar yang sedang berjalan ditemani penasihatnya.
“Liān Huā,” panggilnya dengan nada suara yang terdengar biasa saja, namun cukup keras agar penasihat itu menoleh dengan kaget. “Kamu kebetulan sekali ada di sini. Aku sedang mencari seseorang yang mengerti tentang jenis tanaman obat. Aku dengar ayahmu sangat ahli dalam hal itu, dan kamu pun pasti mewarisi pengetahuannya.”
Liān Huā menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan rasa herannya. Dia tidak pernah mendengar ayahnya mengajarkan hal itu padanya. “Yang Mulia terlalu memuji. Pengetahuan hamba sangat sedikit.”
“Tidak apa-apa,” jawab kaisar itu santai, sambil melambaikan tangan kepada penasihatnya agar pergi duluan. “Ikutlah ke ruang kerja sebentar. Ada beberapa tanaman yang dikirim dari daerah selatan, aku ingin tahu apakah tanaman itu bisa digunakan atau tidak.”
Dan begitulah, dengan alasan yang sangat tipis itu, dia kembali berakhir sendirian di ruangan yang luas dan tenang itu, hanya berdua dengan kaisar. Begitu pintu tertutup rapat, Yuán Zhēn langsung berubah sikap — wajah yang tadi berwibawa dan serius kini berubah menjadi santai, bahkan ada sedikit senyum jahil di sudut bibirnya.
“Kamu tahu betul aku tidak butuh penjelasan tentang tanaman obat,” katanya sambil duduk di kursi besarnya, menopang dagu dengan tangan sambil menatapnya dengan pandangan yang membuatnya merasa malu dan salah tingkah.
Liān Huā menatapnya tidak percaya, matanya membelalak. “Lalu... mengapa Yang Mulia memanggil hamba? Dan bahkan membuat alasan seperti itu?”
Kaisar tertawa pelan, suara yang selalu membuat jantungnya bergetar setiap kali mendengarnya. “Karena aku sadar, kalau aku tidak mencari alasan yang masuk akal, orang-orang akan mulai berbisik dan bertanya-tanya mengapa Kaisar sering memanggil seorang putri biasa ke ruang kerjanya. Dan juga... karena aku ingin melihatmu.”
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada rendah dan lembut, begitu jujur dan langsung sehingga wajah Liān Huā memerah merona sampai ke telinga. Dia menundukkan wajah, memainkannya dengan ujung kain bajunya, tidak berani menatap ke atas.
“Yang Mulia... bicara begitu begitu saja... itu tidak pantas,” gumamnya pelan, suaranya hampir tidak terdengar.
“Tidak pantas?” ulang Yuán Zhēn, lalu dia berdiri dan berjalan perlahan mendekat, sampai jarak di antara mereka hanya beberapa langkah saja. “Aku adalah Kaisar. Aku boleh melakukan apa saja yang aku inginkan. Tapi justru karena aku Kaisar, aku tidak bisa melakukan apa saja yang aku inginkan dengan mudah. Setiap langkah aku diperhatikan, setiap kata aku diingat. Jadi... kalau aku ingin bertemu seseorang yang membuat hatiku terasa ringan dan hidup kembali, aku harus mencari cara yang aman, bukan?”
Liān Huā mengangkat wajah perlahan, menatap mata hitam yang dalam itu. Di sana, di balik keberanian dan kekuasaan itu, dia melihat juga kesepian yang besar. Dia baru sadar, menjadi penguasa yang paling berkuasa di negeri ini ternyata juga berarti menjadi orang yang paling kesepian, yang tidak bisa berbicara dengan siapa pun secara jujur, tidak bisa berbuat apa pun tanpa diperhatikan dan dinilai.
“Yang Mulia...” katanya pelan, tidak tahu harus berkata apa lagi.
“Panggil aku Yuán Zhēn saat kita berdua saja,” bisiknya lembut, suaranya turun satu nada lagi, “Hanya saat tidak ada orang lain yang mendengar.”
Gadis itu menggeleng pelan, tapi matanya tidak berpaling. “Itu terlalu berani, Yang Mulia... aku tidak berani.”
“Belum berani ya?” Kaisar itu tersenyum lebar, seolah sangat menikmati melihatnya yang malu-malu dan salah tingkah. “Tidak apa-apa. Aku bisa menunggu. Selama yang dibutuhkan. Karena aku sudah mulai menyadari, bahwa melihatmu tersipu dan bingung saja sudah cukup membuat hari-hariku yang berat menjadi jauh lebih ringan.”
Dia berjalan mundur kembali ke kursinya, kembali duduk, dan menunjuk ke arah meja di depannya. “Sudahlah, mari kita pura-pura membahas tanaman obat seperti alasan awal kita tadi. Siapa tahu nanti ada pelayan yang lewat dan mengintip dari celah pintu.”
Liān Huā tertawa kecil, napasnya terasa lebih ringan meskipun pipinya masih panas. Dia berjalan mendekat ke meja, dan di sana, di antara tumpukan dokumen resmi, dia melihat ada sebuket bunga mawar merah yang baru mekar, diletakkan di sudut meja yang tidak terlalu mencolok. Dia teringat benih yang dikirimkan sebelumnya, dan dia tahu, bunga itu pasti tumbuh dari benih yang sama.
Saat dia sedang memeriksa daun tanaman yang ada di meja, dia tidak menyadari bahwa kaisar itu sama sekali tidak melihat tanaman itu. Matanya hanya tertuju pada wajah gadis itu, pada setiap gerakan jari-jarinya, pada cara matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, pada setiap ekspresi kecil yang muncul dan hilang begitu saja. Dan di dalam hatinya, dia tahu bahwa alasan palsu ini akan terus dia gunakan berulang kali — karena dia tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak melihatnya, tidak bisa menahan keinginan untuk menciptakan momen berdua yang tenang dan rahasia ini, momen di mana dia bisa menjadi dirinya sendiri, bukan kaisar yang harus selalu sempurna dan dingin.